NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sore itu, suasana di kediaman Pradipta perlahan mulai mendingin setelah badai yang dibawa oleh Papa Surya dan Siska berlalu. Meskipun taman belakang sedikit berantakan akibat ledakan petasan raksasa keamanan sudah kembali diperketat.

Dewa benar-benar menepati janjinya. Ia tidak ingin Aira terus larut dalam kesedihan karena ulah keluarganya. Ia ingin malam ini menjadi malam yang tenang, hanya milik mereka berdua.

Aira, dengan tekad bulat, kembali ke dapur. Ia masih mengenakan gaun navy-nya, namun kali ini ia melapisinya dengan celemek bermotif polkadot yang tampak sangat lucu. Tangannya sibuk mengiris jagung manis dengan lincah.

"Nyonya Muda, biarkan kami yang melanjutkan," tawar salah satu koki senior dengan wajah cemas. Ia merasa bersalah melihat majikannya harus berurusan dengan minyak panas lagi.

"Sstt... Mas Koki, ini urusan perasaan. Masakan yang dibuat dengan rasa sayang itu beda hasilnya," sahut Aira sambil mengedipkan sebelah matanya.

Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh melingkar di pinggangnya. Dewa sudah berganti pakaian menjadi sangat santai, hanya kaus putih dan celana pendek.

"Mas! Jangan ganggu, nanti bakwannya gosong!" protes Aira, meskipun ia membiarkan suaminya menyandarkan dagu di bahunya.

"Aku mau bantu. Masa CEO Pradipta Group cuma nonton istrinya masak? Nanti kalau komisaris tahu, mereka pikir aku suami yang tidak produktif di rumah," gurau Dewa.

Aira tertawa. Ia memberikan sebuah ulekan berisi bumbu halus kepada Dewa. "Nah, kalau mau bantu, tolong ulek ini sampai halus sekali. Pakai tenaga otot 'kuli' Mas yang dulu itu, ya!"

Para koki di dapur itu berusaha keras menahan tawa melihat pemandangan langka tersebut.

Seorang pria yang siang tadi baru saja mengguncang bursa saham dengan pengalihan aset miliaran rupiah, kini sedang berjongkok di lantai dapur sambil mengulek bawang putih dan merica dengan wajah sangat serius.

"Mas, jangan pakai perasaan uleknya, nanti rasa bawangnya jadi galau," ledek Aira saat melihat Dewa terlalu bersemangat.

"Ini namanya teknik ulekan dinamis, Ai. Biar tekstur bakwannya nanti punya aura kepemimpinan," jawab Dewa asal yang disambut tawa renyah Aira.

Malam harinya, Dewa menolak makan di meja makan jati yang panjang itu. Ia meminta Hans menyiapkan tikar pandan di balkon kamar mereka yang menghadap langsung ke arah kerlap-kerlip lampu kota Jakarta.

"Nah, ini baru namanya makan malam!" seru Aira senang.

Di atas tikar itu, tersaji sepiring besar bakwan jagung yang masih hangat, sambal terasi buatan Aira, dan nasi putih mengepul. Tidak ada sup sirip ikan atau daging wagyu malam ini. Hanya ada menu sederhana di tengah istana.

"Mas, beneran tidak apa-apa makan begini? Nanti kalau Mama lihat, bisa-bisa aku dikirim ke sekolah etika lagi," bisik Aira sambil menyuapkan nasi dengan tangan langsung, cara makan favorit mereka.

Dewa mengunyah bakwan jagung itu dengan nikmat. Matanya terpejam sesaat. "Enak sekali. Ai, asal kamu tahu, makan lesehan begini jauh lebih mewah daripada makan malam formal di hotel bintang lima. Di sana aku harus jaga image, di sini aku bisa jadi Dewa yang sebenarnya."

Dewa kemudian mengambil sepotong bakwan dan menyuapkannya ke mulut Aira. "Ini hadiah untuk istriku yang paling berani menghadapi Papa Surya tadi siang."

Aira menerima suapan itu, namun matanya tiba-tiba meredup. "Mas... soal mahar seratus ribu itu. Aku tidak pernah benar-benar marah, Mas. Aku cuma... aku cuma merasa tidak pantas kalau tiba-tiba diberi saham sebanyak itu. Aku takut aku malah jadi orang yang berbeda."

Dewa meletakkan piringnya. Ia menggenggam tangan Aira yang sedikit berminyak karena bakwan, tidak peduli pada kebersihan tangannya sendiri.

"Ai, saham itu bukan soal uang. Itu soal jaminan. Aku ingin semua orang di dunia bisnis tahu bahwa kamu adalah bagian dari aku. Supaya tidak ada lagi orang seperti Bianca atau keluargamu yang meremehkanmu," ucap Dewa serius. "Dan soal mahar... besok kita ke toko perhiasan. Kamu boleh pilih apa saja sebagai mahar tambahan. Kalau kamu mau beli toko emasnya sekalian juga boleh."

Aira tertawa sampai tersedak. "Mas! Mana ada mahar tambahan beli toko emas! Nanti aku dituduh matre oleh netizen!"

"Biarkan saja. Matre dengan suami sendiri itu halal," sahut Dewa nakal.

Setelah makan malam, Aira masuk ke dalam walk-in closet yang sangat besar untuk mengambil baju tidur. Namun, ia tertegun melihat sebuah gantungan baru di sudut lemari.

Bukan gaun, bukan kebaya, bukan juga baju branded.

Ada sepuluh daster katun baru dengan berbagai motif bunga, mulai dari yang sederhana sampai yang warna-warni, namun semuanya berbahan sangat lembut dan adem.

Aira menutup mulutnya, menahan tawa sekaligus haru. Dewa benar-benar memperhatikan hal sekecil itu.

Ia segera berganti pakaian dengan salah satu daster baru itu dan keluar menemui Dewa yang sedang bersantai di sofa sambil membaca laporan kerja.

"Bagus tidak, Mas?" Aira berputar-putar seperti peraga busana daster.

Dewa mendongak, matanya berbinar. Ia meletakkan tabletnya dan merentangkan tangan. "Sini, Nyonya Daster."

Aira menghambur ke pelukan Dewa. Suasana menjadi sangat romantis dan tenang. Harum aroma tubuh Dewa yang maskulin bercampur dengan wangi daster baru Aira menciptakan kenyamanan yang luar biasa.

"Mas, besok Mas benar-benar mulai masuk kantor sebagai CEO lagi?" tanya Aira pelan.

"Iya. Tapi tenang saja, jadwal makan siangku sudah aku kunci. Hanya boleh makan siang dengan wanita pembawa rantang kuning bermotif bunga matahari," bisik Dewa di telinga Aira.

"Tapi Mas..." Aira ragu sejenak. "Bagaimana kalau nanti di kantor ada sekretaris cantik seperti Bianca lagi? Mas kan sekarang sudah jadi CEO paling tampan di Jakarta. Pasti banyak godaan."

Dewa melepaskan pelukannya sebentar, menatap Aira dengan dahi berkerut. "Kamu cemburu?"

"Sedikit," Aira jujur sambil menunduk.

Dewa tertawa lepas. Ia mengangkat dagu Aira. "Sayang, dengar ya. Aku sudah pernah mencoba hidup tanpa kamu saat aku bermain jadi kuli. Dan hasilnya? Aku hampir gila karena rindu. Jadi, kalau ada seribu wanita seperti Bianca di kantor, mereka tidak akan bisa menandingi satu wanita yang mau menjahitkan kaos kakiku yang bolong di jempolnya."

...----------------...

To Be Continue ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
ρυтяσ kang'typo✨
Good Ai...jangan biarkan mereka merendahkan mu hanya karna baju dan rantang di tangan, dikira haku dan gila🤦‍♀️😌hadeeeh...padahal orang kampung lebih jujur dari pada orang kota yang sok baik di balut dengan baju mewah'y namun hati'y busuk🤭🤭🤭nak kan u harus siap mentak lagi Ai, di rumah ada tamu tak di undang yang mau kembali sam suami mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!