Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Kita Mulai, Ya?
" Ad... kalau boleh jujur aku ingin mencoba tentang kita. Bukan karena terpaksa tapi karena sikap kamu beberapa waktu terakhir ini, yang membuat aku merasa bahwa kamu adalah orang yang aman"
Begitulah isi pesan yang malam tadi ia terima setelah membalas pesan panjang, bahkan sampai pagi ini Adrian masih terus membaca dan menatap pesan Nayara karena belum berani menutup ponselnya.
Seperti saat ini Adrian kembali membaca pesan itu untuk kesekian kali, aneh... tapi dari semua hal besar yang pernah terjadi dalam hidupnya justru satu kalimat sederhana ini yang membuat dada Adrian terasa hangat dan penuh.
Bukan karena kata " Mencoba " tapi karena kata " Aman " yang membuat Adrian semakin merasa bahagia, selama ini Adrian tidak pernah tahu bahwa menjadi tempat yang aman bagi seseorang bisa membuat dirinya terasa bahagia dan hangat.
Siang ini restaurant tidak terlalu ramai, padahal biasanya jika jam istirahat sudah dimulai meja ini akan penuh dengan orang-orang.
Di meja yang sederhana kini diisi oleh dua orang yang duduk saling berhadapan, mencoba memulai sesuatu yang tidak biasa. Nayara yang memakai kemeja putih dengan rambut diikat satu terlihat sangat cantik, tidak berlebihan tapi tetap saja Adrian lebih fokus menatap Nayara seolah titik pusatnya saat ini adalah Nayara.
" Maaf ya, tadi jalanan cukup padat. Apakah kamu sudah lama menungguku?" Adrian terlihat sedikit canggung siang ini.
" Aahh enggak juga, aku juga baru sampai" Nayara menggelengkan kepalanya pelan.
Hening, siang ini terasa sedikit kaku tapi ada hangat yang terasa. Mungkin karena semalam Nayara dan Adrian sudah membuka sedikit bagian yang selama ini masih berusaha ditutupi.
" Tentang pesan kamu, malam tadi..."
" Maaf, harusnya aku enggak perlu kirim" Nayara menundukkan kepalanya dengan jari-jari yang memainkan ujung sendoknya.
" Jangan ditarik lagi, itu sebuah kejujuran dan aku sangat bahagia. Terimakasih karena sudah jujur tidak ada aturan jika perempuan jujur itu sebuah kesalahan karena kejujuran hak siapapun" Adrian langsung meluruskan sebelum Nayara kembali ke setelan awal.
Nayara yang mendengar jawaban Adrian kini mengangkat wajahnya, tatapannya bertemu terlihat ketulusan dalam tatapan Adrian yang membuat hati Nayara menjadi lebih tenang.
" Sebenarnya aku enggak biasa kaya gitu... Tentang hak yang terlalu pribadi" ucap Nayara pelan seperti sebuah bisikan.
" Aku tahu, tapi itu bukan sebuah kesalahan jadi kamu tidak perlu menyesal" jawab Adrian tenang dengan senyuman tipisnya.
Suara Nayara dan Adrian tidak keras tapi cukup jelas terdengar, dan itu terasa hangat bagi suasana saat ini. Sampai akhirnya makanan datang memecah obrolan sejenak.
Dimenit awal kegiatan makan dimulai hanya diisi dengan obrolan ringan dan random, tentang pekerjaan, cuaca, bahkan rasa makanan yang terasa sangat aman untuk dibicarakan.
" Adrian..." Nayara kini meletakkan perlahan sendoknya.
" Hmmm?"
" Aku mau jujur sama kamu " Nayara menarik nafasnya pelan.
" Silahkan, aku akan mendengarkan apapun itu jadi jangan sungkan. Bukankah sebuah komunikasi dan kejujuran adalah kunci sebuah hubungan?" jawab Adrian yang kini sudah berada dalam posisi duduk ternyaman.
" Aku tahu ini sebuah perjodohan, tapi setelah kejadian beberapa hari terakhir akhirnya aku sadar ada hal yang berbeda sama hati aku. Dan Aku memutuskan untuk belajar percaya lagi dan belajar untuk memulai" Nayara memilih kata yang tepat dalam setiap ucapan yang keluar.
" Jika kamu bertanya kenapa aku tidak menolak perjodohan ini? Maka jawabannya karena " kamu" " Nayara tersenyum tipis.
" Hah aku?" Adrian kaget.
" Iyaa karena kamu enggak maksa, jujur aku capek dengan orang yang selalu ingin cepat. Dalam artian ingin cepat dekat, cepat punya status dan terlalu cepat menuntut" kalimat ini sederhana tapi entah kenapa terasa hangat dan cukup dalam.
" Aku enggak akan buru-buru, semua kita lakukan secara alami saja selayaknya kita berproses" Adrian mengangguk pelan.
" Beneran?" Nayara menatap wajah Adrian seolah tengah memastikan sesuatu.
" Beneran dong, kita mulai pelan-pelan saja. Lagian buru-buru mau kemana?" Adrian menyelipkan candaan ringan.
" Oke, kita mulai, Ya?" Nayara tersenyum manis kali ini lebih ringan.
Adrian yang baru pertama kali melihat senyuman hangat itu, kini merasa dadanya ikut menghangat.
Setelah obrolan ringan tapi serius kini suasana lebih hangat, Nayara mulai terbuka dengan bercerita banyak hal dari mulai hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia bagi.
" Kamu tau? Aku kalau lagi ngerasa capek suka tiba-tiba pengen makan atau minum yang manis-manis" ucapannya sedikit malu.
" Oh, Ya? Jadi sekarang kamu lagi capek?" jawab Adrian seraya menatap minuman manis yang kini tengah diminum oleh Nayara.
" Enggak... Enggak... Ini aku cuma cerita aja" Nayara langsung menggelengkan kepalanya cepat.
" Baik, Bu Nayara" Adrian tertawa kecil melihat Ekspresi wajah Nayara.
" Ihhh jangan gitu, dong" Nayara mulai memperlihatkan sisi manjanya, ia membangunkan sedikit bibirnya.
Sekarang aku baru sadar, ternyata Nayara memiliki sisi lain yang selama ini ia sembunyikan. Sisi yang lebih hangat dan... Lembut, lebih manja tapi aku sangat menyukainya.
" Terus kalau lagi capek, biasanya kamu ngapain?" Adrian kini mulai mencari tahu hal lain.
" Mmmhhh, diem aja sih aku" Nayara sedikit berpikir sebentar.
" Diem?" Adrian memastikan
" Iyalah,.mau ngapain lagi. Aku enggak suka ganggu orang soalnya" Jawab Nayara.
" Lain kali kalau lagi capek atau sepi, ganggu aku aja" Adrian kini seperti tengah memberikan penawaran.
" Emang boleh?" tanya Nayara.
" Loh, kok boleh? Bukan izin tapi aku menawarkan, Nayara".
Suasana kembali hening dengan aktivitas makan yang belum selesai, tapi suasana kali ini bukanlah canggung tapi hening yang penuh makna.
Monolog Nayara
Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini mulai berubah, yang awalnya hanya sebuah pertemuan yang dipaksakan, perlahan kini menjadi sesuatu yang ingin aku pertahankan.
Adrian memang sosok lelaki yang tidak banyak bicara berlebihan, tapi justru itu yang membuat Nayara menjadi merasa lebih aman.
Dan untuk pertama kalinya Nayara merasa tidak dituntut harus menjadi sempurna, bersama Adrian Nayara boleh merasa lelah, bahkan manjanya dibalas dengan baik, ceritanya didengarkan dengan baik tanpa takut dihakimi.
Dan ternyata...
Inilah yang selama ini Nayara cari, bukan lelaki yang datang dengan penuh dengan janji besar.
Hari ini terasa sangat ringan, tidak ada tekanan, tidak ada tuntutan, hanya ada dua orang yang memilih untuk mencoba.
Dan mungkin ini sudah lebih dari cukup.
Dan mungkin…
itu sudah lebih dari cukup.
Monolog Adrian
Untuk pertama kalinya aku tidak terburu-buru ingin tahu, Karana hari ini saja sudah terasa cukup.
Melihat Nayara tertawa kecil, mendengarkan ia bercerita tanpa menahan diri, merasakan ia mulai berani membuka diri sedikit demi sedikit hatinya
Aku tidak butuh sesuatu yang sempurna,
Aku hanya ingin sesuatu yang nyata,
Dan jika " Kita" dimulai dari sini,
dari menja makan sederhana, sari percakapan kecil, dari keberanian untuk mencoba maka aku akan menjaganya dengan pelan tanpa tergesa-gesa... Seperti yang ja mau.