Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kamu ganti parfum?
Malam semakin larut. Suasana di luar begitu hening. Jam dinding yang tergantung di kamar telah menunjukkan pukul sebelas tepat ketika suara deru mesin mobil perlahan terdengar memasuki pekarangan rumah.
Lampu sorot mobil sempat membiaskan cahaya remang-remang menerobos celah tirai jendela sebelum akhirnya padam, menandakan si pengemudi telah mematikan mesinnya.
Rindu, yang sejak tadi duduk termenung di tepi ranjang berseprai putih itu, spontan mengangkat kepalanya.
Sejak selesai membersihkan dapur dan menikmati makan malam yang terasa canggung, ia memang sama sekali tidak berniat untuk tidur lebih dulu.
Pikirannya riuh, dipenuhi berbagai spekulasi yang berusaha ia tepis berkali-kali.
Sesekali tangannya yang dingin menggenggam ponsel, berharap ada pesan masuk yang bisa menenangkan hatinya. Namun, layar itu tetap sepi. Hanya ada satu pesan singkat dari Arsen yang diterimanya sekitar pukul delapan malam tadi, sebuah pesan yang kini dibacanya berulang-ulang hingga ia hapal setiap kata di dalamnya.
Aku pulang agak malam. Lagi nyelesaiin kerjaan yang sempat ketunda gara-gara kekacauan di kantor beberapa hari ini.
Setelah jeda beberapa menit yang terasa begitu menyiksa, derap langkah kaki yang teratur namun berat terdengar menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai atas.
Pintu kamar akhirnya terbuka perlahan. Arsen melangkah masuk sambil mengembuskan napas lelah yang terdengar cukup berat. Jas abu-abu bermotif houndstooth yang dikenakannya sejak pagi masih melekat rapi di tubuhnya, sementara simpul dasinya sudah sedikit dikendurkan.
Rambut hitamnya tampak agak berantakan, menunjukkan tanda-tanda frustrasi atau kelelahan, seolah ia telah berkali-kali mengusapnya sepanjang hari.
Begitu mendapati sosok Rindu yang masih setia duduk tegak di tepi ranjang, Arsen tampak terkejut. Langkahnya tertahan sejenak di dekat pintu.
"Lho... belum tidur?" tanyanya dengan nada suara yang agak serak, diiringi sebuah senyum tipis yang dipaksakan untuk menutupi rasa lelahnya.
Rindu berusaha membalas senyuman itu. Ia mengukirnya sebisa mungkin, meski bibirnya terasa kaku dan senyum itu terasa begitu dipaksakan.
"Belum."
Arsen menutup pintu kamar rapat-rapat, memutar kunci, lalu berjalan menuju sofa di sudut ruangan untuk meletakkan tas kerja kulitnya yang tampak berat.
"Kenapa belum tidur? Ini udah larut banget, Sayang."
Rindu menatap wajah suaminya beberapa detik sebelum menjawab. Ia memperhatikan garis-garis kelelahan di sekitar mata Arsen, mencoba mencari kejujuran di sana.
"Aku mau nunggu kamu pulang." Jawaban polos dan jujur itu rupanya mampu melelehkan ketegangan di wajah Arsen. Senyum hangat yang amat dihafal Rindu perlahan terbit di wajah pria itu.
"Harusnya nggak usah nunggu. Kan aku udah bilang pulangnya memang bakal malam."
"Nggak apa-apa. Aku mau nunggu."
Arsen melangkah mendekati ranjang, memangkas jarak di antara mereka.
"Makasih ya, sayang."
Tanpa berpikir panjang, Arsen membungkuk sedikit dan mengecup pelan kening istrinya. Sentuhan bibir Arsen di kulit kerut keningnya terasa hangat, sebuah kebiasaan penuh kasih sayang yang biasanya selalu mampu membuat segala kegelisahan di hati Rindu menguap seketika.
Namun kali ini, entah mengapa, sentuhan itu terasa berjarak. Ada tembok tak kasat mata yang tiba-tiba membentang tebal di antara mereka berdua. Kehangatan itu tidak sampai ke lubuk hatinya. Rindu perlahan berdiri, menyejajarkan posisinya dengan sang suami.
"Capek ya?" tanyanya lembut, mencoba memecah kecanggokannya sendiri.
"Iya. Lumayan berantakan hari ini," sahut Arsen sambil merenggangkan otot lehernya yang kaku.
"Kerjaannya banyak banget?"
Arsen mengangguk pelan sambil mengembuskan napas panjang.
"Masih beres-beres dampak masalah kemarin. Banyak laporan keuangan dan audit internal yang harus diselesaikan segera. Tapi untunglah, malam ini sebagian besar masalah utamanya sudah beres."
"Oh..."
Rindu mengangguk perlahan. Ia berusaha keras agar suaranya terdengar sebiasa mungkin, tanpa nada curiga.
Ia berpura-pura seolah tidak ada satu pun hal yang sedang menggerogoti pikirannya saat ini.
"Udah, sini," ucap Rindu kemudian sambil melangkah tepat ke depan Arsen.
"Biar aku bantu lepas jasnya."
"Nah, itu baru istriku yang pengertian," canda Arsen pelan, mencoba mencairkan suasana kamar yang terasa sedikit kaku.
Rindu hanya membalas candaan itu dengan senyum tipis yang singkat. Sudah menjadi kebiasaan rutin sejak awal pernikahan mereka untuk membantu melepaskan jas suaminya setiap kali Arsen pulang dari kantor.
Sebuah ritual kecil dan sederhana yang selalu ia lakukan dengan penuh rasa bahagia dan kebanggaan sebagai seorang istri.
Ia bergerak ke belakang tubuh Arsen. Kedua tangannya perlahan terangkat, memegang bagian bahu jas tebal tersebut untuk menggesernya turun dari tubuh suaminya.
Namun, tepat saat kain jas itu bergeser menyingkap bahu Arsen, aroma itu kembali menyeruak ke udara.
Aroma lembut, manis, dengan sentuhan wangi bunga yang begitu khas.
Seketika itu juga, tubuh Rindu membeku total. Tangannya yang sedang menarik lengan jas Arsen terhenti kaku di udara. Jantungnya berdegup kencang secara maraton, berpalu-palu menabrak rongga dadanya hingga menimbulkan rasa sakit yang nyata.
Tidak mungkin, bisik batinnya panik. Namun, indra penciumannya tidak mungkin membohonginya sekejam ini.
Parfum itu.
Dan yang membuat hatinya kian menciut, kali ini aromanya justru bertambah pekat dan jelas dibanding aroma samar yang sempat ia cium kemarin lusa.
Rindu mencoba memejamkan mata dan menarik napas perlahan, mengumpulkan sisa-sisa akal sehatnya.
Mungkin ini hanya perasaanku saja. Mungkin aku yang terlalu paranoid, ia mencoba menahan diri setengah mati agar tidak langsung meledak atau melontarkan tuduhan.
Jas itu akhirnya berhasil ia lepaskan sepenuhnya dari tubuh Arsen. Namun, sebelum jemarinya sempat menggerakkan jas itu menuju gantungan pakaian di dekat lemari, tanpa sadar dan seolah digerakkan oleh dorongan kebenaran yang menyiksa, Rindu kembali mendekatkan hidungnya ke bagian kerah dalam jas abu-abu tersebut.
Detik itu juga, runtuh sudah seluruh tembok pertahanan dan sangkalannya. Ya. Tidak salah lagi. Itu adalah parfum yang sama persis yang di pakai oleh Nia.
Dada Rindu mendadak terasa begitu sesak, seolah pasokan udara di kamar bergaya minimalis itu menguap habis.
Seharian penuh ia telah berusaha setengah mati meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua kecurigaannya hanyalah kebetulan belaka. Bahwa Arsen tidak akan pernah mengkhianati kepercayaannya. Tetapi sekarang, bukti itu kembali hadir tepat di depan matanya, terhirup jelas oleh inderanya sendiri.
Pasti perempuan atau apapun itu, memakai parfum yang sama dengan Nia. Atau parfum itu memang sedang tren. Ia menggenggam kain jas tebal itu sedikit lebih erat.
Arsen, yang saat ini sedang sibuk melepaskan jam tangan rantai peraknya di depan meja rias, sama sekali tidak menyadari perubahan drastis pada raut wajah sang istri.
"Besok kayaknya aku bakal lembur lagi deh, Sayang," kata Arsen santai tanpa menoleh, jari-jemarinya masih sibuk membuka pengait jam tangannya.
"Oiya..." Suara Rindu terdengar begitu datar, dingin, dan nyaris tanpa intonasi.
Mendengar nada suara yang tak biasa itu, Arsen akhirnya menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Rindu.
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Nggak apa-apa."
Arsen mengernyitkan dahi, menatap Rindu dengan tatapan khawatir yang teramat wajar.
"Kamu kelihatan capek banget. Wajah kamu pucat."
"Iya... mungkin aku cuma capek."
Arsen mengangguk paham, lalu kembali memusatkan perhatiannya untuk meletakkan jam tangannya di atas meja kayu.
Sementara itu, Rindu masih berdiri mematung sambil terus memegang jas abu-abu tersebut. Tangannya terasa dingin bagai es. Ia tahu pasti, jika ia memilih untuk terus diam dan memendamnya malam ini, pikirannya justru akan makin liar digerogoti oleh berbagai dugaan buruk l.
Ia harus menanyakannya sekarang. Lebih baik bertanya secara langsung, ketimbang harus terus-menerus hidup dalam bayang-bayang prasangka. Apa pun jawabannya nanti, setidaknya ia tahu di mana ia harus berdiri. Rindu menarik napas panjang.
"Mas..."
"Hm?" sahut Arsen gumam, masih membelakanginya.
"Apa kamu ganti parfum?"
"Nggak." Jawabannya meluncur begitu singkat, santai, dan tanpa beban.
"Aku masih pakai parfum yang biasa kok. Kenapa emangnya?"
Jika Arsen tidak mengganti parfumnya, berarti dugaan terburuknya memiliki landasan yang amat kuat. Ia mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dirinya.
Kalimat berikutnya yang harus ia lontarkan terasa puluhan kali jauh lebih berat dan menakutkan untuk diucapkan.
"Kalau begitu..." suara Rindu tertahan di tenggorokan.
Arsen akhirnya memutarkan tubuhnya secara penuh, menatap sang istri dengan raut wajah heran karena mendengar jeda yang tak biasa dari kalimat Rindu.
"Aroma parfum siapa yang ada di jas kamu?"
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰