NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Jatuh Cinta

12 — Jangan Jatuh Cinta

Malam itu, hujan turun dengan deras membasahi kota London, seolah langit pun ikut bersedih menyambut hati Alena yang sedang dilanda keraguan.

Pesan singkat dari Adrian tadi siang terus terbayang di kepalanya: "Malam ini datang. Kita perlu bicara serius."

Kalimat itu singkat, padat, dan dingin. Tidak ada panggilan sayang, tidak ada emoji manis seperti biasanya. Hanya kalimat tegas yang membuat perut Alena terasa mulas seharian penuh. Ada firasat buruk yang mengganggu, firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Saat pintu apartemen terbuka, Alena langsung disambut oleh suasana yang tidak biasa.

Biasanya, ruangan ini hangat dan penuh aroma kopi atau wine. Tapi malam ini, suasananya terasa berat, dingin, dan mencekik. Lampu-lampu utama dimatikan, ruangan hanya diterangi oleh cahaya lampu tidur berwarna kuning keemasan yang remang-remang, dan cahaya bulan yang tertutup awan gelap di luar jendela.

Adrian tidak duduk santai di sofa seperti biasanya. Pria itu berdiri membelakangi pintu, menatap lurus ke arah kaca jendela besar yang membasah oleh air hujan. Punggungnya tampak kaku, tegang, dan memancarkan aura beban yang sangat berat.

"Masuk," ucap Adrian pelan. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi, tanpa menoleh sedikitpun.

Alena menutup pintu pelan-pelan, suaranya berdecit kecil memecah keheningan. "Adrian... ada apa? Kenapa panggil aku malam-malam begini? Kenapa wajahmu murung sekali?"

Baru kemudian Adrian perlahan berbalik badan.

Wajahnya sulit dibaca. Ada rasa lelah yang mendalam mengendap di sudut matanya, ada rasa bingung, ada rasa marah pada diri sendiri, dan di saat yang sama ada kilatan rasa ingin memiliki yang berperang hebat dengan logika dinginnya.

Dia berjalan mendekat, langkahnya pelan namun pasti, berhenti hanya beberapa langkah di depan Alena. Jarak mereka dekat, sangat dekat, tapi kali ini tidak ada tangan yang terulur untuk memeluk, tidak ada senyum hangat yang menyapa. Hanya ada ketegangan yang terasa nyata di udara.

"Alena..." Adrian memanggil namanya pelan, suaranya berat, serak, dan terdengar sangat lelah. "Kita harus berhenti."

Jantung Alena seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Darah seakan turun ke kaki.

"A-apa maksudmu? Berhenti apa?" suaranya bergetar hebat, tangannya di samping badan terkepal kuat menahan rasa panik yang mulai menyerang.

"Berhenti melakukan ini semua. Berhenti bertemu seperti ini di luar jam kuliah. Berhenti menjadi... seperti ini." Adrian menarik napas panjang sekali, menghembusnya dengan kasar seakan ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. "Hubungan ini... apa yang kita lakukan malam demi malam... itu berbahaya, Len. Sangat berbahaya."

"Karena Sophia?" Alena memotong cepat, air matanya sudah siap tumpah. "Karena kau takut dia tahu? Atau karena kau menyesal sudah tidur denganku? Karena kau sadar aku cuma muridmu yang tidak setara dengan mantan tunanganmu itu?!"

"BUKAN!"

Adrian membentak pelan, tapi suaranya penuh penekanan. Dengan gerakan cepat, tangannya mencengkeram kedua bahu Alena kuat-kuat, memaksa gadis itu menatap matanya tajam-tajam.

"Bukan soal dia! Sophia tidak ada artinya! Dia sudah selesai! Sudah!" mata Adrian memancarkan emosi yang meledak-ledak, campuran antara frustrasi dan rasa sayang yang membingungkan. "Ini soal kita! Soal kau dan aku! Soal kenyataan pahit yang terus aku coba abaikan!"

Adrian mendekatkan wajahnya, napasnya panas menyapu wajah Alena, membuat gadis itu bisa mencium aroma musk dan sedikit bau alkohol yang tercampur.

"Lihat posisi kita, Len. Aku dosenmu. Aku lebih tua darimu bertahun-tahun. Kita berada di dua dunia yang berbeda. Kalau ini ketahuan... bayangkan apa yang akan terjadi."

Adrian melepaskan satu tangannya, lalu mengusap wajah Alena dengan ibu jarinya pelan, tatapannya lembut namun menyakitkan.

"Kariermu akan hancur sebelum sempat dimulai. Nama baikmu akan rusak selamanya. Orang-orang akan menuduhmu memanfaatkan tubuh demi nilai, atau mereka akan menuduhku sebagai dosen cabul yang mempermainkan muridnya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi padamu, Alena. Kau terlalu murni, kau terlalu berharga untuk dirusak oleh omong kosong dan skandal macam itu."

Alena menunduk, air matanya akhirnya jatuh membasahi tangan pria itu. "Tapi aku tidak peduli... aku rela..."

"AKU PEDULI!" potong Adrian tegas. "Aku yang harus peduli! Dan lagi... aku takut pada diriku sendiri."

Kalimat itu membuat Alena terhenti menangis sejenak, dia mendongak bingung.

"Aku takut..." Adrian berbicara lagi, suaranya merendah menjadi bisikan yang terdengar putus asa dan rapuh. Sisi yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapapun.

"Sejak awal aku tahu aku harus menjaga jarak. Aku tahu aku harus bersikap dingin agar kau tidak tertarik, agar aku tidak tergoda. Tapi setiap kali kau ada di dekatku... setiap kali kau menatapku dengan mata polos itu, setiap kali kau tersenyum padaku... akal sehatku hilang begitu saja, Len."

Tangan Adrian bergerak turun, menggenggam kedua tangan Alena dengan erat, seolah dia sendiri yang tidak sanggup melepaskan gadis itu meski kata-katanya menyuruh berhenti.

"Aku kehilangan kendali. Aku jadi pria egois yang hanya ingin memilikimu sendirian, tidak peduli aturan, tidak peduli risiko, tidak peduli siapa yang akan terluka. Aku jadi serakah. Aku ingin tubuhmu, aku ingin waktumu, aku ingin segalanya darimu... sampai aku lupa bahwa ini semua salah."

Adrian menatap lurus ke manik mata gadis itu, tatapannya sangat intens, memilukan, dan penuh peringatan.

"Jadi... aku mohon padaku, dan aku mohon padamu..."

Dia menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat yang paling menyakitkan.

"Jangan jatuh cinta padaku."

Suara itu jatuh seperti petir yang menyambar tepat di kepala Alena.

"Jangan berikan hatimu padaku. Jangan biarkan perasaan ini tumbuh lebih dalam dari sekadar rasa nyaman atau hasrat sesaat. Karena ini... apa yang kita punya ini... tidak ada masa depannya, Alena. Ini jalan buntu."

"Kalau kau jatuh cinta... kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak menjamin bisa melindungimu dari omongan orang. Aku bahkan tidak menjamin aku bisa menjadi kekasih yang baik untukmu. Aku ini pria yang rumit, dingin, dan penuh masalah."

Adrian melepaskan genggamannya perlahan, lalu mundur selangkah, dua langkah, membangun jarak lagi, membangun tembok tebal di antara mereka.

"Aku ini berbahaya, Len. Bukan hanya untuk karirmu, tapi juga untuk hatimu. Jadi tolong... jaga dirimu baik-baik. Jangan kasih hatimu ke orang yang salah sepertiku."

Suasana kembali hening. Hanya suara hujan yang menderu di luar yang terdengar, seakan ikut menangisi percakapan menyedihkan ini.

Alena berdiri terpaku di tempatnya. Badannya gemetar hebat, bukan karena dingin, tapi karena rasa sakit yang menusuk ulu hati begitu dalam.

Jangan jatuh cinta?

Dia ingin tertawa keras mendengar perintah itu. Tawa yang getir, pahit, dan sangat menyedihkan.

Seandainya pria ini tahu... seandainya Adrian tahu bahwa detak jantungnya yang berpacu kencang setiap kali melihatnya, rasa cemburu yang membakar dada, rasa bahagia luar biasa saat berada di pelukannya, dan rasa sakit yang luar biasa saat mendengar kalimat ini... itu semua bukan sekadar hasrat.

Itu cinta.

Alena sudah jatuh. Jatuh sangat dalam, sampai ke dasar, tanpa payung, tanpa perlindungan. Dia sudah memberikan hatinya tanpa sadar, sudah menyerahkan segalanya tanpa syarat.

Dan sekarang, saat pria itu menyuruhnya berhenti, saat pria itu menolaknya demi alasan kebaikan... Alena sadar... dia tidak bisa lagi kembali. Hatinya sudah tertinggal di sana, di tangan pria yang melarangnya untuk mencintai.

Dengan mata yang memerah dan pandangan yang memburam, Alena mengangguk pelan berkali-kali. Suaranya pecah, kecil, dan terdengar sangat hancur.

"Baik... aku... aku mengerti."

"Aku pulang dulu."

Alena berbalik cepat, tidak sanggup lagi menatap wajah itu yang membuatnya semakin sakit. Dia membuka pintu dan melangkah pergi, meninggalkan pria yang dicintainya sendirian dalam kegelapan apartemen itu.

Dan saat pintu tertutup rapat, air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya meledak. Hatinya kacau balau, hancur berkeping-keping.

Karena dia sadar... perintah itu datang terlambat.

Sudah terlambat untuk tidak mencintainya.

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!