NovelToon NovelToon
"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
​Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
​Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12 Eksodus Sang Honorer Bersenyum Misterius

​Langkah kaki Arvand Pratama yang berbalut sepatu pantofel murah beralas karet tipis bergema di sepanjang koridor utama SMA Cakrawala Bangsa. Bunyi ketukan itu terdengar begitu ritmis, ringan, dan sarat akan euforia yang tak kasat mata bagi orang lain. Bagi siapa pun yang melihatnya siang itu, Arvand tampak seperti seorang pria yang baru saja memenangkan taruhan terbesar dalam hidupnya, bukan seorang martir yang baru saja menandatangani surat penyerahan diri ke dalam "neraka" bernama Kelas 12 F.

​Tas belacu usang yang tersampir di bahunya bergoyang mengikuti irama langkahnya yang santai. Di dalam tas yang jahitannya sudah mulai merenggang itu, tidak ada lagi yang bisa melihat empat unit ponsel flagship termutakhir atau sertifikat rumah mewah Graha Nirwana Utama, karena semuanya telah tersimpan rapi di dalam dimensi inventori Sistem Mengajar Mutlak. Namun, berat spiritual dari aset-aset tersebut nyata adanya, mengalirkan gelombang rasa aman yang belum pernah dirasakan Arvand sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di dunia kerja sebagai tenaga honorer berpenghasilan minim.

​Saat Arvand melintasi pintu gerbang sekolah setelah memberikan lambaian tangan yang kelewat ramah dan senyuman lebar kepada petugas keamanan, atmosfer di dalam ruang guru justru bergeser ke arah yang sebaliknya. Kepergian Arvand meninggalkan sebuah ruang hampa yang segera dipenuhi oleh kepulan spekulasi, kecemasan, dan penilaian psikologis dadakan dari rekan-rekan sejawatnya.

​Di dalam ruang guru yang luas dan sejuk itu, Drs. Hadi Wicaksana melangkah keluar dari ruangan kacanya dengan bahu yang tampak sedikit merosot. Di belakangnya, Pak Rizwan Maulana mengekor dengan ekspresi wajah yang ditekuk, sementara Yasmin Adiba berjalan paling akhir sambil mendekap sisa dokumen kurikulumnya dengan eratan yang sangat kuat, seolah-olah dokumen itu adalah perisai pelindung dari rasa malu yang masih membakar kedua pipinya yang mulus.

​Kehadiran tiga otoritas penting sekolah di area komunal guru tersebut seketika menghentikan segala aktivitas mengetik dan memeriksa lembar jawaban. Ruangan itu mendadak senyap, hanya menyisakan deru halus dari pendingin udara dan detak jam dinding yang seakan berpacu dengan rasa ingin tahu para guru yang sudah memuncak sejak tadi.

"Jadi... dia benar-benar menerimanya, Pak Hadi?" Bu Ratih Permatasari memecah keheningan terlebih dahulu. Ia menggeser sedikit tumpukan buku teks Bahasa Indonesia di hadapannya, menatap Sang Kepala Sekolah dengan mata yang memancarkan kombinasi antara rasa tidak percaya dan sedikit rasa kagum yang tertahan di balik kacamata bacanya. "Saya tadi mendengar suaranya sampai keluar ruangan. Lantang sekali. Tapi, apakah dia benar-benar sadar dengan apa yang akan dihadapinya besok pagi di koridor barat?"

​****Drs. Hadi Wicaksana menghela napas panjang, menarik sebuah kursi kosong di dekat meja piket dan mendudukinya dengan perlahan. Tubuh tambunnya tampak kelelahan, bukan karena beban kerja administrasi, melainkan karena energinya terkuras habis oleh badai emosional dan tingkah aneh yang dibawa Arvand beberapa menit lalu di dalam ruangannya.

​"Dia menerimanya, Bu Ratih. Tanpa paksaan dari saya pada akhirnya. Bahkan dengan... yah, dengan semangat yang menurut saya agak di luar batas kewajaran manusia normal pada umumnya," ujar Pak Hadi Wicaksana sambil memijat batang hidungnya yang memerah akibat jepitan kacamata tebalnya. "Jujur saja, di satu sisi saya merasa sangat bangga. Di zaman sekarang, sangat jarang ada guru muda, apalagi dengan status honorer, yang memiliki jiwa ksatria dan idealisme setinggi itu. Dia menawarkan diri untuk masuk ke kelas yang bahkan guru-guru sertifikasi kita pun emoh menyentuhnya. Itu adalah sebuah bentuk dedikasi yang luar biasa dan patut kita apresiasi secara moral."

​"Bangga boleh saja, Pak Hadi," potong Pak Fajar Aditama dari rumpun Sejarah dengan nada suara yang kering, skeptis, dan penuh dengan penekanan logis. "Tapi kita juga harus tetap realistis sebagai pendidik. Perilaku melompat-lompat kegirangan dan gaya bicaranya yang mendadak berubah menjadi puitis bin ajaib tadi—yang bahkan suaranya terdengar sangat jelas sampai ke meja kerja saya di pojok sini—itu bukan tanda idealisme sejati. Menurut analisis saya, itu adalah tanda-tanda histeria awal. Saya khawatir anak itu mengalami distorsi mental atau guncangan jiwa karena syok emosional yang mendalam akibat tekanan mental. Kita seperti sedang mengirim orang yang sedang mabuk atau tidak waras ke medan perang. Antara bangga dan kasihan, saya secara pribadi lebih cenderung kasihan melihatnya. Dia seperti seekor domba muda yang menari-nari gembira menuju tempat jagal tanpa tahu apa yang menantinya di sana."

​Bu Lestari Anindita, guru Bimbingan Konseling (BK) senior yang memiliki rekam jejak psikologis seluruh murid dan staf pengajar, ikut mengangguk setuju dengan analisis sosiologis Pak Fajar. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas meja kerjanya.

​"Saya sependapat dengan Pak Fajar, Pak Kepala Sekolah. Dari sudut pandang ilmu bimbingan konseling, perubahan perilaku yang terlalu drastis dalam hitungan detik—dari penolakan histeris yang sangat ketakutan menjadi penerimaan teatrikal yang meledak-ledak—adalah indikasi kuat dari defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri psikologis yang gagal. Jiwanya menolak realitas pahit kelas 12 F yang terkenal brutal, sehingga otaknya secara refleks menciptakan ilusi kegembiraan yang ekstrem untuk menutupi rasa takut yang luar biasa di dalam hatinya. Kasihan sekali Pak Arvand. Tekanan ekonomi sebagai guru honorer ditambah beban moral yang kita berikan ini pasti sudah meretakkan mentalitas mudanya secara perlahan."

​Pak Rizwan Maulana, sang Wakil Kepala Sekolah yang sejak tadi berdiri tegak sambil memegangi penggaris kayu panjang andalannya, berdeham keras untuk meluruskan sudut pandang birokrasi sekolah agar tidak semakin simpang siur. Tatapannya menyapu seluruh ruangan guru, memberikan aura ketegasan khas seorang penegak disiplin sekolah yang disegani.

​"Bapak dan Ibu sekalian, terlepas dari bagaimana kondisi psikologis Pak Arvand yang agak eksentrik saat ini, kita semua harus melihat ini sebagai sebuah solusi taktis yang sangat menguntungkan bagi stabilitas sekolah kita," ujar Pak Rizwan dengan artikulasi yang mantap dan tegas. "Saya pribadi merasa bangga karena ada anggota staf pengajar kita yang tidak gentar menghadapi anarki sosial di kelas 12 F. Tadi saya sudah menegaskan langsung kepada beliau di dalam ruangan bahwa seluruh jajaran kesiswaan, keamanan, dan kita semua yang ada di sini akan berdiri tegak di belakangnya untuk mendukung Pak Arvand sepenuhnya. Jika anak-anak berandalan di kelas itu berani melakukan tindakan fisik atau pelecehan emosional yang melampaui batas wajar, kita tidak akan tinggal diam begitu saja. Kita akan mengintervensi. Perilakunya yang aneh, melompat-lompat, dan puitis tadi mungkin hanya cara khas anak muda zaman sekarang untuk melepaskan ketegangan mental yang menumpuk. Jangan terlalu cepat menghakimi bahwa dia sudah kehilangan kewarasan."

​Mendengar perdebatan para guru senior dan jajaran pimpinan yang saling tumpang tindih antara rasa bangga dan rasa kasihan yang mendalam, Yasmin Adiba akhirnya tidak bisa lagi menahan diri untuk tetap diam membisu. Ia meletakkan tumpukan silabus matematikanya ke atas meja kerja dengan sedikit sentakan keras, menarik perhatian beberapa guru muda seperti Bu Zahra dan Bu Syifa yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan dari barisan meja belakang.

​"Tapi Papa... dan Pak Rizwan, ini bukan cuma soal tugas mengajar biasa di koridor barat !" ucap Yasmin dengan nada suara yang sedikit meninggi, mencoba menahan rasa jengkel sekaligus malu yang masih bergejolak hebat di dalam dadanya sejak tadi. "Perilakunya di dalam ruangan tadi sudah melampaui batas kewajaran seorang rekan kerja profesional di lembaga pendidikan. Dia berteriak-teriak tidak jelas tentang saldo bank yang masuk ke rekeningnya, melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil mendapatkan mainan baru, lalu tiba-tiba berbicara puitis seolah-olah dia adalah seorang pahlawan dari abad pertengahan yang siap menyelamatkan dunia dengan kekuatan cinta dan kasih sayang! Dan yang paling parah... dia membawa-bawa nama saya ke dalam urusan ini secara tidak sopan di hadapan Papa!"

​Bu Zahra Kirana, guru Kimia muda yang cukup dekat dengan Yasmin, langsung mencondongkan tubuhnya ke depan dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu yang sangat tinggi. "Tunggu, Yasmin... membawa namamu? Maksudnya bagaimana? Apakah Pak Arvand mengancam mu atau menggunakan cara keras agar kamu membantunya di kelas itu?"

​"Bukan mengancam dalam arti fisik, Bu Zahra," jawab Yasmin dengan wajah yang kembali merona merah akibat gengsi tingkat tingginya yang tersengat hebat oleh ucapan blak-blakan Arvand tadi. "Dia... dia secara agresif menyetujui ide perjodohan gila yang sempat dilontarkan oleh Papa secara bercanda, bahkan dia menuntut dengan sangat percaya diri agar proses lamaran dan pernikahan di antara kami segera dieksekusi secepatnya! Bayangkan saja, seorang guru honorer yang biasanya tidak pernah bicara lebih dari tiga kalimat dengan saya, mendadak berubah menjadi sangat percaya diri, dominan, dan seagresif itu dalam waktu satu detik saja! Saya merasa... saya merasa dia sengaja memanfaatkan situasi sulit kelas 12 F ini untuk melakukan pemerasan sosial dan emosional kepada keluarga kami demi menaikkan status sosialnya!"

​"Ah, jadi itu alasan di balik lompatan gembiranya yang luar biasa tadi?" Pak Arif Santoso dari rumpun Biologi tertawa kecil, memutar-mutar pulpennya dengan gaya sinis yang khas. "Menarik sekali kalau begitu analisisnya. Jadi Pak Arvand merasa dia telah mendapatkan kompensasi finansial dan status yang sangat setimpal untuk nyawanya yang akan dipertaruhkan di koridor barat besok pagi. Menikahi anak kepala sekolah yang cantik, berstatus guru tetap yayasan, dan memiliki masa depan cerah... yah, kalau saya berada di posisi dia sebagai honorer yang terdesak, mungkin saya juga akan melakukan gerakan moonwalk atau menari tango di depan Pak Hadi. Itu adalah sebuah kalkulasi bisnis dan masa depan yang sangat cerah dari seorang honorer yang cerdas memanfaatkan momentum."

​"Ini sama sekali bukan lelucon yang lucu, Pak Arif!" tegur Yasmin dengan tatapan mata yang begitu tajam, seolah-olah mampu membekukan seluruh larutan kimia di dalam laboratorium sekolah. "Saya di satu sisi merasa kasihan melihat nasibnya karena dia harus menghadapi kelas 12 F yang menyeramkan itu, tapi di sisi lain, saya juga merasa sangat kesal, dongkol, dan jengkel dengan kelakuannya yang tidak punya tata krama itu. Sikapnya yang sok percaya diri dan agresif itu benar-benar sangat menyebalkan untuk dilihat!"

​Drs. Hadi Wicaksana akhirnya mengakhiri perdebatan panjang yang mulai melebar ke mana-mana itu dengan sebuah lambaian tangan yang lemas dan tidak bersemangat.

​"Sudahlah, Yasmin, Bapak Ibu sekalian... jangan memperpanjang masalah ini lagi menjadi gosip yang tidak produktif di lingkungan sekolah. Yang jelas, hari ini saya sudah mengambil tindakan preventif dengan menyuruh Pak Arvand untuk pulang ke rumah kontrakannya agar dia bisa beristirahat, tidur yang nyenyak, dan menenangkan pikirannya yang sedang terguncang hebat itu. Saya berharap besok pagi, ketika dia melangkah masuk melalui gerbang sekolah, perilakunya sudah kembali normal seperti sedia kala dan energi anehnya tadi bisa disalurkan secara positif untuk menjinakkan anak-anak kelas 12 F. Mari kita semua kembali ke pekerjaan dan tugas mengajar masing-masing."

1
irena
lanjut thor..
Aisyah Suyuti
good
Mamat Stone
/Tongue/
acep maulana
Hehehe, kalau kalian punya ide gokil, teori liar, atau saran buat novel ini, tulis aja di komentar. 😆
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
verto
novel terjemahan kah ini? dengan di modif dikit
acep maulana: Ehh iya, ada sedikit inspirasi dari drama China yang saya tonton, bahkan mungkin ada beberapa ide dari film juga di bab-bab yang akan datang. Tapi saya modifikasi dan kembangkan sesuai alur cerita novel ini. Hehehe 😆🙏 Terima kasih sudah membaca.
total 1 replies
verto
mirip sebuah komik sipnosisnya
acep maulana: Waduh, ketahuan gue deh 🤭 kebanyakan baca komik. 😂 Tapi semoga makin ke depan ceritanya punya warna sendiri dan tetap seru buat diikuti. 😁🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
crazy up Thor
Dewiendahsetiowati
kok banyak yang diulang2 ya paragrafnya
acep maulana: maaf ka hehe saya ngetik nya sambil ngantukk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!