NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Tatapan Penuh Kasih

Pagi itu, matahari baru saja naik dari ufuk timur, cahayanya menembus celah-celah dinding bambu rumah tua di pinggiran desa Han. Embun masih menempel di rumput, sementara suara ayam dan anjing bercampur dengan riuh rendah kehidupan desa.

Di dalam rumah yang sederhana itu, Lin Feng—yang kini mulai bisa berjalan tertatih—berusaha bangkit dari tikarnya. Kakinya goyah, tubuh kecilnya hampir terjatuh, namun sepasang tangan tua segera meraih dan menopangnya.

“Pelan-pelan, anak kecil,” suara Tetua Qingyun terdengar lembut, berbeda dengan nada keras yang biasa ia gunakan saat berbicara dengan orang dewasa. “Setiap langkah adalah awal dari perjalanan yang panjang.”

Lin Feng menatap wajah renta itu dengan mata bulatnya. Meski belum bisa berbicara banyak, sorot matanya seakan mengerti. Ia tersenyum kecil, memperlihatkan gigi mungil yang baru tumbuh.

Qingyun terdiam sesaat. Senyum polos itu, bagi orang lain mungkin biasa, namun baginya terasa seperti cahaya yang menembus kegelapan masa lalu. Tatapan penuh kasih dari anak kecil itu mengingatkannya pada murid terakhir yang pernah ia miliki—ibu Lin Feng. Senyum yang sama, mata yang sama, hanya dalam wujud yang lebih murni.

***

Hari-hari di Han berjalan sederhana, tapi justru di sanalah Lin Feng tumbuh. Desa itu miskin, namun penuh dengan kehangatan. Para penduduk yang awalnya hanya memandangnya sebagai bayi asing, lama-kelamaan mulai menyayanginya.

Ketika Lin Feng berjalan di jalanan tanah, anak-anak desa sering mengajaknya bermain. Mereka tertawa, berlari bersama, meski pakaiannya compang-camping dan tubuhnya masih lemah. Bagi mereka, Lin Feng hanyalah teman kecil yang butuh ditemani.

Tetua Qingyun mengamati semua itu dengan hati campur aduk. Di satu sisi, ia merasa lega Lin Feng tidak tumbuh sendirian. Di sisi lain, ia tahu cepat atau lambat dunia luar akan datang menuntut—dan saat itu, tawa anak-anak ini mungkin akan lenyap, digantikan dengan air mata.

Suatu sore, setelah seharian membantu penduduk desa memperbaiki pagar bambu, Qingyun kembali ke rumah. Di sana, ia mendapati Lin Feng sedang duduk di pangkuan seorang ibu desa. Wajah bayi itu bersinar penuh kebahagiaan, matanya menatap penuh kasih pada wanita itu, seolah ia menemukan sosok ibu yang hilang.

Tetua Qingyun berhenti di ambang pintu. Hatinya bergetar. Ia melihat bagaimana Lin Feng menatap wanita itu—tatapan polos, tulus, dan penuh kasih sayang. Tatapan yang sama yang dulu pernah diberikan ibu Lin Feng kepadanya, saat menitipkan anaknya di detik-detik terakhir hidupnya.

“Aku… titipkan anakku, Guru…”

Kenangan itu kembali, membuat dada Qingyun terasa sesak. Ia menutup matanya sebentar, menahan emosi yang nyaris meluap.

Wanita desa itu menoleh, menyadari kehadirannya. “Oh, Tetua. Maaf, aku hanya menemaninya sebentar. Anak ini begitu manis, hatiku jadi luluh setiap kali melihat senyumnya.”

Qingyun tersenyum samar. “Tidak apa-apa. Justru aku berterima kasih. Anak ini… memang membutuhkan banyak kasih sayang.”

Ia lalu berjalan mendekat, mengulurkan tangannya. Lin Feng segera meraih jemarinya, seolah tahu siapa yang selalu berada di sisinya. Tatapan penuh kasih dari mata mungil itu kini terarah padanya.

Dalam sekejap, dunia terasa sunyi. Hanya ada dirinya dan anak kecil itu. Tatapan itu menembus jauh ke dalam hatinya, menyingkirkan rasa bersalah, penyesalan, dan kesepian yang ia simpan selama puluhan tahun.

***

Malamnya, setelah Lin Feng tertidur, Qingyun duduk di depan rumah sambil menatap langit berbintang.

“Lin Feng… tatapanmu hari ini…” ia bergumam pelan, “mengapa aku merasa seolah melihat muridku kembali hidup? Kau bukan hanya darah dagingnya. Kau adalah harapan yang ia titipkan padaku. Harapan yang tidak boleh kubiarkan padam.”

Angin malam bertiup lembut, membawa suara jangkrik. Qingyun merasakan keheningan itu seakan menjawab sumpahnya sendiri.

Hari-hari berikutnya, Lin Feng mulai menunjukkan sifatnya yang berbeda dari anak-anak lain. Ia mungkin masih kecil, tapi tatapannya seringkali membuat orang dewasa berhenti sejenak. Ada keteguhan aneh di mata itu, sesuatu yang tidak wajar untuk usianya.

Suatu kali, ketika anak-anak desa bermain, seorang anak yang lebih besar mendorong Lin Feng hingga jatuh ke tanah. Anak-anak lain tertawa, tapi Lin Feng tidak menangis. Ia justru bangkit perlahan, menatap anak yang mendorongnya dengan mata tajam, penuh tekad.

Anak itu terdiam, merasa seolah tubuhnya ditusuk tatapan kecil yang begitu kuat. Ia mundur selangkah, lalu pergi tanpa berani berkata apa-apa.

Penduduk desa yang melihat kejadian itu mulai berbisik.

“Anak itu… tatapannya berbeda.”

“Seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya…”

Tetua Qingyun yang memperhatikan dari kejauhan hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya ia tahu: Darah Sekte Qingyun masih mengalir dalam dirinya.

***

Sore hari, setelah peristiwa itu, Qingyun mengajak Lin Feng berjalan ke bukit kecil di pinggir desa. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh hamparan sawah dan rumah bambu sederhana. Matahari sore memancar keemasan, menyelimuti dunia dengan cahaya hangat.

“Lihat, Lin Feng,” ujar Qingyun, menunjuk ke arah desa. “Itu semua adalah orang-orang yang akan hidup bersamamu. Mereka tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, dan itu lebih baik. Tapi ingatlah satu hal: meski dunia keras, jangan pernah kehilangan tatapan penuh kasih itu. Karena dari situlah kekuatan sejati akan lahir.”

Lin Feng, meski belum mengerti kata-kata itu, menatap desa dengan mata bulatnya. Kemudian ia menoleh ke arah Qingyun, lagi-lagi dengan tatapan penuh kasih.

Qingyun merasakan dadanya hangat. Ia tahu, anak ini akan tumbuh berbeda.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian, orang-orang asing kembali terlihat di sekitar desa. Mereka berpakaian gelap, gerakan mereka terlalu teratur untuk disebut pedagang biasa. Penduduk desa mulai resah, meski mereka tidak tahu bahaya apa yang mengintai.

Tetua Qingyun tahu persis: mereka adalah pemburu.

Malam itu, ia duduk di dalam rumah, memandangi Lin Feng yang sudah tertidur lelap. Wajah polos bayi itu dipenuhi ketenangan, berbeda jauh dengan dunia yang sebenarnya sedang memburu nyawanya.

“Lin Feng…” bisiknya, “tatapan penuh kasihmu adalah anugerah, tapi juga kelemahan. Dunia luar tidak peduli pada kasih sayang. Mereka hanya peduli pada kekuatan. Aku akan melindungimu sampai waktumu tiba. Dan sampai saat itu, aku akan pastikan kau tidak kehilangan cahaya di matamu.”

Ia lalu memadamkan pelita, menatap kegelapan malam dengan kewaspadaan penuh.

Beberapa minggu kemudian, peristiwa yang tak terlupakan terjadi.

Seorang anak desa jatuh sakit parah, tubuhnya panas tinggi, nafasnya tersengal. Orang tua anak itu menangis putus asa, karena tabib desa tidak mampu menolong.

Saat itu, Qingyun datang membawa ramuan herbal yang ia buat sendiri dari tanaman liar di hutan. Ia mengobati anak itu, memandikan dengan air ramuan, lalu memberi cairan pahit dari akar langka.

Semua orang mengira anak itu tidak akan bertahan malam itu. Namun keesokan harinya, demamnya mereda. Nafasnya kembali normal, wajahnya mulai memerah sehat.

Orang tua anak itu berlutut di hadapan Qingyun. “Terima kasih, Tetua. Kau telah menyelamatkan nyawa anakku.”

Lin Feng, yang melihat kejadian itu dengan polos, tiba-tiba meraih tangan orang tua itu dan menatap mereka dengan senyum hangat. Tatapan penuh kasih itu membuat kedua orang tua yang semalaman menangis kini ikut tersenyum.

Sejak hari itu, Lin Feng tidak hanya menjadi “anak dari rumah tua”. Ia mulai dikenal sebagai anak yang membawa keberuntungan, anak yang tatapannya bisa menenangkan hati orang-orang.

***

Tetua Qingyun menyadari sesuatu. Tatapan penuh kasih Lin Feng bukan sekadar bawaan lahir. Itu adalah kekuatan tersembunyi, sebuah warisan dari darah Sekte Qingyun yang suatu hari mungkin akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.

Malam itu, ia berdiri di luar rumah sambil menatap langit.

“Tatapanmu… bisa menenangkan hati, bisa memberi harapan. Tapi suatu hari nanti, aku yakin tatapan itu juga bisa mengguncang dunia.”

Angin malam bertiup, seakan mengamini ucapannya.

Namun di balik semua itu, bahaya terus mendekat. Orang-orang asing yang berkeliaran di sekitar desa kini semakin sering terlihat. Mereka tidak melakukan apa pun, tapi mata mereka mengawasi, menunggu.

Tetua Qingyun tahu waktunya tidak lama.

Ia menatap Lin Feng yang sedang tertidur nyenyak, lalu berbisik dalam hati:

“Lin Feng… dunia akan segera datang menjemputmu, entah kau siap atau tidak. Tapi selama aku masih berdiri, aku akan memastikan tatapan penuh kasihmu tidak pernah padam.”

Dan malam itu, di bawah langit Han yang bertabur bintang, sumpah seorang tetua dan senyum seorang anak kecil berpadu menjadi satu—awal dari takdir yang kelak mengguncang langit dan bumi.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!