Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum di Balik Mimpi
Semburat cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah gorden tipis Villa Maritima, membawa serta aroma garam laut yang segar ke dalam kamar yang masih diselimuti kehangatan sisa semalam. Luna adalah yang pertama kali terjaga. Matanya mengerjap perlahan, mencoba menyesuaikan diri dengan terangnya cahaya pagi yang memantul dari permukaan laut di balik jendela kaca raksasa.
Ia mencoba untuk bangkit dari posisi berbaringnya. Namun, saat ia mendudukkan diri di tepi ranjang, Luna tertahan sejenak sambil menghela napas panjang. Ia mengusap punggungnya yang terasa kaku dan sedikit pegal, dampak dari "kebahagiaan" intens yang mereka lalui sepanjang malam. Saat ia menoleh ke arah cermin rias yang berada tak jauh dari ranjang, Luna hanya bisa tersipu malu melihat bayangan tubuhnya sendiri. Di balik kain sutra yang ia kenakan secara terburu-buru, terdapat banyak "bekas" kemerahan yang ditinggalkan oleh bibir dan sentuhan Isaac—sebuah tanda kepemilikan yang sangat jelas dan penuh gairah.
Luna menoleh ke arah samping, menatap sosok pria yang masih terlelap dengan sangat pulas di atas ranjang king size tersebut. Isaac tampak begitu damai. Pria itu tertidur tanpa mengenakan atasan, hanya mengenakan celana kain saja yang masih tersisa dari aktivitas mereka semalam. Otot-otot bahu dan dadanya yang bidang tampak sangat rileks, dan kulitnya yang hangat sesekali terpapar sinar matahari pagi.
Ada sesuatu yang membuat Luna urung untuk segera bangkit dan mandi. Ia melihat sudut bibir Isaac terangkat perlahan, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat manis. Isaac tampak sedang bermimpi sesuatu yang sangat membahagiakan, hingga ekspresi wajahnya yang biasanya tegas dan dingin kini melunak sepenuhnya. Luna bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang diimpikan oleh suaminya itu? Apakah Isaac bermimpi tentang masa depan mereka, atau mungkin tentang tawa bayi yang baru saja mereka rencanakan semalam?
"Mas... kau bermimpi apa sampai tersenyum seperti itu?" bisik Luna sangat pelan, seolah tidak ingin memecahkan gelembung kebahagiaan yang sedang dinikmati Isaac di alam bawah sadarnya.
Luna mengulurkan tangannya, ragu sejenak, namun akhirnya jemarinya yang lentur bergerak mengusap rambut Isaac yang sedikit berantakan di atas bantal. Sentuhan lembut itu membuat Isaac bergerak sedikit, namun ia tidak terbangun. Ia justru bergumam rendah dalam tidurnya, sebuah gumaman yang tidak jelas namun terdengar sangat penuh kasih.
Melihat kondisi suaminya yang sangat tenang, Luna memutuskan untuk menunda niatnya bangkit. Ia kembali merebahkan dirinya di samping Isaac, menyangga kepalanya dengan tangan sembari terus memandangi wajah pria yang telah menjadi pelindungnya itu. Rasa sakit di punggung dan pinggangnya seolah terlupakan saat ia melihat betapa bahagianya Isaac pagi ini. Ia teringat betapa posesif dan gigihnya Isaac semalam, seolah ingin membuktikan bahwa seluruh jiwa dan raganya hanyalah milik Luna.
Waktu seolah berhenti di dalam villa mewah itu. Di luar sana, suara ombak semakin menderu, menandakan air laut mulai pasang. Namun di dalam sini, hanya ada hening yang menenangkan. Luna teringat kembali semua perjuangan Isaac di kota, rasa sakit yang pria itu sembunyikan darinya, dan bagaimana Isaac akhirnya menebus segalanya dengan liburan ini.
"Terima kasih, Mas," gumam Luna lagi. "Terima kasih karena sudah berjuang untukku dan panti kita."
Tiba-tiba, tangan Isaac yang bebas bergerak mencari-cari di atas ranjang. Sepertinya instingnya menyadari bahwa Luna tidak lagi berada dalam dekapannya. Saat tangannya menyentuh lengan Luna, Isaac menariknya dengan gerakan spontan, seolah takut kehilangan pegangan. Isaac belum membuka mata, namun senyumnya semakin lebar saat ia berhasil menarik tubuh Luna agar kembali menempel pada dadanya yang hangat.
"Aku tahu kau sudah bangun, Luna," suara Isaac terdengar sangat berat dan serak, ciri khas seseorang yang baru saja terbangun dari tidur yang sangat nyenyak.
Luna sedikit terperanjat, ia terkekeh pelan. "Aku pikir kau masih berada di dalam mimpimu yang indah itu, Mas. Kau tersenyum-senyum sendiri sejak tadi."
Isaac perlahan membuka matanya. Ia menatap Luna dengan sorot mata yang penuh dengan binar kepuasan dan kebahagiaan. Ia menarik napas dalam, mencium aroma rambut Luna yang masih harum meski sedikit acak-acakan. "Mimpiku memang indah, tapi kenyataan bahwa aku terbangun dan kau ada di sampingku jauh lebih indah, Sayang."
Isaac kemudian memperhatikan gerakan Luna yang sesekali masih mengusap punggung dan pinggangnya sendiri. Ia teringat akan kegigihannya semalam yang mungkin sedikit melampaui batas ketahanan fisik Luna. Ada rasa bersalah yang bercampur dengan kebanggaan di hatinya saat melihat "tanda-tanda" yang ia tinggalkan di kulit putih istrinya.
"Punggungmu masih sakit?" tanya Isaac sembari membawa tangannya ke belakang tubuh Luna, mulai memberikan pijatan lembut yang penuh perhatian.
"Sedikit," jawab Luna dengan wajah yang kembali merona. "Kau sepertinya terlalu bersemangat semalam, Mas. Aku bahkan tidak yakin bisa berjalan dengan normal ke pantai pagi ini."
Isaac tertawa rendah, suara tawa yang terdengar sangat jantan dan penuh kemenangan. Ia mengecup kening Luna dengan sangat lama. "Itu karena aku sangat mencintaimu, Luna. Setiap inci dari dirimu adalah candu bagiku. Dan setelah berminggu-minggu menahan rindu di kota, aku rasa satu malam pun tidak akan pernah cukup untuk menuntaskannya."
Isaac bangkit, bersandar pada kepala ranjang tanpa mengenakan baju, memperlihatkan postur tubuhnya yang atletis. Ia menarik Luna agar duduk di pangkuannya, tidak peduli dengan rasa pegal yang Luna keluhkan, karena ia ingin memulai pagi ini dengan kedekatan yang sama seperti semalam.
"Kau tahu apa yang aku impikan tadi?" tanya Isaac sembari mengelus pipi Luna.
"Apa?"
"Aku bermimpi kita sedang berjalan di tepi pantai ini, tapi tidak hanya berdua. Ada seorang anak laki-laki kecil yang memiliki matamu, sedang berlari mengejar ombak di depan kita," bisik Isaac dengan nada yang sangat emosional. "Dan kau terlihat sangat bahagia sebagai seorang ibu."
Mendengar itu, mata Luna berkaca-kaca. Impian Isaac ternyata selaras dengan harapan yang sedang mereka tanam bersama. "Itu mimpi yang sangat indah, Mas. Aku harap itu segera menjadi kenyataan."
"Aku akan memastikannya," sahut Isaac penuh keyakinan.
Pagi itu, di tengah kemewahan villa yang menghadap laut, mereka tidak terburu-buru untuk melakukan aktivitas apa pun. Bagi Isaac dan Luna, waktu yang mereka miliki saat ini adalah harta yang paling berharga. Mereka menghabiskan waktu dengan saling bercerita, saling menggoda tentang kejadian semalam, dan sesekali Isaac kembali memberikan pijatan-pijatan ringan untuk meredakan rasa sakit di tubuh Luna.
Kesunyian pantai yang tenang dan sinar matahari yang semakin menghangat seolah merestui setiap janji yang mereka buat di dalam kamar itu. Bagi Luna, rasa pegal di punggungnya adalah pengingat yang manis tentang betapa besarnya cinta suaminya. Dan bagi Isaac, senyum Luna pagi ini adalah konfirmasi bahwa ia telah berhasil memberikan kebahagiaan yang selama ini ia janjikan.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk beranjak dari ranjang saat matahari sudah mulai tinggi. Isaac dengan sangat lembut membantu Luna berdiri, bahkan sempat menawarkan diri untuk menggendong Luna menuju kamar mandi, yang tentu saja ditolak Luna dengan tawa malu. Kehidupan mereka setelah badai di kota kini terasa lebih berwarna, penuh dengan harapan baru yang tumbuh seiring dengan setiap deru ombak yang menyapu pantai di depan villa mereka.