Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: PERJALANAN MENUJU TAKDIR
Malam itu, suasana di rumah Mbah Joyo terasa sangat mencekam namun penuh dengan persiapan. Segala perlengkapan ritual yang sudah siap rapi di sudut ruangan. Dengan Kulit kambing bertuliskan mantra pembatalan, dupa wangi serta api suci, dan bunga-bunga tujuh macam sudah tersusun lengkap dan rapi.
Eyang Sastro berdiri di tengah ruangan, mengenakan jubah hitam panjang yang membuatnya tampak sangat gagah dan berwibawa. Mbah Joyo sibuk memeriksa kembali bekal, sementara Raga duduk diam memejamkan mata, menguatkan mental fisik dan doa.
"Waktunya sudah tepat," kata Eyang Sastro membuka suara. Suara nya tenang namun tegas. "Matahari sudah tenggelam sepenuh nya. Inilah adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh kedua belah pihak."
Raga membuka mata. Jantung nya berdegup kencang. "Kita berangkat sekarang, Eyang?"
"Ya. Kita harus sampai di Punden Berdiri sebelum tengah malam jangan sampai terlambat. Jika terlambat, energi alam akan berbalik melawan kita," jawab Eyang Sastro.
Mereka bertiga pun keluar rumah. Langit di luar benar-benar menakutkan. Warnanya hitam kelam kemerahan, tidak ada bintang, tidak ada bulan. Awan berputar lambat di atas kepala seakan menelan cahaya.
Di depan rumah, sudah menunggu sebuah mobil pickup tua yang disiapkan oleh Pak Re Te yang sebelum nya sudah di sewa. Mesinnya sudah menyala menderu, siap mengantar mereka sampai ke ujung jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan.
"Ayo kita naik," ajak Mbah Joyo.
Mereka memuat semua perlengkapan ke bak belakang mobil, lalu ikut naik. Raga duduk di tengah-tengah antara Eyang Sastro dan juga Mbah Joyo, memegang erat keris pusaka di pinggang nya dan manik kristal di jarinya.
"kita Berangkat pa supir!" teriak Mbah Joyo pada sopir dan Langsung tancap gasss.
Mobil pun melaju membelah malam desa yang sunyi senyap.
Suasana di sepanjang jalan terasa sangat aneh. Rumah-rumah warga tampak gelap gulita, tidak ada satu pun lampu yang menyala semua mereka matikan. Seluruh desa seakan mati dan menahan napas, takut menyaksikan apa yang akan terjadi malam ini. Angin berhembus sangat kencang menerpa wajah mereka, membawa aroma tanah basah seperti bekas di guyur hujan dan bau anyir yang samar.
"Raga..." bisik Mbah Joyo pelan. "Lihat ke pinggir jalan."
Raga menoleh ke samping. Di bawah cahaya lampu sorot mobil yang remang-remang, ia melihat sosok-sosok bayangan hitam berdiri berjajar di sepanjang tepi jalan. Mereka diam seribu bahasa, menatap mobil yang lewat dengan mata yang berpendar-pendar di kegelapan.
"Itu... mereka ya, Kek?" tanya Raga terbata-bata.
"Iya. Mereka spertinya mengantar kita... atau lebih tepatnya... mengawal tawanan yang akan dihukum," jawab Mbah Joyo lemas. "Tapi tenang, selama ada Eyang Sastro, makhluk mahluk itu tidak akan berani menyentuh kita."
Sekitar tiga puluh menit berkendara, mobil akhirnya berhenti tepat di bibir hutan jati. Jalan aspal berakhir di situ, berganti dengan jalan setapak tanah merah yang sempit dan gelap gulita. Tidak ada kendaraan yang bisa masuk lebih jauh lagi.
"Turunlah. Sisa perjalanan harus kita tempuh dengan jalan kaki," kata Eyang Sastro sambil melompat turun dengan lincah.
Mereka membawa semua perlengkapan turun dari mobil. Pak Re Te yang menyopir hanya berani menengok dari balik kaca jendela.
"Hati-hati, Mbah, Mas Raga..." ucapnya cemas. "Saya tunggu di sini besok pagi."
"Terima kasih, Pak. Doakan kami," jawab Raga.
Mobil pun mundur pelan dan pergi meninggalkan mereka bertiga di tepi hutan yang gelap dan angker itu.
"Ini dia..." bisik Mbah Joyo sambil menunjuk ke arah dalam hutan. "Punden Berdiri ada di tengah sana, sekitar setengah jam jalan kaki dari sini."
Eyang Sastro menatap langit yang aneh itu. "Malam ini adalah puncak kekuatan mereka. Tapi juga malam di mana kebenaran paling mudah didengar oleh alam."
Raga menarik napas panjang, menenangkan jantung yang seakan mau copot.
"Ayo..." kata Eyang Sastro tegas.
Mereka bertiga mulai melangkah memasuki gerbang hutan yang gelap pekat itu.
Suasana di dalam hutan benar-benar berbeda. Pohon-pohon jati yang besar tampak seperti raksasa tidur yang mengintimidasi. Dedaunan lebat menutupi langit sepenuhnya, membuat suasana di bawah sana gelap gulita. Hanya mengandalkan cahaya senter kecil yang dibawa Mbah Joyo, namun cahayanya tampak lemah dan mudah dimakan oleh kegelapan.
Yang paling aneh adalah suaranya. Hening. Hening yang mati. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara burung malam, tidak ada suara angin. Hanya suara langkah kaki mereka sendiri yang terdengar seperti genderang perang.
Dum... dum... dum...
Semakin dalam berjalan, hawa dingin semakin terasa basah dan lengket di kulit, menusuk sampai ke tulang sumsum.
"Kek..." bisik Raga. "Aku merasa ada ribuan mata yang melihat kita dari balik pohon-pohon itu."
"Itu bukan perasaan, Rag. Mereka memang ada di situ," jawab Mbah Joyo pelan. "Mereka berkumpul semua malam ini. Penasaran melihat tuan mereka bertindak."
Tiba-tiba, Eyang Sastro yang berjalan paling depan mengangkat tangan kanannya memberi tanda berhenti.
"Sudah sampai."
Di depan mereka, terbentang sebuah area terbuka berbentuk gundukan bundar yang tinggi. Di tengahnya berdiri bangunan candi kecil tua yang tertutup akar pohon, itulah Punden Berdiri.
Namun pemandangannya yang membuat Raga dan Mbah Joyo terbelalak...
Seluruh area itu dipenuhi oleh cahaya lilin biru kehijauan yang menyala sendiri, dan di antara cahaya-cahaya itu... berdiri rapi ribuan sosok makhluk halus menyambut kedatangan mereka.
Dan dari balik punden, terdengar suara lembut namun mematikan bergema:
"Selamat datang... para pembuat onar..."