---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Hari baru di ibu kota tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson, hiruk pikuk pekerja, rapat yang tak ada habisnya—semua itu biasanya menjadi rutinitas yang membuat Daren tetap hidup dalam ritme yang cepat dan rapi.
Namun hari ini… ritme itu kacau.
Sudah dua jam ia duduk di kursi kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan laporan ekspansi proyek terbaru. Angka-angka tertera jelas, grafik naik-turun, dan komentar investor berjajar rapi. Tapi tak satu pun informasi itu masuk ke kepala Daren.
Yang ia lihat—atau lebih tepatnya, yang terus muncul di benaknya—adalah wajah Nirmala.
Cara perempuan itu menatapnya tanpa takut, suara tegasnya saat menuntut tanggung jawab, tatapan dingin saat menahan marah, sampai senyum samar yang ia tunjukkan ketika mereka sarapan terakhir kali sebelum ia kembali ke ibu kota.
Senyum itu… entah kenapa terus menghantui kepalanya.
Daren mengusap wajah, frustasi. “Fokus, Ren. Fokus.”
Tapi bukannya fokus, ia malah kembali memikirkan bagaimana kondisi gadis itu di desa. Apakah dia aman? Apakah ibu tirinya kembali membuat masalah? Apakah dia makan tepat waktu?
Sial. Sejak kapan ia peduli sedalam itu?
Tok tok tok.
Pintu ruangan diketuk dua kali lalu terbuka tanpa menunggu jawaban.
Rayhan masuk dengan tablet di tangan. Asisten itu berhenti tepat di depan meja kerja, menatap bosnya lama-lama sambil menaikkan satu alis.
“Bos…” Rayhan bersandar pada meja, meneliti ekspresi Daren. “Kertas di depan Anda sudah Anda bolak-balik dari tadi. Itu mau dibaca atau mau Anda sulap jadi putih kembali?”
Daren mendengus kesal. “Gue cuma… capek.”
“Capek apa kepikiran?” Rayhan mempersempit mata.
Dia sudah lama bekerja sama dengan Daren, dan ia tahu persis kapan bosnya bohong.
“Biasanya kalau perempuan bikin masalah, bos nggak sampai kacau begini. Ini beda.”
Daren memalingkan wajah. “Jangan sotoy.”
Rayhan tertawa kecil. “Bos, saya udah kerja sama Anda lima tahun. Yang saya tahu, kalau masalah cewek, Anda paling cuma manyun lima menit. Setelah itu balik ke meeting, main golf, atau sibuk ngomel investor.”
Ia melipat tangan.
“Tapi ini? Daren Adrianata nggak bisa baca laporan? Itu rekor baru.”
Daren menghela napas panjang. “Bukan apa-apa, Rey. Gue cuma kepikiran keadaan dia.”
“Dia siapa?” Rayhan pura-pura clueless.
Daren menatapnya tajam. “Jangan pura-pura bego.”
Rayhan menyeringai puas. “Ah, jadi ngaku juga.”
Daren berdiri, berjalan ke jendela besar kantornya. Pemandangan ibu kota membentang luas, tapi di matanya semua itu tampak hambar.
“Semenjak gue pulang… ada yang nggak tenang, Rey. Kayak… ada yang bakal terjadi.”
“Perasaan?” Rayhan menggodanya.
“Intuisi,” jawab Daren cepat. “Lo tahu sendiri gue nggak pernah asal feeling.”
Rayhan mengangguk. “Iya. Tapi biasanya intuisi bos soal bisnis. Ini… soal perempuan.”
Daren tidak menjawab. Ia menggenggam ponsel di saku celana.
Sudah beberapa kali ia hampir menekan nomor Nirmala, tapi ia urungkan.
Ia takut terlihat… terlalu khawatir.
Terlalu peduli.
Terlalu… terikat.
Rayhan mengamati dari belakang. “Bos…”
“Hm?”
Rayhan menaik-turunkan alis dengan gaya menyebalkan. “Apa jangan-jangan… bos sudah falling in love?”
Daren langsung menatapnya tajam. “Ngaco.”
“Tapi wajahnya merah, loh.”
“Rey.”
“Tapi sejak kapan bos mikirin perempuan sampe nggak bisa kerja?”
“Rey.”
“Sejak kapan bos tidur cuma empat jam karena kepikiran istri mendadak?”
“REYHAN!”
Rayhan terkekeh puas. “Nah, itu dia! Kalau udah teriak, artinya saya benar.”
Daren memijat pelipis. “Gue cuma… belum pernah nikah sebelumnya. Situasinya juga—”
“ONS jadi nikah?” Rayhan menyisip. “Iya, situasinya unik.”
“Diam, Rey.”
Rayhan menahan tawa. “Bos, nggak shame kok kalau jatuh cinta sama istri sendiri.”
Kalimat itu membuat Daren diam.
Jantungnya berdenyut lebih cepat tanpa alasan.
Apakah itu… benar?
Apakah dia mulai jatuh cinta?
Daren kembali duduk. Ia membuka laptop tapi pikiran masih kacau.
“Rey…”
“Ya?”
“Menurut lo… dia di sana baik-baik aja?”
Rayhan mengangkat bahu. “Nirmala itu perempuan kuat. Bahkan kuatnya kebangetan.
Yang gue khawatir justru kebalikannya…”
“Hmm?”
Rayhan mencondongkan tubuh, berbisik dramatis.
“Yang bahaya itu bukan dia, tapi ibu tiri sama anak tirinya itu. Muka mereka aja udah kayak penjahat sinetron jam sembilan malam.”
Daren mendecak. Tapi Rayhan tidak salah.
Dan itulah alasan ia semakin gelisah.
Rayhan melanjutkan, “Bos mau saya kirim orang buat mantau rumah sana?”
Daren menggeleng. “Belum. Nirmala tidak suka diawasi. Dia bisa marah.”
“Terus?”
Daren menatap meja lama. “Gue bakal balik ke sana.”
Rayhan terkejut. “Serius? Baru dua hari bos balik ke kota.”
“Gue nggak tenang.”
Rayhan tersenyum lebar, menepuk bahu bosnya. “Oke, itu jawaban paling jujur yang pernah saya denger dari Daren Adrianata.”
“Rey…”
“Hmm?”
“Kalau lo bilang satu kata ‘bucin’, gue pecat.”
Rayhan langsung menutup mulut, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan geli. “Baik, bos. Tapi tetep aja… keliatan banget.”
Daren tidak membalas.
Ia memandang cermin kecil di sebelah meja dan melihat refleksi dirinya.
Seorang pria sukses, mapan, disorot media, penuh skandal asmara… kini sedang memikirkan satu perempuan desa yang bahkan tidak tahu betapa berharganya dirinya sendiri.
Sial.
Apakah ia benar-benar… terpikat?
Rayhan berdiri, siap keluar dari ruangan.
“Bos.”
“Apa lagi?”
“Kalau nanti ketemu Nirmala…” Rayhan tersenyum nakal.
“Jujur aja sama hati sendiri.”
Pintu tertutup.
Daren menghela napas keras, menyandarkan tubuh ke kursi.
Matanya memandang langit-langit sejenak, lalu turun ke cincin di jarinya.
“Falling in love, huh…?” gumamnya pelan.
“Jangan bercanda, Rey.”
Namun semakin ia menepis… semakin hatinya mengakuinya.
Ia meraih ponsel. Tanpa berpikir panjang, ia mengetik pesan singkat:
“Mala, kamu baik-baik saja?”
Ia tidak tahu apa jawaban yang akan datang.
Yang jelas, sejak hari itu… hatinya tidak lagi tenang.
Assalamualaikum selamat siang
Jangan lupa like and komen nya
Selamat membaca🥰🥰🥰