Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Di ruang rapat eksekutif AFC cabang Qilin, cahaya terpancarkan dengan jelas. Putih. Bersih, terlalu bersih bahkan untuk sebuah keputusan yang kurang bersih.
"Benda ini bukan sekadar artefak biasa," desis Han Jue.
Matanya terpaku pada bongkahan mineral yang berdenyut di atas meja. Cahayanya berwarna abu kusam, hampir hitam. Tidak seperti batu energi biasa yang berisik, batu ini sunyi. Begitu sunyi hingga terasa menelan suara di ruang rapat eksekutif AFC itu.
Para petinggi cabang Qilin saling lirik. Mereka tahu nilai di balik benda di hadapan mereka. Artefak dari dunia yang hilang.
"Laporan Ren divalidasi?" tanya salah satu eksekutif bertubuh tambun.
Han Jue melemparkan map digital ke tengah meja. "Valid. dia hanya menulis 'menemukan artefak aneh saat Penyelidikan'. Singkat, padat dan ... Menyebalkan."
Han Jue memijat pelipisnya. Masalahnya bukan cuma soal batu itu. Masalahnya adalah gengsi.
"Buka rekaman bodycam tim Hwaran," perintahnya.
Layar dinding menyala. Gambar goyah. Debu. Nafas terengah. Lalu Ren.
Ia berdiri diam di tengah kekacauan, seperti pegawai yang tersesat di medan perang. Seekor tikus raksasa menerjang. Rahangnya menutup sempurna. Menelan.
Beberapa eksekutif menahan nafas.
Rekaman melambat. Adegan terasa meregang. Dan Ren keluar dari mulut monster itu tampak baik-baik saja, seperti baru keluar dari lift yang terlalu penuh. Utuh. Tidak berdarah. Tidak tergesa.
Hening jatuh lebih berat dari sebelumnya.
"Energi mineral itu bocor saat kejadian," jelas Han Jue. "Ren terpapar langsung. Ia Awakening di tempat."
"Apa kemampuannya? Tipe Tanker?"
"Itu masalahnya," Han Jue mendengus. "Beberapa staf administrasi yang egois mencoba menyentuh mineral ini tadi pagi. Mereka ingin kekuatan instan. Hasilnya? Nihil. Tidak ada reaksi. Batu ini hanya 'memilih' Ren."
Ia bersandar. Kursi kulit berdecit pelan.
Hwaran terlintas di benaknya. Adiknya yang keras kepala, yang memilih membentuk Corps sendiri seolah keluarga hanyalah catatan kaki.
"Gara-gara keberhasilan misi ini, aku kalah taruhan dari Hwaran," gumam Han Jue. Suaranya penuh kedongkolan. "Uangku melayang karena laporan 'keberuntungan' si Ren ini."
Mineral itu berdenyut sekali lagi. Pelan. Seolah mendengar.
***
Lobi AFC pusat biasanya ramai, tapi ini akhir pekan. Ren berdiri di depan meja resepsionis dengan kaus oblong dan celana kargo yang sudah pudar warnanya.
"Mau tes Awakening?" petugas itu bertanya. Ia memandang Ren dari ujung kaki ke ujung kepala. "Anda ... Pak Ren dari bagian Admin, kan?"
"Iya," jawab Ren. "Saya mau verifikasi status."
Petugas itu tampak ragu. Ia tahu Ren. Semua orang tahu Ren sebagau Admin di AFC.
Petugas itu menggaruk lehernya. "Untuk non tempur biasanya lewat jalur surat, Pak. Kecuali ada rekomendasi langsung dari atasan atau—"
"Biar dia masuk."
Langkah kaki memantul di lantai marmer. Tegas. Terukur. Han Jue muncul dengan jas tanpa lipatan dan wajah seseorang yang kurang tidur karena memikirkan terlalu banyak hal.
"Ketua." Petugas itu hampir menjatuhkan tablet.
Han Jue berhenti di depan Ren. Ia sedikit lebih tinggi. Cukup untuk memberikan tekanan padanya.
"Jadi," katanya pelan, "apa yang kau inginkan, Ren?"
Ren menahan tatapannya sepersekian detik, lalu menjawab, "Verifikasi Awakening, Ketua."
"Cih." Sudut bibir Han Jue bergerak tipis. "Karena kamu, tabunganku berkurang drastis."
Ren berkedip. "Maaf?"
"Ikut aku." Han Jue berbalik tanpa menjelaskan. "Ruang simulasi. Aku sendiri yang akan memvalidasimu."
Ren melangkah mengikuti Han Jue. Lobi itu jadi lebih hening dari sebelumnya, seolah menjadi saksi bisu.