ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 9: Kisah Sang Pengawal dan Penyelidikan Terselubung.
Setelah melarang Sania menghadiri majelis di pesantren Kyai Hamzah, suasana di kediaman Alaska kembali tegang. Alaska merasa dirinya benar karena melindungi Sania dari musuh bisnisnya, namun ia juga merasa bersalah karena Sania menuduhnya takut pada manusia alih-alih pada Allah.
Alaska, sang Mafia yang terbiasa mengendalikan segalanya, kini merasa ada kekuatan tak terlihat yang menggerogoti kontrolnya; Iman Sania.
Penyelidikan Ganda Sang Mafia.
Di ruang kerjanya, Alaska memerintahkan penyelidikan mendalam tentang Kyai Hamzah dan Nyai Ratih.
"Cari tahu semua aset mereka, kelemahan, dan terutama, apakah mereka memiliki kaitan dengan penegak hukum atau kelompok politik yang berafiliasi dengan musuh-musuhku," perintah Alaska kepada sekretarisnya melalui sambungan telepon aman.
Beberapa jam kemudian, Alaska menerima laporan yang mengejutkannya. Kyai Hamzah tidak memiliki kelemahan finansial, politik, atau skandal pribadi. Ia adalah sosok yang benar-benar bersih dan konsisten.
Laporan itu menyimpulkan:
Kyai Hamzah adalah kebalikan dari Tuan Alaska. Reputasinya tidak tercela. Aset utamanya adalah jutaan pengikut setia yang menghormati integritasnya. Serangan langsung terhadap Kyai Hamzah akan memicu gejolak sosial dan ekonomi yang masif, jauh lebih buruk daripada serangan dari penegak hukum. Dia adalah musuh yang tidak bisa disentuh.
Alaska membaca laporan itu berulang kali. Ini bukan musuh yang bisa dibeli atau diancam. Ini adalah ancaman moralitas murni terhadap kerajaan gelapnya. Kekuatan Kyai Hamzah terletak pada apa yang Sania miliki: kedamaian dan kemuliaan diri.
Frustrasi, Alaska membatalkan niatnya untuk menyerang Kyai Hamzah. Namun, larangan pada Sania tetap berlaku. Ia tidak ingin Sania menjadi bagian dari kekuatan yang menentangnya.
Sisi Lain Tino.
Karena dilarang pergi ke majelis Nyai Ratih, Sania memilih majelis lain di pusat kota yang fokus pada hafalan Al-Qur'an. Ia tetap ditemani Tino, pengawal barunya yang berpakaian rapi dan bersikap sopan.
Kali ini, Sania memberanikan diri untuk berinteraksi lebih jauh dengan Tino selama perjalanan pulang. Ia menyadari, Tino adalah satu-satunya 'orang luar' yang ia temui secara rutin.
"Tino, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Sania pelan dari kursi belakang.
Tino, yang fokus menyetir, menjawab tanpa menoleh, "Tentu, Nyonya Sania. Apa yang Anda ingin tahu?"
"Anda sudah lama bekerja untuk Tuan Alaska?"
"Cukup lama, Nyonya. Saya sudah mengenal Tuan Alaska sejak... masa-masa awal Black Vipers didirikan," jawab Tino. Suaranya terdengar sedikit berat.
"Apakah Anda selalu menjadi pengawal?"
Tino tersenyum kecil di kaca spion. "Awalnya tidak. Saya dulu... bagian dari pekerjaan kotor Tuan Alaska. Saya yang membantu beliau mengurus masalah di jalanan. Saya mantan preman, Nyonya."
Sania terkejut, namun ia tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru melihat luka dalam di mata Tino yang sempat terpantul di spion.
"Lalu, mengapa sekarang Anda menjadi pengawal dan bersikap sangat sopan?" tanya Sania.
Tino menghela napas panjang. "Saya ingin berubah, Nyonya. Dunia itu... gelap. Saya lelah. Saya melihat banyak darah dan saya kehilangan banyak hal. Termasuk... istri dan anak saya."
"Apa yang terjadi?" Sania bertanya dengan nada penuh simpati.
"Istri saya tidak bisa menerima pekerjaan saya. Ia meninggalkan saya. Ia bilang, ia tidak ingin anak-anaknya memiliki ayah yang tangannya kotor oleh dosa dan darah. Ia menuntut saya kembali ke jalan yang benar, tapi saya tidak bisa melepaskan diri dari Tuan Alaska. Ia adalah bos yang kuat."
Tino berhenti, menekan tombol untuk menyalakan lagu instrumental lembut di mobil.
"Tuan Alaska tahu Anda ingin berubah?"
"Ya. Beliau tidak menahan saya sepenuhnya. Tapi beliau hanya mengizinkan saya mengambil peran yang 'lebih bersih' seperti pengawal pribadi yang hanya fokus pada keamanan non-kekerasan. Beliau bilang, 'Jika kau ingin bersih, jadilah pengawal istriku. Dia akan menunjukkan jalan yang benar tanpa kau perlu mengotori tanganmu lagi.'"
Sania terdiam. Kata-kata Alaska yang terkesan sinis dan posesif, kini terdengar seperti belas kasihan dan pertolongan. Alaska menyuruh Tino melayaninya bukan hanya untuk melindunginya, tetapi juga untuk memberikan Tino kesempatan untuk menjauh dari kekerasan.
"Tuan Alaska mungkin sulit, tapi beliau... memiliki hati yang tersembunyi," bisik Sania, lebih kepada dirinya sendiri.
"Nyonya Sania," kata Tino, tiba-tiba memarkir mobil di pinggir jalan. Ia mematikan mesin. "Bolehkah saya meminta sesuatu pada Anda?"
Sania menoleh. "Apa itu, Tino?"
Tino mengeluarkan dompet lusuh dari saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah foto lama—foto seorang wanita berhijab yang tersenyum lembut dan dua anak kecil.
"Ini istri saya. Namanya Fatimah. Sudah tiga tahun ia pergi. Anak-anak saya... mereka sekarang tinggal bersamanya. Saya masih mencintai Fatimah, Nyonya. Tapi ia bilang, ia hanya akan kembali jika saya benar-benar bertobat dan menjauhi semua hal Black Vipers."
"Apa hubungannya dengan saya, Tino?"
"Anda adalah istrinya. Anda adalah satu-satunya orang di dunia Tuan Alaska yang memiliki iman. Tolong... bantu saya. Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya ingin kembali ke jalan Allah agar Fatimah mau kembali pada saya. Saya ingin menjadi suami yang pantas seperti yang Anda jelaskan kepada Tuan Alaska kemarin: suami yang memiliki ghirah yang benar."
Sania menatap Tino, lalu melihat foto Fatimah yang tersenyum. Air matanya menetes di balik cadarnya. Ia baru menyadari bahwa keberadaannya di rumah Alaska bukan hanya sebagai boneka, tetapi mungkin sebagai sebuah titik balik.
"Tino," kata Sania, suaranya dipenuhi janji. "Saya tidak bisa menjanjikan Fatimah akan kembali. Itu urusan Allah. Tapi saya akan bantu Anda kembali ke jalan yang diridhoi Allah. Jika Anda serius, saya akan bantu. Kita mulai dari hal yang paling dasar."
"Terima kasih, Nyonya. Terima kasih," kata Tino, matanya berkaca-kaca.
Peran Baru Sania.
Sejak saat itu, Sania memiliki peran ganda. Selain sebagai istri yang mencoba menembus ego suaminya, ia juga menjadi mentor rahasia bagi pengawalnya sendiri.
Di dalam mobil dalam perjalanan menuju atau kembali dari majelis, Sania tidak lagi membahas hal-hal duniawi. Ia mulai mengajarkan Tino tentang tata cara salat yang benar, tentang pentingnya menunaikan zakat, dan yang paling utama, tentang bagaimana meninggalkan pekerjaan yang haram.
Sania tahu, Tino adalah ujian lain bagi Alaska. Jika Sania berhasil mengubah Tino, maka Alaska mungkin mulai melihat nilai spiritualitas.
Namun, Alaska tidak menyadari interaksi ini. Ia hanya melihat Tino sebagai pengawal setia.
Suatu malam, Alaska mendapati Sania tidak ada di kamarnya. Ia panik, mengira Sania melarikan diri atau diculik. Ia berlari mencarinya.
Ia menemukan Sania berada di balkon kamar tamu, sedang menghadap ke langit yang gelap.
"Sania! Apa yang kau lakukan di sini?!" bentak Alaska, lega sekaligus marah.
Sania berbalik. Di tangannya, ia memegang buku Hadits hadiah dari Alaska.
"Saya sedang melihat bintang, Tuan," jawab Sania tenang. "Dan mendoakan Anda."
"Mendoakan aku apa?" tanya Alaska curiga.
"Saya mendoakan agar Allah melembutkan hati Anda, Tuan. Dan mendoakan agar Anda diberikan petunjuk untuk membedakan antara yang benar dan yang salah," jawab Sania.
Alaska terdiam. Keberanian Sania selalu membuatnya terpana.
"Kau harusnya mendoakan dirimu sendiri. Aku sudah memperingatkanmu. Jangan pernah berani-beraninya kembali mencoba mendekati Kyai Hamzah!" ancam Alaska.
"Saya tidak akan mendekati Kyai Hamzah, Tuan. Saya taat," jawab Sania. "Tapi saya akan mendekati Allah. Karena Allah-lah yang memegang hati Kyai Hamzah, dan Allah jugalah yang memegang hati Anda."
Alaska hanya bisa mendengus kesal. Ia tidak bisa melawan doa.
Tanpa ia sadari, Sania sudah memiliki sekutu di dalam istananya. Tino, mantan preman yang mencari hidayah, kini menjadi saksi bisu perjuangan Sania.
__Hidayah bisa datang dari mana saja. Bahkan seorang Mafia yang mencoba mengendalikan, tanpa sadar bisa menjadi jembatan bagi orang lain menuju kebaikan__
__Jangan remehkan sebuah pertemuan. Kadang, Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan untuk kita ubah, tapi untuk kita jadikan saksi atas perubahan kita__
Bersambung ....