Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau: Bab 9 Bara dalam Combro
Sore hari menyelimuti ladang dengan cahaya keemasan yang lembut, menciptakan bayangan panjang yang meliuk di antara pepohonan. Udara mulai mendingin, membawa aroma tanah kering yang khas dan sisa-sisa embun yang menguap dari balik dedaunan. Valaria baru saja kembali dari ladang setelah membantu Ayah dan Raka memanen singkong. Hatinya masih membuncah oleh kegembiraan pasca-kesuksesan besar mereka berjualan di pasar pagi tadi.
Namun, langkahnya tidak langsung menuju gubuk. Ia berjalan menyisir tepi ladang, menuju batas hutan yang mulai menggelap tempat ia menemukan pohon rambutan pagi tadi. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, mencari potensi alam liar lainnya yang mungkin tersimpan di balik rimbunnya belantara.
Di antara semak-semak lebat yang tumbuh liar di bawah naungan pohon raksasa, Valaria menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Sekelompok tanaman kecil tumbuh berkelompok dengan daun hijau pekat berbentuk lanset. Di ranting-rantingnya, tergantung buah-buah mungil yang tumbuh tegak menantang langit, berwarna merah menyala serupa permata delima yang tersesat di tanah.
Valaria segera mendekat, lalu berlutut di atas tanah yang lembap. Ia memetik satu buah kecil itu dengan penuh kehati-hatian. Bentuknya kerucut mini dengan kulit yang mengilap sempurna. Begitu mencium aromanya yang tajam, ia langsung mengenali tanaman ini.
"Cabai liar," bisiknya. Rasa haru bercampur kejutan menyelimuti hatinya. Ini adalah varietas cabai rawit liar yang sangat pedas, yang pernah ia pelajari dari buku-buku botani di kehidupannya yang terdahulu.
Ia mengamati cabai itu lebih dekat, membenarkan dugaannya. Ukurannya kecil, tumbuh tegak, dan warnanya sangat intens. Valaria teringat akan segudang manfaat dari cabai liar ini, terutama kandungan capsaicin dan Vitamin C yang sangat tinggi.
Rasa pedas yang membakar, pikirnya. Ini adalah harta karun alami yang tak ternilai harganya.
Awalnya, niat Valaria adalah memanen semua cabai itu untuk dijual mentah di pasar. Buah sekecil ini, dengan tingkat kepedasan yang ekstrem, pasti memiliki nilai jual tinggi sebagai bumbu dapur. Namun, saat ia menimbang-nimbang buah di tangannya, imajinasinya beralih ke dapur gubuk mereka. Ia membayangkan rasa combro mereka yang sudah gurih, lalu ditambahkan sensasi pedas yang meledak dari cabai liar ini bukan sekadar pedas standar dari oncom biasa.
Valaria tersenyum lebar, sebuah senyum penuh rencana cerdik.
"Tidak," gumamnya tegas, "aku tidak akan menjualnya mentah-mentah. Cabai ini terlalu berharga untuk sekadar dijual kiloan."
Ia membayangkan wajah-wajah pelanggan di pasar yang akan bereaksi terhadap rasa pedas yang luar biasa itu. Sensasi kejutan dan kelezatan pasti akan membuat produk mereka semakin dikenal luas. Jika dipadukan dengan singkong pilihan, cabai ini akan menjadi "senjata rahasia" mereka.
"Ini akan menjadi ciri khas jualan kita!" Valaria menyimpulkan dengan mantap.
Dengan hati-hati, ia mengumpulkan cabai liar dalam jumlah yang cukup. Ia memastikannya tidak menyentuh mata, lalu membungkus panenan kecil itu dengan daun pisang.
Ketika Valaria melangkah masuk ke dapur, Ibu sedang menata kembali perkakas masak yang sederhana. Cahaya lentera telah dinyalakan, membiaskan cahaya kuning hangat yang menonjolkan garis-garis lelah namun tenang di wajah ibunya.
"Lama sekali, Nak Valaria," sapa Ratri dengan nada khawatir yang tulus. "Kenapa kau lama sekali di tepi hutan?"
Valaria menunjukkan bungkusan daun pisang di tangannya dengan raut penuh misteri. "Lihat, Bu. Valaria menemukan harta karun di bawah pohon besar," bisiknya. "Ini cabai liar. Sangat pedas. Kita akan menggunakannya untuk isian combro besok."
Ibu mengerutkan kening, tampak ragu. "Cabai liar? Itu biasanya pedas sekali, Nak. Apa tidak akan membuat orang kapok membelinya?"
"Justru itu seninya, Bu," Valaria menjelaskan dengan mata berbinar. Ia meletakkan bungkusan itu di atas meja kayu yang kasar. "Orang-orang suka tantangan rasa. Kita akan membuat 'Combro Pedas Gila'! Ini akan menjadi pembeda kita dari pedagang lain. Lagipula, cabai ini kaya antioksidan. Kita tidak hanya menjual jajanan, kita menjual kesehatan."
Valaria mulai menjelaskan manfaat medis cabai yang ia ketahui mulai dari meredakan nyeri hingga memperlancar pencernaan. Ia berbicara dengan keyakinan dan wawasan yang begitu luas hingga membuat ibu terdiam takjub.
"Baiklah, kita coba," kata Ratri akhirnya. "Tapi jangan terlalu banyak dulu ya, Nak. Sedikit saja untuk menguji selera pasar."
Malam itu, dapur gubuk tersebut menjadi laboratorium kuliner. Valaria menyiapkan isian oncom dengan mencampurkan cabai liar yang sudah dihaluskan. Aromanya segera menyengat tajam, membuat mata mereka sedikit berair dan tenggorokan gatal.
"Aduh, Valaria! Pedasnya sampai terasa ke paru-paru!" seru Arjun yang baru saja masuk dari ruang depan sambil terbatuk.
Valaria justru tertawa penuh semangat. "Justru itu kuncinya, Pak! Besok kita lihat keajaibannya."
Setelah adonan digoreng hingga kecokelatan, Valaria meminta kedua orang tuanya menjadi pencicip pertama. Ayah menggigit combro itu dengan penuh antisipasi. Awalnya, ia merasakan tekstur singkong yang renyah dan gurih, lalu... boom! Ledakan pedas yang tajam menyebar di lidahnya, membuat wajahnya merah padam seketika.
"Uhuk! Air! Air!" seru Arjun sambil mengipas-ngipas mulutnya. Namun, setelah meneguk air, ia tersenyum lebar. "Luar biasa! Pedas sekali, tapi ada rasa segar yang membuat ketagihan. Ini benar-benar 'nendang'!"
Ibu yang mencicipi sedikit pun setuju. Strategi mereka sudah bulat: mereka akan menjual Combro Pedas Gila bersama varian orisinal dan lemet manis.
Keesokan paginya di pasar, lapak Valaria menjadi primadona. Kehebohan terjadi saat para pembeli mulai merasakan sensasi "Pedas Gila" tersebut. Berita menyebar cepat melalui mulut ke mulut.
Namun, keberhasilan itu tidak luput dari pengawasan seseorang. Damian, dengan pakaian rapi dan kemeja bersih yang kontras dengan suasana pasar yang becek, berdiri di kejauhan. Matanya menyipit, memperhatikan bagaimana Valaria tertawa renyah saat melayani antrean pembeli.
"Sejak kapan budak itu menjadi sepintar ini dalam berdagang?" gumam Damian dengan nada kesal yang tak bisa ia jelaskan. Keberhasilan Valaria entah mengapa terasa seperti penghinaan bagi ketenangannya.
Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam mewarnai langit dengan palet jingga dan ungu, Damian sengaja mendatangi gubuk keluarga Arjun. Di pekarangan, ia melihat pemandangan yang justru membuatnya semakin panas. Valaria sedang berjongkok di atas tikar pandan yang lusuh, dikelilingi oleh Raka dan beberapa anak tetangga. Mereka sedang belajar berhitung menggunakan kerikil di tanah.
"Empat ditambah satu, Raka? Seperti kaki meja, lalu ditambah satu jari lagi..." bimbing Valaria dengan sabar.
Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi jatuh menutupi mereka. Damian berdiri di sana dengan penampilan sempurna sepatu yang mengilap dan aura sombong yang kental.
"Valaria," sapanya dengan nada datar yang menuntut perhatian.
Valaria mengangkat wajah. Begitu melihat sosok Damian, senyumnya langsung menguap. Tanpa sepatah kata pun, ia menunduk kembali dan melanjutkan pelajaran. "Tiga ditambah dua, Anak-anak..."
Raka yang ketakutan berbisik, "Kak, kenapa orang itu ke sini lagi?"
Valaria hanya menggeleng, memberi isyarat agar Raka tetap fokus. Pengabaian itu membuat harga diri Damian terluka. Ia melangkah maju, memandang rendah coretan angka di tanah.
"Apa yang kau lakukan? Sibuk bermain kotor-kotoran begini?" Damian mendengus jijik. "Valaria, aku ingin bicara padamu."
"Bicara saja dari situ. Aku sedang sibuk mengajar," jawab Valaria dingin tanpa menoleh.
"Sibuk? Kau lebih memilih melayani anak-anak kotor ini daripada bicara denganku?" Damian kehilangan kesabarannya. Dengan gerakan kasar, ia menyambar pergelangan tangan Valaria dan menyentaknya hingga gadis itu terangkat berdiri.
"SAKIT! LEPASKAN!" teriak Valaria. Amarah yang selama ini terpendam meledak saat itu juga.
Damian justru mempererat cengkeramannya. "Sakit? Kau berani meninggikan suara padaku? Ingat posisimu, Valaria. Kau itu masih budakku, paham?"
Wajah Valaria yang tadinya merah padam karena marah, seketika berubah pucat pasi. Kata "budak" itu menghantamnya seperti palu godam. Dalam sekejap, ingatan akan penghinaan dan penindasan yang ia alami memicu insting perlawanan yang tak terbendung.
Tanpa berpikir panjang, Valaria mengangkat tangan kirinya yang bebas.
PLAK!
Suara tamparan keras bergema di keheningan sore, mengalahkan suara jangkrik di kejauhan.
Damian tertegun. Kepalanya terlempar ke samping. Ia memegang pipinya yang kini terasa panas membara. Kejutan yang ia rasakan jauh lebih besar daripada rasa sakitnya. Seorang wanita yang ia anggap tak berdaya dan berstatus rendah, baru saja melukai wajahnya.
"Kau...!" geram Damian dengan suara rendah yang penuh ancaman mematikan. Matanya berkilat murka.
Namun, sebelum Damian sempat membalas, para tetangga mulai keluar dari gubuk mereka karena mendengar teriakan. Ibu-ibu desa menatap Damian dengan pandangan curiga sekaligus protektif terhadap Valaria. Sadar bahwa ia tidak bisa merusak citranya di depan umum, Damian mengatupkan rahangnya kuat-kuat.
Dengan wajah yang dipenuhi dendam, Damian berbalik dan melangkah pergi tanpa berkata-kata lagi. Anak-anak yang ketakutan mulai menangis, sementara Raka memeluk kaki Valaria dengan gemetar.
"Kakak tidak apa-apa?" isak Raka.
Valaria tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya yang masih bergetar. Tak lama kemudian, ibu dan ayah berlari keluar dari gubuk dengan wajah pucat. Mereka melihat Valaria yang mematung dan tahu bahwa badai besar baru saja dimulai. Masalah lama dari masa lalu Valaria telah kembali, dan kali ini, ia tidak akan pergi dengan mudah.