Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA ENTITAS DAN SATU SALON
Setelah sadar — akibat bau uap pangsit babi udang yang sudah tiba — Eng Sok pelan-pelan membuka mata.
Ia duduk. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi perutnya sudah berteriak lebih keras dari apapun. Ah Me memberikan dia sepiring nasi, empat buah pangsit babi udang, dan semangkuk sup asparagus hangat.
Eng Sok menghabiskan semuanya dalam waktu lima menit.
Tanpa suara.
Kayak vacuum cleaner baru beli. Ah Ti sampai melongo. "Koko, napas dulu kali."
Eng Sok tidak menjawab. Mulutnya sibuk. Begitu piring kosong, ia menghabiskan air minum di wadah seliter yang disediakan Ah Ti — sekali teguk, hampir tanpa berhenti.
Lalu ia ke toilet.
Cuci muka. Pipis yang kencang, banyak, dan lama. Ah Ti dari luar kamar mandi sampai ngegoda, "Koko, lu minum dari tandon mana?"
"Diam lu, Ah Ti," jawab Eng Sok dari balik pintu. Tapi nadarnya tidak marah. Hanya lelah.
---
Saat dia keluar toilet, dia melihat dua entitas melayang di ruang tengah.
Lao Ma — dengan rambut putihnya yang disanggul rapi, wajah keriput tapi mata masih tajam.
Sioh Bu — di sampingnya, tangan meraih-raih udara, seperti sedang mencoba memegang sesuatu yang tidak bisa disentuh.
Matanya menyipit ke arah Ah Me. Seolah-olah mau nanya: "Apa-apa lagi ini?"
Tapi ga ada energi bicara.
Lututnya yang gemetaran menuju sofa sudah jadi tanda. Ia duduk — ambles — menatap dua entitas itu bergantian.
"Jadi kami keluarga Tatung," jelas Ah Me membuka cerita.
Ia duduk di samping Eng Sok. Tangannya meraih gelas air, meneguk sedikit, lalu melanjutkan.
"Aku dan suamiku keduanya dapat anugerah ini. Lalu Sioh Bu juga." Ia menunjuk ke arah arwah yang melayang itu. "Ah Ti tidak. Tapi dia punya mata yang sensitif — tapi hanya saat bulan purnama."
“Jadi, Ah Me tau dari Sioh Bu?”, tanya Eng Sok.
“Ya, tapi gua ga bisa dengar Sioh Bu. Cuma bisa liat aja. Cuma lu sama Lao Ma yang bisa ngobrol sama Sioh Bu”,kata Ah Me sambil menghela nafas. Air matanya habis walaupun sesenggukan.
Eng Sok cuma bisa duduk. Tenaganya kayak habis diserap mutiara gaib Gunung Emei.
Purnama mulai naik.
Ah Ti, yang dari tadi diam di sudut ruangan, memejamkan mata. Wajahnya berkerut — berkonsentrasi. Matanya berkedut-kedut, lalu terbuka pelan.
Anak laki-laki itu menangis.
Ia melihat kakaknya. Kakaknya yang asli. Yang kini melayang di depannya, dengan tubuh tembus pandang, dengan mata yang juga basah — meskipun tidak ada air mata yang jatuh.
Ah Ti mendekati Sioh Bu. Tidak bisa bicara. Cuma gemetar.
Sioh Bu mengulurkan tangan — mencoba mengelus rambut adiknya.
Tangannya tembus.
Ah Ti tersedu lebih keras.
"Sudah, Ti," bisik Ah Me dari belakang. "Dia tahu. Dia selalu tahu."
---
"Itu Lao Ma," kata Ah Me, mengalihkan perhatian ke entitas kedua. "Empat keturunan di atas Sioh Bu."
Lao Ma — dengan pakaian kuno berwarna biru tua, rambut putih tersanggul rapi, wajah keriput yang masih tampak ramah — melayang mendekat.
Pangeran Eng Sok — yang sedari tadi berusaha tegar — segera berdiri.
Ia memberikan pai pai. Tangan menangkup, membungkuk dalam. Persis seperti protokol istana dulu.
Lao Ma menerimanya. Ia membalas pai pai — lebih dangkal, karena usianya lebih tua.
Sioh Bu melayang mendampingi Lao Ma di sisi kanan.
Lao Ma terkekeh. Suaranya serak, tapi hangat.
"Pangeran, kamu dari zaman mana? Kok lebih jadul dari aku?"
Eng Sok tidak tersinggung. "Saya terakhir sebelum ke sini dari zaman Kaisar Ong Ai Hong. Daerah ini vazalnya. Raja vazalnya masih Kok Leng Tiat."
Lao Ma berhenti tertawa.
Matanya membulat.
Dengan gerakan yang tidak biasa dilakukan entitas sekalibernya, ia pai pai lagi — kali ini dalam, sampai hampir 90 derajat.
Pangeran melarangnya. Tangannya terangkat. "Tidak usah, Lao Ma. Saya di sini hanya... tamu."
"Pangeran namanya siapa?" tanya Lao Ma.
"Pangeran distrik Lan Chhai, Perdana Menteri Eng Sok."
Ah Me, yang dari tadi duduk di sofa, ambruk. Bukan pingsan. Tapi lemas — seperti seluruh tulangnya mendadak hilang.
“Satu dari delapan Pangeran paling tampan sepanjang sejarah Cia Agung, yang terkenal dengan Crossbow Serigala?”, tanya Lao Ma.
Pangeran mengangguk.
Lao Ma terkapar di kursi sofa. Seandainya manusia, dia pasti udah gak sadar. Ternyata Sioh Bu kecilnya setampan itu. Karena mukanya sama dengan Sioh Bu.
Sioh Bu ikutan jatuh ke sofa di sebelah Ah Me — bukan jatuh secara fisik, tapi terjun dengan kaget.
Tidak mereka sangka bahwa tokoh yang mereka kagumi selama puluhan keturunan ada di depan mata mereka.
Percakapan berhenti.
Mereka tidur. Semua. Ah Me, Ah Ti, Sioh Bu, Lao Ma — bahkan Eng Sok yang masih duduk di kursi, kepalanya tertunduk, tertidur dalam posisi yang tidak nyaman.
Energi mereka habis hari ini. Tidak tersisa.
Begitu banyak rahasia bombastis dalam beberapa hari.
Thien mungkin tersenyum melihat mereka.
---
Keesokan paginya.
Selepas sarapan — nasi goreng sisa semalam, telur dadar, dan teh panas — HP Eng Sok berdering.
Ah Oan.
"Sioh Bu! Gue minta tolong ya. Lu dan adik lu ke salon. Mau pemotretan buat Instagram sama TikTok. Pakai Tng Sa. Ada yang bayar."
"Berapa?" tanya Eng Sok.
Ah Oan menyebut angka. Agak besar untuk ukuran bisnis Ah Oan. Jauh lebih besar dari biasanya.
“Bukan gaji ini sih, uang tutup mulut. Padahal ini rambut gua. Bukan ekstension… hahahahaha”, batin Eng Sok. Dia tersenyum, dalam hati dia ngakak guling-guling.
"Baik. Jam berapa?"
"Jam sepuluh. Lu jangan telat."
---
Jam sepuluh kurang lima belas, Eng Sok dan Ah Ti sudah sampai di salon Ah Oan.
Salon kecil di lantai dua gang sempit — tidak terlalu mewah, tapi bersih. Cermin besar di dinding. Kursi salon warna hitam. Rak-rak berisi botol sampo, conditioner, dan alat styling.
Ah Oan sudah menunggu dengan kamera di tangan.
"Ganti baju dulu. Lemari di belakang."
Eng Sok memakai Tng Sa berwarna biru tua — bordir naga perak di dada, kancing kancing dari pita. Ah Ti memakai versi kecil — warna sama, bordir lebih sederhana.
Mereka berdiri di depan background putih.
Ah Oan memotret. Kiri. Kanan. Depan. Samping. Ah Ti senyum lebar. Eng Sok — seperti biasa — tidak tersenyum. Tapi matanya tajam, dan itu cukup.
"Satu lagi gaya kipas," perintah Ah Oan.
Eng Sok mengeluarkan kipas — srek — membukanya, menutup setengah, menatap lensa dengan mata menyipit.
Klik. Klik. Klik.
Ah Oan puas. "Ciamik. Ganti latar."
---
Setelah dipotret sampai puas — sekitar empat puluh lima menit — mereka turun ke lantai satu.
Di sana, Ah Bwee sedang duduk di kursi tunggu. Ditangani karyawan salon Lian Beauty milik Ah Oan.
Lawan main Sioh Bu. Aktor yang telepon kemarin.
Ah Bwee berdiri begitu melihat Eng Sok. "Wah, Sioh Bu! Baru turun dari atas? Abus pemotretan?"
"He’eh," jawab Eng Sok datar.
Ah Bwee tidak menunggu izin. Ia meraih ujung rambut Eng Sok — mengambil sisir saku dari balik telinganya, sisir paling tipis jaraknya, dan menyisir ekstension itu dari pangkal sampai ujung.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada yang lepas. Tidak ada yang selip. Rambut itu bergerak persis seperti rambut asli.
"Waaah gila!" seru Ah Bwee. "Masak bisa disisir gini. Kayak sihir!"
Ah Bwee menyisir ekstension dia sendiri sampai tujuh kali sambil Live. “Cengli harganya, ciamik ekstensionnya. Eh, Sioh Bu boleh uji sisir?”
Eng Sok mendekat. Membiarkan disisir 3 kali dengan tampang sesombong Leng Tiat sampai nuraninya protes,”Katanya lu ga suka arogansi Leng Tiat? Sekarang? Lebih-lebih dari Leng Tiat, arogan lu?”
“Duh, nurani. Ini Akting… akting!”, jelas otak Eng Sok pada nuraninya.
Ah Bwee menatap dari kaca — melihat Eng Sok berdiri di belakangnya. Sreek! Kipas sudah di tangan. Kayak Engkoh kultivator zaman now di Mikrodrama
Ah Bwee ngakak. "Aiyoooh! Kebawa peran kok sampe ke mana-mana! Parah lu, Sioh Bu!"
Ia menepuk bahu Eng Sok.
"Tapi kocak. Gue suka.”
"Ciamik salon rekomendasi lu, Bro," kata Ah Bwee ke Ah Oan yang sedang merapikan kamera. "Gue pasti dateng lagi. Ekstension sini!"
---
Yang jelas, keluar dari salon, Ah Ti dan Eng Sok tidak langsung pulang.
"Koko, aku ke perpustakaan dulu," kata Ah Ti. "Mau nyelesaiin kaligrafi. Contoh-contoh yang kemarin kurang lengkap."
Eng Sok mengangguk. "Aku ikut."
"Mau cari apa, Ko?"
Eng Sok berpikir sejenak. "Inspirasi... ramuan kesehatan kulit."
Ah Ti menyipit. "Koko kulitnya udah bagus. Mau perawatan kayak artis?"
Eng Sok menjawab, “Koko kamu ini artis”, katanya sambil melempar kuncir ekor kudanya dengan arogan. “Gak perawatan? Ya bocuan (ga ada untung)!”, sambungnya arogan. Ah Ti menyipit dan tersenyum. “Koko ini kukira kamu kayak giok mahal, ternyata ada gila-gilanya juga”, katanya dalam hati sambil tersenyum lalu pelan-pelan tertawa. Eng Sok tertawa bersama adiknya itu sambil terus berjalan.
Dalam hati ia berbisik: "Cari elixir panjang umur. Walaupun gak sampe abadi banget."
Ia masih ingat tujuannya. Hidup di dunia ini tidak hanya soal syuting dan salon. Tapi bagaimana caranya agar tetap hidup — agar tidak mati lagi, agar tidak kehilangan lagi.
Dan perpustakaan Bun Long — yang plangnya ia lihat kemarin — mungkin menyimpan jawaban.
Atau setidaknya, petunjuk.
---
BERSAMBUNG
---
Pagi yang panjang.
Dua entitas, satu salon, dan sebuah perpustakaan yang menanti.
Pangeran itu masih mencari.
Tapi kali ini, ia tidak sendirian.
🪷👩❤️👨💐