NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:37.5k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Suasana di kamar VIP itu mendadak jadi sesak. Bukan karena ventilasinya buruk, tapi karena beban informasi yang baru saja diletakkan Ibu Mirelle di pundak kami berdua. Keano masih mematung di dekat jendela, matanya menatap kosong ke arah taman rumah sakit. Sementara gue, gue masih menggenggam tangan Ibu yang gemetar.

"Bu," suara gue memecah kesunyian. "Kalau Alexander Crowe dan Aldric sudah merencanakan ini sejak awal... kenapa mereka membiarkan aku dibuang ke panti asuhan? Kenapa nggak disimpan saja di laboratorium mereka?"

Ibu Mirelle menghela napas panjang, sebuah senyum getir tersungging di bibirnya yang pucat. "Karena mereka takut padamu, Arcelia."

Gue mengernyit. "Takut? Sama anak kecil?"

"Kamu bukan anak kecil biasa. Sejak umur tiga tahun, kamu sudah bisa membedah cara kerja kunci elektronik di paviliun itu. Kamu mulai menunjukkan tanda-tanda kecerdasan yang melampaui subjek eksperimen mereka. Alexander menginginkan wadah yang bisa dikendalikan, tapi kamu... kamu adalah anomali. Kamu terlalu liar, terlalu sulit diprediksi."

Ibu Mirelle berhenti sejenak untuk membetulkan letak selang oksigennya.

"Aldric mengusulkan untuk 'menghapus' kamu—dalam artian yang paling kejam. Tapi Ibu memohon. Ibu membuat kesepakatan dengan Alexander. Ibu akan menyerahkan semua aset keluarga Halim untuk risetnya, asal kamu dibiarkan hidup, meski harus jauh dari Ibu. Akhirnya mereka membuangmu ke panti asuhan dengan identitas palsu, berharap lingkungan panti yang keras akan mematikan 'api' dalam otakmu. Tapi mereka salah. Api itu malah membakar semua yang kamu sentuh sampai kamu jadi hacker yang paling mereka takuti."

Gue tertawa pahit. Jadi, alasan gue jadi Arcelia si Bar-bar yang pinter IT itu bukan cuma karena lingkungan panti, tapi karena ada "campur tangan" genetika di sana. Ironis banget.

"Lalu Alzena?" tanya gue pelan.

"Alzena adalah sisanya. Dia adalah sisi kemanusiaan yang tertinggal. Tanpa kecerdasan logismu, dia menjadi terlalu rapuh untuk menghadapi dunia Winchester dan Halim. Dia adalah korban dari kekosongan yang kamu tinggalkan, Arcelia. Itulah kenapa saat jiwamu kembali ke tubuhnya, kalian menjadi 'lengkap' kembali. Kamu adalah otak, dan dia adalah wadah yang selama ini menantimu."

Gue ngerasa ada yang meluk gue dari belakang. Bau parfum kayu cendana yang familiar langsung menyeruak. Keano. Dia sudah nggak mematung lagi di dekat jendela.

"Nyonya Mirelle," suara Keano terdengar berat dan dalam. "Apa Alexander Crowe masih memantau kami sampai sekarang? Maksud saya... meskipun dia sudah tua dan jarang muncul di publik?"

Ibu Mirelle menatap Keano dengan tatapan kasihan. "Alexander tidak butuh mata fisik untuk melihat kalian, Keano. Seluruh sistem keamanan Winchester, setiap perangkat cerdas yang kalian pakai... itu adalah matanya. Tapi Arcelia punya sesuatu yang tidak dimiliki Alexander."

"Apa itu, Bu?" tanya gue.

"Kemampuan untuk menjadi tidak logis. Alexander selalu bermain dengan data dan kemungkinan. Tapi cinta dan kegilaanmu untuk melindungi orang lain... itu tidak ada dalam algoritmanya."

Gue menoleh ke arah Keano, lalu balik menatap Ibu. "Gue bakal hancurin brankas di Swiss itu, Bu. Bukan cuma buat bebas, tapi biar nggak ada lagi anak-anak yang dijadikan eksperimen kayak kami."

Malam makin larut. Ibu Mirelle akhirnya tertidur setelah diberikan obat penenang oleh perawat. Gue dan Keano keluar ke balkon rumah sakit untuk mencari udara segar. Angin malam New Ardent kerasa dingin banget, menusuk sampai ke tulang.

Gue nyender di pembatas balkon, liatin lampu-lampu kota yang seolah nggak pernah tidur. Pikiran gue melayang ke Swiss. Brankas itu... kode genetik itu... semuanya kerasa kayak film fiksi ilmiah yang jadi nyata.

"Lia," panggil Keano. Dia berdiri di samping gue, tangannya masuk ke saku celana.

"Hmm?"

"Apa lo menyesal?"

Gue nengok ke dia. "Menyesal soal apa?"

"Menyesal karena ternyata takdir lo seberat ini. Menyesal karena lo harus 'bangun' di tubuh Alzena dan terlibat dalam kegilaan keluarga gue."

Gue diem sebentar, terus gue senyum tipis. Gue raih tangannya, gue genggam erat. "Ké, kalau gue nggak bangun di tubuh Alzena, gue nggak bakal pernah ketemu Beruang yang kalau tidur suka nindih kaki gue ini. Gue nggak bakal tau kalau penguasa Winchester yang ditakuti dunia itu ternyata bisa panik cuma gara-gara istrinya disenggol ulet keket."

Keano ketawa kecil, matanya natap gue dengan tatapan yang bikin hati gue meleleh. "Lo bener-bener nggak ada romantis-romantisnya ya, bahkan di saat serius begini."

"Gue romantis dengan cara gue sendiri, Ké," gue narik kerah jaketnya sampai dia nunduk, terus gue cium bibirnya singkat. "Tunggu gue balik dari Swiss. Kita bakal punya kehidupan yang bener-bener normal. Tanpa rahasia genetika, tanpa Shania, tanpa Alexander."

"Janji?"

"Janji."

Keano narik gue ke pelukannya. Dia meluk gue erat banget, seolah-olah kalau dia lepasin, gue bakal ilang terbawa angin. "Evan dan tim Alpha sudah siap di bandara pribadi. Pesawat lo berangkat satu jam lagi. Gue udah nyiapin identitas palsu yang nggak bisa dilacak bahkan oleh satelit Winchester."

Gue ngelepas pelukannya, terus gue ambil ransel gue yang sudah disiapin Evan di pojokan balkon. "Gue berangkat sekarang, Ké. Jaga Ibu. Jaga Coki. Dan jangan berani-berani lo nerima klien cewek selama gue nggak ada."

Keano senyum nakal. "Tergantung. Kalau kliennya bawa martabak manis, mungkin gue pertimbangkan."

"GUE HACK REKENING LO KALAU BERANI!" ancam gue sambil jalan menjauh.

"Hati-hati, Arcelia Mirelle Winchester! Gue tunggu lo di rumah!" teriak Keano.

Gue nggak nengok lagi, cuma ngangkat tangan gue tinggi-tinggi sambil kasih jempol. Di dalam taksi menuju bandara, gue buka laptop gue. Jari-jari gue menari di atas keyboard, ngebuka jalur aman menuju server perbankan di Swiss.

"Oke, Alexander. Lo mau main-main sama 'subjek eksperimen' lo yang paling liar?" gumam gue sendiri sambil ngeliat barisan kode hijau di layar. "Siapin diri lo, karena Arcelia bakal ngebakar semua data lo sampai nggak bersisa."

Pesawat jet pribadi Winchester sudah menunggu di landasan pacu. Evan berdiri di depan pintu pesawat, mukanya tetep datar kayak papan cucian tapi gue tau dia juga lagi siaga penuh.

"Nyonya, semua sistem sudah dienskripsi ulang. Kita siap berangkat," lapor Evan.

"Bagus. Evan, lo siap jalan-jalan ke pegunungan Alpen? Gue denger di sana cokelatnya enak, tapi harganya mahal."

Evan cuma berdehem. "Saya lebih suka kopi hitam, Nyonya."

"Kaku banget sih lo. Ya udah, ayo berangkat. Kita punya dunia yang harus kita selamatkan dari kakek-kakek gila."

Gue melangkah masuk ke dalam pesawat. Begitu pintu tertutup, gue ngerasa adrenalin gue mulai naik. Swiss bukan cuma soal brankas, tapi soal mencari potongan terakhir dari identitas gue yang hilang. Bab 32 berakhir dengan pesawat yang melesat membelah langit malam, membawa beban rahasia yang bisa mengguncang dunia.

...****************...

TBC

1
Widia Aja
Saya belum menemukan cerita secerdas dan sebagus ini.
Author RAYAS selalu menyajikan cerita yang mengalir dengan apik, nyaman di baca, gak bisa ngeberhenti'in saya utk terus membaca sengan rasa penasaran yg kuat.
Setiap kalimat dan peralihan antar bab dikemas sangat baik, tidak membosankan dan selalu bikin penasaran atas kelanjutan ceritanya, gak ada typo, kalimatnya gak membingungkan, tokohnya kuat dan berkarakter, alurnya sangat bagus, dan isi nya gak "kosong", alias penuh pengetahuan.
Apresiasi tertinggi utk Author RAYAS..
Widia Aja
Semoga Shania gak bikin masalah lagi, Baoaknya juga
Widia Aja
KEREEEEEEENNNN......
Widia Aja
Visualnya keren, cucok..
meymonic
😍😍😍👍
Widia Aja
Alzena dan Arcelia, pasti kembaran, yg satu cengeng n lemah, satu lagi kuat dan cerdas
Widia Aja
Udah keliatan kalau cerita ini bakalan seru pake banget nih...
Anonim
Gw yakin lo adeknya alzena
Zhang Wuyang (张五阳)
yah ketahuan deh 🗿😍
Zhang Wuyang (张五阳)
langsung terkam aja bang udah 🗿
Zhang Wuyang (张五阳)
Omak aku pun di buat salting😍
A.R
umurnx arselia brpa tahun Thor??
Arieee
bagus, 👍👍👍👍👍👍👍👍
A.R
cari cowok yg lain aja,cwok cakep2 di luar sana banyak,giliran berubah baru di perhatiin cihhh
💟노르 아스마💟
woahhh...tamat
mksh cerita serunya👏👏👏
💟노르 아스마💟
sumpah yakkk...ini cerita keren menurut bayikk👏👏👏
beybi T.Halim
cerita yg benar2 luar biasa...aku fikir ditutup dengan hadirnya malaikat kecil keano dan arcelia ternyata hanya diisi dgn kebahagiaan ,terbaik lah buat penulisnya ,sehat2 sll👍
beybi T.Halim
cerita yg sungguh keren👍👍👍 sepanjang cerita tahan.nafas terus🤭
💟노르 아스마💟
huuuhhh tegang🤣🤣🤣🤣
💟노르 아스마💟
woaw...di luar dugaan ini plot twistnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!