NovelToon NovelToon
Bos Galak Jadi Papa

Bos Galak Jadi Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Pernikahan rahasia / Pernikahan Kilat / CEO / Romansa
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Lu ngapain tidur di samping gue?"

Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Ranu tetap menatap Galuh tanpa berkedip. Tatapannya tenang, tetapi cukup membuat wanita itu semakin salah tingkah.

"Galuh."

"Iya..."

"Kamu istriku."

Galuh menggigit bibir bawahnya pelan.

"Aku tahu, Mas."

"Kalau tahu, kenapa masih minta dua kamar?"

Galuh menunduk.

"Soalnya..."

"Soalnya?"

"Aku belum terbiasa."

Ranu mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum tipis.

"Aku juga belum terbiasa."

Galuh mendongak.

"Hah?"

"Aku juga baru pertama kali jadi suami."

Kalimat itu membuat Galuh tak kuasa menahan senyum kecil.

Ranu kembali menatap resepsionis.

"Satu kamar saja."

"Baik, Pak."

Tak lama kemudian mereka menerima kartu akses kamar. Sepanjang perjalanan menuju lift, keduanya sama-sama diam. Suara roda koper yang ditarik petugas hotel terdengar lebih nyaring daripada percakapan mereka.

Lift terbuka. Mereka masuk. Hanya ada mereka berdua. Galuh berdiri di sudut sambil memandangi angka yang terus bertambah.

Empat...

Lima...

Enam...

Entah kenapa perjalanan beberapa lantai itu terasa begitu lama. Begitu pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju kamar.

Klik.

Pintu terbuka. Ruangan itu cukup luas. Tempat tidurnya besar, dengan seprai putih yang rapi. Sebuah sofa panjang berada dekat jendela, sementara meja kerja berdiri di sisi lain ruangan. Begitu pintu tertutup, Galuh langsung berdiri mematung. Matanya otomatis tertuju pada ranjang itu.

Hanya satu. Ia menarik napas panjang. "Aku... cuci muka dulu ya, Mas," katanya pelan.

"Hm."

Tanpa menunggu jawaban lain, Galuh segera masuk ke kamar mandi. Pintu ditutup. Begitu sendirian, ia langsung menyandarkan punggung di balik pintu.

"Ya Allah..."

Tangannya menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Kenapa deg-degan begini..." bisiknya lirih.

Ia menyalakan keran. Air dingin membasahi wajahnya. Sedikit demi sedikit rasa panas di pipinya mulai berkurang.

"Cuma tidur," bisiknya lagi."Bukan apa-apa."

Galuh menarik napas pelan, "Dia juga pasti capek," gumamnya mendoktrin pikirannya."Jangan aneh-aneh, Galuh."

Ia mengusap wajah memakai handuk kecil, lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya keluar. Begitu pintu kamar mandi terbuka... Ranu sudah rebahan di atas ranjang. Satu tangan berada di belakang kepala. Tangannya yang lain memegang ponsel. Entah benar-benar sedang membaca sesuatu atau hanya pura-pura sibuk. Galuh langsung menghentikan langkah.

"Aku..."

Ranu melirik sekilas. "Sudah selesai?" tanyanya.

"Iya," jawab Galuh mengangguk pelan.

"Hm."

Lalu kembali menatap layar. Galuh berdiri beberapa saat. Mau naik ke ranjang... Malu. Mau tetap berdiri... Juga pasti jadi aneh. Akhirnya ia berjalan perlahan menuju sofa. Mengambil bantal kecil. Lalu merebahkan tubuhnya di sana. Belum sampai memejamkan mata...

"Galuh."

Wanita itu membuka mata lagi. "Iya?"

"Ngapain di situ?"

"Tidur."

"Kelihatan."

Galuh menahan senyum gugup. "Maksudku... aku tidur di sofa saja."

Ranu meletakkan ponselnya. "Kenapa?"

Galuh diam bentar. "tidak apa-apa."

"Sofa itu sempit."

"Nggak apa-apa, kok."

"Besok badanmu pegal."

"Nggak apa-apa juga."

Ranu menghela napas panjang. "Galuh."

"Iya?"

"Naik."

Galuh menggeleng cepat. "Nggak usah."

"Naik." perintahnya lagi, "Aku nggak akan gigit kamu."

Galuh spontan menggulum bibir. Ranu otomatis duduk. "Kalau sampai kamu masuk angin gara-gara tidur di sofa, nanti malah aku yang disalahkan."

Galuh masih tampak ragu. Melihat itu, Ranu mengambil guling panjang yang berada di sisi ranjang. Ia meletakkannya tepat di tengah kasur.

"Nih."

Galuh mengernyit.

"Buat pembatas," kata Ranu lagi. "Aku nggak bakal nyebrang."

Baru setelah itu Galuh perlahan naik ke ranjang. Gerakannya hati-hati sekali, seolah takut kasurnya bergoyang. Ia berbaring di sisi paling ujung. Jarak mereka masih dipisahkan oleh guling panjang. Ranu mematikan lampu utama. Kini hanya lampu tidur yang menyala redup. Mereka saling membelakangi. Tak ada yang berbicara lagi.

Namun justru keheningan itulah yang membuat suasana semakin canggung. Galuh memejamkan mata. Tidak bisa tidur. Jantungnya berdetak begitu cepat. Bahkan suara napasnya sendiri terasa terlalu keras.

Di balik punggungnya, ia bisa mendengar napas Ranu yang terdengar teratur.

"Apa Mas Ranu sudah tidur?" gumamnya dalam hati. Ia mencoba memejamkan mata lagi.

Menghitung.

Satu...

Dua...

Tiga...

Entah kapan akhirnya rasa lelah mengalahkan kegugupannya. Malam itu, keduanya benar-benar tertidur.

Pagi datang bersama sinar matahari yang menyelinap dari balik tirai. Galuh bergerak pelan. Kelopak matanya terbuka sedikit. Ia mengerjap beberapa kali.

Masih mengantuk. Namun beberapa saat kemudian, tubuhnya mendadak membeku. Hangat.

Kenapa hangat sekali?

Perlahan ia menunduk. Matanya membulat seketika. Tangannya... Sedang melingkar di pinggang Ranu.

"Waduh..."

Jantungnya hampir meloncat. Ia buru-buru mencari guling pembatas. Tidak ada. Matanya berkeliling. Guling itu justru sudah jatuh ke lantai.

"Kapan pindahnya?"

Galuh memejamkan mata rapat. Pipinya memerah. Ia ingin segera menarik tangannya. Namun... Aneh. Rasanya nyaman. Hangat.

Aroma parfum yang samar dari tubuh Ranu membuatnya justru semakin sulit bergerak. Belum sempat ia mengambil keputusan... Sebuah tangan bergerak. Pelan. Lalu... Merangkul pinggangnya. Galuh sampai menahan napas.

"Ya Allah..."

Kini justru Ranu yang memeluknya. Bahkan lebih erat daripada pelukannya sendiri. Galuh sama sekali tak berani bergerak. Ia memilih pura-pura masih tidur. Dadanya naik turun pelan. Ia berusaha mengatur napas agar tetap normal.

Beberapa saat berlalu. Tak ada suara. Hanya detak jantung.

Degup...

Degup...

Degup...

Galuh mengernyit. Kenapa keras sekali?

Ia mencoba mendengarkan lagi. Lalu tersadar. Bukan hanya satu.

Ada dua. Dadanya berdebar. Dada Ranu juga. Irama keduanya bahkan terdengar saling bersahutan.

"Mas Ranu... ternyata belum tidur juga ya..."

Ia semakin yakin Ranu sebenarnya sudah bangun sejak tadi. Hanya saja, pria itu sama sepertinya. Sama-sama memilih diam. Sekitar lima belas menit mereka tetap berada dalam posisi itu. Tak ada satu pun yang berani membuka mata lebih dulu.

Sampai akhirnya Ranu berdeham pelan. Galuh langsung menarik tubuhnya perlahan dan pura-pura baru bangun.

"Eh..."

"Pagi, Mas."

"Pagi."

Ranu juga berpura-pura mengusap wajah, seolah tak terjadi apa-apa.

"Kita siap-siap."

"Iya."

Tak ada yang membahas kejadian barusan. Meski keduanya tahu persis apa yang terjadi.

Pagi itu mereka kembali menuju lokasi proyek. Masih ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani dan laporan akhir yang perlu diperiksa. Baru menjelang siang semua urusan selesai.

Di dalam mobil, suasana kembali sunyi. Galuh beberapa kali melirik ke arah Ranu. Pria itu fokus menyetir, tak banyak bicara.

Sesampainya di kota, mobil justru berhenti di depan kantor. Galuh menoleh heran.

"Kamu turun di sini." katanya, "Kamu selesaikan dulu laporan hasil perjalanan."

"Terus Pak Ranu?"

"Aku pulang. Capek."

Galuh terlihat ragu. Tapi Ia mengangguk pelan, meski masih merasa ada sesuatu yang disembunyikan Ranu.

"Kalau begitu... hati-hati, Mas."

"Kamu juga."

Galuh turun sambil membawa map-map proyek. Mobil Ranu kembali melaju. Ia menggenggam setir sedikit lebih erat. Sebenarnya ada alasan lain. Ia belum ingin mempertemukan Galuh dengan Papa dan Mamanya dalam suasana seperti sekarang.

Biarlah ia menjelaskan semuanya lebih dulu. Setidaknya kemarahan kedua orang tuanya jangan sampai langsung tertumpah kepada Galuh.

Beberapa puluh menit kemudian, Ranu memasuki halaman rumah.

Anehnya... Suasana sangat sepi. Mobil Papa Deni tidak ada. Mobil Mamanya juga tak terlihat. Karna dia tak tau mereka pake mobil siapa. Ranu bergegas masuk.

"Mbak Siti!"

Asisten rumah tangga itu segera keluar dari dapur.

"Pak Ranu..."

"Papa sama Mama mana?"

Mbak Siti tampak gugup. "Sudah pergi, Pak." katanya.

Ranu mengernyit. "Pergi ke mana?"

"Itu..."

"Kalau Arkan di mana?"

"Ikut, Pak."

Wajah Ranu langsung berubah. "Ikut?" ulangnya terkejut.

"Iya."

Perasaan tak enak tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia segera mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Papa Deni. Sambungan pertama tak dijawab. Sambungan kedua...

Klik.

"Halo."

"Pa! Papa di mana?"

"Tebak."

Ranu menelan ludah. "Papa bawa Arkan ke mana?"

"Kami lagi di jalan."

"Jalan ke mana?"

Suara Deni terdengar datar. "Ke rumah mertuamu."

Ranu langsung berdiri. "Apa...?"

1
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
karyawan julid bukannya kerja malah ghibahin istri bosnya pula minta dihempaskan ke planet Mars kyaknya klo tau faktanya bakal nyesel tuhh mereka🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
Ranu omes...🤣🤣🤣
Sri Wahyuni
gaassss juga kak up nya😍
Cinta_manis: siap kak. tunggu ya🙏😍
total 1 replies
Sri Wahyuni
wah sudah dapat lampu Hijau....gasss Ranu 🤣
Cinta_manis: iya, tuh 🤭
total 1 replies
delis armelia
kirain udh mau gol gawang
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 nanti ya kak
total 1 replies
Sastri Dalila
😅😅
Cinta_manis: makasih komennya kak🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
pasangan yg bikin gemes🤣🤣
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 iya tuh
total 1 replies
imel
pelan pelan Buu🤣🤣🤭
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
delis armelia
ayo ranu gol gawang
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Wkwkwk mama Anggun langsung gercep to the point suruh bikin Galuh hamil setelah dijulidin mamanya Cindy emang bener sih harus buktikan ya Ma kalo anak Mama bibitnya premium sekali semburrr langsung jadi kembar nnti🥳
Kiki Sugiarti
bagus ceritanya saya suka
Cinta_manis: makasih kaka bintang 5nya😍
total 1 replies
sutiasih kasih
up banyak" thor
Cinta_manis: 😭😭😭tunggu ya kak. next time dicoba🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor ceritanya bagus bgt aku suka..😍
Cinta_manis: makasih kak😍🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
lanjutkan thor....
double up
Cinta_manis: heheh, tunggu ya, kak. doblenya🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
ap g makin klepek" nntinya si Ranu.... dpt istri hatinya baiknya g ktulungan...
Cinta_manis: makasih komennya kak😍
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Cinta_manis: makasih kk🙏
total 1 replies
Rahma Lia
lanjut kesini setelah Yuda,,
Sastri Dalila
👍👍👍
Cinta_manis: cihuy! makasih bintang 5nya kak😍🫰
total 1 replies
Sastri Dalila
🤣🤣
Cinta_manis: kena juga si Ranu 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!