NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Padepokan bambu

Pagi itu dihiasi fenomena alam yang unik. Langit sedikit gerimis, tapi berkas sinar matahari tetap menembus awan dan menyinari bumi dengan hangat.

Yuse Yattama terbangun dari tidurnya. Dia merapikan diri sejenak, lalu melangkah keluar kamar. Langkahnya membawanya ke selasar, tempat Yamaika Brisa sudah bersiap menunggu.

"Pagi, Brisa! Sudah siap?" sapa Yuse dengan nada riang. "Ayo, aku antarkan kamu menghadap Bibi Liana untuk perkenalan resmi. Biar kamu nggak dianggap penyusup di sini."

Saat mereka berjalan menyusuri koridor kayu padepokan, Brisa menoleh dengan raut cemas. "Yuse... sebenarnya seperti apa sosok bibimu? Apa dia orang jahat? Atau sangat galak?"

Yuse langsung berhenti melangkah. Matanya menerawang, mengenang memori masa kecilnya saat pertama kali digembleng kejam di padepokan ini.

"Kalau dibilang galak... memang galak," bisik Yuse pelan. Dia memberi isyarat agar Brisa mendekatkan telinganya. "Bukan cuma galak, Brisa. Wanita itu juga penuh kebohongan. Terutama soal umurnya."

Dahi Brisa mengerut heran. "Kebohongan bagaimana?"

Yuse mendengus geli, merasa aman karena jauh dari ruangan Bibi. "Bayangin aja, umurnya udah lewat kepala tiga. Udah tua! Tapi penampilannya... wajahnya nggak menua sama sekali. Masih kayak gadis dua puluh dua tahun. Benar-benar penipuan publik!"

Yuse terus mengoceh, membongkar semua kejelekan Bibi tanpa sadar kalau hawa gerimis di sekitar mereka tiba-tiba membeku.

"Oh... jadi menurutmu umurku yang sudah lewat kepala tiga ini penipuan publik, Yuse?"

Suara wanita yang tenang tapi memancar kemarahan pekat terdengar tepat di belakang punggung Yuse. Bersamaan dengan itu, senyum jahat mengerikan terukir di wajah sang tetua padepokan.

Deg.

Keberanian Yuse lenyap seketika. Tubuhnya gemetar, keringat dingin bercucuran. Dia memutar lehernya patah-patah ke belakang seperti boneka rusak. Nggak nyangka orang yang sedang dibicarakan sudah berdiri di sana.

"B-Bibi... sejak ka—"

PLAK!

Belum selesai ngeles, tamparan cepat mendarat telak di pipinya. Hantaman tangan Bibi Liana membuat tubuh Yuse terpental beberapa meter dan tersungkur di tanah halaman yang basah.

"Aduh! Ampun, Bibi!" rintih Yuse sambil memegangi pipi memerah. Ksatria tangguh yang bisa mengeluarkan Elang Petir di Goa Tengkorak, kini cuma jadi bocah nggak berdaya.

Brisa yang menyaksikan drama itu dari awal sampai akhir nggak bisa menahan emosinya. Bahunya bergetar menahan tawa. Ksatria yang kemarin perkasa di hadapan ayahnya, ternyata nggak berkutik di depan bibinya sendiri.

**_

Bibi Liana melipat tangan di dada. Matanya menatap tajam ke arah Yuse yang masih duduk lemas di tanah basah. Senyum mengerikannya belum pudar.

"Karena mulutmu terlalu luwes menggosipkan umur orang tua," ujar Bibi Liana dengan nada tenang tapi menekan, "hari ini kamu nggak boleh menyentuh pedang sama sekali."

Yuse mendongak pasrah. "Lalu... aku harus apa, Bibi?"

Bibi Liana melempar sapu lidi ke arah dadanya. "Bersihkan seluruh area padepokan sampai nggak ada selembar daun kering pun yang tersisa. Dari halaman depan, koridor, dapur, sampai aula latihan utama. Kalau malam nanti aku masih lihat kotoran, bersiaplah terima tamparan kedua."

Yuse menangkap sapu itu lemas. Dia menghela napas panjang sambil bangkit dengan tubuh kotor terkena tanah basah. "Siap, Bibi..." jawabnya memelas, berharap Bibi luluh. Tapi Liana langsung membalik badan dan mengabaikannya.

Bibi Liana lalu menoleh ke Brisa. Ekspresinya berubah 180 derajat jadi ramah dan lembut. "Brisa, mari ikut saya ke dalam. Biarkan bocah bodoh ini menyelesaikan tugasnya. Kita ngobrol santai sambil minum teh hangat."

Brisa mengangguk sopan. "Baik, Tetua. Terima kasih."

Sebelum masuk, Brisa memperlambat langkahnya. Dia menoleh ke Yuse yang mulai mengayunkan sapu lidi ogah-ogahan. Sambil melambaikan tangan kecilnya, Brisa memberi senyum manis mengejek.

Melihat muka cemberut Yuse yang meratapi nasib, Brisa terkekeh pelan. Hari pertamanya di Padepokan Barat dimulai dengan hiburan menyenangkan, jauh dari bayangan ketegangan maut yang selama ini menghantuinya.

_**

Di ruangan tengah yang hangat, aroma wangi teh herbal mengisi udara, mengusir sisa dingin gerimis di luar. Bibi Liana menuang teh ke cangkir tanah liat, lalu menyodorkannya ke hadapan Brisa dengan gerakan anggun.

"Minumlah, Brisa. Ini bisa menghangatkan tubuhmu setelah perjalanan jauh," ujar Bibi Liana sambil tersenyum ramah. Kontras banget sama garangnya saat ngadepin Yuse tadi.

Brisa menerima cangkir itu dengan kedua tangan. "Terima kasih banyak, Tetua."

Liana duduk di hadapan Brisa, melipat tangan di atas meja. Tatapannya melembut, memandangi gadis berambut perak itu dengan rasa ingin tahu. "Yuse kemarin cuma bilang singkat kalau kamu dari utara. Boleh tahu, bagaimana asal-usulmu, Brisa? Dan apa yang bawa gadis sepertimu bisa bertemu keponakanku yang ceroboh ini?"

Brisa meletakkan cangkirnya perlahan. Dia diam sejenak, menatap kilau air teh di cangkir. Ingatan tentang Desa Angin dan kehancurannya melintas, tapi kali ini perasaannya lebih tenang.

Sebenarnya Saya lahir dan besar bukan di Desa Angin, jauh di ujung utara, Tetua," jawab Brisa lembut tapi tegar. "Beberapa tahun lalu, desa itu dilanda tragedi besar dan wabah penyakit. Dan saya membatu mengobati desa itu. Namun peristiwa terjadi Desa itu hancur dan nggak layak ditinggali lagi. Saya terpaksa mengembara tanpa arah karena sudah nggak punya keluarga." Brisa tak ingin menceritakan lebih detail apa yg terjadi.

Brisa jeda sebentar, lalu melirik ke jendela. Di luar, Yuse sibuk mengomeli daun kering yang nggak mau bergeser saat disapu.

"Lalu di perbatasan kota, saya nggak sengaja berpapasan dengan Yuse," lanjut Brisa, sudut bibirnya naik tipis. "Dia datang menyelidiki rumor tentang desa saya. Waktu lihat saya sebatang kara dan bingung cari tempat tinggal, dengan sifat sok pahlawannya, Yuse langsung ngajak saya ke padepokan ini."

Bibi Liana mendengarkan saksama. Kepalanya mengangguk pelan, menyerap setiap kata. Dalam hatinya, Liana bersyukur keponakannya menolong gadis ini. Walau sifat "sok pahlawan" Yuse memang mirip mendiang ayahnya.

"Begitu ya... Jadi kamu sudah melewati banyak hal sulit di utara," gumam Bibi Liana tulus. Dia menepuk punggung tangan Brisa lembut. "Sekarang nggak usah khawatir lagi. Tinggallah di sini dengan tenang. Abaikan saja kelakuan bodoh Yuse. Dia memang menyebalkan, tapi hatinya sangat tulus."

Brisa mengangguk. Dia merasakan kehangatan yang sudah lama nggak dirasakan sejak kepergian ibunya. Obrolan santai itu terus mengalir, membangun kedekatan awal yang baik di antara mereka. Tanpa ada rasa curiga.

---

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!