Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberanian Hati
Clarissa meluapkan semua tangisnya sepanjang mengendarai mobil, keberuntungan seolah disisinya meski sedikit ugal-ugalan. Makian dan tatapan tajam dari pengendara lain tak mengalihkan pikirannya sedetik pun. Clarissa tiba di garasi dan dengan kasar membanting pintu mobil. berselang beberapa menit Ethan muncul dan segera turun dari mobilnya.
Clarissa lebih dulu membuka pintu dan di ruang tamu kini berada, langkahnya terhenti kala Ethan meraih lengannya dengan sedikit paksaan. Pandangan mereka kembali beradu dengan pikiran kalut harus berkata apalagi.
"Aku minta maaf sayang, aku khilaf. Tapi belum terjadi apapun" Suara rendah dengan nada penuh penyesalan keluar dari mulut Ethan.
Clarissa masih mematung menatap wajah suaminya namun sayang dia tak percaya sedikitpun, hanya melihat sejauh mana suaminya akan berbohong dan membela diri.
"Aku janji tidak akan terjadi lagi, dia menggodaku" Sahut Ethan yang berhasil membuat Clarissa berdecih.
"Antara penggoda dan tergoda sama-sama murahan dan sampah!!!..." Balas Clarissa dengan nada yang lebih tegar.
Ethan terdiam sejenak karena memahaminya kemarahan Clarissa terhadapnya belum reda.
"Apa kurangku Mas, selama ini aku selalu berusaha bahkan menerima setiap hukuman tanpa memberontak" Nada suara Clarissa menggema di udara.
Ethan masih membisu membiarkan istrinya meluapkan semuanya hingga puas. Tatapannya menunduk dan menggambarkan penyesalan.
"Dua tahun kita menjalani pernikahan ini, aku tidak mau banyak menuntut. Semua keinginan kamu ku lakukan. Tapi kalau sudah tidak sanggup, aku bisa mundur dan kembali ke orangtuaku" Teriak Clarissa yang diselingi tangisan yang membuat nafasnya tersengal.
Mendengar kata mundur yang bermakna perpisahan membuat emosi Ethan terpantik. Suaranya mulai menandingi suara istrinya.
"Apa maksud kamu berpisah ? Selama ini kamu pikir aku tidak berjuang?"
"Kamu jangan egois Sa, Aku mengaku salah dan mau memperbaiki semuanya tapi kamu dengan mudah mau mengakhiri semuanya" Genggaman Ethan mengeras di bahu Clarissa.
"Kamu pikir hanya kamu yang cemburu, ingat kejadian yang lalu. Kamu mengecewakanku dengan pergi dengan lelaki lain"
"Sudah kubilang berulang kali, dia cuma teman. David teman semasa SMA" Teriak Clarissa menepis tuduhan yang diungkit kembali.
"Seperti itu rasa kecewaku padamu, kamu sedih dan merasa dikhianati. Aku lebih dulu merasakannya saat kamu tidak jujur" Ethan mengungkit rasa sakitnya.
"Jadi maksud kamu apa? Balas dendam ? Atau memang sudah jenuh dengan pernikahan ini" Clarissa yang tidak siap dengan jawabannya namun tetap berani melontarkan pertanyaan itu.
"Aku begini karena kamu !!!, begini rasa sakitku sama seperti yang kamu rasakan" Ethan mencari pembelaan atas tindakan yang dilakukannya.
"Sudah berapa kali? Berapa kali kalian melakukan hal menjijikkan itu?" Tanya Clarissa yang imajinasi melayang jauh mengaburkan pikiran jernihnya.
"Sa, Please stop. Aku janji ini yang terakhir kalinya" Bujuk Ethan mendekat dan menyentuh bahu Clarissa dengan lembut.
Tatapan Clarissa masih tak mampu menatap ketulusan dari suaminya, hanya imajinasi liar seperti kejadian yang dilihatnya beberapa jam yang lalu. Membayangkan hal menjijikkan yang di perankan suaminya dan wanita murahan itu.
"Terserah kamu Mas, aku lelah" Balas Clarissa dengan nada rendah sembari menepis tangan suaminya dan berlalu meninggalkan ruangan itu menuju kamar.
Setibanya di kamar semakin membuatnya kacau, bingung harus berbuat apa. Merebahkan tubuhnya yang telah lelah bertarung justru semakin menambah kerisauan.
Terdengar suara masuk yang tak lain adalah Ethan, suasana menjadi kembali canggung. Ethan duduk ditepi ranjang menatap Clarissa yang berpindah duduk di depan meja rias.
Ethan berusaha mencairkan suasana namun Clarissa hanya dengan wajah datarnya. Ethan bangkit dari duduknya dan mendekat ke Clarissa, sekedar pamit ke rumah orang tuanya agar mereka punya ruang untuk menenangkan hati. Clarissa hanya mematung, tidak ada sahutan atau mengantar sampai depan rumah seperti biasanya.
Aroma kamar itu kembali dingin dan hening, hanya tersisa Clarissa yang kembali mengenang kejadian hari ini membuat tanginya kembali pecah hingga sesenggukan. Rasa sesak di dadanya membuatnya sulit bernafas, kepala tangan yang sekuat tenaga memukul dadanya beberapa kali menghujam.
Kepalan tangan itu kian berbicara kala pikiran terus mengenang adegan tadi hingga menghantam kepalanya beberapa kali. Tak cukup menghentikan denyut hatinya, kepalan yang sejak tadi berusaha menenangkan dengan kasar berganti menjadi cakaran yang menggores lengannya secara bergantian.
Teriakan memecah keheningan di ruangan itu, terus berteriak sampai tenaganya benar-benar habis dan membuatnya meletakkan raganya di dinginnya lantai.