Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
04:08
Mobil hitam itu memasuki gerbang mansion dengan kecepatan sedang. Pagar besi terbuka otomatis, dan lampu-lampu halaman menyala ketika sensor mendeteksi kehadiran mobil Evans. Udara masih dingin, dengan kabut subuh menyelimuti sebagian taman.
Ben dan Gerry turun duluan, langsung menuju belakang mansion untuk menurunkan dua peti senjata ke gudang bawah tanah.
Evans turun terakhir.
Topi hitamnya ia lepas, rambutnya agak berantakan, wajahnya tenang namun ada bayangan kelelahan. Darah yang mengering di ujung jarinya membuat kulitnya tampak seperti marmer yang ternoda merah tua.
Ia berjalan masuk ke mansion tanpa suara.
Lorong masih temaram. Para pelayan tidak berani keluar kamar kecuali dipanggil.
Evans berjalan menuju pantry kecil dekat ruang makan, membuka keran, dan kembali mencuci darah di tangannya, memijat jemari seperti sedang menghilangkan dosa.
Suara langkah ringan datang dari tangga.
Lalu suara kecil itu muncul.
“Om… tampan?”
Evans mendongak.
Xerra berdiri beberapa meter darinya, memakai kaos tidur kebesaran warna pastel, matanya masih setengah mengantuk tetapi membesar saat melihat baju Evans robek, penuh noda darah… dan aroma logam yang menusuk.
Xerra tidak mendekat.
Justru mundur setengah langkah.
“…om habis… bunuh orang?” tanyanya pelan, suara bergetar.
Evans tak langsung menjawab. Ia hanya memutar keran, menambah tekanan air, membiarkan siraman menghapus bercak terakhir di telapak tangannya.
Xerra menggenggam ujung bajunya kuat-kuat.
Ia ketakutan.
Bukan karena Evans kejam.
Bukan karena darah.
Tapi karena ketidakpastian masa depannya.
“Om…” suaranya kecil. “…kalau om mati, aku tinggal di mana?”
Evans menghentikan tangannya.
Air masih mengalir.
Xerra menelan ludah, melanjutkan cepat seakan takut dimarahi
“Maksudku… aku… aku takut om kenapa-kenapa. Kalau om mati… siapa yang kasih aku makan roti hangat setiap pagi? Siapa yang kasih aku kamar yang besar? Pakaian bagus? Tas mahal? Aku…”
Ia menggigit bibir, suara turun.
“…aku tidak punya tempat lain.”
Keheningan turun.
Evans akhirnya mematikan keran.
Ia mengambil handuk kecil.
Mengeringkan jarinya satu per satu.
Lalu berjalan mendekat.
Xerra ingin mundur, tapi kakinya terpaku.
Evans berdiri tepat di depannya tinggi, berwajah gelap, masih beraroma darah dan dingin malam.
“Jadi…” suaranya rendah.
“…kau bukan cemas karena aku terluka.”
Xerra menggeleng cepat.
“Tidak, om.”
“Kau cemas… karena kau takut kehilangan fasilitas yang kuberikan.”
Xerra mengangguk kecil, jujur tanpa malu.
Evans menatap gadis itu lama… lalu tersenyum miring.
Bukan senyum hangat.
Bukan senyum ramah.
Senyum pemilik.
“Aku suka cara berpikirmu.”
Tangan Evans tiba-tiba mengangkat dagu Xerra, memiringkan wajahnya ke arah cahaya lampu.
“Jujur. Realistis. Tidak berpura-pura peduli padaku demi terlihat suci.”
Ia meneliti mata Xerra.
“Kau berbeda dari semua wanita yang pernah kutemui.”
Xerra bingung apakah itu pujian atau ancaman.
Evans melepaskan dagunya lalu berjalan melewati gadis itu.
Namun sebelum menjauhi, ia berhenti.
“…dan selagi kau jujur, aku tidak akan mencelakakanmu.”
Xerra menelan ludah.
“Om… mau mandi dulu?” tanyanya pelan.
Evans menoleh sedikit.
“Aku akan mandi. Tapi dengarkan ini, Xerra.”
Ia mendekat lagi, satu tangannya menekan dinding di samping kepala Xerra, tubuhnya menunduk, membuat gadis itu merasa terperangkap.
“Selama aku pergi tadi malam… ada musuh yang ingin membunuhku. Banyak.”
Xerra membeku.
“Tapi mereka semua mati sebelum sempat menyebut namaku.”
Xerra menatapnya takut.
Evans melanjutkan, suaranya dingin namun tenang.
“Dan jika suatu hari ada orang yang mencoba mengambilmu… atau mengganggumu…”
Ia mendekatkan bibir ke telinga Xerra.
“…aku akan pastikan mereka menghilang dari dunia ini.”
Xerra merinding hebat.
Namun tiba-tiba, ia memberanikan diri bicara
“Berarti… om tidak akan membiarkan aku telantar, kan?”
Evans menatapnya.
Cukup lama hingga dada Xerra panas oleh gugup.
Lalu…
“Tidak, Xerra.”
Suaranya datar namun kuat.
“Kau milikku sekarang.”
Xerra terdiam.
Tidak tahu harus takut… atau lega.
Evans melangkah pergi menuju tangga.
Sebelum naik, ia berkata tanpa melihat ke belakang
“Tidurlah. Dan jangan masuk kamarku tanpa izin.”
Kemudian hilang di lantai dua.
Dan Xerra berdiri sendirian di ruang makan… masih bisa mencium aroma darah yang ditinggalkan Evans.
*****
Pagi itu mansion terasa jauh lebih besar dari biasanya.
Cahaya matahari belum sepenuhnya naik, tetapi aroma roti panggang, telur, dan kopi hitam mengisi ruang makan yang luas. Meja marmer dihiasi makanan sebanyak untuk tiga keluarga lengkap, padahal hanya ada empat orang di mansion pagi itu.
Ben dan Gerry duduk agak jauh, pura-pura sibuk dengan tablet mereka.
Evans sudah duduk di kursi utama di ujung meja dengan rambut basah, mengenakan kemeja hitam baru yang warnanya kontras dengan kulit putih pucatnya. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja melakukan hal mengerikan namun bangun pagi dengan perasaan damai.
Xerra turun tangga perlahan.
Masih memakai sweater lembut yang diberikan pelayan tadi pagi.
Ketika melihat Evans, ia refleks hendak duduk di kursi yang cukup jauh… tiga kursi dari pria itu.
Namun Evans menoleh, suaranya rendah tapi jelas
“Duduk di sini.”
Ia menunjuk kursi tepat di sebelahnya.
Ben dan Gerry menahan tawa, menunduk cepat.
Xerra terkejut tapi patuh. Ia menarik kursi dan duduk, punggungnya tegang. Evans menambahkan telur ke piringnya, lalu memotongkan roti.
“Aku bisa mengambil sendiri…” gumam Xerra.
“Tahu,” jawab Evans santai. “Tapi aku tidak menyuruhmu mengambil. Aku menyuruhmu makan.”
Xerra menghembuskan napas.
Ia mulai makan perlahan.
Ben membisik pada Gerry, “Dia diperlakukan seperti princess.”
Gerry membalas pelan, “No...lebih seperti calon istri mafia.”
Belum sempat mereka tertawa, Evans menatap ke arah mereka dan keduanya langsung diam seperti patung.
Xerra mengambil susu. Hari ini perasaannya lebih stabil. Ia mulai merasa aman berada di mansion ini, walaupun Evans sangat menakutkan.
Baru dua suap makanan masuk, tiba-tiba Evans berbicara tanpa menoleh
“Xerra.”
“Hm?”
“Aku ingin menikah denganmu.”
Cak.
Gerry menjatuhkan garpunya.
Ben tersedak air putih.
Dan Xerra nyaris menumpahkan susu.
“K....kenapa om tiba-tiba ngomong begitu!?” serunya spontan.
Evans menatapnya tenang, seolah mengumumkan jadwal meeting.
“Kau butuh perlindungan. Aku ingin kau berada di bawah legal guardianship ku. Jalan paling aman adalah pernikahan.”
Xerra menelan ludah keras.
“Tapi aku masih muda… kita tidak pacaran… kita bahkan baru bertemu beberapa kali!” protesnya terbata. “Om bahkan… baru semalam pulang dengan darah… di mana romantisnya!?”
Ben dan Gerry memalingkan wajah, bahu mereka bergetar menahan tawa mati-matian.
Evans memutar cangkir kopinya dan berkata sangat tenang
“Romantis itu tidak penting. Stabilitas jauh lebih penting.”
Xerra hendak berdiri.
“Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku tidak mau menikah. Tidak secepat ini!”
Ia baru berdiri setengah… ketika suara klik terdengar.
Ketiganya langsung terdiam.
Evans membuka laci kecil di samping meja dan menarik sebuah pistol hitam kecil. Bukan diarahkan ke Xerra, tapi diletakkan di meja, tepat di depan gadis itu.
Xerra membeku.
“Duduk.” suara Evans dalam dan mengancam.
Dengan sadar, Xerra langsung duduk kembali.
“Evans…” bisik Ben, “kau tidak perlu...."
“Diam.” sahut Evans tanpa melihat ke arah mereka
Ia menatap Xerra tajam, namun bukan amarah.
Lebih seperti… obsesi yang dingin.
“Aku tidak mengancammu. Aku hanya ingin kau paham satu hal.”
Ia mendorong pistol itu sedikit ke arah Xerra, dengan ujung jarinya.
“Dunia di tempatku hidup… tidak pernah memberi orang kesempatan kedua.”
Xerra menahan napas.
“Tanpa status yang jelas, tanpa hubungan legal, kau adalah celah paling rentan yang bisa digunakan musuhku untuk menjatuhkan aku.” lanjut Evans. “Jika mereka mengambilmu… aku tidak bisa menuntut, tidak bisa menuntut balas secara terbuka.”
Ia bersandar di kursi, tatapannya gelap dan serius.
“Aku ingin melindungimu, Xerra. Tetapi aku tidak bisa melindungi seseorang yang statusnya ‘tidak ada’.”
Xerra masih gemetar.
“…jadi kau menikahi aku demi keamananmu?” tanyanya lirih.
Evans menggeleng pelan.
“Tidak.”
Ia menatap Xerra, perlahan, dalam sangat intens hingga jantung gadis itu terasa keluar dari dada.
“Aku ingin menikahimu… karena aku ingin kau di sisiku.
Selamanya.”
Xerra tercekat.
“…tapi aku butuh waktu,” jawabnya jujur, suara kecil.
Evans memejamkan mata sebentar, lalu membuka mata kembali.
“Baik.”
Gerry langsung kaget. Ben refleks menatap Evans tidak percaya.
Evans menyimpan kembali pistol ke laci.
“Aku beri kau waktu.”
Ia meneguk kopi perlahan.
“Dua minggu.”
Xerra memekik kecil.
“Om! Itu bukan ‘waktu’! Itu ancaman!”
Evans mengangkat bahu.
“Itu kompromi.”
Ben berbisik pada Gerry.
“Dia sebenarnya sudah jatuh cinta.”
Gerry mengangguk.
“Cinta yang berbahaya…”
Xerra memegang kepalanya.
Evans memotong roti lagi untuknya.
“Makan,” ucapnya datar. “Kau perlu tenaga. Kita punya banyak hal yang harus dibicarakan tentang masa depan… istri masa depanku.”
Xerra memandang piring roti itu dengan pasrah.
Ia tidak tahu apakah ia sedang disayang…
atau sedang perlahan-lahan diseret ke dunia gelap tanpa jalan kembali.