❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(LANJUTAN BAB 10)
Mereka pun melangkah masuk melewati pintu utama yang tinggi dan besar.
Saat kaki mereka melangkah melewati ambang pintu, seketika dunia luar yang bising tertinggal di belakang. Suasana di dalam begitu hening, teduh, dan sangat megah. Udara terasa lebih sejuk dibandingkan panasnya matahari di luar, seolah bangunan marmer ini memiliki kemampuan sendiri untuk menjaga kesejukan.
Dinding-dindingnya terbuat dari batu marmer putih yang sangat halus dan mengkilap. Namun, yang paling memukau adalah hiasan-hiasan indah yang tertanam di sana.
"Lihat ini, Maheera..." Aaryan menunjuk ke sebuah pilar besar. "Bukan sekadar lukis lho. Ini namanya teknik Pietra Dura. Batu-batu berwarna seperti batu akik, pirus, dan batu permata lainnya ditanamkan ke dalam marmer membentuk gambar bunga-bunga dan tanaman yang sangat hidup."
Maheera mengamati dengan takjub. Benar saja, gambar bunga mawar dan anggur itu terlihat begitu nyata, warnanya tajam dan indah, seakan-akan baru saja mekar. Setiap sudut, setiap lengkungan, setiap pilar, semuanya dihiasi dengan kaligrafi Arab yang indah dan ukiran yang sangat rumit.
Mata mereka terangkat ke atas. Langit-langitnya begitu tinggi, berbentuk kubah besar yang melengkung indah, membuat setiap suara langkah kaki atau bisikan mereka terdengar bergema lembut (ekho).
"Indah sekali, Mas... rasanya seperti sedang berada di dalam mimpi," bisik Maheera, suaranya terdengar kecil karena takut mengganggu kesakralan tempat itu.
Mereka berjalan perlahan menuju ke ruang paling tengah.
Di sana, di bawah naungan kubah utama, berdiri dua buah bangunan kecil yang juga terbuat dari marmer putih bersih. Itu adalah makam simbolis.
Makam yang di sebelah kanan adalah makam Mumtaz Mahal, dan di sebelahnya yang sedikit lebih besar dan agak mundur ke belakang adalah makam Shah Jahan yang ditambahkan kemudian.
Kedua makam itu dikelilingi oleh pagar marmer yang disebut Jali. Pagar ini unik sekali, terukir sangat halus dengan lubang-lubang kecil yang membentuk pola geometris dan bunga. Cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela tinggi menembus celah-celah pagar itu, menciptakan bayangan-bayangan indah yang menari-nari di lantai.
Suasana di ruang tengah ini terasa sangat mencekam namun damai. Tidak ada yang berteriak, semua orang berbisik-bisik. Bau dupa dan aroma marmer yang dingin bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang sangat spiritual dan emosional.
Aaryan dan Maheera berdiri diam di depan makam itu, saling menggenggam tangan erat. Mereka menatap batu nisan itu dengan penuh rasa hormat.
"Di sinilah mereka beristirahat selamanya," ucap Aaryan pelan, matanya menatap makam itu dalam-dalam. "Meskipun jasad mereka sebenarnya berada di ruangan bawah tanah yang tertutup, tapi di sinilah simbol cinta mereka ditempatkan. Di ruangan yang paling indah, paling terang, dan paling suci."
Maheera menundukkan kepalanya. Ia bisa merasakan getaran cinta yang begitu besar di tempat ini. Dinginnya marmer tidak terasa menusuk, justru terasa menenangkan jiwa.
"Bayangkan, Maheera..." lanjut Aaryan. "Dulu, di tempat ini, ratusan lampu minyak dinyalakan setiap malam. Wangi bunga-bunga segar selalu ditaburkan di sini. Dan sekarang, berabad-abad kemudian, kita yang berdiri di sini merasakan hal yang sama. Rasa kagum dan rasa haru akan sebuah cinta yang tak lekang oleh waktu."
Mereka berdiri cukup lama di sana, menikmati keindahan arsitektur, menikmati ketenangan, dan menikmati kebersamaan mereka di tempat yang menjadi saksi bisu cinta terbesar di dunia.
Di dalam ruangan yang dingin dan megah itu, janji cinta Aaryan dan Maheera terasa semakin kokoh, sama kuatnya seperti bangunan marmer putih yang berdiri tegak ini.