Fiana Adams tak pernah menduga akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertemuan yang singkat di reuni sebuah SMA telah membuatnya terus memikirkan Arjuna Zefanya Tekins. Siapa sangka keduanya justru tak bisa dipisahkan sejak malam itu walaupun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga mereka adalah orang yang paling berkuasa dan paling bermusuhan sejak zaman dulu. Berbagai tantangan datang dan berusaha memisahkan keduanya. Sampai akhirnya keduanya berada di sebuah pilihan yang sulit. Mempertahankan cinta mereka atau menjaga nama baik keluarga.
Ceritanya di jamin sangat romantis dan bikin baper. Walaupun memang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ingin Menyerah
Sepanjang malam Arjuna tak bisa memejamkan matanya. Dia terus memikirkan Fiana. Keputusan gadis itu untuk berpisah sangat menyakitkan hatinya.
Keesokan harinya, setelah melalui diskusi yang panjang dengan penyidik dan pengacaranya, Arjuna dinyatakan sebagai tahanan rumah. Dia harus berada dalam pengawasan polisi dan tidak bisa keluar rumah tanpa ijin dari pihak yang berwajib.
Hal pertama yang Arjuna lakukan adalah mengunjungi Jelo di rumah sakit. Walaupun sepupunya itu belum membuka matanya namun dokter mengatakan kalau keadaannya sudah mulai stabil.
"Zack sudah pergi, Je. Aku sendiri. Kenapa kamu diam saja? Bangun dong. Temani aku. Aku butuh teman untuk bicara. Aku butuh nasehatmu. Perasaan ku sedang terluka atas kepergian Zack. Dan aku semakin terluka karena Fiana meninggalkan aku." kata Arjuna sambil memegang tangan Jelo.
Begitu ingin Arjuna berlama-lama di dekat Jelo namun pihak rumah sakit hanya mengijinkannya ia berada di dalam selama 5 menit saja.
Arjuna tiba di rumahnya dengan perasaan hampa. Sekalipun ia disambut dengan wajah yang gembira oleh papa dan mamanya, namun lelaki itu merasa ada yang kurang.
Ia mengambil ponselnya dan menelepon Fiana. Sayangnya, nomor Arjuna ternyata sudah diblokir oleh Fiana. Cowok itu pun menelepon Tita.
"Aku tidak bersama Fiana saat ini. Dia sedang bersama keluarganya. Mereka sedang pergi ke luar negeri untuk menenangkan pikiran." kata Tita.
"Mereka kemana, Ta? Kenapa sih Fiana harus memblokir nomor ku?" tanya Arjuna.
"Fiana berada dalam keadaan yang sulit. Semua keluarganya hancur karena kakaknya meninggal. Fiana sangat menyayangi kak Jordy."
"Aku berada dalam keadaan yang sulit waktu itu, Tita."
"Aku tahu. Fiana juga tahu. Tapi Jordy adalah kakaknya."
"Kalau memang dia sudah pulang, bilang padanya kalau aku ingin bertemu."
"Baik, Juna. Kalian memang harus ketemu dan bicara baik-baik."
"Terima kasih, Tita."
Arjuna meletakan lagi ponselnya. Seandainya kebebasannya tidak dibatasi, ia pasti sudah mencari Fiana di luar negeri.
**********
Seminggu sudah keluarga Adams memilih menjauh dan berlibur di salah satu pulau yang ada di Thailand ini.
Nampak Axel yang mulai pulih dan sudah jarang menanyakan dimana papanya.
Rina pun nampak tenang walaupun terlihat jelas kalau dia sangat merindukan suaminya.
Sedangkan Fiana, dialah yang sebenarnya sangat menderita. Walaupun ia berusaha tersenyum dan menghibur keluarganya, namun ia terus memikirkan Arjuna. Berulang kali ia mencoba membuang bayangan cowok itu namun hatinya selalu mengatakan bahwa ia sangat merindukan Arjuna. Lelaki yang sudah membunuh kakaknya.
Saat Fiana sedang duduk sendiri, Tita meneleponnya.
"Hallo, Fi. Apa kabarmu di sana?"
"Kami semua baik-baik saja. Ada baiknya memang menjauh dari ibu kota."
"Arjuna mencarimu, Fi."
"Dia sudah dibebaskan?"
"Di bebaskan secara bersyarat sambil menunggu sidang dimulai. Makanya dia tak boleh kemana-mana."
"Oh, begitu."
"Arjuna sangat merindukanmu, Fi. Dia terlihat sangat frustasi karena kamu memutuskan hubungan kalian."
Fiana menangis. "Aku harus bagaimana, Ta? Aku sangat menyayangi kakakku. Bagaimana mungkin aku akan bersama dengan lelaki yang membunuh kak Jordy? Hubungan kami tak akan pernah direstui oleh siapapun juga."
"Setidaknya bicaralah dengannya."
"Aku tak bisa, Ta. Mendengarkan suaranya saja, aku pasti akan luluh dan mengatakan bahwa aku merindukannya. Mungkin setelah dari Thailand, aku akan kembali ke Amerika. Itu yang terbaik bagi kami."
"Kamu akan kembali ke Amerika?" tanya Wulan membuat Fiana langsung memutuskan sambungan teleponnya. "Mama?"
"Nak, apa mama tak salah dengar? Kamu akan kembali meninggalkan mama?"
"Aku mau melanjutkan sekolahku, ma."
"Melanjutkan sekolah tak harus ke Amerika. Banyak orang dari luar negeri yang justru datang berkuliah di kerajaan kita."
"Tapi, ma....."
"Sayang, keadaan keluarga kita sedang seperti ini. Kamu jangan dulu pergi, nak. Nantilah kalau semua luka ini sudah sembuh. Mama berharap agar Arjuna itu bisa dihukum mati." kata Wulan dengan kemarahan dan kebencian yang nampak jelas di matanya.
Fiana semakin tertekan. Tak satu pun yang tahu bagaimana sakitnya hati Fiana saat semua orang di keluarganya membicarakan tentang kebencian mereka kepada lelaki yang dicintainya.
*************
10 hari di Thailand, keluarga Adams pun memutuskan kembali ke ibu kota.
Pangeran Jeremi langsung mengunjungi Fiana. Tentu saja berita itu sampai di telinga Arjuna. Berita Pangeran yang ada di rumah keluarga Adams membuat hati Arjuna menjadi panas.
Ia pun nekat memaksa Tita untuk membawanya ke rumah itu saat malam hari.
Tita sangat ketakutan saat ia datang ke rumah itu dengan Arjuna yang duduk di jok belakang.
"Hai.....!" Fiana yang duduk di teras samping langsung tersenyum senang melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Mana orang rumah?" tanya Tita.
"Kak Jerry sedang keluar. Papa dan mama sepertinya sudah tidur. Kak Rina dan Axel ada di rumah orang tua kak Rina. Tumben kamu mengunjungi aku jam segini. Apakah si Dion tak keberatan pacarnya mengemudi di jam seperti ini?" tanya Fiana sambil menggoda temannya itu.
Tita nampak tegang. "Fi, di mobil ada Arjuna." kata Tita sedikit berbisik.
Fiana terkejut. "Apa? Kamu gila, Tita. Bagaimana mungkin kamu membawa dia ke sini?"
"Dia nekat akan ke sini sendiri jika aku tak menolongnya."
Fiana melirik ke arah mobil Tita yang terparkir tak jauh dari situ.
"Kamu tahu semua bagian rumahku ini di pasang CCTV. Bagaimana mungkin dia bisa bebas jika kakak Jerry memeriksa CCTV di sini?" Jantung Fiana rasanya mau copot.
"Kamu punya waktu mematikan CCTV atau ikut keluar dengan ku."
Fiana memejamkan matanya. Ia sebenarnya tak diijinkan keluar oleh kakaknya. Namun ia nekat juga. "Ayo....!" katanya lalu segera melangkah lebih dulu.
Begitu Fiana memasuki mobil Tita, ia dapat mencium bau parfum Arjuna.
"Jalan Tita." perintah Fiana tanpa mau menoleh ke belakang.
Tita pun menjalankan mobilnya. Fiana menatap kenarah satpam. "Kalau kakakku pulang, bilang padanya kalau aku jalan-jalan sebentar dengan Tita."
"Baik, nona."
Mobil Tita pun melaju meninggalkan kawasan pemukiman keluarga Adams.
Tak ada pergerakan apapun dari jok belakang, sampai akhirnya mobil Tita berhenti di tempat pertama Arjuna membawa Tita.
"Aku tinggalkan kalian di sini. Aku jemput lagi jika kalian sudah selesai bicara." kata Tita. Fiana turun, begitu juga Arjuna. Saat mobil Tita sudah menjauh, Arjuna tiba-tiba saja memeluk Fiana dari belakang.
"Aku sangat merindukanmu." katanya lalu mencium puncak kepala Fiana.
Gadis itu terpaku di tempatnya berdiri. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Namun seluruh tubuhnya merasakan hangat yang menyentuh hatinya saat kulit mereka saling bersentuhan.
Perlahan Fiana menarik tubuhnya dari pelukan Arjuna lalu ia membalikan tubuhnya. Memangkas jarak diantara mereka.
Mata keduanya saling bertatapan. Sangat jelas terlihat kalau mereka saling rindu.
"Aku terpaksa menembak Jordy. Karena dia menembak Zack dan akan menembak aku juga." kata Arjuna dengan wajah penuh penyesalan. "Aku datang ke situ tanpa bermaksud membunuh Jordy. Aku hanya ingin ad keadilan untuk Jelo."
"Tapi itu adalah kakakku. Dan aku sangat menyayanginya. Bagaimana mungkin aku bisa bersama dengan lelaki yang sudah membunuh kakakku? Aku marah padamu! Aku membencimu ...!" Fiana tanpa diduga langsung menampar Arjuna. Ia melampiaskan semua kemarahan hatinya sambil terus memukuli Arjuna. Lelaki itu hanya diam. Tak bicara apalagi menangkis pukulan Fiana.
"Jordy adalah kakakku....! Jordy adalah kakakku." teriak Fiana. Tangisnya semakin dalam, namun kekuatannya melemah. Ia hampir saja terjatuh namun Arjuna dengan cepat langsung memeluknya.
"Maafkan aku!" kata Arjuna. Lelaki itu juga menangis. "Lampiaskan semua kemarahan mu, tapi jangan pergi dariku. Jangan pernah tinggalkan aku. Kita sudah bersumpah di hadapan Tuhan untuk saling mencintainya untuk selamanya. Aku tak bisa berpisah darimu, sayang. Aku tak bisa."
Fiana mengalah dengan perasaannya. Pelukan Arjuna begitu ia rindukan. Ia memeluk erat tubuh Arjuna sambil terus menangis.
Untuk sesaat, keduanya menangis bersama. Sampai akhirnya tangis mereka reda dan Fiana melepaskan pelukannya. Ia menatap Arjuna. Lelaki itu menghapus sisa air mata di pipi Fiana. "Jangan lepaskan ikatan cinta kita, Fiana."
"Cinta kita terlarang."
"Aku tak peduli." kata Arjuna dan langsung mencium Fiana dengan sejuta rasa cinta yang ia miliki. Fiana membalas ciuman itu. Ia juga merindukan Arjuna.
***********
Akankah ada yang manis di malam itu?