Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.
Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.
Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya.
Perjalanan penantian pernikahan mantan jenderal pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru Kekaisaran
Malam sebelumnya, Shen Fuyan mengenakan pakaian pinjaman saat menyelinap keluar.
Saat kembali, ia tidak langsung mandi bukan karena lalai, melainkan karena tepat ketika ia hendak membersihkan diri, Lin Yuexin tiba-tiba menyuruhnya menunda
hingga pagi.
Hal itu terasa… janggal.
Ia tahu betul seperti apa Lin Yuexin.
Orang itu hampir bisa dikatakan terobsesi pada kebersihan.
Jika Shen Fuyan berani naik ke ranjangnya tanpa mandi, maka seprai itu pasti akan langsung diganti tanpa ragu.
Dan benar saja.
Di balik tirai tipis tempat uap air naik perlahan, saat Shen Fuyan berendam di bak air panas, beberapa pelayan masuk tanpa suara.
Gerakan mereka ringan, nyaris tak
terdengar, seolah takut mengganggu sesuatu yang rapuh.
Seprai lama diangkat.
Rangka ranjang dilap bersih.
Kain baru dibentangkan rapi, tanpa satu kerutan pun.
Pelayan-pelayan itu adalah orang-orang baru dalam lima tahun terakhir.
Mereka bekerja dengan kepala tertunduk, tak banyak bicara. Bahkan Lin Yuexin pun hampir tidak mengeluarkan suara seakan berusaha agar Shen Fuyan tidak menyadari bahwa tempat tidurnya sedang “dibersihkan kembali” dari jejak keberadaannya.
Namun…
Shen Fuyan sudah terlalu terbiasa.
Sejak kecil, ia sudah tahu seperti apa Lin Yuexin.
Dulu, ia pernah memanjat pohon demi mengambil telur burung untuknya.
Saat menyerahkannya dengan bangga, Lin Yuexin justru terpaku pada noda kotoran burung di tangannya.
Ia mencuci tangannya berulang kali.
Lalu, dengan wajah pucat, ia menggosoknya ke dinding hingga kulitnya memerah dan
hampir lecet.
Pada akhirnya, ia menoleh pada Shen Fuyan dengan serius dan bertanya
Jika daging di tangannya dipotong… apakah akan tumbuh kembali?
Dari dulu, cara Lin Yuexin memahami “kebersihan” memang berbeda dari orang lain.
Namun setidaknya sekarang, obsesinya tidak seburuk dulu.
Dan yang lebih penting toleransinya terhadap Shen Fuyan jauh lebih tinggi
dibanding siapa pun.
Lin Yuexin meletakkan pakaian bersih di rak kayu dekat bak mandi.
Sementara itu, Shen Fuyan menyandarkan tubuhnya ke tepi bak, membiarkan air hangat
meresap ke otot-ototnya yang lelah.
“Kenapa semalam kau tidak membiarkanku mandi?” tanyanya santai. “Sekarang malah
jadi merepotkan.”
Lin Yuexin tidak menjawab.
Ia hanya menatap uap tipis yang naik dari permukaan air.
Semalam, saat Shen Fuyan melepas pakaiannya…
Ia melihatnya.
Tubuh itu.
Dipenuhi bekas luka.
Ada yang sudah memudar menjadi bayangan gelap, ada yang meninggalkan guratan
kasar tak rata, dan ada pula yang masih baru, keraknya belum lama lepas, menyisakan
warna merah muda yang menusuk mata.
Bekas-bekas itu… terlalu banyak.
Terlalu nyata.
Dan entah kenapa,
Melihatnya membuat Lin Yuexin merasa tidak perlu lagi menyuruhnya mandi.
Seolah rasa lelah dan luka itu lebih pantas dihormati daripada dipaksa hilang dalam air.
Namun tentu saja, ia tidak mengatakan hal itu.
Dan Shen Fuyan juga tidak bertanya lebih jauh.
Suara air beriak pelan saat ia menggosok rambutnya, busa halus perlahan terbentuk di
antara helai-helai hitamnya.
Beberapa saat kemudian, ia bertanya lagi, kali ini dengan nada lebih serius
“Menara Qitian… itu kediaman Guru Kekaisaran, bukan?”
Ia tidak sepenuhnya yakin.
Lima tahun bisa mengubah banyak hal.
Di luar tirai, Lin Yuexin memberi isyarat halus.
Para pelayan segera mundur, meninggalkan ruangan dalam keheningan.
Alih-alih menjawab, ia balik bertanya
“Orang yang menyelinap ke kediaman Pangeran Ying semalam… itu kau, bukan?”
Gerakan Shen Fuyan terhenti sesaat.
“Bagaimana kau tahu?” Ia mengangkat alis.
“Beritanya secepat itu menyebar?”
Lin Yuexin menatapnya datar.
“Pangeran Ying terluka di bahu. Semalam juga ia memanggil tabib kekaisaran.
Sekarang satu kota sudah tahu ada pembunuh masuk ke kediamannya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan
“Jadi?”
Shen Fuyan menghela napas pendek.
“Aku bukan pembunuh.”
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu di Menara Qitian. Dan aku tidak melukainya.”
Lin Yuexin mengangguk ringan.
“Aku tahu.”
Shen Fuyan mengangkat kepala.
“Yang melukainya adalah Guru Kekaisaran.”
Kali ini, Shen Fuyan benar-benar terkejut.
“Kau tahu itu juga?”
Secara logika, bukankah semua kesalahan seharusnya ditimpakan padanya sebagai
penyusup?
Mengapa Lin Yuexin bisa mengetahui kebenaran dengan begitu mudah?
Lin Yuexin menjawab tenang
“Pagi ini, Pangeran Ying sendiri pergi ke istana untuk menuntut keadilan. Di sepanjang jalan, ia menceritakan semuanya tanpa ditahan. Bahkan sebelum ia keluar dari istana, seluruh ibu kota sudah tahu bahwa Guru Kekaisaran yang melukainya.”
Nada suaranya tetap datar, tapi maknanya jelas.
Kaisar bahkan tidak sempat menutupinya.
Shen Fuyan tersenyum tipis, penuh minat.
“Lalu? Apa penjelasan istana?”
“Dekrit kekaisaran menyebutkan bahwa itu kecelakaan,” jawab Lin Yuexin.
“Guru Kekaisaran dikatakan sedang memburu pembunuh dan tanpa sengaja melukai Pangeran Ying.”
Ia berhenti, lalu menambahkan pelan
“Pengawal Pangeran juga dihukum karena gagal melindunginya.”
Shen Fuyan mendengus pelan.
Jelas sekali keberpihakan itu.
Dan soal “kecelakaan”
Ia bahkan tidak perlu berpikir lama.
Kalau harus bertaruh, ia akan memilih mempercayai burung gemuk tadi daripada
percaya bahwa panah itu dilepaskan tanpa sengaja.
Matanya sedikit menyipit.
Siapa sebenarnya Guru Kekaisaran itu…?
Dan apa hubungan antara dia dengan Pangeran Ying?
Ia lalu bertanya, nada suaranya kembali ringan
“Berapa umur Guru Kekaisaran?”
“Aku hanya ingat rambutnya sudah putih seluruhnya… tapi wajahnya masih muda.”
“Dua puluh lima,” jawab Lin Yuexin.
Shen Fuyan hampir tertawa.
“Mustahil.”
“Konon,” lanjut Lin Yuexin tenang, “ia memang terlahir dengan rambut putih.”
Shen Fuyan terdiam sejenak, lalu bergumam pelan
“Dunia ini memang luas…”
Uap hangat memenuhi ruangan.
Kulitnya sedikit memerah, napasnya perlahan menjadi lebih santai.
Lin Yuexin menatapnya beberapa saat.
Lalu tanpa peringatan
Ia mengulurkan jari dan menekan sisi dada Shen Fuyan.
“Besar sekali.”
Suaranya tetap tenang.
“Bagaimana kau menyembunyikannya?”
Shen Fuyan menoleh, tanpa sedikit pun rasa canggung.
“Memang besar”
Ia tampak benar-benar berpikir.
“Di perbatasan, banyak yang lebih besar dariku.”
Ia bahkan sempat membandingkan.
Beberapa prajurit berotot keras, beberapa lainnya justru lunak dan tebal bahkan, jika
disentuh tanpa melihat, hampir tak berbeda dengan perempuan.
Karena kehidupan militer yang keras dan terbatas, para prajurit sering kali mencari
pelampiasan dengan cara… yang tak lazim.
Dan Shen Fuyan, Ia pernah melihatnya.
Bahkan menyentuhnya.
Dengan rasa penasaran yang jujur.
Lin Yuexin menunduk melihat dirinya sendiri, lalu berkata datar
“Setidaknya lebih besar dariku.”
Shen Fuyan mengerutkan hidung.
“Besar bukan berarti baik. Kalau tidak diikat, sakit saat berlari.”
“Aku tidak berlatih bela diri.”
“Hm?” Shen Fuyan tersenyum. “Mau aku ajari?”
Lin Yuexin terdiam sejenak.
“…Kita sudah keluar dari topik.”
...----------------...
Sementara suasana santai itu berlangsung, di sisi lain ibu kota
Kaisar telah meninggalkan istana.
Tanpa pengawal.
Tanpa pengumuman.
Ia naik ke puncak Menara Qitian.
Sudah sembilan tahun sejak ia naik takhta.
Dua tahun pertama, ia menahan diri, tunduk pada kekuatan para bangsawan lama.
Namun sejak tahun ketiga, ia perlahan mencabut akar kekuasaan mereka satu per satu.
Dan kini, Ia adalah penguasa mutlak.
Di puncak menara, angin musim dingin berembus bebas.
Keempat sisi ruangan terbuka, hanya dipisahkan oleh pilar-pilar kayu. Pemandangan kota terbentang seperti lukisan hidup berubah seiring waktu.
Indah.
Namun dingin.
Kaisar duduk, membungkus dirinya dengan jubah tebal, secangkir teh panas di tangan.Di hadapannya Sang Guru Kekaisaran.
Rambut putihnya diikat longgar dengan pita gelap.
Wajahnya tenang, nyaris tanpa emosi.
Tatapan Kaisar jatuh pada selembar kertas di meja.
Sebuah lukisan tinta.
Sepasang mata.
Tajam.
Hidup.
Sedikit menantang.
“Apa ini pembunuh semalam?” tanyanya.
Guru Kekaisaran menjawab singkat
“Bukan.”
Suaranya dingin.
Seperti mata air pegunungan di musim dingin.
Ia menatap lukisan itu.
Seolah melihat sesuatu yang lebih dari sekadar wajah.
Kaisar tersenyum tipis, nada suaranya berubah sedikit lebih lunak
“Kalau begitu, bagaimana jika aku mengirim orang untuk menangkapnya?”
Tidak ada jawaban langsung.
Beberapa saat kemudian, Guru Kekaisaran berkata
“Aku akan menangkapnya sendiri.”
Tatapannya tetap pada sepasang mata di kertas itu.
Dan untuk pertama kalinya
Ada sesuatu yang samar seperti ketertarikan.