NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Layar monitor di kamar Jasmine masih menampilkan lobi game yang sepi. Sudah dua jam sejak Kak Axel dan anak-anak lain log out untuk tidur, tapi Jasmine masih saja duduk termenung di kursi gamingnya. Pikirannya sama sekali tidak tertuju pada taktik permainan atau turnamen di London yang semakin dekat. Otaknya justru berulang kali memutar kejadian konyol di tepi danau tadi pagi. Wajah cowok jangkung dengan coretan spidol di pipinya itu terus saja berputar di kepalanya. Jasmine menghela napas, menatap ujung celana trainingnya yang masih menyisakan noda lumpur kering akibat ulah si bebek bernama Donald. Rasa penasaran yang jarang sekali dia rasakan mendadak bergejolak. Wangi lavender bercampur kopi, tatapan mata yang peka, dan cara cowok itu memanggil namanya... semuanya terasa seperti potongan teka-teki yang hilang dari memori masa kecilnya.

"Floraison Cafe," bisik Jasmine pelan.

Karena rasa penasaran yang tidak bisa dibendung lagi, Jasmine akhirnya memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan celana jins hitam serta kaus putih polos yang dilapisi oleh kardigan rajut berwarna krem. Dia mengikat rambut panjangnya asal-asalan, menyisakan poni tipis di dahinya. Dengan langkah pelan, Jasmine keluar dari rumah asrinya dan berjalan menyeberangi jalan setapak menuju bangunan kaca di seberang danau. Begitu melangkah melewati gerbang tanaman mawar, suara lonceng angin kuningan di atas pintu berdenting garing. Bau harum yang menenangkan langsung menyergap indra penciumannya. Itu bukan bau kopi yang pekat dan pahit seperti kafe pada umumnya, melainkan aroma manis dari kelopak bunga yang dikeringkan dan uap teh hangat. Interior kafe itu luar biasa cantik. Meja-meja kayu ditata rapi dengan pot-pot bunga kecil di atasnya. Di sudut ruangan, terdapat rak besar berisi puluhan stoples kaca transparan yang memamerkan berbagai macam jenis kuncup bunga kering.

"Selamat datang di Floraison Cafe! Silakan pilih tempat duduk yang paling nyaman, Cantik."

Jasmine refleks menoleh ke arah meja barista. Di sana, Liam sedang berdiri tegak sambil mengelap sebuah cangkir porselen. Coretan spidol di wajah cowok itu sudah hilang bersih, menampilkan parasnya yang rupawan, bersih, dengan garis wajah yang matang di usia 30 tahun. Rambut hitamnya sudah disisir rapi, meski beberapa helai poninya masih jatuh dengan indah di dahinya. Dia mengenakan kemeja linen berwarna sage green yang lengannya digulung sampai siku, dilapisi celemek cokelat yang sekarang sudah bersih dan rapi.

Jasmine sempat terkagum selama beberapa detik sebelum akhirnya melangkah mendekat ke meja konter dengan canggung. "Halo, Kak Liam."

Liam langsung meletakkan cangkirnya, matanya berbinar senang begitu melihat siapa yang datang. Dia menumpukan kedua tangannya di atas meja konter, memajukan tubuhnya sedikit ke arah Jasmine sambil tersenyum lebar. "Wah, tebakan aku tidak salah. Bidadari cantik akhirnya datang berkunjung. Bagaimana celana kamu? Donald tidak bikin kamu trauma, kan?"

"Enggak, Kak. Celananya udah aku cuci," jawab Jasmine dengan nada sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan rasa canggungnya. "Kafe ini... udah buka?"

"Khusus untuk kamu, kafe ini selalu buka dua puluh empat jam," goda Liam santai sambil mengedipkan sebelah matanya. "Tapi secara resmi, baru besok pagi untuk umum. Hari ini aku masih merapikan stok stoples bunga ini. Jadi, kamu mau minum apa? Sebagai permintaan maaf resmi dari aku dan Donald, semua menu hari ini gratis buat Jasmine."

Jasmine melihat papan menu kayu yang ditulis tangan dengan rapi. Di sana tidak ada menu Americano atau Cafe Latte. Menu-menunya unik, seperti Lavender Honey Latte, Rose Crimson Tea, dan Chamomile Milkyway.

"Aku... mau coba Chamomile Milkyway aja, Kak," kata Jasmine pelan.

"Pilihan yang sangat bagus untuk orang yang punya kantung mata tebal karena kurang tidur," sahut Liam dengan nada peka yang langsung membuat Jasmine sedikit salah tingkah. "Silakan duduk di meja dekat jendela kaca yang menghadap ke danau itu, Jasmine. Pesanan kamu akan segera datang."

Jasmine mengangguk pelan, lalu berjalan menuju meja di pojok ruangan yang paling privat. Dari sana, dia bisa melihat permukaan air danau yang berkilau diterpa matahari pagi yang mulai meninggi. Keheningan kafe ini terasa sangat berbeda dengan keheningan di rumahnya. Di sini, meski sepi, namun suasananya terasa sangat hangat dan hidup. Tidak butuh waktu lama sampai Liam datang membawa sebuah nampan kayu. Dia meletakkan secangkir minuman hangat berwarna putih susu dengan taburan kuncup bunga chamomile kecil di atasnya. Namun, bukannya langsung kembali ke meja barista, Liam malah menarik kursi di hadapan Jasmine dan duduk dengan santai tanpa permisi.

"Silakan diminum selagi hangat," kata Liam, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap Jasmine dengan intens.

Jasmine memegang cangkir porselen itu, merasakan kehangatannya menjalar ke telapak tangannya. Dia menyesap minuman itu perlahan. Rasa manis yang pas bercampur dengan aroma chamomile yang menenangkan langsung merilekskan saraf-saraf kepalanya yang tegang akibat tanding game semalaman. "Enak, Kak. Terima kasih."

"Sama-sama. Oh iya, Jasmine, boleh aku bertanya sesuatu?" Liam memiringkan kepalanya, senyum jahil kembali terukir di wajahnya.

"Tanya apa, Kak?"

"Kamu kalau tidur sehari berapa jam sih? Kok rasanya setiap aku bangun subuh buat cek taman, lampu kamar kamu di seberang sana selalu menyala terang benderang? Kamu tidak sedang memelihara pesugihan di dalam rumah, kan?"

Jasmine hampir saja tersedak minumannya. Dia menatap Liam dengan tatapan sebal. "Aku bekerja, Kak Liam. Aku ini freelance pro player. Kerjanya memang di depan komputer, sering kali sampai subuh."

"Ah, pemain game profesional? Keren sekali," puji Liam, tapi matanya tetap tidak lepas dari wajah Jasmine. "Tapi secinta apa pun kamu sama pekerjaan kamu, tubuh kamu tetap butuh istirahat, Jasmine. Jangan sampai mata cantik kamu itu berubah jadi mata panda selamanya. Nanti kalau kamu sakit, siapa yang mau aku goda setiap pagi di tepi danau?"

Jasmine langsung meletakkan cangkirnya dengan sedikit hentakan pelan, wajahnya merona merah karena kesal sekaligus malu. Cowok di depannya ini benar-benar menyebalkan dan bermulut manis. Tapi, di tengah rasa sebal itu, Jasmine lagi-lagi merasakan denyutan aneh di dadanya. Cara Liam menatapnya dengan penuh perhatian, seolah tahu kapan dia harus bercanda dan kapan dia harus bersikap lembut, terasa sangat familiar.

"Kak Liam ini... memang suka sekali bicara sembarangan ya sama orang baru?" ketus Jasmine, memalingkan wajahnya ke arah jendela.

Liam hanya tertawa renyah, suara tawanya terdengar sangat tulus dan merdu di telinga Jasmine. "Aku tidak bicara sembarangan ke semua orang, Jasmine. Cuma ke kamu aja. Rasanya... seperti ada magnet yang bikin aku ingin selalu menjahili kamu."

Jasmine terdiam, kembali menatap Liam yang kini sedang tersenyum lembut. Di dalam kepalanya, bayangan sebuah panti asuhan yang riuh mendadak melintas selama satu detik, menampilkan sosok anak laki-laki remaja yang selalu menjaganya dari kejauhan. Namun, bayangan itu terlalu kabur untuk dipastikan. Jasmine cuma bisa menghela napas, mengabaikan dejavu itu, dan kembali menikmati teh chamomilenya di bawah tatapan hangat sang pemilik kafe bunga.

Liam yang melihat itu mendadak menjentikkan jarinya di depan wajah cewek itu yang cukup membuat Jasmine mengerjap kaget.

"Mikirin apa sih? Serius amat. Jangan bilang kamu lagi mikirin taktik buat mengalahkan aku di dunia nyata?" goda Liam sambil menaikkan sebelah alisnya yang tebal.

Jasmine memutar bola matanya malas. "Percaya diri sekali ya, Kak. Aku cuma merasa... suasana kafe ini aneh saja. Berbeda dengan tempat lain."

"Aneh bagaimana? Kurang estetik? Atau karena baristanya terlalu tampan jadi bikin kamu tidak fokus minum?"

"Bukan!" potong Jasmine cepat, wajahnya agak memerah. "Maksud aku, kafe ini rasanya tenang. Wangi bunganya juga... mirip sama sesuatu yang pernah aku tahu dulu. Tapi aku lupa di mana."

Mendengar ucapan Jasmine, binar jahil di mata Liam mendadak meredup selama satu detik, digantikan oleh tatapan yang amat dalam dan emosional. Namun dengan cepat, cowok berusia 30 tahun itu menyembunyikan ekspresinya dengan senyuman miring andalannya.

"Oh ya? Mungkin kita sebenarnya jodoh yang sempat tertunda di masa lalu, Jasmine. Makanya alam bawah sadar kamu merasa familier sama aku," ucap Liam dengan nada bercanda yang super menyebalkan.

Jasmine menghela napas panjang, mendadak menyesal karena sudah sedikit terbuka pada cowok berisik ini. "Tahu begini, tadi aku tidak usah mampir. Kak Liam menyebalkan sekali kalau bicara."

"Hahaha, jangan kapok dong. Kalau kamu sering mampir ke sini, aku janji bakal buatkan menu rahasia khusus yang bisa bikin suasana hati kamu yang mendung itu jadi cerah lagi," Liam mencondongkan badannya, menatap lekat-lekat netra hitam Jasmine. "Aku peka loh, Jasmine. Aku tahu di balik sifat diam kamu ini, ada banyak sekali hal yang kamu simpan sendirian. Jadi, kalau butuh tempat pelarian dari layar komputer kamu, tempat ini selalu terbuka buat kamu."

Jasmine tertegun. Kalimat Liam barusan terdengar sangat tulus, meruntuhkan sedikit demi sedikit pertahanan dinding es yang selalu dia bangun di depan orang asing. Rasa familier itu kembali datang, lebih kuat dari sebelumnya, menyisakan tanda tanya besar di benak Jasmine sebelum dia akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!