Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Thea dan Sagara
Saat subuh menjelang pagi, tiba-tiba seluruh penghuni di rumah Pak Jordan semua panik karena pembantu di rumahnya mendapati Pak Jordan sudah terkapar tak berdaya di atas sajadah di dalam kamarnya.
Tok
Tok
Tok
[Suara pintu yang di ketuk]
"Non, bangun Non Bapak Non... Non bangun!"
Bibi Sumi terus mengetuk pintu kamar Thea yang belum juga terbangun dari tidurnya.
"Tolong, tolong!"
"Non... Bapak pingsan Non, cepat bangun tolong Bapak!" teriak Bu Sumi sekali lagi.
Perlahan-lahan Thea membuka kelopak matanya yang masih terasa berat, dia mendengar suara berisik antara sadar tidak sadar. Namun lama kelamaan suara itu menjadi lebih jelas lagi.
"Bi Sumi, ngapain sih dia ketuk pintu sekencang itu!" gerutu Thea yang mulai tersadar dari tidurnya.
"Non ... buka pintunya Non!"
Suara Bi Sumi terdengar panik, serta terdengar seperti menangis.
"Iya Bi... iya tunggu sebentar!" sahut Thea lalu menuruni kasurnya dengan badan yang masih sempoyongan.
Ceklek
Thea membuka pintu kamarnya.
"Ada apa sih Bi? Kenapa Bibi teriak-teriak jam segini?" tanya Thea yang masih setengah sadar. Matanya pun masih dia pejamkan meskipun bibirnya berucap.
"Bangun Non, Tuan Non .. Tuan masuk Rumah Sakit!" ucap Bi Sumi.
Deg.
Thea langsung melotot kan matanya, "Apa? Papa masuk Rumah Sakit? Kenapa bibi nggak bangunin Aku dari tadi sih!" ucap Thea yang kini sudah tersadar sepenuhnya.
"Maafkan Bibi Non, beberapa menit yang lalu Bibi sudah berusaha membangunkan Non Thea, tapi Non tidak bangun juga. Terpaksa Bibi menelpon Den Sagara dan langsung membawa Bapak ke Rumah Sakit," tutur Bi Sumi.
Tanpa menunggu lama Thea langsung bergegas menyusul Pak Jordan yang sudah terlebih dulu di bawa ke rumah sakit oleh Sagara.
Thea meraih ponsel miliknya serta tas kecil yang tergantung di tempatnya dan langsung pergi tanpa ganti pakaian.
......................
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, akhirnya Thea sampai di Rumah Sakit.
RUMAH SAKIT SENTOSA
Thea terus mencari ruangan IGD hingga akhirnya dia menemukan Sagara segan duduk di depan IGD.
"Sagara? Gimana keadaan Papa?" tanya Thea yang terlihat lusuh dan mata bengkak akibat terus menangis. Kali ini ucapan Thea pun terdengar lebih sopan dan lembut tidak seperti biasanya saat berbicara dengan Sagara.
Sagara berdiri dari duduknya, "Om Jordan baru aja di bawa ke ruang ICU, mungkin sebentar lagi dokter akan keluar dari ruangannya," sahut Sagara sambil memandang wajah Thea yang terlihat sangat cemas dan panik.
Di saat Thea dan Sagara sedang termenung menunggu kabar dari dokter, tiba-tiba saja pasangan suami istri datang menghampiri Thea dan Sagara.
"Gar, bagaimana kabar Om Jordan sekarang?" tanya pria paruh baya itu.
Thea dan Sagara menoleh secara bersamaan dan langsung berdiri.
"Pah, Mah, kalian sudah sampai?" sapa Sagara yang langsung mencium kedua tangan orang tuanya itu.
"Gimana keadaan Om Jordan? Apa dia sudah siuman?" tanya Maia yang tak kalah cemas.
Thea menoleh ke arah tiga orang di depannya itu. Ternyata mereka adalah orang tua Sagara sekaligus sahabat dekat sang Papa.
Sagara menghela nafas kecil, "Om Jordan baru saja masuk ruang ICU Mah, mungkin sebentar lagi dokter akan keluar," tutur Sagara sambil menunduk menatap lantai.
Deg.
Tiba-tiba jantung Haris dan Maia terasa begitu sesak saat mendengar ucapan sang anak barusan.
Saat Maia dan Haris sedang merasa gelisah menunggu kabar kondisi sahabatnya yang masih terbaring di ICU, Maia menyadari kehadiran Thea di ujung sana yang belum dia sapa sama sekali akibat terlalu mencemaskan keadaan Jordan. Ibu Maia langsung mendekat menghampiri Thea lalu mendekapnya dengan lembut.
"Thea, kamu harus sabar sayang, Papa kamu pasti baik-baik saja," ucap Ibu Maia dengan lembut.
Thea sedikit mengerutkan keningnya, bingung karena orang tua Sagara terlihat akrab dengannya padahal ini baru pertama kali Thea bertemu dengannya.
"Maaf Tante, Tante?"
Maia melepaskan dekapannya, "Ini Tante Maia, apa kamu sudah lupa?"
Thea terdiam kaku, dia tidak ingat Tante Maia ini, yang dia ingat hanya Tante Dona kerabat jauh sang Papa.
Tante Maia kembali mendekap Thea dengan lembut.
"Jordan pasti baik-baik saja, kamu harus kuat untuk Papa kamu sayang."
Melihat perlakuan Tante Maia yang begitu lembut kepada Thea, entah mengapa hati Thea merasa bergetar. Setelah sekian lama dia baru merasakan lagi hangatnya pelukan seorang ibu yang tak pernah dia dapatkan selama ini.
Thea kembali melepaskan pelukan Tante Maia ini, "Maaf Tante, apa Tante sahabat Papa?" tanya Thea lagi.
Ibu Maia tersenyum hangat, "Kamu pasti sudah lupa sama Tante, ini Tante Maia teman Mama dan Papa kamu. Apa kamu ingat saat usia kamu tiga belas tahun, waktu itu kami datang kerumah untuk merayakan ulang tahun kamu?" ucap Tante Maia yang mencoba mengingatkan Thea.
Sejenak Thea terdiam, lalu beberapa menit kemudian dia teringat sesuatu.
"Oh iya Tante saya ingat, waktu itu Tante yang menolong saya mengganti pakaian saat Thea jatuh ke kolam, kan?" tutur Thea.
Melihat respons Thea yang terbuka kepadanya, membuat hati Maia tersentuh. Jordan pernah berkata jika Thea sangat acuh dan cenderung keras kepala apalagi kepada orang lain. Namun, ucapan Jordan kali ini ternyata salah, Thea menyambutnya dengan hangat.
"Iya benar sayang, dan ini Om Haris Papa Sagara," sambung Tante Maia.
Thea menundukkan kepalanya dengan sopan, membuat Pak Haris tersenyum hangat. Ternyata pikirannya tentang Thea itu salah. Beberapa hari ini Pak Haris berpikir keras tentang sikap Thea yang menurut sahabatnya keras dan cenderung tak punya tatakrama. Pak Haris sempat ragu dengan perjodohan ini karena takut Sagara tak bisa mendidik Thea dengan benar dan Thea tak bisa menerima ini dengan lapang. Namun, Thea tak terlihat seperti gadis pembangkang seperti yang dikatakan Jordan sebelumnya.
"Thea, apa kamu sudah mengenal Sagara anak kami?" tanya Pak Haris.
Mendengar pertanyaan yang membuatnya canggung Thea sedikit ragu untuk menjawabnya. Namun, Thea harus menunjukkan sikap biasa agar mereka tak berharap lebih dengan perjodohan yang sudah mereka rencanakan ini.
"Iya Om, beberapa hari ini dia sering datang ke rumah," sahut Thea.
Ibu Maia kembali tersenyum lalu meraih lengan Thea dengan lembut, "Pasti kamu lupa siapa Sagara, ya?"
Thea menoleh sambil mengerutkan dahinya, "Maksud Tante?"
Sagara kembali duduk di tempatnya, dia tak ingin membuat Thea canggung saat sang Mama ingin menceritakan tentangnya.
Tante Maia mengeluarkan ponsel miliknya lalu menunjukkan beberapa foto dahulu kepada Thea.
"Lihat ini sayang, apa kamu sudah lupa dengan foto ini?" tunjuk Tante Maia.
Thea meraih ponsel milik Tante Maia dan memandang gambar yang ada di layar ponselnya.
"Ini Thea dan.." Thea memandang ke arah Sagara.
Tante Maia akhirnya tersenyum lebar, "Iya sayang, ini Sagara dan kamu. Sagara 'kan anak yang sudah menyelamatkan kamu dulu saat kamu terjatuh di kolam renang, apa kamu ingat?"
Thea menajamkan tatapannya, "What? Jadi dia cowok yang udah selamatkan Gue saat itu? Tapi bukankah D yang waktu itu ada di sana? Kenapa jadi dia?"
"Jangan percaya, mereka nggak ada hubungannya sama Lo dan masa lalu Lo! Cuma Gue yang peduli sama Lo!"