Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Nama itu muncul lagi. Bukan Kiara kali ini. Laki-laki. Teman kuliah Zahra, Bram, yang tiba-tiba muncul di WhatsApp setelah berbulan-bulan tak ada kabar dengan pesan yang terlalu panjang untuk sekadar say hi.
Bram: Zah, gue denger lo udah nikah. Congrats ya. Eh btw gue lagi ada proyek riset yang temanya mirip skripsi lo, boleh ketemuan nggak? Mau minta input.
Zahra: iya boleh, nanti gue kabarin waktunya.
Bukan apa-apa. Bram memang teman kuliah yang baik, mereka pernah satu kelompok penelitian dua semester lalu, dan topik proyeknya memang relevan. Yang jadi masalah adalah Rafandra yang tak sengaja lihat notifikasi itu.
Bukan Zahra yang kasih lihat. HP-nya ada di meja makan, layarnya menyala, dan Rafandra yang duduk di sisi berlawanan jelas-jelas bisa membaca nama dan preview pesannya dari sana.
Zahra baru sadar waktu mendongak dan menemukan Rafandra menatap HPnya, bukan dengan ekspresi marah atau cemburu yang obvious. Tapi dengan ekspresi yang sangat datar dan sangat terkontrol dengan cara yang justru lebih menyeramkan dari keduanya.
"Teman kuliah," kata Zahra langsung. Tak menunggu ditanya.
"Aku tidak bertanya."
"Om lihat notifikasinya."
"Tidak sengaja."
Zahra menatapnya. "Namanya Bram. Teman satu kelompok penelitian. Mau minta input soal proyeknya."
Rafandra kembali ke makanannya. "Oke." Satu kata. Datar. Selesai.
.
.
.
Dua hari kemudian Zahra janjian ketemu Bram di kafe dekat kampus. Siang hari, tempat ramai, agenda jelas Bram yang bawa draft proyeknya, mereka diskusi dua jam, Zahra kasih masukan, selesai. Bukan apa-apa.
Zahra bilang ke Rafandra pagi harinya sesuai kesepakatan mereka untuk saling kasih tahu kalau pergi ke mana.
"Gue mau ketemu teman kuliah siang ini. Yang kemarin WhatsApp. Diskusi soal proyeknya."
Rafandra tak langsung menjawab. Tangannya yang tadi memegang cangkir kopi berhenti sebentar sedetik, tidak lebih sebelum kembali normal.
"Berapa lama?"
"Dua jam. Paling lama tiga."
"Supir—"
"Gue naik ojek, Om."
Rafandra menatapnya.
"Supir akan mengantarmu, Zahra," katanya. Nada yang tidak memberi ruang negosiasi.
Zahra menghela napas. "Om—"
"Bukan negosiasi." Dia berdiri, mengambil jasnya. "Supir akan mengantarmu dan menjemputmu ketika sudah selesau. Hubungi aku kalau ada yang tidak beres."
Keluar sebelum Zahra sempat protes lebih lanjut. Zahra menatap pintu yang sudah tertutup.
'Bukan negosiasi' Pria itu.
.
.
.
Kafe-nya bagus, tenang, kopi enak, Bram yang sudah duluan duduk waktu Zahra sampai dan langsung membuka laptopnya dengan antusias orang yang memang niat kerja.
Mereka diskusi. Bram yang bertanya, Zahra yang menjawab, sesekali berdebat soal metodologi dengan cara yang familiar, cara yang Zahra rindukan dari dinamika perkuliahan yang belakangan jarang dia rasakan.
Satu jam berlalu tanpa terasa. Di tengah-tengah, HP Zahra bergetar.
Rafandra.
Bukan telepon tapi pesan.
Rafa: Sudah sampai?
Zahra membalasnya cepat.
Zahra: Sudah. Ini lagi diskusi.
Centang dua. Dibaca. Tidak dibalas. Dua puluh menit kemudian bergetar lagi.
Rafa: Makan siang dulu. Jangan lupa.
Zahra menahan senyum. Mengetik: Iya Om.
Bram yang duduk di seberang mendongak. "Suami lo?"
"Iya."
Bram melirik sebentar ke layar HP Zahra yang sudah Zahra kunci. "Perhatian banget."
Zahra tidak menjawab. Kembali ke draft di depannya. Tapi di dalam dadanya ada yang hangat yang tidak minta izin untuk muncul.
Zahra pulang jam empat. Rafandra sudah ada di rumah lebih awal dari biasanya. Duduk di ruang keluarga dengan laptopnya, nengok waktu Zahra masuk.
Matanya memindai Zahra sekilas atas bawah, cepat.
"Baik-baik saja?"
"Baik." Zahra meletakkan tasnya. "Diskusinya produktif."
Rafandra mengangguk. Kembali ke laptopnya. Zahra duduk di sofa, membuka HPnya dan menangkap sesuatu.
Rafandra tak benar-benar membaca laptopnya. Matanya bergerak terlalu sedikit untuk orang yang sedang baca dokumen. Dan sesekali melirik ke arah Zahra.
"Dia nunggu gue pulang?" Batin Zahra bertanya.
"Bukan menunggu dengan duduk di depan pintu atau tanya gue di mana setiap lima menit. Tapi menunggu dengan caranya sendiri pulang lebih awal, ada di ruangan yang sama, pura-pura sibuk."
Zahra menatap HPnya supaya tidak ketahuan tersenyum.
.
.
.
Malamnya, setelah makan malam, Zahra yang duluan angkat bicara.
"Om cemburu tadi, ya?"
Rafandra mendongak dari cangkir kopinya. "Tidak, jangan tuduh-tuduh saya seperti itu."
"Bohong."
"Aku tidak cemburu."
"Om pulang lebih awal. Om tanya gue sudah sampai belum padahal biasanya nggak. Om suruh gue makan siang—"
"Itu perhatian biasa, Suami-istri."
"Om nggak pernah tanya gue udah makan atau belum kalau gue keluar biasa."
Rafandra diam. Zahra menunggu.
"Bram itu siapa tepatnya?" kata Rafandra akhirnya. Dikeluarkan dengan nada yang sangat dijaga tapi pertanyaan itu sendiri sudah cukup jadi jawaban.
Zahra menatapnya. Lalu...tak bisa ditahan dan ia tertawa kecil.
"Teman kuliah, Om. Beneran cuma teman. Dia bahkan udah punya pacar." Zahra menatap Rafandra yang ekspresinya tak berubah tapi telinganya sedikit merah. "Om cemburu."
"Aku hanya ingin tahu konteksnya."
"Itu definisi cemburu."
"Zahra—"
"Om cemburuuuu—"
"Cukup." Tapi tidak ada ketegasan yang biasanya di kata itu lebih ke seseorang yang berusaha keras untuk tidak terlihat kalah debat.
Zahra menahan senyum. "Gue seneng tau, kalau Om cemburu."
Rafandra menatapnya. "Senang?"
"Iya." Zahra menatap balik jujur, tanpa main-main. "Senang. Karena artinya Om peduli."
Ruangan itu sunyi.
Rafandra menatapnya dengan ekspresi yang malam ini tidak ada yang disembunyikan dan di sana, di balik semua lapisan tenang yang biasa ia bawa, ada perasaan aneh tak terkontrol dan sangat manusiawi.
"Aku selalu peduli," katanya akhirnya. Pelan. Bukan pengakuan yang dramatis hanya fakta yang disampaikan dengan cara yang terasa seperti lebih dari sekadar fakta.
Zahra tidak menjawab. Karena ada kata-kata yang lebih kuat kalau dibiarkan menggantung di udara daripada ditanggapi dan malam itu, di ruang makan yang lampunya mulai redup, dengan dua cangkir kopi yang sudah dingin di antara mereka kalimat itu menggantung dan keduanya membiarkannya.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼