NovelToon NovelToon
Bukan Inginku Jadi MADUMU

Bukan Inginku Jadi MADUMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Single Mom
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.

"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.

Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.

Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang kusut yang harus di urai

Pagi itu, mentari bersinar terang, seolah tak peduli pada badai yang melanda hati penghuni rumah itu. Nora bangun lebih awal dari biasanya. Sebagai dokter yang terbiasa disiplin, ia berusaha menata diri sebaik mungkin, meski kantung mata yang menghitam dan raut wajah yang lesu tak sanggup disembunyikan sepenuhnya. Ia mengenakan pakaian rapi, seperti sedang bersiap ke rumah sakit, padahal hari ini ia mengambil cuti khusus untuk mengurus segala hal di rumah, apalagi Yusuf sedang ada di rumah.

Siti sudah sibuk di dapur sejak subuh. Gerak-geriknya pelan dan berhati-hati. Ia tahu, posisinya kini jauh lebih rumit dari sekadar asisten rumah tangga, namun ia juga sadar betul ia tak setara dengan istri sah tuannya—seorang dokter yang dihormati dan dicintai banyak orang. Saat sedang mengaduk sayur, langkah kaki Nora terdengar mendekat. Siti menegang, napasnya tertahan.

"Masih pagi sekali sudah sibuk semua," suara Nora terdengar datar, tak ada nada marah, tapi juga tak ada kehangatan. Ia berdiri di ambang pintu dapur, menatap punggung Siti.

Siti menoleh cepat, tangannya sedikit gemetar. "I-iya, Mbak. Biar semuanya siap sebelum Mas Yusuf dan Haikal bangun. Mas.... Mas Yusuf belum bangun ya, Mbak?"

Nora menggeleng, lalu berjalan mendekati meja makan, mengambil gelas dan menuang air hangat. "Masih tidur. Semalam dia susah tidur. Sama sepertiku."

Kalimat itu membuat hati Siti seperti dicubit keras. Ia menunduk kembali ke panci di hadapannya. "Maaf ya, Mbak... gara-gara saya, Mas dan Mbak jadi nggak tenang begini."

"Jangan selalu minta maaf, Sit," potong Nora cepat, suaranya sedikit meninggi namun tertahan. "Kalau kamu terus-terusan minta maaf, rasanya makin sesak dada aku. Ini bukan salah kamu sendirian. Ini kesalahan suamiku. Dan aku... aku juga salah karena mungkin terlalu sibuk, terlalu percaya, sampai nggak sadar ada retakan di rumah tanggaku sendiri." Nora menelan ludah, berusaha menahan air mata yang kembali ingin jatuh. "Sekarang tugasmu cuma satu. jaga kesehatanmu dan janin itu. Jangan sampai ada apa-apa. Aku dokter, aku tahu risiko kehamilan. Kalau ada keluhan sedikit saja, langsung bilang. Jangan ditahan."

Siti mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca mendengar perhatian yang disampaikan dengan nada dingin itu. "Iya, Mbak. Terima kasih."

Belum sempat percakapan itu berlanjut, Haikal muncul di pintu dapur. Tubuhnya yang mulai menjelang remaja terlihat tegap, wajahnya menampakkan kecerdasan dan ketenangan khas anak yang dibesarkan di lingkungan berpendidikan. Ia menatap ibunya dulu, lalu beralih ke Siti, lalu mengerutkan kening melihat suasana yang kaku.

"Pagi, Ma. Pagi, Tante Siti," sapa Haikal sopan, meski raut wajahnya serius. Ia sudah kelas 6 SD, sudah cukup mengerti untuk merasakan ada yang salah di rumahnya. Semalam ia mendengar suara-suara keras, meski tak jelas apa isinya.

"Pagi, Nak. Sudah bangun? Ayo cuci muka, sebentar lagi sarapan siap," jawab Nora, berusaha tersenyum tipis pada putranya. Senyum yang dipaksakan, namun cukup untuk menenangkan Haikal.

Tak lama kemudian, Yusuf keluar dari kamar. Ia sudah rapi, mengenakan kemeja santai, mengingat dirinya sedang libur kerja. Wajahnya tampak lelah, tapi ia berusaha terlihat tegar. Ia menatap Nora dulu, lalu melirik Siti, sebelum akhirnya berjalan mendekati Haikal dan menepuk bahu anak itu bangga.

"Pagi, Anak papa. Belajarnya lancar? Sebentar lagi ujian sekolah ya?" tanya Yusuf, berusaha mencairkan suasana.

"InsyaAllah lancar, Pa. Haikal sudah belajar kok," jawab Haikal sambil tersenyum tipis, lalu matanya beralih ke arah Siti yang sedang menata piring. "Tante Siti, nanti sore bisa ajarin aku pelajaran matematika lagi nggak? Ada bagian yang aku kurang paham."

Pertanyaan polos itu membuat tiga orang dewasa di ruangan itu terdiam sejenak. Bagi Haikal, Siti masihlah Tante Siti yang sama—orang yang selama ini membantu ibunya mengurus rumah, orang yang sabar membantunya belajar saat kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ia belum paham betul perubahan status yang rumit itu.

Siti menatap Nora ragu-ragu, menunggu izin. Nora menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Boleh. Ajarin dia seperti biasa. Jangan sampai prestasi Haikal turun cuma karena masalah orang dewasa."

"Terima kasih, Mbak," ucap Siti pelan, hatinya sedikit lega.

Sarapan pagi itu berjalan hening. Hanya terdengar suara denting sendok dan piring. Yusuf berusaha bercerita sedikit soal pekerjaannya di luar kota, namun tanggapan Nora singkat saja. Siti sama sekali tak berani bicara, kecuali jika ditanya. Haikal yang peka, menyadari keanehan itu, memilih untuk fokus pada makanannya, sesekali melirik ke arah ayah dan ibunya bergantian.

Setelah sarapan selesai, Yusuf mengajak Nora duduk kembali di ruang tengah, sementara Siti membereskan meja dan Haikal masuk ke kamarnya.

"Nor..." Yusuf membuka pembicaraan pelan, matanya menatap istrinya dengan penuh penyesalan. "Besok tanggal 15, sebelum aku kembali kerja, kita antar Siti periksa ke dokter kandungan di RS tempat kamu biasa praktek ya? Aku sudah telepon, minta jadwal ke dokter yang lain. Biar kamu yang temani dia masuk, aku tunggu di luar. Biar aman, biar tertib sesuai kesepakatan kita semalam."

Nora menatap suaminya tajam. "Kamu pikir aku sanggup, Mas? Aku juga dokter disana , aku harus profesional. Tapi ini suamiku, ini rumah tanggaku yang hancur berantakan. Rasanya seperti menyayat hati sendiri setiap kali aku harus mengurus hal-hal berhubungan dengan dia."

"Aku tahu, Nor. Aku tahu beratnya. Tapi tolong... demi kebaikan semua, demi janin itu, dan demi nama baik kita sebagai keluarga yang terhormat. Kalau bukan kamu yang atur, nanti orang lain yang mengurus, malah jadi omongan. Kamu lebih paham soal ini," bujuk Yusuf lembut.

Nora memejamkan mata sejenak, menekan rasa sakit yang kembali menyergap. Ia sadar, posisinya sebagai istri sah, sebagai dokter, menuntutnya untuk bersikap bijak dan terhormat di mata orang lain, meski hatinya sedang hancur lebur. Ia tak mau aib rumah tangganya diketahui orang banyak, apalagi bisa merusak nama profesinya.

"Baiklah. Aku atur jadwalnya. Besok pagi jam sepuluh. Dokter Rina yang memeriksa. Dia teman dekatku, dia bisa dipercaya dan menjaga rahasia," jawab Nora akhirnya, suaranya parau. "Tapi ingat Mas, ini bukan berarti aku ikhlas. Aku cuma... sedang berusaha selesaikan kekacauan yang kamu buat ini dengan cara yang paling manusiawi dan bermartabat."

Yusuf mengangguk, tangannya ingin menyentuh tangan istrinya, tapi urung. Ia tahu, jarak di antara mereka kini sudah terlalu lebar untuk dijangkau sekadar sentuhan. "Terima kasih, Nor. Terima kasih sudah sebesar ini hatimu. Aku janji, selama aku libur di sini, aku akan berusaha menebus semuanya. Dan nanti kalau aku sudah berangkat kerja lagi, aku akan atur segalanya dari jauh. Kamu tetap pemimpin di rumah ini. Siti... dia hanya akan tinggal di sini sampai melahirkan dan cukup pulih, setelah itu aku akan siapkan tempat tinggalnya sendiri, dan nafkah anaknya akan aku kirim langsung. Dia tidak akan mengganggu hidupmu dan Haikal selamanya."

Dari arah dapur, Siti mendengar percakapan itu samar-samar. Ia berhenti sejenak menyeka piring, meneteskan air mata yang ia hapus cepat. Ia tahu, waktunya di rumah ini memang terbatas. Ia hanya menumpang, menunggu waktu sampai ia bisa pergi membawa anaknya sendiri. Dan meski sakit, ia bersyukur Nora tidak mengusirnya dengan cara kasar. Ia bersyukur Yusuf bertanggung jawab, walau ia tahu betul, ia hanyalah sebuah kesalahan yang berwujud nyata.

Siang itu, saat Haikal sedang belajar di ruang tengah, Siti duduk di sebelahnya, membimbing dengan sabar seperti biasa. Haikal menunduk pada bukunya, lalu tiba-tiba bertanya pelan, cukup untuk didengar Siti saja.

"Tante... Papa sama Mama berantem ya? Sejak kemarin suasananya beda banget. Mama matanya bengkak."

Jantung Siti berdegup kencang. Ia menatap wajah anak laki-laki itu—anak yang cerdas, baik hati, yang selama ini ia sayangi seperti keponakan sendiri. Dengan suara lembut, Siti menjawab, "Enggak kok, Nak. Orang tua mana ada yang nggak pernah beda pendapat. Cuma lagi banyak pikiran aja. Papa kan mau berangkat kerja lagi nanti, jadi banyak yang diurus. Kamu jangan khawatir ya, fokus sekolah aja. Tante janji, nanti semuanya bakal biasa lagi."

Haikal mengangguk ragu, lalu melirik sekilas ke arah mamanya yang berdiri di ambang pintu ruang tengah mendengarkan percakapan mereka. Nora tidak masuk, hanya berdiri diam, menatap pemandangan itu dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Ia melihat kedekatan anaknya dengan wanita itu, melihat ketulusan Siti, dan makin sadar betapa rumitnya benang kusut yang harus mereka urai bersama.

Perjalanan panjang ini baru saja dimulai. Di bawah satu atap yang sama, hidup tiga manusia dengan peran yang saling bertaut namun penuh luka. Yusuf berusaha menjadi penanggung jawab sekaligus penenang, Nora berusaha bertahan di antara harga diri dan rasa kasih, dan Siti berusaha hidup sehari-hari dengan rasa bersalah sekaligus harapan sederhana: agar anak yang dikandungnya lahir selamat, dan suatu saat ia bisa pergi dengan tenang, meninggalkan rumah ini tanpa membawa dendam, meski mungkin membawa luka seumur hidup.

Bersambung....

1
Naufal Affiq
istrimu di tempat selingkuhan nya yusuf
Jetva
si Siti ga kerja..??
Jetva
Lah Siti ogeb....ga pux harga diri....
Dewi Habibah
endingnya sudah bisa di tebak🤭
Dewi Habibah
gimana Nora tidak mencari kebahagiaannya sendiri , suami yg di cintai si Yusuf itu memendam cita pada Siti dan Nora di abaikan , lebih baik Nora cari kebahagiaan sendiri la
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
lanjut kak 👍
Naufal Affiq
kasihan aku lihat kamu yusuf,masih saja kau pikir kan perasaan istrimu yang tukang selingkuh di belakang mu
Tri Hastuti
mudah2an mereka bersatu,, nora tinggalin j
Naufal Affiq
nikahin siti yusuf,karena istri mu sudah selingkuh di belakang mu
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
mau lihat reaksi nora gimana nanti 🤧
Suanti
nora sdh selingkuh yusuf tinggal cerai kan nora baru nikah lgi sm siti 🤭
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤: gampang sekali ya kak /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sasikarin Sasikarin
bolak balik g up juga... kecewa sangat
❀∂я 𝗗𝗘𝗪𝗜 𝗥⒋ⷨ͢⚤ : Bentar ya kak, lagi nulis🤗
total 1 replies
Naufal Affiq
yusuf berusaha kuat lagi untuk mencari siti dan dafa,mereka ada di Kalimantan lho
Tri Hastuti
biarin j nora selingkuh, nti siti sama yusuf j 😂
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
tapi kabar buruk dari ibumu Haikal , dia selingkuh 😭😭😭😅
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ini ada maunya raka 🙄
Suanti
semoga secpt nya yusuf ketemu siti dan daffa
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
salah jalan kamu nora pelampiasan sama suami orang 🙄🤧
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ujungnya jadi selingkuh kalian 🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!