Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Malam Purnama di Gang Sempit
Kata-kata Mbah Jarot yang ketus masih terngiang di telingaku, berputar-putar seperti lalat di atas tumpukan ikan busuk. Setelah nelayan tua itu pergi, Kamar Nomor Empat mendadak terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Aku mengunci pintu tripleks dengan tangan gemetar, lalu bersandar di sana sembari menatap langit-langit yang bocor. Di luar jendela kaca yang retak, malam beranjak semakin larut. Cahaya putih keperakan mulai merayap masuk ke dalam kamar, menyinari ubin semen yang kusam.
Bulan purnama telah naik sempurna di atas langit Tanjungbalai.
Aku menoleh ke arah dapur. Jantungku seketika berdegup dua kali lebih cepat. Tirai kain jarik yang menyembunyikan Kala bergoyang pelan, bukan karena embusan angin, melainkan karena getaran hebat dari tubuh cowok itu.
Krek… krek…
Suara retakan es halus yang sangat tipis mendadak terdengar dari arah sudut dinding. Aku mengerutkan kening, melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. Saat kakiku menyentuh lantai semen, rasa dingin yang ganjil langsung menusuk telapak kakiku, membuat bulu kudukku merinding hebat. Gila. Air yang tergenang di dalam mangkok plastik dekat rak piringku sudah mengeras menjadi bongkahan es padat.
Pengaruh rembulan di atas sana ternyata berakibat fatal pada tubuh Kala. Suhu tubuhnya turun drastis secara ekstrem, jauh melampaui batas normal. Hawa dingin yang menguar dari balik tirai dapur begitu pekat hingga setiap kali aku menarik napas, paru-paruku terasa seperti ditusuk-tusuk jarum es. Engsel pintu tripleks, paku-paku di dinding yang mengelupas, bahkan kolong kasur lantanku perlahan mulai dilapisi kristal es tipis yang berkilau di bawah siraman cahaya bulan.
"Kala?" panggilku lirih. Suaraku gemetar, mengeluarkan uap putih tipis dari mulutku. "Kamu tidak apa-apa?"
Tidak ada jawaban verbal. Yang terdengar justru suara geraman rendah yang sangat asing, disusul bunyi gertak gigi yang saling beradu menahan rasa sakit.
Sret!
Kain tirai dapur robek jadi dua saat tangan besar Kala mencengkeramnya kasar. Cowok itu melangkah keluar, dan aku langsung bergerak mundur sampai punggungku membentur sudut dinding kamar.
Kala sudah kehilangan kendali atas kesadaran manusianya. Tatapan matanya yang biasa dingin namun tenang kini berubah total. Sepasang matanya menyala emas sepenuhnya, berpupil vertikal tajam layaknya pemangsa rawa yang kelaparan, tanpa ada sisa kehangatan sama sekali. Napasnya menderu kasar, memburu, dan bising di dalam kesunyian kamar. Kulitnya yang pucat tampak bersinar keperakan di bawah cahaya purnama, memperlihatkan pola-pola sisik halus yang mulai menyembul di sepanjang pelipis dan rahang tegasnya.
"Kala, sadar! Ini aku, Lara!" seruku, mencoba menahan getaran di suaraku. Aku mengangkat tangan kiri, memperlihatkan tato di pergelangan tanganku yang mendadak berdenyut panas seiring dengan kacaunya detak jantung cowok di depanku.
Kala tidak mendengar. Dia bergerak agresif.
Hanya dalam satu kedipan mata, tubuh tingginya sudah berada tepat di hadapanku. Kedua tangan besarnya yang sedingin es batu menghantam dinding tripleks di kanan-kiri kepalaku, mengurungku sepenuhnya dalam jarak yang sangat intim namun mematikan. Aroma lumut basah dan anyir rawa yang pekat menyengat hidungku.
Dia menundukkan kepala, gertak giginya terdengar tepat di depan wajahku. Matanya yang menyala emas mengunci pandanganku, seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku ini kawan atau santapan malamnya. Dorongan insting protektif rawa yang kacau di dalam kepalanya membuat dia menganggap segala hal di sekitarnya sebagai ancaman yang harus dihancurkan.
Aku menahan napas, tidak berani bergerak satu milimeter pun. Tanganku yang meraba dinding di belakang tubuhku tidak sengaja menyentuh lampu teplok tua yang mati. Aku bisa saja memukulkannya ke kepalanya seperti saat aku menggunakan kunci pas di gudang kargo dulu, tapi kali ini berbeda. Ada kepedihan yang luar biasa di balik mata emas yang menyala itu. Dia sedang sekarat karena membeku dari dalam.
Tepat saat Kala memajukan wajahnya, bersiap untuk mencengkeram leherku dengan jemarinya yang berkuku tajam, sebuah suara dari luar gang seketika memotong ketegangan di antara kami.
Ngeeenggg…
Suara deru mesin mobil yang berat dan bertenaga besar memecah keheningan malam pasar ikan.
Suara itu bergerak lambat, sangat lambat, menyusuri jalanan sempit yang dipenuhi rumah-rumah kayu.
Mata emas Kala mendadak bergerak naik, melirik ke arah jendela kaca yang retak. Insting liarnya menangkap bahaya yang jauh lebih besar.
Ciiittt.
Sasis mobil SUV yang berat itu berhenti tepat di ujung gang kosanku, hanya berjarak beberapa meter dari Kamar Nomor Empat. Suasana di dalam kamar mendadak membeku dalam arti yang berbeda. Ketegangan psikologis di dadaku melonjak ganda hingga membuatku hampir mual karena panik.
Ancaman di dalam kamar belum mereda, dan kini ancaman dari luar sudah mengetuk pintu.
Brak. Brak. Suara pintu mobil ditutup dengan kasar terdengar bersahut-sahut di kejauhan. Itu pasukan keamanan Baron Logistics. Mereka sudah sampai di sini.
"Ssshh…" Aku nekat meletakkan telapak tanganku yang hangat di atas mulut Kala yang dingin, mencoba meredam suara deru napas kasarnya yang bising. "Diam. Jangan bersuara sedikit pun. Mereka ada di luar."
Sentuhan tanganku di bibirnya membuat tubuh besar Kala sedikit tersentak. Pupil matanya yang menyala emas berkedip cepat, seolah ada percikan kesadaran yang mencoba mendobrak kabut insting liarnya. Namun, hawa dingin yang menguar dari badannya tidak berkurang; kristal es di lantai bahkan semakin tebal, merayap naik ke ujung sepatuku.
Di luar, sorot lampu mobil SUV yang berdaya tinggi menembus lurus ke dalam gang sempit, melewati celah jendela kaca kamarku yang retak.
Cahaya putih itu membelah kegelapan kamar, membentuk siluet panjang tubuh Kala yang sedang menyudutkanku di dinding. Jika salah satu dari orang Baron melongok ke arah jendela ini, mereka pasti bisa melihat bayangan aneh kami melalui tirai jendela yang tipis.
Suara langkah sepatu bot yang berat mulai terdengar menginjak kerikil gang.
Langkah-langkah itu terdengar beritme, mantap, dan semakin mendekat ke arah deretan pintu kos-kosan nomor bawah.
Aku memejamkan mata erat-erat, mencengkeram pinggiran jaket kain Kala dengan sisa tenagaku.
Jika Kala mengamuk sekarang dan menghancurkan pintu ini, rahasia tentang wujud aslinya akan terbongkar total di depan moncong senjata pasukan Baron. Tapi jika aku berteriak meminta tolong pada orang di luar, nyawa Kala—dan nyawaku sendiri—pasti akan berakhir di tempat penangkaran logistik mereka.
Dalam kondisi terjepit di sudut dinding, di antara cengkeraman cowok berdarah dingin yang hampir kehilangan akal sehatnya dan derap langkah kaki anjing pemburu Baron yang kian dekat, aku hanya bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu liar melawan maut.