Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andre Muncul dan Aku Hampir Muntah
Hari Senin, di minggu ketiga kami bersekolah.
Upacara pengibaran bendera telah selesai dilaksanakan. Seperti biasa, kami berbaris rapi dan berjalan kembali menuju kelas masing-masing. Namun, suasana hari ini terasa berbeda dari biasanya—ada sesuatu yang terasa ganjil dan membuat suasana sekolah menjadi sedikit riuh. Di sepanjang koridor, terdengar bisikan-bisikan pelan di antara para siswi, disertai wajah-wajah yang tampak bersemu merah dan terlihat antusias.
“Kamu lihat cowok yang baru lewat tadi tidak?”
“Iya, aku lihat dia melewati gerbang sekolah tadi.
“Ganteng sekali, ya? Rasanya seperti melihat seorang aktor terkenal…”
Aku mengerutkan dahi, merasa bingung. Sejauh ingatanku, tidak ada rencana kedatangan siswa pindahan baru di minggu ketiga seperti ini. Biasanya, murid pindahan diterima di awal atau pertengahan semester, bukan di waktu yang terbilang agak terlambat seperti sekarang.
Tepat saat aku hendak menaiki tangga menuju lantai dua, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari arah belakang.
“Nayla? Eh, Nayla Kirana, kan?”
Aku segera berbalik badan.
Dan seketika, rasanya waktu seolah berhenti berputar.
Ia berdiri tepat di hadapanku dengan senyum lebar yang dulu pernah berhasil membuat hatiku luluh dan jatuh cinta. Rambut hitamnya disisir rapi menyamping, mempertegas bentuk wajahnya yang tampan. Matanya berwarna cokelat terang—terlalu terang, bagaikan madu yang dipanaskan di bawah sinar matahari pagi. Tubuhnya tegap dan tinggi, dengan postur yang terlihat sangat terawat seolah ia selalu berusaha tampil sempurna dari segala sisi.
Andre.
Andre Pratama.
Pria yang pernah menjadi kekasihku di kehidupan sebelumnya. Pria yang pernah menjadi suamiku. Namun, di saat yang sama, ia adalah orang yang paling tega mengkhianatiku.
Orang yang kemudian menikah dengan Vania setelah berhasil menghancurkan masa depanku, merusak nama baikku, dan membuangku ke dalam penderitaan yang mendalam.
Rasanya seolah ada benda tajam yang menusuk tepat di bagian tengah dadaku. Kedua tangan dan kakiku terasa dingin mendadak, sementara napasku terasa berat dan sesak, seolah ada beban berat yang menekan paru-paruku.
“Nayla?” panggil Andre sekali lagi, sedikit tampak bingung melihatku hanya diam terpaku menatapnya. “Namaku Andre. Aku murid pindahan dari Bandung. Sebenarnya, sebelumnya aku sudah melihat fotomu di… eh, maksudku, di brosur sekolah—”
Aku segera mengangkat tangan kananku sebagai tanda berhenti berbicara. “Cukup.”
Ia langsung terdiam. Alisnya terangkat sedikit karena terkejut melihat reaksiku yang tiba-tiba berubah dingin.
Aku menarik napas panjang, menahan segala emosi yang meluap-luap di dalam dadaku, lalu menghembuskannya perlahan.
Sialan. Kenapa dia sudah muncul sekarang? Di kehidupan sebelumnya, Andre baru masuk ke sekolah ini saat kami sudah duduk di bangku SMA, bukan di SMP seperti sekarang. Kenapa semuanya bisa berubah drastis?
Ah, tentu saja. Ini pasti karena keberadaanku yang terlahir kembali. Setiap tindakan kecil yang aku lakukan, setiap perubahan kecil yang aku buat, ternyata mampu mengubah alur masa depan yang sudah seharusnya terjadi—termasuk waktu kedatangan setiap orang yang memiliki peran penting dalam hidupku.
“Nayla, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Andre dengan nada lembut, lalu secara tidak sadar ia menyentuh lengan bajuku.
Aku segera menarik lenganku dengan cepat seolah baru saja tersengat arus listrik. “Jangan lakukan itu.”
Ia terkejut dan sedikit mundur. “Ma-maaf, maksudku aku hanya ingin memastikan—”
“Tidak. Jangan panggil namaku begitu. Jangan berdiri terlalu dekat denganku. Dan jangan pernah menyentuhku lagi.” Aku mundur selangkah, lalu dua langkah lagi, menjaga jarak yang aman. “Kita tidak saling mengenal.”
“Tapi aku—”
“Permisi, Mas.” Tanpa sadar, aku menggunakan bahasa Jawa halus yang terdengar sangat asing dan kaku diucapkan oleh seorang gadis SMP. “Saya tidak mengenal Anda.”
Setelah mengucapkan itu, aku segera berbalik badan dan berlari menaiki tangga. Aku tidak berani menoleh ke belakang, dan tidak peduli meskipun ia terus memanggil namaku.
---
Di Dalam Kelas
Begitu tiba di dalam kelas, aku langsung terduduk lemas di atas bangku, wajahku terlihat pucat pasi bagaikan selembar kertas putih.
“Nay? Kamu kenapa? Wajahmu terlihat sangat pucat sekali!” seru Sasha dengan nada panik, segera mendekatiku.
“Aku… aku hanya…” Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan, berusaha menenangkan detak jantungku yang masih berpacu kencang. “Perutku terasa sedikit sakit.”
“Perut sakit? Mau aku antar ke ruang UKS sebentar?”
“Tidak usah, terima kasih. Nanti juga akan membaik sendiri.”
Namun, sebenarnya bukan perutku yang terasa sakit.
Melainkan hatiku.
Rasanya seperti luka dalam yang selama ini aku kira sudah sembuh total, ternyata masih menyisakan bekas yang sangat dalam dan belum benar-benar tertutup. Kedatangan Andre tiba-tiba berhasil membuka kembali luka itu, lalu seolah menuangkan garam, cuka, dan cabai secara bersamaan untuk membuat rasa sakitnya semakin terasa menyiksa.
Aku sangat membenci Andre.
Tapi mengapa… mengapa rasa sakit ini masih terasa ada di dalam hatiku?
“Kamu sedang berbohong.”
Aku menoleh dengan cepat. Ternyata Vania sudah berdiri di samping mejaku, dengan raut wajah yang terlihat penuh perhatian dan prihatin. Di tangannya, ia membawa segelas air mineral bening dan sebungkus roti tawar.
“Aku melihatmu dari jendela koridor tadi, Nay. Aku melihatmu bertemu dengan seorang cowok di dekat tangga, dan tiba-tiba ekspresi wajahmu berubah menjadi sangat pucat dan ketakutan,” jelas Vania sambil menarik sebuah kursi dan duduk di hadapanku. “Siapa dia? Apakah dia mengganggumu?”
Jadi, Vania berpura-pura tidak mengenal Andre, ya? Bagus sekali. Kalau begitu, aku pun bisa bermain peran sebaik dirinya.
“Aku tidak tahu siapa dia,” jawabku datar. “Hanya orang asing yang salah menyapa.”
“Yakin begitu? Soalnya dia terlihat sangat mengenalimu dan terlihat akrab saat berbicara denganmu,” ucapnya dengan nada menyelidik yang halus.
“Aku benar-benar tidak mengenalnya.”
Vania mengangguk pelan, seolah percaya dengan perkataanku. “Baiklah, kalau begitu. Minumlah air ini dulu, supaya perasaanmu menjadi lebih tenang.”
Ia mendorong gelas berisi air itu tepat di hadapanku. Cairan bening di dalamnya bergoyang pelan, tidak memiliki bau yang menyengat, dan tampak sangat biasa saja.
Namun, mataku yang sudah terlatih untuk waspada menangkap sesuatu yang mencurigakan.
Di bagian dasar gelas, terlihat butiran-butiran putih yang sangat halus dan kecil—hampir tidak terlihat jika tidak diamati dengan teliti. Butiran itu mirip seperti serbuk yang baru saja dilarutkan ke dalam air.
Aku tersenyum tipis, berusaha terlihat tenang. “Terima kasih banyak, Van. Nanti aku minum saja ya. Tadi sebelum masuk kelas, aku sempat membeli air minum sendiri di kantin.”
Vania mengedipkan matanya beberapa kali, seolah terkejut mendengar jawabanku. “O-oh, begitu ya… kalau begitu, tidak apa-apa.”
Ia segera berdiri dan kembali menuju bangkunya. Aku bisa melihat bahunya sedikit menegang, meski ia berusaha bersikap biasa saja.
Gagal satu kali, Vania. Apakah kamu berencana mencoba cara lain lagi?
---
Jam Istirahat — Lorong Belakang Sekolah
Selama jam istirahat, aku berusaha mencari keberadaan Rasya.
Aku tidak menemukannya di perpustakaan—padahal hari ini hari Selasa, dan biasanya ia pasti menghabiskan waktu di sana. Ia juga tidak terlihat di kantin sekolah, maupun di dalam kelasnya sendiri.
Hingga akhirnya Sasha memberitahuku, “Nay, kamu masih mencari cowok yang sering kamu tanyai itu kan? Rasya? Katanya dia dipanggil oleh guru Bimbingan Konseling ke ruang BK.”
“Dipanggil BK? Ada apa?”
“Aku tidak tahu persisnya. Tapi ada yang bilang, dia terlibat dalam perkelahian dengan siswa lain.”
Perkelahian? Rasya? Cowok yang pendiam, tertutup, dan selalu terlihat tenang layaknya seorang pendeta itu bisa berkelahi?
Aku segera berjalan cepat menuju ruang BK. Sesampainya di depan pintu, aku bisa mendengar suara Pak Bambang—guru BK yang terkenal tegas dan galak, namun sebenarnya memiliki hati yang baik.
“Rasya, kamu harus mengerti. Memukul siswa baru di hari pertamanya masuk sekolah itu adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan begitu saja.”
Memukul? Siapa yang dipukulnya?
Lalu terdengar suara Rasya yang datar dan dingin seperti biasanya: “Dia menyentuh seseorang yang tidak memiliki hak untuk disentuh olehnya.”
“Siapa orang yang kamu maksud?”
“Itu adalah urusanku sendiri.”
“Nak, kalau kamu bersikap tidak mau bekerja sama seperti ini—”
“Apa hubungan antara kerja sama dengan membela seseorang yang tidak bisa membela dirinya sendiri?”
Aku segera mendorong pintu ruangan hingga terbuka.
Pak Bambang menoleh ke arahku dengan sedikit terkejut. Begitu juga dengan Rasya yang sedang berdiri di hadapannya. Dan di sudut ruangan, terlihat seseorang sedang duduk sambil menempelkan bongkahan es batu di pelipisnya yang tampak memar dan bengkak…
Itu Andre.
Andre menatapku dengan tatapan yang terlihat bingung sekaligus terluka.
“Nayla…” bisiknya pelan.
Dan Rasya—ia melihat pandangan yang saling bertukar antara aku dan Andre. Wajahnya yang tadinya terlihat datar dan tanpa ekspresi, perlahan berubah. Menjadi sangat dingin. Namun bukan sekadar dingin biasa, melainkan dingin yang dipenuhi amarah yang terpendam.
“Nayla,” panggil Rasya dengan suara yang hampir berbisik, namun terdengar jelas dan tegas. “Kenapa kamu ada di sini?”
Aku melangkah masuk ke dalam ruangan. “Aku datang untuk mencarimu. Tapi…” Aku menoleh dan menatap Andre dengan pandangan tajam. “Kenapa kamu bisa—”
“Karena dia menyentuh pundakmu tadi pagi,” potong Rasya tiba-tiba. “Tanpa izin. Padahal kamu sudah melarangnya untuk tidak melakukannya.”
Jantungku berdebar kencang di dalam dada.
Jadi dia melihatnya?
Ia melihat kejadian di dekat tangga tadi?
“Dia tidak berhak menyentuhmu,” lanjut Rasya dengan nada yang semakin tegas. “Di kehidupan mana pun, dia tidak berhak melakukannya.”
Suasana di dalam ruangan tiba-tiba terasa sangat menyesakkan dan panas.
Pak Bambang mengerutkan dahi, menatap kami secara bergantian. “Ada hal yang ingin kalian jelaskan kepadaku, anak-anak?”
Aku menatap wajah Rasya. Rasya pun menatapku balik.
Dan Andre—ia hanya terdiam mematung, masih memegang es batu di kepalanya, tampak seperti orang yang baru saja menyadari bahwa ia tanpa sengaja telah memasuki sarang lebah yang berbahaya.