NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:639
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Andre Muncul — dan Aku Hampir Muntah

Hari Senin, minggu ketiga.

Upacara bendera selesai. Seperti biasa, kami berbaris kembali ke kelas. Tapi berbeda dari biasanya—hari ini, suasana sekolah terasa aneh. Ada bisik-bisik di antara anak-anak perempuan. Wajah-wajah mereka memerah.

"Lo liat cowok itu?"

"Iya, tadi dia lewat depan gerbang."

"Ganteng banget, ya? Kayak artis..."

Aku mengerutkan dahi. Aku tidak ingat ada anak pindahan baru di minggu ketiga. Biasanya pindahan datang di awal atau pertengahan semester.

Tepat saat aku mencapai tangga menuju lantai dua, seseorang menepuk pundakku dari belakang.

"Nayla? Eh, Nayla Kirana, kan?"

Aku berbalik.

Dan dunia terasa berhenti.

Dia berdiri di hadapanku dengan senyum lebar yang dulu pernah membuatku jatuh cinta. Rambut hitamnya disisir rapi ke samping. Matanya cokelat terang—terlalu terang, seperti madu yang dipanaskan di bawah sinar matahari. Badannya tegap, tinggi, dengan postur yang terlatih untuk terlihat sempurna di setiap sudut.

Andre.

Andre Pratama.

Pacarku di kehidupan sebelumnya. Suamiku. Penghianatku.

Orang yang menikahi Vania setelah menghancurkan hidupku.

Rasanya seperti ada yang menusuk dadaku. Tangan dan kakiku dingin. Nafas terasa berat.

"Nayla?" Andre mengulang, sedikit bingung melihat aku diam saja. "Aku Andre. Pindahan dari Bandung. Sebelumnya aku udah liat fotomu di koran sekolah—eh, maksudnya, di brosur—"

Aku mengangkat tangan. "Stop."

Dia berhenti. Alisnya naik.

Aku menarik napas panjang. Dalam-dalam. Lalu kukeluarkan perlahan.

Kampret. Kenapa dia sudah muncul sekarang? Di kehidupan sebelumnya, Andre baru muncul saat kami SMA. Bukan sekarang. Kenapa semuanya berubah?

Ini karena aku terlahir kembali, ya. Setiap tindakan kecil yang aku ubah, mengubah masa depan. Termasuk waktu kemunculan setiap orang.

"Nayla, lo nggak apa-apa?" Andre menyentuh lenganku.

Aku menarik tangan seperti tersengat listrik. "Jangan."

Dia tersentak. "Ma-maksudku—"

"Tidak. Jangan panggil aku Nayla. Jangan dekat-dekat. Jangan sentuh aku." Aku mundur satu langkah. Dua langkah. "Kita nggak kenal."

"Tapi—"

"Ngapunten, mas." Aku sudah menggunakan bahasa formal yang sangat aneh didengar dari mulut gadis SMP. "Kula mboten tepang."

Aku berbalik. Lari menaiki tangga. Tidak menoleh. Tidak peduli jika dia memanggil-manggil namaku.

---

Di Kelas

Aku terjatuh di kursiku, wajah pucat seperti kertas.

"Nay? Kamu kenapa?" Sasha panik. "Muka kamu pucet banget!"

"Aku... cuma..." Aku mengusap wajah dengan kedua tangan. "Perut sakit."

"Perut? Mau ke UKM?"

"Nggak usah. Ntar juga enakan."

Tapi bukan perutku yang sakit.

Dadaku.

Rasanya seperti luka lama yang aku pikir sudah sembuh, ternyata masih menganga. Dan kemunculan Andre membuka kembali lukanya, lalu menuangkan garam. Lalu cuka. Lalu cabai.

Aku benci Andre.

Tapi kenapa—kenapa hati ini masih sakit?

"Kamu bohong."

Aku menoleh. Vania berdiri di samping mejaku, wajahnya penuh keprihatinan. Di tangannya, segelas air mineral dan sebungkus roti.

"Aku lihat kamu dari jendela, Nay. Kamu ketemu cowok di tangga, tiba-tiba muka kamu berubah." Vania duduk di kursi di depanku. "Siapa dia? Dia ganggu kamu?"

Vania, kamu pura-pura tidak kenal Andre, ya? Bagus. Aku juga bisa bermain.

"Enggak tahu," jawabku. "Orang asing."

"Yakin? Soalnya dia kelihatan kenal kamu banget."

"Enggak kenal."

Vania mengangguk pelan. "Oke, kalau gitu. Minum dulu, biar tenang."

Dia mendorong gelas air ke arahku. Cairan bening di dalamnya bergoyang pelan, tidak berbau, tidak berwarna.

Tapi mataku menangkap sesuatu.

Bintik-bintik putih kecil di dasar gelas. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat.

Seperti serbuk.

Aku tersenyum. "Makasih, Van. Nanti aku minum, ya. Tadi aku ke kantin beli air sendiri."

Vania mengerjap. "O-oh, gitu... yaudah."

Dia berdiri, kembali ke mejanya. Aku bisa melihat bahunya sedikit menegang.

Gagal satu, Vania. Mau coba lagi?

---

Jam Istirahat — Lorong Belakang Sekolah

Aku mencari Rasya.

Bukan di perpustakaan (hari ini Selasa, seharusnya dia di sana), tapi dia tidak ada. Juga bukan di kantin. Juga bukan di kelas.

Hingga akhirnya Sasha memberitahu, "Nay, lo tau cowok yang lo tanyain itu? Rasya? Katanya dia dipanggil guru BK."

"BK? Kenapa?"

"Entahlah. Ada yang bilang dia terlibat perkelahian."

Perkelahian? Rasya? Cowok pendiam yang bacanya kayak biarawan itu berkelahi?

Aku langsung berlari ke ruang BK. Sampai di depan pintu, aku mendengar suara Pak Bambang, guru BK yang terkenal galak tapi sebenarnya baik hati.

"Rasya, kamu harus ngerti. Memukul siswa baru di hari pertamanya itu nggak bisa dibiarkan."

Memukul? Siapa yang dipukul?

Lalu suara Rasya, datar seperti biasa: "Dia menyentuh seseorang yang tidak punya hak untuk disentuh."

"Siapa?"

"Itu urusan saya."

"Nak, kalau kamu nggak mau kerja sama—"

"Apa hubungannya kerja sama dengan membela seseorang yang tidak bisa membela diri?"

Aku membuka pintu.

Pak Bambang menoleh. Rasya yang sedang berdiri di depannya, juga menoleh. Dan di sudut ruangan, dengan es batu di pelipisnya yang lebam...

Andre.

Andre menatapku dengan mata penuh luka.

"Nayla..." bisiknya.

Dan Rasya—Rasya melihat pergantian tatapan antara aku dan Andre. Wajahnya yang tadinya datar, berubah. Menjadi dingin. Tapi bukan dingin biasa.

Dingin yang penuh amarah.

"Nayla," suara Rasya terdengar hampir berbisik. "Kenapa kamu di sini?"

Aku melangkah masuk. "Aku mencari kamu. Tapi..." Aku menatap Andre. "Kenapa kamu—"

"Karena dia menyentuh pundakmu tadi pagi," potong Rasya. "Tanpa izin. Padahal kamu sudah bilang jangan."

Jantungku berdegup kencang.

Dia melihat?

Dia melihat Andre menyentuhku?

"Dia nggak berhak nyentuh kamu," lanjut Rasya. "Di kehidupan mana pun."

Suasana ruangan tiba-tiba terasa sangat panas.

Pak Bambang memicingkan mata. "Ada yang mau dijelaskan, anak-anak?"

Aku menatap Rasya. Rasya menatapku.

Dan Andre—Andre hanya terdiam, dengan es batu di kepalanya, tampak seperti orang yang baru sadar kalau dia masuk ke sarang lebah tanpa sengaja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!