Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26 Mulut Pedas Sean
"Ibumu pasti sengaja memakai topeng itu karena wajahnya sudah membusuk, kan? Dasar monster!"
Suara cempreng Ansel menggema di sudut kantin sekolah yang mulai sepi. Sean, yang sedang asyik menyesap kotak susunya sambil membaca sebuah buku algoritma, tidak bergeming sedikit pun. Ia hanya membalik halaman bukunya dengan tenang, seolah suara Ansel hanyalah desiran angin yang tidak berarti.
Ansel, yang merasa diabaikan, menggebrak meja kayu di depan Sean.
"Hei, anak buangan! Aku bicara padamu! Apa kau juga tidak punya telinga, sama seperti ibumu yang tidak punya wajah itu?"
Sean menghela napas panjang. Ia teringat janji pada Venus tadi pagi, Jangan gunakan tinju mu lagi, gunakan otakmu.
Ia menutup bukunya perlahan, lalu mendongak menatap Ansel dengan tatapan yang sangat datar, sedingin es di kutub utara.
"Ansel, kau sudah bicara selama tiga menit dan lima detik," ucap Sean pelan. "Dalam waktu sesingkat itu, kau sudah menggunakan empat kata sifat yang salah dan satu asumsi medis yang tidak berdasar. Tidakkah kau lelah menjadi bodoh?"
Wajah Ansel memerah. Teman-teman di belakangnya mulai berbisik.
"Apa kau bilang? Kau menghinaku?!"
"Aku tidak menghinamu, aku sedang menyatakan fakta," balas Sean sembari merapikan letak kacamatanya. "Kau terus menyebut ibuku monster. Secara definisi, monster adalah makhluk mitos yang menakutkan. Ibuku nyata, dia bekerja, dan dia membesarkanku dengan baik. Sementara kau? Kau nyata, tapi satu-satunya hal yang kau lakukan adalah menggonggong seperti anjing yang tidak diberi makan."
"Kau baji-ngan!" Ansel melangkah maju, tangannya mencengkeram kerah seragam Sean.
"Ayahku bilang, orang-orang seperti kalian hanyalah sampah di kota ini! Ibumu itu cacat, dan kau hanya anak sial yang tidak punya ayah!"
Sean merasakan darahnya mendidih saat kata "cacat" dan "tidak punya ayah" keluar dari mulut Ansel. Tinjunya mengepal di bawah meja, namun ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Venus yang tersenyum di balik topeng kulitnya. Ia tidak boleh membuat ibunya menangis lagi karena harus menghadap kepala sekolah.
Sean melepaskan tangan Ansel dari kerahnya dengan gerakan yang sangat tenang namun bertenaga. Ia berdiri, membuat Ansel yang sedikit lebih pendek darinya harus mendongak.
"Dengarkan aku baik-baik, Ansel, kau bangga dengan ayahmu karena dia kaya? Ayahmu hanyalah direktur bank yang posisinya sedang diawasi karena dugaan penggelapan dana di proyek Golden Lotus. Jika aku jadi kau, aku akan lebih mengkhawatirkan masa depanku sendiri daripada mengurusi wajah ibuku," bisik Sean, nadanya merendah nan penuh ancaman.
Ansel tertegun, matanya membelalak ketakutan.
"Dari... dari mana kau tahu soal itu?"
"Internet adalah tempat yang sangat luas bagi orang yang punya otak, dan tempat yang sangat gelap bagi orang sepertimu," jawab Sean dingin. Ia menyampirkan tas ranselnya ke bahu. "Ibuku memakai topeng untuk melindungi dunia dari kecantikannya yang luar biasa, atau mungkin untuk menyembunyikan luka. Tapi kau? Kau tidak memakai topeng, namun semua orang bisa melihat betapa buruk rupa jiwamu."
Ansel terdiam membisu, mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Keangkuhannya runtuh seketika saat Sean menyebutkan rahasia perusahaan ayahnya, sesuatu yang bahkan Ansel sendiri baru mendengarnya hari ini.
"Satu hal lagi," Sean melangkah satu kaki ke depan, membuat Ansel mundur teratur. "Jika kau menyebut kata monster sekali lagi, aku tidak akan mematahkan hidungmu seperti minggu lalu. Aku akan memastikan seluruh catatan perbankan keluargamu terhapus dari sistem pusat dalam satu malam. Kau ingin mencoba kekuatanku?"
Ansel menelan ludah dengan susah payah. Ia gemetar melihat sorot mata Sean yang tidak terlihat seperti mata anak kecil pada umumnya. Itu adalah mata seorang predator yang sedang memperingatkan mangsanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Ansel berbalik dan lari meninggalkan kantin bersama teman-temannya yang ketakutan.
Sean kembali duduk sejenak, mengatur napasnya yang sempat memburu. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Leo.
[Paman, pastikan laptop yang kau beli punya enkripsi tingkat tinggi. Aku baru saja mengancam seseorang dengan kehancuran finansial.]
Setelah mengirim pesan itu, Sean bangkit dan berjalan menuju gerbang sekolah. Amarahnya sudah reda, berganti dengan rasa lelah yang luar biasa. Ia teringat janji Leo soal seseorang yang akan menjemputnya.
Di depan gerbang, sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengkilap sudah terparkir dengan gagah. Semua orang di sekolah menoleh ke arah mobil mewah itu.
Seorang pria dengan setelan jas mahal turun dari kursi kemudi, namun bukan Leo. Pria itu memakai kacamata hitam, memiliki rahang yang tegas, dan aura dominan yang sangat kuat.
Sean berhenti melangkah. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenali wajah itu dari foto lama yang pernah ia temukan secara sembunyi-sembunyi di laci ibunya sekaligus peria yang pernah ia temui beberapa kali.
"Sean?" pria itu menyapa dengan suara berat khasnya.
Sean menatap pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu melipat tangannya di dada.
"Jadi, paman Leo menjualku pada pria yang sudah menelantarkan ibuku selama tujuh tahun demi sebuah laptop? Menarik."
Dante Carson terpaku. Ia tidak menyangka kalimat pertama yang keluar dari mulut putranya akan setajam itu. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh luka sekaligus rasa bangga.
"Kau benar-benar anak ibumu, Sean. Tajam dan tak kenal takut. Mari, kita bicara sambil makan malam. Ada banyak hal yang harus kau ketahui soal alasan kenapa papa menghilang."
"Aku hanya ikut karena aku butuh laptop baru," sahut Sean ketus sembari berjalan menuju mobil, namun di dalam hatinya, ada sebuah debaran yang tak bisa ia jelaskan.
"Tak masalah jika kau ikut Papa hanya demi laptop baru, atau bahkan jika kau berniat menguras seluruh harta Papa sekalipun. Papa tidak keberatan, asal kau mau meluangkan waktu untuk kita bicara," ucap Dante sambil membukakan pintu mobil.
Sean masuk ke kursi penumpang dengan gaya santai, lalu melirik Dante dari balik kacamatanya.
"Sombong sekali Paman Udang ini. Memangnya uang bisa membeli waktu yang hilang?"
Dante yang baru saja akan menutup pintu mendadak terdiam. Ia mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi dengan wajah bingung sekaligus syok.
"Paman Udang? Sean, panggil aku Papa. Kenapa tiba-tiba jadi Paman Udang?"
"Karena kau mirip udang," sahut Sean tanpa dosa sambil sibuk dengan ponselnya. "Kepalanya penuh dengan isi yang tidak berguna karena lebih memilih wanita ular dibanding mama. Dan lihat jasmu yang oranye kecokelatan itu? Benar-benar mirip udang rebus."
Dante mengelus dadanya, mencoba bersabar menghadapi serangan mental putranya sendiri.
"Jas ini harganya ribuan dolar, Sean! Ini tren terbaru di Milan! Bagaimana bisa kau menyamakan pria tertampan di Amsterdam ini dengan makanan laut?"
"Ketampanan tidak berguna jika katarak," gumam Sean pedas.
Dante hanya bisa menghela napas pasrah, menyalakan mesin mobil dengan tangan gemetar. Ia baru sadar, menaklukkan hati Venus jauh lebih mudah daripada menghadapi mulut berbisa Sean yang merupakan perpaduan sempurna antara kecerdasan Venus dan keangkuhannya sendiri.
"Sial! Bocah ini memang benar-benar keturunanku. Mulutnya mirip degan mulut pedas papa!" batin Dante mengumpat ayahnya sendiri.
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
gimana donk??
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎