NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMBILAN

Adelia ingin bilang tidak perlu, tapi ia tahu itu hanya akan membuat suasana lebih canggung. Jadi ia berjalan lebih pelan, berharap bisa menciptakan ruang aman, tapi Bastian tetap mengikuti.

Begitu sampai di lorong roti, sepasang remaja putri yang sedang memilih roti tawar melirik mereka, tersenyum melihat cara Bastian berdiri terlalu dekat

dengan Adelia.

Remaja itu berbisik, cukup keras untuk terdengar,

"Pasangan beda umur itu aesthetic banget sih."

Adelia hampir menjatuhkan bungkus roti yang ia pegang.

Sementara Bastian hanya tertawa kecil tanpa membantah.

"Pa..." suara Adelia gemetar kecil. "Orang-orang banyak yang salah paham..."

Bastian menunduk sedikit mendekatinya. "Biarkan saja. Kita nggak perlu jelaskan apa pun pada orang asing."

Nada suaranya tenang, terlalu tenang.

Adelia mundur setengah langkah.

Lorong supermarket terasa lebih sempit dari biasanya.

Tiap detik berlalu seperti tes kesabaran dan ketahanan mental. Ia tidak bisa konsentrasi memilih barang. Ia bahkan tidak ingat apa saja yang harus ia beli.

Yang bisa ia rasakan hanyalah tatapan Bastian yang mengikuti setiap gerakannya.

Sampai akhirnya... di bagian buah-buahan, Adelia tidak tahan lagi.

Tangan kecilnya meremas pegangan troli kuat-kuat.

Nafasnya terasa sesak.

Aku harus cari cara... aku harus jaga jarak... aku harus...

Tapi sebelum ia bisa memutuskan langkah berikutnya, Bastian tiba-tiba berkata dengan suara rendah, nyaris hanya bisa didengar olehnya.

"Del... kamu hari ini kelihatan gugup sekali. Sebenarnya kamu kenapa?" tanya Bastian.

Adelia membeku. Buah apel yang ia pegang hampir terjatuh dari tangannya.

Ia menoleh perlahan.

Tatapan Bastian menembus seperti sedang mencoba membaca isi hati yang selama ini ia sembunyikan.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk supermarket... Adelia benar-benar merasa tidak punya tempat untuk bersembunyi.

Lorong buah-buahan supermarket itu terasa seperti ruang sempit yang menekan dari segala arah. Adelia memegang apel yang tadi hampir saja terjatuh dari tangannya. Tangannya dingin, nafasnya pendek.

"Del..." suara Bastian pelan, tapi mengunci seperti jerat halus. "Jawab Papa! Kamu kenapa dari tadi canggung sekali?"

Adelia menggeleng cepat. "Nggak apa-apa, Pa. Saya cuma kepikiran kerjaan rumah."

Bastian memicingkan mata. "Tapi, dari tadi tangan kamu gemetar. Kamu yakin nggak apa-apa?"

Adelia memaksakan senyum. "Saya cuma kurang tidur."

"Kurang tidur?" Bastian mendekat setengah langkah,

membuat Adelia refleks mundur. "Papa dengar kamu teriak semalam. Kamu mimpi buruk?"

"Pa, aku kan udah bilang..." Adelia menunduk, suara kecil. "Itu cuma... aku kaget karena ada kecoa."

Bastian tersenyum tipis, tatapan matanya menusuk-seolah ia tahu kebohongan itu, tapi membiarkan Adelia tetap bergantung pada alasan itu.

Dan itu membuat Adelia makin gelisah.

Ia berusaha memutar badan untuk pergi ke lorong berikutnya. "Saya mau ambil susu dulu, Pa."

Namun, langkahnya tidak sampai dua meter ketika Bastian kembali mengikutinya.

"Del," ucap Bastian sambil mendorong troli dengan kecepatan yang membuat jarak mereka kembali menipis.

"Papa cuma khawatir. Kamu itu harus cerita kalau ada apa-apa. Jangan dipendam!"

"Terima kasih, Pa... tapi saya baik-baik saja."

"Kamu bilang itu," balas Bastian pelan. "Tapi, dari tadi kamu menghindari tatapan Papa. Kenapa?"

Adelia tidak punya jawaban. Ia hanya menunduk sambil sibuk mengambil susu dari rak.

Dan saat itu, terjadi kejadian yang di luar dugaan.

Seorang karyawan supermarket-seorang pemuda tampan dengan name tag bertuliskan Raka-mendekat setelah melihat Adelia tampak kebingungan memilih merek susu.

"Permisi, Kak!" sapa Raka ramah. "Butuh bantuan?

Ada promo beli dua gratis satu kalau Kakak ambil yang ini."

Adelia kaget, tapi sedikit lega karena ada orang lain di dekatnya. "Oh... iya, makasih. Saya baru lihat."

"Bisa saya bawain juga kalau Kakak mau-"

Belum sempat ia melanjutkan, Bastian tiba-tiba berdiri tepat di samping Adelia, terlalu dekat, dengan tatapan dingin yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Tidak usah," ucap Bastian tegas. "Kami bisa sendiri."

Raka terdiam, bingung. "Oh... baik, Pak. Saya cuma mau bantu."

"Cari pelanggan lain saja!" jawab Bastian, nadanya halus tapi penuh tekanan. "Kami tidak butuh bantuan."

Tatapan Bastian detik itu membuat Raka mundur satu langkah, menelan ludah. "Ba-baik, Pak. Permisi."

Raka pergi dengan wajah canggung, sesekali menoleh ke arah Adelia seolah memastikan wanita itu baik-baik saja.

Saat pemuda itu benar-benar menjauh, Adelia menghela napas pelan. "Pa, dia cuma mau bantu..."

Bastian menatap tajam ke arah lorong tempat Raka menghilang. "Pria itu terlalu dekat dengan kamu. Tidak sopan kalau seorang pria mendekati perempuan yang sudah bersuami."

Adelia menegang.

"Pa, ini supermarket. Dia karyawan. Wajar kalau dia

Mau bantu-"

"Tidak wajar kalau dia menatap kamu seperti itu," sela Bastian seolah apa yang ia lihat sudah menjadi kebenaran mutlak. "Papa nggak suka."

Adelia menggigit bibir, sadar bahwa situasi ini makin tidak masuk akal.

Mereka berdua melanjutkan belanja. Tetapi sejak kejadian tadi, supermarket yang seharusnya ramai dan terang justru terasa seperti lorong panjang penuh bayangan bagi Adelia.

Bastian tidak lagi bicara banyak, tapi sorot matanya mengikuti Adelia dari samping seperti penjaga yang terlalu posesif.

Di lorong sayuran...

Di lorong minuman...

Di area jajanan anak-anak...

Setiap kali Adelia memegang sesuatu, Bastian selalu muncul di dekatnya.

"Del, jangan angkat yang terlalu berat! Biar Papa saja."

"Del, kamu terlalu cepat jalannya, nanti jatuh!"

"Del, jangan jauh-jauh! Kamu nanti tersesat."

Itu terdengar seperti perhatian... tapi cara Bastian mengucapkannya selalu membuat Adelia merasa diawasi, bukan dilindungi.

Bahkan seorang ibu yang sedang menggendong anak sempat berbisik pada suaminya, "Itu bapak-bapaknya sayang banget sama istrinya ya..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!