Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THIRTY
Jangan menangis... Della... Aku tidak apa-apa..." bisik Aksa lemah, tangannya yang tidak terluka mencoba terangkat untuk menghapus air mata di pipi Della, namun ia terlalu lemas bahkan untuk mengangkat jarinya sendiri.
"Diamlah, Aksa! Jangan banyak bicara dulu!" omel Della di tengah tangisnya. Ia segera berlari menuju lemari kecil di sudut ruangan, mencari kotak pertolongan pertama (P3K). Dengan cekatan yang didorong oleh rasa panik, Della mengambil sebotol cairan antiseptik, alkohol, dan tumpukan kain kasa steril. Ia kembali berlutut di samping sofa, mulai membersihkan bekas-bekas aliran darah di sekitar luka dengan gerakan yang selembut mungkin agar tidak menambah rasa sakit suaminya. Della agak takut, karena lukanya benar-benar cukup besar, dalam, dan mengerikan untuk ukuran luka yang dibuat sendiri.
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja kembali terbuka dengan kasar. Zacky masuk bersama Dokter Leon yang membawa tas medis besarnya, diikuti oleh seorang perawat wanita paruh baya yang membawa peralatan steril tambahan.
Dokter Leon langsung melangkah cepat menuju sofa. Begitu matanya menangkap kondisi lengan kiri Aksa yang robek dan berlumuran darah, wajah dokter spesialis saraf keluarga Herlos itu langsung menegang penuh keterkejutan. "Tuan Muda Aksa! Bagaimana bisa Anda terluka separah ini?!"
Dokter Leon langsung mengambil alih posisi Della, mengenakan sarung tangan medis steril dan mulai memeriksa kedalaman luka sayatan tersebut dengan teliti. "Ini harus segera dijahit untuk menghentikan pendarahannya. Lukanya terlalu dalam hingga nyaris mengenai pembuluh darah arteri utamanya."
Sembari menyiapkan jarum bedah dan benang medis, Dokter Leon menoleh ke arah Zacky dengan pandangan menuntut yang sangat serius. "Zacky, jelaskan kepada saya bagaimana kronologi yang sebenarnya terjadi di dalam ruang rapat tadi? Mengapa kondisi mental Tuan Muda bisa mendadak naik ke fase destruktif ekstrem seperti ini, padahal dosis obat penenang yang saya berikan pagi tadi seharusnya mampu menahan fluktuasi emosinya selama dua belas jam?"
Zacky melangkah maju, wajahnya masih tampak pucat saat menceritakan kembali kejadian mengerikan di dalam toilet. "Semuanya berjalan lancar di awal, Dokter. Namun, di tengah-tengah presentasi Manajer Emily, Tuan Muda tiba-tiba menunjukkan gejala kehilangan fokus total. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin dalam jumlah banyak, dan napasnya memburu. Saat saya membawanya keluar ke toilet, Tuan Muda mengalami delusi hebat. Beliau berteriak bahwa orang-orang di ruang rapat sedang mengejek dan merendahkannya, padahal semua orang sedang fokus mendengarkan. Setelah itu... Tuan Muda kehilangan kendali, membanting ponsel saya, memukul tembok marmer, dan menghancurkan cermin toilet dengan tangan kosong hingga lengannya terluka seperti ini."
Mendengar cerita detail dari Zacky, Dokter Leon menghentikan gerakannya sejenak. Alisnya bertaut rapat, dan pancaran matanya berubah menjadi sangat dingin dan penuh kecurigaan.
"Berdasarkan cerita yang kamu sampaikan, Zacky... ada sesuatu yang tidak beres di sini," ujar Dokter Leon, suaranya merendah penuh selidik. "Gejala delusi mendadak yang disertai dengan lonjakan adrenalin tiba-tiba dan hilangnya efek obat sedasi secara instan seperti itu... tidak mungkin terjadi hanya karena tekanan emosional biasa. Pasti ada hal lain yang memancing dan membuat pikiran serta saraf otonom Aksa tidak tenang secara paksa dari luar."
Dokter Leon menoleh ke arah perawat yang dibawanya. "Suster, siapkan spuit dan tabung sampel darah khusus sekarang juga."
"Baik, Dokter," jawab perawat itu dengan sigap, mengeluarkan sebuah jarum suntik kecil dan sebuah tabung kaca kecil berlabel merah dari dalam tas.
Dokter Leon dengan sangat hati-hati menusukkan jarum suntik tersebut ke pembuluh darah di lengan kanan Aksa yang sehat, menarik tuasnya perlahan hingga cairan darah berwarna merah tua memenuhi tabung kecil tersebut. Setelah selesai, ia memasukkan tabung itu ke dalam wadah steril dan menyerahkannya kembali kepada perawatnya.
"Segera bawa sampel darah ini ke laboratorium klinik pusat kita sekarang juga," perintah Dokter Leon dengan nada suara yang sangat tegas dan tidak menerima bantahan. "Lakukan pengujian zat aktif dan skrining toksikologi menyeluruh pada sampel ini. Ingat, pemeriksaan ini statusnya adalah CYTO ! Begitu hasil analisis laboratoriumnya sudah keluar, langsung telepon saya detik itu juga. Jangan lewatkan satu komponen pun. Mengerti?"
"Mengerti, Dokter. Saya akan segera berangkat," jawab perawat itu patuh, lalu dengan cepat melangkah keluar ruangan membawa sampel darah berharga tersebut untuk diselidiki.
Dokter Leon kemudian beralih kembali ke lengan kiri Aksa. Dengan keahliannya yang sudah teruji selama puluhan tahun, ia menyuntikkan obat bius lokal di sekitar area luka untuk meredam rasa sakit, lalu mulai menjahit robekan kulit tersebut satu demi satu dengan gerakan yang sangat rapi.
Della duduk di sisi kepala sofa, memeluk kepala Aksa yang mulai terkulai lemas akibat pengaruh obat bius yang mulai bekerja menenangkan sistem saraf pusatnya. Jemari lentik Della terus mengusap rambut hitam Aksa dengan lembut, memberikan kenyamanan yang sangat dibutuhkan oleh suaminya yang kini mulai memejamkan mata perlahan, tertidur di bawah dekapan istrinya.
Setelah menyelesaikan jahitan terakhir dan membalut seluruh lengan kiri Aksa dengan perban putih yang tebal, Dokter Leon melepas sarung tangan medisnya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia berdiri, menatap Zacky dengan ekspresi wajah yang teramat serius, sarat akan ketegangan politik yang tersembunyi.
"Zacky, dengarkan saya baik-baik," ucap Dokter Leon, suaranya berbisik namun terdengar sangat tajam di telinga Zacky dan Della. "Saya meminta kamu untuk segera bergerak sekarang juga secara rahasia. Amankan seluruh sisa makanan, cangkir kopi, air mineral, atau apa pun yang disajikan di atas meja rapat pleno utama tadi, khususnya yang berada di dekat posisi duduk Tuan Muda Aksa."
Zacky tertegun. "Dokter... apakah Anda mencurigai adanya tindakan—"
"Ya," potong Dokter Leon cepat, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Bukan hanya makanan atau minuman. Saya juga meminta tim keamanan internal kita untuk segera melakukan pengecekan menyeluruh terhadap kandungan udara dan sistem filter ventilasi AC di dalam ruangan rapat pleno lantai tiga puluh sembilan itu sekarang juga sebelum sistemnya dibersihkan secara otomatis."
Dokter Leon melirik ke arah Aksa yang sudah tertidur pulas di sofa. "Saya sangat mencurigai adanya oknum di dalam perusahaan yang sengaja memasukkan atau menyemprotkan zat proaktif kimia tertentu, mungkin sejenis gas halusinogen dosis rendah atau stimulan saraf tanpa aroma, ke dalam ruangan tersebut sebelum rapat dimulai. Zat itu sengaja dirancang untuk merusak sistem kerja obat penenang dari saya, memicu trauma masa lalu Aksa naik ke permukaan, dan membuatnya kesulitan mengendalikan diri di depan publik sehingga posisinya sebagai pewaris bisa hancur berantakan hari ini."
Mendengar analisis mengerikan dari Dokter Leon, wajah Zacky seketika berubah menjadi sangat dingin dan dipenuhi oleh aura membunuh yang pekat. Rahangnya mengencang kuat, menyadari bahwa faksi Fabio dan Emily sudah bertindak terlalu jauh hingga berani melakukan sabotase fisik yang membahayakan nyawa Tuan Mudanya di dalam gedung pusat mereka sendiri.
"Saya mengerti, Dokter Leon," ucap Zacky dengan suara baritonnya yang kini terdengar sangat mematikan. "Saya sendiri yang akan memimpin tim investigasi ini secara langsung. Jika saya menemukan ada satu saja tangan tikus yang terlibat dalam hal ini... saya pastikan mereka tidak akan pernah bisa melihat matahari esok hari lagi."
Zacky membungkuk hormat ke arah Della yang masih memeluk Aksa dengan wajah pucat, lalu dengan langkah kaki yang lebar dan penuh amarah, ia melangkah keluar dari ruangan kerja, bersiap memburu siapa saja dalang di balik sabotase berdarah ini di bawah lantai korporasi Herlos Grup yang kian memanas.
tetap seperti itu kalau dengan istri mu.. Kudu patuhh n nurutt..
butuhh tutorr banyak hal dell dia.. dan km harus kasih paham.. jgn sampai yg lain yg meracuni pikiran suami poloss muu🤭
laahh jelasin aja dell
dr pada yg lain menjeleskan bisa salahh arahh nanti🤭
kau harusnya sudah paham akibatnya jika berani menyentuh cucu kesayangannya🙁
tp jgn sentuhh Della.. atau km akan nyeselll
tuhh lahh akibat salahh dalam memilihh orang...
kalau aku ya sudah tentu tertawa bahagia... silahkan suamiku kerja saja terus. lama tidak apa-apa. 🤣🤣🤣