NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 : TIAN XUE BI

Upacara itu dimulai dengan suara gendang, dan Pengikut Sekte Penguasa Dalam berbaris di sisi timur pantai dengan jubah gelap mereka, sementara topeng-topeng hidung panjang menghadap ke depan, dan di antara mereka berdirilah pemimpin tertinggi sekte, seorang pria tua bertubuh tinggi dengan tongkat kayu hitam yang ukurannya hampir dua kali tinggi orang dewasa, rambut putihnya dikepang rapat ke belakang dengan mata tertutup.

Jika kita lihat di sisi barat, barisan Long Yuan berdiri dalam kewaspadaan yang lebih keras dari apapun.

Menelusuri lebih jauh sampai ke interior tenda komando, Panglima Qinghan terlihat berjalan dari ujung ke ujung untuk kesekian kalinya.

Chen Mo duduk di bangku lipat di dekat pintu masuk, menatap Panglimanya dengan cara menatap seseorang yang sudah terlatih untuk tidak menunjukkan pendapat pribadi di situasi yang tidak memintanya.

"Hua Ling." Qinghan berhenti di depan gadis tabib yang duduk merapikan kantong ramuannya. "Kalau dia terluka, kau dan kakekmu langsung masuk. Tidak perlu tunggu izin siapa pun."

Hua Ling mendongak. "Sudah siap, Panglima. Ramuan yang kami berikan tadi sudah masuk ke dalam tubuhnya."

"Efeknya cukup?"

"Ramuannya alami, Panglima." Hua Ling memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Tidak sekuat ramuan dari daratan Shenzhou. Tapi efek penguatan fisiknya nyata, dan daya tahannya seharusnya lebih baik dari biasanya."

Qinghan pun menghela napas sebelum berjalan lagi ke ujung tenda dan berbalik. Tangannya menuju ke bibirnya tanpa disadari, jarinya hampir menyentuh bibirnya dalam gerakan yang tidak pernah ada di repertoar gesturnya yang biasa.

Jelas Chen Mo menatap tangannya meski tidak berkata apa-apa.

Kemudian Qinghan memutuskan sendiri dalam kepalanya tentang perjanjian dan apa artinya kalau dilanggar, tentang konsekuensi diplomatik yang selalu lebih mudah diselesaikan dengan kekuatan daripada dengan kata-kata, tentang apakah informasi tentang Pulau Xuanyuan sebanding dengan risiko yang sedang adiknya ambil.

Dan jawabannya tidak pernah memuaskan.

"Chen Mo."

"Panglima."

"Bersiaplah. Kalau mereka bergerak ke arah yang salah dalam duel itu, kau masuk lebih dulu." Qinghan menatapnya. "Adikku tidak boleh terluka. Satu goresan pun tidak."

"Mengerti."

Pintu tenda terbuka dan Tianbao masuk setengah membungkuk. "Panglima, mohon maaf mengganggu. Acaranya akan dimulai sebentar lagi."

Tenda persiapan Haifeng lebih tenang dari yang Qinghan harapkan.

Adiknya sedang duduk di bangku dengan zirah ringan yang sudah dipasang di bahunya, menggerakkan pergelangan tangan kanan ke kiri dan ke kanan secara bergantian, pemanasan yang sangat biasa untuk situasi yang tidak biasa sama sekali. Beberapa kru yang membantu persiapan sudah keluar, dan yang tersisa hanya Haifeng dan pedangnya.

Qinghan sendiri berdiri di pintu masuk. "Aku akan membatalkan perjanjian ini."

Namun Haifeng tidak berhenti menggerakkan pergelangan tangannya. "Karena kau khawatir aku tidak bisa menang, dan karena kau merasa ini terlalu berbahaya untuk seseorang yang tingkatnya nol... dan karena kalau terjadi sesuatu padaku, kau tidak akan bisa menghadapi Ibu."

Bahkan Qinghan sampai menutup mulutnya rapat-rapat mendengar itu.

"Aku sudah hafal semua kalimat yang akan kau katakan, Kak." Haifeng akhirnya mengangkat tatapannya. Sementara Pedang Samudera keluar dari sarungnya setengah jalan, bilah biru gelapnya berkilat dalam cahaya tenda yang tidak terlalu terang. "Ayah membawa ini untuk melawan tiga puluh dua pendekar tingkat atas sendirian. Aku hanya perlu membawa ini melawan satu orang."

"Ayah sudah tingkat sepuluh waktu itu."

"Ayah juga pernah tingkat nol." Haifeng menyarungkan pedangnya kembali dan berdiri. "Pokoknya aku akan menang."

Qinghan menatapnya. Membuka mulut untuk menutupnya lagi.

"Kalau sampai kau mati..." suara kakaknya lebih pelan dari biasanya, "Ibu akan menenggelamkan pulau ini. Menguras seluruh air lautnya sampai kering, dan mengutuk tanahnya sampai tujuh generasi ke depan tidak ada yang bisa tumbuh di sini."

Lantas Haifeng tersenyum lebih lebar mendengarnya. "Makanya aku tidak akan kalah. Aku tidak mau pulau ini jadi tanggung jawab moralku sampai tujuh generasi."

Qinghan mendecak.

Sedangkan Haifeng melangkah ke luar tenda, dan di ambang pintu itu dia menoleh ke depan, tidak ke belakang, tapi suaranya sampai dengan sangat jelas. "Aku menyayangimu, Kak."

"Keras kepala." Balasan Qinghan terdengar lebih tegang dari yang dia niatkan.

Suara gendang yang kini ditambah seruling semakin keras ketika Haifeng melangkah ke arena.

Tianbao berdiri di barisan paling depan di sisi Long Yuan dengan rahang yang mengencang. Adapun tepat di sampingnya, Hua Ling merapatkan kedua tangannya di depan dada dan bibirnya bergerak dalam doa yang tidak bersuara. Paman Dao dan kru-kru senior berdiri dengan cara orang yang tidak punya banyak hal yang bisa dilakukan selain menunjukkan bahwa mereka hadir untuk memberi dukungan.

Lalu di atas dek kapal yang hampir selesai diperbaiki, Bai Mei berdiri sendirian dengan tudung menutupi sebagian wajahnya, menatap arena dari ketinggian yang memberikannya sudut pandang yang tidak dimiliki siapa pun di bawah.

Narakala sudah ada di tengah arena. Di luar jubah sekte yang dilepasnya untuk duel ini, dia mengenakan baju berlapis kulit binatang dengan pelindung bahu dari tulang yang diukir, dan di tangannya ada sepasang belati panjang yang ujungnya melengkung ke dalam. Tingkat limanya tidak terlihat dari penampilannya, tapi terasa dari cara dia berdiri, cara kakinya mengambil posisi yang sudah terlalu sering dilakukan untuk perlu dipikirkan lagi.

Tatapan tajamnya bergerak ke Haifeng, dari atas ke bawah, dengan cara yang tidak menyembunyikan apa yang ada di baliknya.

Sedangkan di belakang barisan pengikut sekte itu, pemimpin tertinggi sekte mulai menggerakkan tongkatnya dalam pola lambat yang menyerupai ritual pembukaan.

"Pergelanganmu," kata Samudera dari dalam bilah, suaranya langsung di telinga Haifeng. "Ingat apa yang kita latih. Jangan biarkan tanganmu kaku."

"Tenang saja. Aku ingat itu. Terima kasih."

"Dan jangan lihat matanya terlalu lama. Belati melengkung itu didesain untuk serangan pendek. Dia akan masuk jarak dekat."

Benar saja, Narakala bergerak pertama untuk memperpendek jarak mereka.

Haifeng pun segera bergerak ke kanan mengikuti instruksi yang datang setengah detik sebelum serangan itu tiba, tapi belati kiri Narakala masih menyerempet bahu zirahnya dan mengirimkan getaran ke seluruh lengan kanannya sampai dirinya mundur dua langkah.

Akan tetapi Narakala mengikuti tanpa memberi jeda.

Yang menyusul adalah serangkaian serangan yang tidak memberi Haifeng ruang untuk berpikir, hanya ruang untuk mengikuti suara dari dalam bilah pedangnya. Kiri. Mundur. Angkat. Putar. Setiap instruksi datang tepat sebelum waktunya diperlukan, tapi tubuh Haifeng yang masih tingkat nol tidak selalu cukup cepat untuk mengeksekusinya dengan sempurna.

Akhirnya belati kanan Narakala menembus celah antara lengan dan tubuh Haifeng di serangan keenam, memotong kain bajunya dan menyayat kulit di bawahnya. Haifeng terdorong ke belakang oleh kekuatan di balik serangan itu dan jatuh ke pasir.

Kemudian Narakala berhenti untuk mengangkat satu belatinya ke arah penonton di sisi sekte, menerima sorakan yang keluar dari barisan mereka.

Tianbao mengeraskan rahangnya sampai ototnya terlihat.

Hua Ling menutup matanya.

Lalu di salah satu barisan penonton, hawa dingin mulai berkumpul di telapak tangan Qinghan. Ketara sekali dia akan melakukan sesuatu yang membuat pertarungan merembet ke mana-mana.

Berbeda dengan respon mereka, Bai Mei yang bertengger dibatas dek kapal justru berbalik setelah melihat Haifeng sudah diujung tanduk kekalahan.

Namun sesuatu memaksanya berhenti.

Angin yang bertiup dari laut ke darat tiba-tiba berbalik arah seperti sesuatu yang sedang bernapas memutuskan untuk mengubah arahnya, dan semua udara di sekitar pantai itu pun ikut bergerak mengikuti keputusan itu.

Lantas Bai Mei berbalik lagi menghadap arena.

Dan pada saat itulah Haifeng bangkit tidak dengan cara yang terlihat mudah. Tangannya menekan pasir dulu, kemudian lututnya, lalu seluruh tubuhnya berdiri tegak dengan cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa jatuh adalah hal yang sudah selesai dan tidak perlu dibahas lagi.

Adapun di sepanjang bilah Pedang Samudera, riak air bergerak lebih hidup, seperti ombak yang mengingat bahwa dirinya adalah bagian dari lautan dan bukan sekadar riak di permukaan.

Oleh karena itu Narakala menatapnya dan sesuatu di wajahnya berubah.

Bahkan pemimpin tertinggi sekte sampai berhenti menggerakkan tongkatnya.

"Sekarang," kata Samudera.

Haifeng menanggapi dengan berteriak dan maju.

Sementara Narakala bereaksi, melangkah ke samping, kedua belatinya terangkat untuk menyambut serangan yang datang terlalu lurus dan terlalu mudah dibaca. Tapi Haifeng tidak ada di garis lurus itu. Tubuhnya berputar di titik yang tidak diperhitungkan Narakala, mengikuti instruksi yang datang dari dalam bilah, dan Pedang Samudera mengayun bukan dari atas tapi dari bawah, naik dalam busur yang tidak punya nama dalam teknik pedang mana pun yang pernah tercatat.

Suara yang muncul ketika bilah itu membelah sesuatu menyerupai suara ombak yang menghantam karang dan tidak menemukan perlawanan yang sebanding.

Sampai akhirnya Narakala jatuh dalam dua bagian.

Keheningan pun menghampiri pantai itu dalam waktu yang sangat singkat sebelum semuanya berubah.

Pemimpin tertinggi sekte menatap arena yang kini merah. Bibirnya bergerak sangat tipis. "Tingkat nol itu tidak mungkin." Matanya ke bilah yang masih mengeluarkan riak air di tangan Haifeng. "Ternyata Pedang Samudera itu memang asli."

Satu per satu, pengikut Sekte Penguasa Dalam berlutut setelah pemimpin tertinggi mereka melakukan itu.

Kemudian semua bersujud.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!