Aini mengira kedatangan keluarga Julian hendak melamarnya. namun ternyata, mereka malah melamar Sakira, adik satu ayah yang baru ia ketahui kemudian hari. padahal sebelumnya, Julian berjanji akan menikahinya. ternyata itu hanya tipuan untuk memanfaatkan kebaikan Aini.
Tidak sampai disitu, ayahnya malah memaksa untuk menjodohkan Aini dengan duda yang sering kawin cerai.
karena kecewa, Aini malah pergi bersenang-senang bersama temannya dan menghabiskan malam dengan lelaki asing. bahkan sampai hamil.
Lantas, bagaimana nasib Aini. apakah lelaki itu mau bertanggung jawab atau dia malah menerima pinangan dari pria yang hendak dijodohkan dengannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herka Rizwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Siska masih tidak terima atas kekalahannya. Apalagi, Pak Danang belum bisa melupakan kejadian saat Arjun mematahkan kedua tangannya.
"Gara-gara pria itu, Saya harus mengeluarkan uang lebih banyak. Dan itu akibat keteledoran anda, Bu Siska."
"Saya benar-benar minta maaf, Pak. Sebetulnya, Saya juga tidak menyangka, kalau Aini sudah memiliki kekasih baru setelah putus dari mantan pacarnya."
"Pokoknya saya tidak mau tahu. Kalau sampai saya tidak bisa menikah dengan Aini, maka saya tidak akan memberikan uang untuk resepsi pernikahan Sakira!"
"Loh, kok bisa begitu. Kan yang salah Aini, kenapa malah Sakira yang jadi sasarannya?"
"Ya terserah saya. Sebelum Sakira menikah, Aini harus terlebih dahulu menikah sama saya. Atau, saya laporkan anda ke polisi karena sudah menipu saya!"
"Tapi, Pak..."
Danang mengangkat salah satu tangannya. Seorang pria seram menyeret Siska untuk segera pergi dari sana.
"Sialan! ini semua gara-gara si Aini. Kenapa sih, dia bisa lolos begitu saja. Benar-benar menyebalkan."
Kepulangan Siska dengan wajah galau, menuai reaksi Sakira. Pernikahannya sebentar lagi akan dilakukan. Dia berharap, kalau resepsinya dilakukan dengan mewah dan meriah.
"Bu, gimana. Apa kata Pak Danang?" tanyanya saat Siska baru saja duduk.
"Heh, si Danang tua bangka itu gak mau memberikan uang lagi. Dan ini semua gara-gara Aini. Pacarnya sudah berani mematahkan kedua tangan Pak Danang."
"Hah, benarkah? Bagaimana bisa, Aini jelek itu punya pacar lagi. Apakah orangnya ganteng. Terus, dia kaya gak?" Sakira tampak penasaran.
"Dia pernah membawanya ke rumah sakit. Orangnya ganteng, bahkan lebih keren dari Julian. Dari penampilannya juga terlihat seperti orang berada."
Sekali lagi, Sakira terkejut dengan perkataan ibunya. Dia tadinya berharap, kalau Aini akan terpuruk setelah putus dengan Julian. Karena selama ini, dia begitu tahu, kalau Aini sangat mencintai mantannya itu.
Bahkan selama beberapa tahun ini, dia rela jadi pesuruh Julian. Bekerja part time di beberapa tempat, agar Julian tidak memutuskan hubungan mereka.
Dan setiap barang berharga yang dibelikan oleh Aini, Julian akan dengan senang hati memberikannya pada Sakira. Karena sebenarnya, Julian tak pernah mencintai Aini. Dia hanya ingin memanfaatkan kebodohannya saja.
"Apa, Aini sudah punya pacar lagi? Bagaimana mungkin itu terjadi? Memangnya, masih ada ya, pria yang mau sama dia. Yang benar saja!" Julian malah tertawa, di saat Sakira menceritakan tentang saudaranya itu.
"Aku serius, sayang. Malah kata ibu, orangnya itu ganteng banget. Udah gitu, kayaknya orang berada lagi."
Sama seperti Sakira sebelumnya, Julian juga terkejut. Dan lebih tidak disangka lagi, orang yang mereka bicarakan baru saja masuk ke dalam restoran, tempat mereka sedang makan siang saat ini.
"Aini..." gumam Julian memandang mantannya itu tanpa berkedip. Entah apa yang saat ini sedang ia pikirkan. Melihat Aini yang begitu cantik dan tersenyum di hadapan seorang pria tampan.
"Sayang, kamu sedang lihat apa?" Sakira mengikuti arah tatapan pacarnya. Dan langsung masam saat mengetahui kalau lelaki itu sedang memandang saudaranya.
"Ngapain kamu liatin Aini kayak gitu. Apa kamu masih suka sama dia?" tanya Sakira mulai cemburu.
"Iya, eh enggak. Aku gak pernah suka sama dia."
"Terus, kenapa matamu terus memandang ke arahnya? Dasar Aini penggoda! Tunggu sja, aku akan usir dia dari sini!"
"Hei, Sakira. Apa yang hendak kau lakukan?" Julian terkejut, saat calon istrinya itu tiba-tiba mendatangi Aini.
Belum sempat ia mencegah, Sakira yang cemburu buta langsung melayangkan tangannya ke wajah Aini. Tentu saja, gadis itu tak terima. Dan segera membalasnya dengan sebuah pukulan keras.
Melihat Aini ditindas di depan matanya, Arjun ikut bangkit. Lalu berdiri tepat di depan gadis yang dicintainya.
"Apa-apaan ini! Kenapa kamu memukul wajah pacar saya tanpa sebab?" tanya Arjun.
"Dia memang pantas dipukul. Sudah putus, tapi masih saja ingin menggoda calon suami ku. Pasti kamu sengaja kan, mengikuti kami makan di sini. Dengar ya, Aini. Sampai kapanpun, Julian gak bakal suka sama kamu. Pakai dandan sok cantik lagi!"
"Aku, menggoda Julian? Kamu gak punya otak ya. Kalau sampah , ya tetap sampah. Ngapain harus ditengok lagi!" sahut Aini tidak mau kalah.
"Kau bilang apa?" Sakira tambah berang.
"Sakira, hentikan. Jangan buat malu di sini!" Julian menggenggam tangan pacarnya itu.
"Kau jangan halangi aku, Sayang. Hari ini, aku gak akan melepaskan dia!"
"Aduh, kamu kira aku masih peduli sama kalian berdua. Sayang, kita pindah tempat yuk. Selera makan aku udah ilang gara-gara liat mereka berdua ada di sini!" Aini ikut menggamit lengan Arjun.
Senyum Arjun mengembang, saat Aini memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'. Meski ia tahu, kalau Aini hanya memanfaatkannya.
"Baiklah, Sayang. Sebaiknya, kita memang harus cari tempat lain."
"Pergi kau! Pergi yang jauh! Jangan pernah kau ganggu kehidupan kami lagi!" teriak Sakira mengherankan semua orang.
"Dasar tidak waras!" ejek Aini.
"Kau yang tidak waras!" Sakira masih membalas.
"Sakira, hentikan! Kau sudah membuat malu! Kenapa sih, kamu masih saja membuat ulah. Aku dan Aini sudah putus. Dan takkan mungkin aku kembali padanya," kata Julian terlihat geram.
"Kau jangan bohong! Aku bisa melihat dari tatapan matamu itu. Pasti kau sudah jatuh cinta padanya, kan?"
"Terserah kau saja. Aku capek berurusan dengan mu!"
Karena kesal dengan sikap Sakira, Julian pun pergi meninggalkannya. Dan Sakira semakin murka. Menyalahkan Aini atas segala yang terjadi.
***
Arjun mengajak Aini untuk mencari makanan di tempat lain. Pria itu begitu bahagia saat ini.
"Arjun, maafkan aku ya. Tadi sempat salah bicara."
"Salah bicara apa?"
"Ehm, aku tadi memanggil kamu sayang. itu semua aku lakukan, karena ada Julian."
"Tidak apa, Aini. Kamu kan pacarku, wajar kalau kamu memanggil ku sayang."
"Jangan salah sangka ya. Aku masih sadar, kalau kita cuma pura-pura pacaran."
Senyum Arjun mendadak hilang. Ada sedikit rasa nyeri di dadanya. Jadi, Aini belum juga membuka perasaannya.
"Aini, aku ingin membawamu bertemu dengan nenek ku. Kemarin, aku sudah berjanji akan memperkenalkan kekasih ku pada keluarga ku."
"Hah, benarkah? Kok kesannya mendadak! Aku belum bersiap, Jun."
"Jangan khawatir! Aku sudah mengatur semuanya. Ayo kita ke sebuah tempat, supaya kamu bisa menjadi lebih cantik dari ini!"
Aini tak bisa menolak, saat Arjun membawanya ke salon. Lalu mereka pergi ke butik langganan Arjun.
"Pilihkan pakaian yang paling bagus dan mahal untuk calon istriku ini."
"Ahh, ternyata dia adalah calon istri Tuan Arjun. Baik, serahkan semuanya pada kami!" kata pengelola butik.
Beberapa pegawai butik, memilihkan pakaian untuk Aini. Dan dia terkejut, saat melihat harganya yang begitu fantastis.
"Ini sangat cocok, Tuan!" kata pegawai itu membawa Aini ke hadapan Arjun.
"Hm, tidak. Ini terlalu sederhana!"
"Kalau yang ini?"
"No! Ini sangat norak. Apakah tidak ada lagi pakaian yang lebih cantik dan juga berkelas di butik ini?" seru Arjun tidak sabar.
"Sebentar, Tuan. Kami akan memilihkan pakaian yang lain lagi untuk calon istri anda."
Akhirnya, Aini kembali mengenakan dress berwarna putih, lengkap dengan sepatu serta perhiasannya. Untuk sesaat, Arjun terkesima. Matanya tak berkedip menatap penampilan Aini kali ini.
"Ini baru calon istriku. Ayo sayang, kita harus segera berangkat. Nenek sudah menunggu kedatangan kita," ajaknya menggandeng Aini dengan lembut.
Bersambung...