Kumpulan 100 kisah horor, bukan untuk anak-anak manusia, tetapi untuk anak-anak jiwa yang ingin belajar memahami, bahwa ada bilik tersembunyi, dan di dalam sana segala sesuatu menjadi abstrak, menjadi bertentangan dengan hukum alam empiris.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertelan (Bag 12)
Cahaya mentari menyelinap pelan melalui celah-celah dinding bambu yang jebol. Warnanya abu-abu keperakan, dingin, namun cukup untuk membuktikan bahwa malam yang paling panjang dan mengerikan lainnya dalam hidup mereka akhirnya berlalu.
Sulaiman, Umar putranya, Herman, dan Deri tidak langsung bergerak. Mereka duduk diam selama beberapa menit, membiarkan mata mereka beradaptasi dengan cahaya baru, dan membiarkan pikiran mereka memastikan bahwa semua teror tadi malam; ular-ular raksasa, suara gergaji pembunuh, dan bayangan-bayangan mengerikan; benar-benar telah hilang bersama kegelapan.
Hening.
Benar-benar hening.
Hanya terdengar suara embun yang menetes dari daun ke tanah, dan suara serangga malam yang mulai lenyap. Tidak ada desisan. Tidak ada deruman mesin. Tidak ada tawa hantu.
"Aman..." bisik Sulaiman parau. "Kita selamat satu malam lagi."
Ia berdiri perlahan. Otot-otot tubuhnya menjerit kesakitan. Badannya terasa kaku seperti patung kayu. Saat ia melangkah, tumpukan mayat ular yang sudah kering dan dingin berdecit di bawah kakinya. Bau amis dan bau daging terbakar masih sangat menyengat, membuat perut mereka yang kosong terasa mual dan melilit.
"Buka pintunya," perintah Sulaiman lemah.
Herman dan Deri dengan susah payah memindahkan tumpukan meja dan kayu yang membarikade pintu. Pintu bambu itu berdecit keras saat didorong terbuka.
Angin pagi yang sejuk dan basah menerpa wajah mereka. Udara di luar murni, berbau hutan asri dan dedaunan, sangat kontras dengan udara pengap di dalam gubuk. Mereka menghirup udara itu dalam-dalam, seolah ingin mengisi kembali paru-paru mereka yang terasa kotor.
Namun, pemandangan di luar sana tidak memberikan harapan banyak. Hutan masih tampak rapat, tinggi, dan gelap meski matahari sudah mulai naik. Kabut tebal masih menyelimuti tanah, membuat jarak pandang sangat terbatas.
Tapi ada satu hal yang kini menjadi musuh terbesar mereka, jauh lebih menakutkan daripada hantu atau ular sekalipun.
Krrruukk... krrruukk...
Suara itu terdengar dari perut Deri. Disusul suara gemuruh dari perut Herman, Umar dan Sulaiman sendiri.
Rasa lapar dan dahaga itu datang menyerang tanpa ada penundaan, melumpuhkan tenaga dan membuat kepala terasa pusing berputar. Mulut mereka kering kerontang, lidah terasa tebal dan pahit. Tenggorokan terasa seperti digosok pasir kasar. Tubuh mereka sudah kehilangan banyak cairan akibat keringat, ketakutan, dan pertarungan malam.
"Air... Bos... aku butuh air..." rengek Deri. Wajahnya pucat pasi, bibirnya pecah-pecah dan berdarah. Matanya cekung, menampakkan kelelahan ekstrem. "Tenggorokanku kering sekali..."
"Iya ayah, aku haus, aku juga sangat lapar..." Sambung Umar sambil menatap ke arah Deri, si dewasa yang sedang merengek seperti anak kecil di hadapannya.
Sulaiman mengusap lehernya yang terasa kaku. Ia juga merasakan hal yang sama. "Tenang semuanya. Kita cari air. Apakah kau pernah dengar ada hutan tropis yang tidak ada sumber air? Tidak bukan, jadi tenangkan diri kalian. Kita akan segera menemukan sungai atau mata air yang dapat mengobati rasa dahaga."
"Tapi Bos, kita tidak tahu arah," ucap Herman yang juga tampak sangat lemah. Kakinya terhuyung-huyung saat berjalan. "Kalau kita salah jalan, malah makin tersesat lebih jauh..."
"Gunakan instingmu, Herman. Ingat apa yang pernah aku ajarkan saat pelatihan survival dulu?" Sulaiman mencoba mengerahkan sisa tenaganya untuk tampil tegas. Ia tahu, jika ia tiba-tiba terlihat putus asa, kedua anak buahnya akan hancur terlebih dahulu. "Di hutan, air itu nyawa. Makanan bisa menunggu beberapa hari, tapi air tidak. Kalau kita tidak dapat air dalam 24 jam ke depan, tubuh kita akan rusak."
Sulaiman memandang sekeliling, matanya yang tajam mulai memindai area tersebut.
"Lihat pohon-pohon di sana," tunjuk Sulaiman ke arah kiri. "Pohon-pohon di arah itu lebih tinggi, lebih hijau, dan ada pakis serta lumut yang tebal di batangnya. Itu tandanya tanah di sana lebih lembap. Artinya, ada sumber air di bawah atau di dekat situ. Kita ke sana."
Mereka mulai berjalan. Langkah mereka berat, sangat berbeda dengan lari kencang kemarin. Setiap langkah terasa menyiksa. Tanah yang licin karena lumpur dan embun membuat mereka sering terpeleset.
"Hati-hati nak.." ucap Sulaiman sambil memegang sigap lengan putranya yang hampir salah pijakan.
Perjalanan mencari air terasa seperti menempuh ribuan kilometer. Padahal jaraknya mungkin hanya beberapa ratus meter, tapi bagi perut kosong dan kaki yang luka, rasanya seperti perjalanan ke ujung dunia.
Di tengah perjalanan, Deri melihat sesuatu yang berkilau di antara bebatuan.
"Air! Itu air!" serunya bersemangat, ingin langsung berlari.
"JANGAN!!! JANGAN BODOH!!!" teriak Sulaiman keras, menahan kerah baju Deri dari belakang hingga pemuda itu terhenti.
"Kenapa Bos? Itu air kan? Aku mau minum!" protes Deri hampir menangis.
"Lihat baik-baik," bisik Sulaiman dingin. Ia menunjuk genangan air itu. Airnya terlihat tenang, tapi warnanya kehijauan, dan ada banyak serangga mati mengapung di permukaannya. "Itu air menggenang. Air mati. Air mayat. Bakterinya banyak sekali. Kalau kau minum itu, kau akan diare hebat. Dan di sini tidak ada obat. Kau akan dehidrasi parah dan mati dalam sehari. Ingat itu, Der! Jangan pernah minum air yang tidak mengalir!!!"
Deri menunduk kecewa dan takut. "Maaf, Bos..."
"Ayo lanjut. Kita cari air yang mengalir."
Akhirnya, setelah berjalan hampir satu jam, mereka mendengar suara yang sangat mereka rindukan.
Trrrssssss...
Suara air mengalir.
Di balik rimbunnya semak belukar, terdapat sebuah sungai kecil yang jernih. Airnya dingin dan segar, mengalir deras melewati bebatuan granit hitam yang licin. Tidak ada sampah, tidak ada bau. Air pegunungan yang murni.
"Akhirnya, ini dia yang paling kita butuhkan..." Herman langsung berjongkok, ingin langsung meneguk air itu dengan tangan.
"Tunggu!" cegah Sulaiman lagi.
"Apa lagi sih Bos?!" Deri sudah tidak sabar. "Airnya jernih banget!"
"Jernih belum tentu bersih," kata Sulaiman tegas. Ia mengambil pisau lipatnya, lalu memotong sebuah batang pohon kecil yang memiliki getah bening. "Ini pohon Awar-awar atau pohon yang daunnya bisa membersihkan air. Atau lihat ini..." Ia menunjuk ke pinggir sungai. "Ada rumput Ilalang dan lumut yang tumbuh subur. Berarti airnya aman. Tapi tetap, kita tidak minum langsung dari sungai."
Sulaiman mengambil botol bekas air mineral yang masih tersisa, lalu mengisinya dengan air sungai. Ia tidak langsung meminumnya, tapi membiarkannya mengendap sebentar, hingga di bagian paling bawah terlihat debu dan partikel yang mengumpul.
"Baiklah, sekarang aman, minumlah sedikit demi sedikit. Jangan langsung banyak. Basahi mulut terlebih dahulu, lalu telan pelan."
Mereka akhirnya minum. Menurunkan hawa panas di tubuh, membuat mata yang sempat mengantuk kembali siaga.
"Airnya terasa sangat segar yah, seperti air dari kulkas..." Seru Umar girang. "Iya, tapi kamu jangan minum terlalu banyak, nanti kamu kesulitan bergerak, cukup tampung di botol ini." Sulaiman menyerahkan botol air minum yang masih kosong ke putranya yang langsung mengisinya hingga penuh.
Sensasi air dingin yang mengalir melewati tenggorokan kering mereka terasa seperti surga. Setiap tetes terasa sangat berharga. Mereka merasakan hidup kembali mengalir di pembuluh darah mereka. Wajah pucat mereka pun mulai sedikit berwarna.