Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
Vila di Sentul itu kini bukan lagi sekadar rumah, melainkan sebuah kuil pemujaan di mana Mayang adalah sang persembahan. Sejak kontrak saham itu ditandatangani, Gunawan menetapkan aturan baru yang jauh lebih ekstrem dan merendahkan martabat dibandingkan Aris. Mayang dilarang mengenakan pakaian sehelai pun selama berada di dalam vila.
Gunawan ingin melihat setiap perubahan sel di kulitnya, setiap urat yang menegang di perutnya, dan setiap inci tubuh Mayang yang kini menjadi "ladang" pribadinya.
Cahaya bulan masuk melalui jendela-jendela besar, menyinari kulit Mayang yang putih bersih namun kini seringkali tampak memerah akibat perlakuan Gunawan. Di usia kehamilan yang menginjak delapan bulan, perut Mayang sudah membuncit besar, kencang, dan berat. Namun, rasa lelah dan beban fisik itu sama sekali tidak membuat Gunawan memberikan keringanan.
"Berdiri di sana, Mayang," perintah Gunawan dari kursi jati besarnya. Pria itu menyesap wiskinya, menatap Mayang yang berdiri polos di tengah ruangan, hanya berhiaskan kalung berlian pemberiannya yang melingkar di leher.
Mayang mengatur napasnya yang mulai terasa pendek. "Tuan... punggung saya mulai nyeri malam ini. Bayi Anda sepertinya sedang menekan ke bawah."
Gunawan terkekeh, suara beratnya menggema di langit-langit vila yang tinggi. "Itu artinya rahimmu sedang bersiap untukku, Mayang.
Mendekatlah. Kau tahu persis apa yang harus kau lakukan setiap malam sebelum aku tidur."
Mayang melangkah mendekat dengan perlahan. Setiap langkahnya terasa berat, namun ia sudah terlatih untuk menyembunyikan rasa sakitnya di balik topeng kepatuhan yang menggoda. Ia berlutut di antara kaki Gunawan, membiarkan perut besarnya bersandar pada paha pria itu.
"Nghhh... ahhh... Tuan Gunawan," rintih Mayang saat tangan kasar Gunawan tanpa peringatan langsung mencengkeram rahangnya, memaksanya mendongak.
"Jalan lahirmu... apakah sudah siap untukku malam ini?" bisik Gunawan dengan suara serak, napasnya yang berbau alkohol menerpa wajah Mayang. "Aku tidak peduli seberapa besar perutmu, Mayang. Selama bayi itu belum keluar, tempat itu adalah milikku sepenuhnya. Kau mengerti?"
"Saya... saya mengerti, Tuan," desah Mayang parau. Ia memejamkan mata saat Gunawan mulai menariknya dengan kasar ke atas pangkuannya.
Rasa panas dan tekanan di area bawahnya membuat Mayang merintih kencang. "Ahh! Tuan... pelan-pelan... perut saya..."
"Jangan mengeluh tentang perutmu!" bentak Gunawan, meski tangannya tetap membelai kulit perut Mayang dengan cara yang posesif. "Rintihlah karena kau menginginkanku, bukan karena kau kesakitan. Tunjukkan padaku bahwa sepuluh persen sahamku tidak sia-sia!"
Mayang mencengkeram lengan sofa kulit itu hingga kuku-kukunya memutih. Di tengah rasa mulas yang datang silih berganti karena usia kandungannya, ia terpaksa melayani nafsu Gunawan yang seolah tak pernah padam. Suara gesekan kulit dan napas yang memburu memenuhi ruangan itu.
"Ahhh... nghhh... Tuan... ah!" Mayang tidak bisa lagi menahan desahannya. Area intinya terasa sangat panas dan tertekan, namun ia terus memaksakan diri. Di dalam otaknya, ia membayangkan gedung pencakar langit, mobil-mobil mewah, dan masa depan adiknya. Sakit ini adalah uang. Rasa malu ini adalah kekuasaan, bisiknya dalam hati.
Ritual ini tidak hanya terjadi di kamar tidur atau ruang kerja. Gunawan senang mengejutkan Mayang di meja makan, di pinggir kolam renang, bahkan di tangga besar vila tersebut. Mayang harus selalu siap sedia dalam keadaan polos, siap untuk diisi kapan saja Gunawan menginginkannya.
Suatu sore, saat Mayang sedang mencoba berjalan di taman belakang untuk meredakan nyeri kakinya, Gunawan datang dan langsung menyudutkannya di tembok batu yang kasar.
"Tuan... di sini?" tanya Mayang dengan napas terengah-engah, perut besarnya tertekan di antara tubuh mereka.
"Di mana pun aku mau, Mayang. Kau adalah properti bergerakku," jawab Gunawan. Ia mengangkat kaki Mayang, memaksanya menerima kehadirannya di sana, di bawah terik matahari yang mulai tenggelam.
"Nghhh... ahhh! Sakit... Tuan Gunawan, ah!" Mayang memekik pelan, suaranya pecah di antara pepohonan Sentul yang sunyi. Rasa sakit fisik di usia kehamilan tua itu nyata, namun Gunawan justru semakin "gila" melihat Mayang yang merintih dalam kondisi hamil besar.
"Suaramu... aku suka suaramu yang pecah seperti ini," gumam Gunawan, gerakannya semakin liar dan tanpa ampun. "Hancurlah untukku, Mayang. Jadilah wanita paling hancur di dunia, agar aku bisa memberimu semua harta yang kau inginkan."
Mayang bersandar pada tembok batu itu, keringat mengucur di seluruh tubuhnya yang tanpa busana. Ia merasa seperti binatang ternak yang sedang diperah, namun di balik itu semua, ia tersenyum tipis. Ia sedang memenangkan perang ini. Ia sedang menghisap kekayaan Gunawan melalui setiap rintihan yang ia keluarkan.
Dialog Ambisi dan Kegelapan
Setelah sesi yang melelahkan itu, Gunawan membiarkan Mayang duduk di kursi taman, menyelimuti tubuh polosnya dengan jubah mandi sutra yang mahal.
"Dokter bilang minggu depan adalah perkiraan waktunya," ujar Gunawan sambil menyulut cerutu. "Kau siap untuk ruang bawah tanah itu?"
Mayang mengelus perutnya yang kini terasa kaku karena kontraksi palsu. "Saya sudah siap sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di sini, Tuan. Tapi saya ingin konfirmasi satu hal... apakah bonus tambahan untuk 'kelahiran normal' tanpa bantuan medis sudah disiapkan di rekening saya?"
Gunawan menoleh, menatap Mayang dengan pandangan takjub. "Kau tidak pernah berhenti memikirkan uang, bahkan saat kau hampir tidak bisa berjalan."
"Karena hanya uang yang jujur pada saya, Tuan," jawab Mayang dingin. "Cinta itu palsu, kepedulian itu lemah. Tapi angka di rekening... itu yang memberikan saya kekuatan untuk melayani kegilaan Anda setiap hari."
Gunawan tertawa terbahak-bahak, lalu ia menarik Mayang masuk kembali ke dalam vila. "Kau benar-benar monster tercantik yang pernah kuciptakan. Mari kita masuk. Malam ini, aku ingin kau melayaniku di meja makan... di depan hidangan penutupmu."
Mayang hanya mengangguk patuh. Ia melepas kembali jubah mandinya, membiarkan tubuh hamilnya terekspos di bawah lampu-lampu vila yang gemerlap. Ia berjalan dengan anggun meski area intimnya terasa perih luar biasa. Ia adalah Mayang Puspita Sari, dan ia telah siap untuk membayar angsuran terakhirnya dengan rasa sakit yang paling murni demi takhta emas yang sudah di depan mata.
Bersambung .....