NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

berencana

Seorang lelaki mengayunkan parang ke arah pria yang sudah terkapar di tanah. Pria itu memejamkan mata, pasrah, seolah-olah ini adalah hari terakhirnya di dunia.

“Brak!”

Lelaki yang hendak menghantamkan parang itu tiba-tiba terjatuh sambil memegang kepalanya. Nanda berdiri di belakangnya, baru saja memukulkan balok kayu tepat ke kepala orang yang memegang parang tersebut.

Nanda mengangkat balok itu lagi, bersiap memukul untuk kedua kalinya. Namun, lelaki itu dengan cepat bangkit. Ia mengacungkan parang sambil melangkah mundur dengan langkah goyah. Kepalanya terasa berdenyut hebat, seakan-akan akan pecah.

Nanda tahu, di jalanan, nyali adalah segalanya. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Dengan wajah datar, ia melangkah maju sambil tetap menggenggam balok kayu itu dengan erat.

Lelaki yang tadi dipukul tampak ketakutan. Ia segera memberi isyarat kepada temannya untuk memacu kendaraan mereka dengan cepat. Tanpa banyak bicara, mereka kabur dari tempat itu.

Nanda berdiri diam, napasnya tersengal. Ia terus menatap ke arah mereka hingga bayangan motor itu benar-benar hilang dari pandangan.

“Bikin jengkel saja,” geram Nanda pelan.

Ia lalu berbalik dan menatap pria yang tadi hampir menjadi korban.

“Bu… terima kasih, Bu,” ucap pria itu dengan suara gemetar, penuh ketulusan.

“Siapa nama kamu?” tanya Nanda singkat.

Pria itu mengenakan jaket hitam. Rambutnya gondrong, dan jika tanpa jenggot, mungkin wajahnya akan terlihat seperti perempuan.

“Saya Romli, Bu,” jawabnya. “Tadi pagi saya kemalingan, sore malam ini malah mau dibegal. Maafkan saya… saya hanya punya uang segini, Bu.”

Romli mendekat dan menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah.

“Ah, kamu pelit sekali,” ucap Nanda datar, tetapi ia mengembalikan uang itu. “Dua puluh ribu saja ada tidak? Kamu naik motor, kalau tidak punya uang pegangan bagaimana?”

Romli tampak sedikit bingung, tetapi tetap menurut. Ia kembali merogoh saku celananya.

“Ini, Bu, uangnya. Ibu tinggal di mana? Nanti kalau urusan saya beres, saya akan datang ke tempat Ibu. Ngomong-ngomong, nama Ibu siapa?”

“Kamu itu cerewet sekali. Kalau tanya satu-satu. Namaku Nanda. Aku tidak punya tempat tinggal, tapi untuk beberapa hari ini mungkin aku ada di sekitar sini.”

Romli tersenyum kecil. “Baik, Bu Nanda. Terima kasih.”

Nanda menatap wajah Romli lebih lama. Entah kenapa, wajah itu terasa tidak asing. Ia mencoba mengingat, tetapi tidak menemukan apa pun di benaknya.

“Bu… Bu?” panggil Romli, membuyarkan lamunan Nanda.

“Kamu pulanglah. Sudah malam,” ucap Nanda.

Romli mengangguk. Ia mendekat dan mengulurkan tangan.

“Mau apa kamu? Mau ambil uang yang tadi?” tanya Nanda curiga.

Romli tertawa pelan. “Saya mau salim, Bu.”

“Oh, salim. Kayak anak TK saja,” gumam Nanda sambil mengulurkan tangannya.

Romli mencium tangan Nanda dengan penuh hormat, seperti seorang anak kepada ibunya.

“Anak baik. Pergilah,” gumam Nanda pelan.

Romli segera memakai helmnya dan bersiap menaiki motor.

“Romli, tunggu,” panggil Nanda.

Romli menoleh. Nanda mendekat, dan Romli membuka kaca helmnya.

“Ada apa, Bu?”

“Punya korek?” tanya Nanda.

Romli terdiam sejenak, lalu mengeluarkan korek beserta rokoknya.

“Aku hanya butuh koreknya,” kata Nanda.

Romli mengangguk dan memasukkan kembali rokoknya ke saku.

Nanda terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu.

Romli menekan tombol starter. Suara mesin motor mulai terdengar.

“Romli,” panggil Nanda lagi.

Romli kembali menoleh sebentar.

“Aku mau minta bensin, boleh?” tanya Nanda.

“Buat apa, Bu?”

“Buat menyalakan kompor,” jawab Nanda singkat.

“Tunggu sebentar, Bu.”

Romli langsung melajukan kendaraannya.

Nanda menggaruk kepalanya. Angin malam berembus dingin menerpa tubuhnya. Bajunya masih basah, dan tangannya mulai membiru karena kedinginan.

“Ah, mungkin dia tidak akan kembali. Aku heran, kenapa orang-orang takut padaku,” gumamnya.

Nanda mulai melangkah menuju jembatan. Namun, tiba-tiba suara klakson terdengar dari belakang.

Ia menoleh.

“Bu, ini bensinnya,” ujar Romli sambil memberikan sebotol kecil bensin.

“Ah, terima kasih, Nak,” ucap Nanda tulus.

Romli hanya mengangguk, lalu kembali melajukan motornya hingga menghilang dari pandangan.

Nanda berjalan perlahan sambil membawa botol bensin itu. Di sepanjang jalan, banyak spanduk calon legislatif terbentang.

Ia celingukan, melihat ke kiri dan kanan.

“Merusak pemandangan saja. Sekarang pasang spanduk cari suara, besok-besok korupsi. Spanduk kalian lebih berharga daripada janji manis kalian,” gumamnya sinis.

Ia mulai menurunkan beberapa spanduk yang baru terpasang, menggulungnya, lalu membawanya menuju jembatan.

Sesampainya di sana, ia turun perlahan.

Arjuna tampak sudah memejamkan mata, bersandar di tembok. Bajunya telah diganti oleh Amira.

Sementara itu, Amira dan Dewi sedang berusaha keras menyalakan api dengan cara sederhana.

“Kalian seperti manusia purba saja, membuat api dengan menggesek-gesek kayu,” ujar Nanda.

Wajah Amira dan Dewi sudah kusut, penuh tanah, tetapi api itu tetap belum menyala.

“Nenek bawa apa itu?” tanya Dewi saat melihat gulungan spanduk di tangan Nanda.

“Ini janji manis caleg. Karena mereka sudah berjanji, maka spanduknya nenek ambil. Lumayan untuk alas tidur, biar tidak terlalu dingin.”

“Mah, itu kan spanduk baru,” ujar Amira. “Nanti bagaimana kalau mereka marah?”

“Mereka sedang kampanye. Mereka sedang baik sama rakyat, jadi tidak akan marah. Nanti setelah jadi, baru mereka merampok uang pajak,” jawab Nanda santai.

Amira mendengus. “Terserah Mamah saja. Mamah kan penguasa negara ini.”

“Iya dong,” sahut Nanda sambil menepuk dadanya. “Aku ini rakyat jelata, tapi penguasa sesungguhnya.”

Amira menggelengkan kepala. Ibunya tetap saja sombong, meskipun tidak punya apa-apa.

“Apa Ibu bawa korek?”

“Aku bawa korek dan bensin.”

Amira menyipitkan mata. “Ibu tidak memalak, kan?”

“Astaga, aku ini wanita baik hati dan tidak sombong. Aku habis menolong orang yang mau dibegal,” ucap Nanda bangga.

“Sudah, sudah. Nanti ceritanya. Sekarang Mamah ganti baju dulu dan cuci mukanya. Untung saja orang-orang tidak lari lihat muka Mamah.”

“Memangnya kenapa muka Mamah?” tanya Nanda.

“Seperti kuntilanak,” celetuk Dewi.

“Dasar,” gerutu Nanda.

Amira mengambil korek dan bensin, lalu mulai menyalakan api. Dengan bantuan bensin, api segera menyala dan menerangi suasana di bawah jembatan.

Dewi tampak riang melihat api itu.

“Dewi, jangan dekat-dekat dengan api,” ucap Nanda yang sudah berganti pakaian.

Namun, Dewi tidak menghiraukan. Ia justru berkeliling di sekitar api dengan gembira.

Nanda hanya menggelengkan kepala melihat cucunya yang keras kepala.

Amira mulai membakar ikan yang telah ditusuk dengan bambu.

Dewi berjongkok di sampingnya. “Mamah, Dewi mau coba.”

Belum sempat Amira menjawab, Dewi sudah mengambil satu ikan dan menirukan caranya.

Aroma ikan bakar mulai tercium. Arjuna perlahan terbangun dan mendekat ke arah api.

“Kamu istirahat saja, Nak,” ucap Amira.

“Tidak, Mah. Di sana dingin dan banyak nyamuk,” jawab Arjuna.

“Ya sudah, bantu bakar ikan biar cepat matang.”

Arjuna mengangguk dan ikut membakar ikan.

Nanda ikut mendekat. Sambil membakar ikan, ia terus bercerita tentang bagaimana ia mengalahkan para begal, tentu saja dengan cerita yang dilebih-lebihkan.

Amira hanya menggelengkan kepala, sementara Dewi dan Arjuna mendengarkan dengan penuh antusias.

Suasana hangat dan penuh keakraban terasa di bawah jembatan itu, yang kini menjadi tempat tinggal mereka.

Setelah ikan matang, mereka makan bersama.

Dewi tidak lagi mengeluh lapar, bahkan porsi makannya berkurang.

Nanda menggelar spanduk sebagai alas tidur. Api dibiarkan tetap menyala untuk memberi kehangatan dan mengusir nyamuk.

Dewi yang sudah kelelahan segera berbaring di atas spanduk dan tertidur.

“Juna, tidurlah,” ucap Amira lembut.

Arjuna menatap Amira sejenak, lalu mendekat ke arah Dewi dan ikut berbaring.

Amira mengatur api agar tetap menyala stabil.

“Nanda, apa yang harus kita lakukan ke depan?” tanya Amira pelan.

“Tentu saja menghasilkan uang dan menjadi kaya raya,” jawab Amira sendiri sebelum Nanda sempat menjawab.

Nanda tersenyum miring. “Bagaimana caranya? Merampok, mencuri, atau membakar pasar?” ucapnya setengah bercanda.

1
sunaryati jarum
Anjani kalau tidak dipanggil Dewi tidak datang, jadi tidak ada yang tahu keberadaannya
Anonim
Gemes ih sama dewi pengen nyuel 🤣
nunik rahyuni
waduuuh dewi kamu bikin masalah untuk anjani...bisa bisa di tangkap sama damkar di tuduh meresahkan warga.kya aq jg klo ketemu ular bisa parno berminggu minggu..jangan di ulangi suruh anjani sembunyi lg. keluar di saat tertentu saja
sunaryati jarum
Hewan ditolong akhirnya balas budi
Test Baru
kak autothor udah 2 hari kok belum up lagi sih 🙏🙏🙏
falea sezi
ular gaib kah
falea sezi
amira ini tolol liat anak mu menderita buat TKW semua gaji Jagan di kasih suami🤣 iya klo suamimu setia
nunik rahyuni
hah untung cs sama anjani....klo g mana mau anjani membantu🤣🤣🤣dan kenapa dewi jd penakut biasanya suka kelahi
sunaryati jarum
Ular Dewi yang beraksi
nunik rahyuni
thor deei manggilnya kok ganti2..dlu mamah td kok jd bunda mana yg betul
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
nunik rahyuni
mereka yg celaka ato mereka yg di celakai .
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔
nunik rahyuni: iya..klo tidurnya terganggu kan langsung jd sumala🤣🤣🤣
total 2 replies
nunik rahyuni
waduh...mau ngapain mereka....anjani muncul lah
mama
syg up ny cm sekali sehari😄
sunaryati jarum
Malik kamu salah, kau sekarang tidak bisa menyentuh Niko.Jika kau menargetkan Amira kau salah cari lawan.Dino sudah jadi pantauan dan pengawasan Niko.
sunaryati jarum
Wah mungkin Mery suka sama Udin
sunaryati jarum
Lanjut , semoga penghasilan kamu makin banyak Udin
nunik rahyuni
thor dewi mana...kangen nyaaaa q sm bocah ni..
nunik rahyuni
dilanjuut....bnyak lho kisah udin ini di dunia nyata...anak dr pejuang yg di lupakan..mudah2 an mereka mendapat nasib yg beruntung jd g mengharspkan negara
Anonim
Lanjut lagi up nya thor seru
sukensri hardiati
ruko ukuran 2x3 m ...?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!