Dia menjadi pengganti posisi kakak nya untuk menikah dengan lelaki cacat. Lelaki cacat itu awal nya adalah pacar dari kakak nya sendiri. Sayang nya, karna kecelakaan yang membuat kaki lelaki itu lumpah. Itu menjadi penyebab kakak dari gadis itu memaksa adik nya menikah dengan pacar nya.
Bagai mana kisah gadis itu, setelah hidup sebagai pengganti pacar kakak nya. Ikuti terus kisah nya bersama Cahaya cibta pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
R09
Pekerjaan telah pun selesai, Rina dengan sangat malasnya berusaha sekuat tenaga mengayuh sepeda agar cepat sampai kerumah.
Pesanan yang mereka buat sukses besar. Sukses dari hasilnya, juga sukses karna lelah dan capeknya.
Setelah lumayan lama mengayuh sepeda. Ia akhirnya sampai juga di rumah. Rina memang pulang agak lebih cepat dari jam yang biasanya dia pulang. Karna pesanan yang lumayan bikin tenaga habis. Johan memberi waktu pulang lebih cepat pada karyawan dan dirinya sendiri untuk istirahat.
Rina sudah berada di depan pintu rumahnya. Saat ia mau masuk, ia melihat mobil mamanya pulang kerumah.
Rina membatalkan niatnya mau masuk kedalam rumah. Ia melihat mama dan kakaknya turun dari mobil.
Kakaknya terlihat tidak baik-baik saja, wajahnya yang kesal terlihat sangat kuat dan tidak enak di pandang. Saat mama dan kakaknya mendekat, Rina melihat kearah mama.
"Mama baru pulang ya?" kata Rina dengan hati-hati.
"Iya baru pulang, kamu kan lihat mama baru turun dari mobil," kata mama.
"Iya aku tahu, maksud ku baru pulang sejak semalam atau udah ada pulang tadinya," kata Rina membenarkan kata-katanya yang salah.
"Baru pulang sejak dari semalam. Udah ya mama capek mau istirahat," kata mama meninggalkan Rina di depan pintu.
Rina melepas nafas beratnya, ia tahu ia akan di cuekin lagi sama mama dan kakaknya. Apa lagi saat wajah mereka sama-sama tidak baik.
Rina pun memutuskan untuk ikut masuk kedalam rumah. Ia duduk di sofa ruang tamu sebelum naik kekamarnya.
Ada apa sama mama dan kak Indah, apa calon suaminya mengalami kecelakaan yang sangat parah ya. Sampai kak Indah terlihat sangat kesal. Eh tunggu, harusnyakan sedihkan bukan kesal, kalo memang kak Juna mengalami kecelakaan yang parah.
Kata Rina dalam hatinya.
Rasa penasarannya ia simpan saja, ia tidak ingin bikin masalah dengan menanyakan hal yang tidak perlu ia tanyakan.
Tiba-tiba Rina ingat sesuatu, ingat sama papanya yang tidak ikut pulang bersama mama dan kakaknya.
"Kenapa papa gak ikut pulang, bukannya papa belum pulang juga dari kemarenkan," kata Rina pada dirinya sendiri.
Saat itu, bibik lewat dan mendengarkan apa yang Rina katakan. Bibik tersenyum sendiri, walau pun tidak ada orang yang melihat ia senyum.
"Tuan udah pulang kok non," kata bibik dari belakang.
Rina kaget saat suara bibik tiba-tiba saja menyambung pembicaraannya yang ia tunjukkan pada dirinya sendiri.
"Ya ampun bik, bikin kaget aja bibiknya nih. Jadi papa udah pulang? di mana papa sekarang?" kata Rina.
"Tuan sudah pulang dari tadi pagi non, tak lama setelah non Rina berangkat kerja. Dan sekarang, tuan masih belum pulang dari kantor non," kata bibik menjelaskan.
"Oh, aku kira papa ada di rumah bik," kata Rina kembali lemah.
"Gak ada non, mungkin sebentar lagi akan pulang jugakan," kata bibik sambil melihat jam.
"Apa non Rina mau bibik bikinin minum non?" kata bibik lagi.
"Gak usah deh bik, aku gak haus saat ini. Aku cuma capek aja, hanya butuh istirahat," kata Rina.
"Oh ya usah kalo gitu, bibik lanjutin kerjaan bibik lagi ya non," kata bibik sambil beranjak pergi.
"Iya bik."
Rina pun membaringkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Untuk melepas lelah sesaat sebelum naik keatas.