Tatapannya hangat dan lembut, ku fikir dia mencintaiku, nyatanya tidak, ada wanita lain dihati suamiku, wanita yang merupakan cinta pertamanya, wanita yang dia kagumi sejak remaja yang tidak bisa dia miliki.
Entahlah aku ini dianggap apa, mungkin dijadikan sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya, atau untuk memberitahu wanita itu kalau dia juga bisa menikah dan melanjutkan hidup meskipun bukan dengan wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KHAWATIR
Saat Tari pulang dari acara pernikahan Marni, Budi juga tidak nampak dirumah, Tari yang suasana hatinya sudah membaik tidak mempermasalahkan akan hal tersebut, fikirnya mungkin suaminya itu belum selesai dengan keperluannya tersebut.
Dan sampai malam menjelang, disini Tari sudah mulai gelisah, "Mas Budi sampai saat ini kok belum balik ya." Tari melarikan indra penglihatannya ke arah jam dinding, disana, jarum jam sudah menunjukkan angka 10.12, kegelisahannya berubah menjadi panik, oleh karna itu dia menghubungi nomer sang suami untuk memastikan apakah suaminya tersebut baik-baik saja apa enggak.
"Lebih baik aku telpon mas Budi saja."
Tari mendial nomer Budi, harapannya tentu saja nomer itu aktif dan panggilannya terjawab, sayangnya, nomer suaminya tidak aktif.
"Kenapa gak aktif." desahnya, dia kembali menghubungi, sayangnya nomer itu masih tidak aktif, dan setelah beberapakali percobaan, Tari menyerah dengan tingkat kepanikan yang semakin memuncak, Tari takut terjadi apa-apa sama Budi.
"Mas, kenapa nomer kamu gak aktif sieh, jangan-jangan terjadi apa-apa lagi." Tari ngeri sendiri dengan fikirannya, membayangkan tubuh suaminya tergeletak dijalanan dengan tubuh bersimbah darah, "Astaga, apa yang aku fikirkan." Tari buru-buru menggeleng untuk menghalau fikiran-fikiran negatif yang menguasai fikirannya, "Mas Budi pasti baik-baik saja, tidak akan terjadi apa-apa dengannya, mungkin saja bateri ponselnya mati saat ini dan dia belum sempat mengecasnya." Tari berusaha mengalihkan fikiran negatifnya menjadi positif, tapi tetap saja rasa khawatir masih bersarang kuat dihati dan fikirannya.
"Apa mungkin mas Budi ada rumah umi dan abi kali ya." maksudnya adalah rumah mertuanya, "Aku lebih baik telpon umi saja." saat Tari sudah akan mendial nomer ibu mertuanya, sejenak dia berfikir, "Tapi apa mungkin mas Budi ada disana, mengingat ini sudah malam, apa mungkin umi dan abi masih terjaga, dan kalaupun iya mas Budi berada disana, dia sudah pasti akan menghubungiku dengan nomer orang tuanya."
"Tapi siapa tahu dia lupa, aku sebaiknya menghubungi umi saja supaya aku tenang."
Akhirnya, meskipun Tari agak segan juga karna harus mengganggu mertuanya, toh Tari menghubungi umi Warsih juga, dan pada detik terakhir panggilannya terjawab.
"Asslammualaikum umi." sapa Tari saat panggilan terhubung.
"Walaikummussalam Tari, ada apa nak telpon malam-malam begini." suara umi Warsih terdengar segar dan tidak seperti orang bangun tidur dengan paksa.
"Tari hanya mau nanya umi, apa mas Budi ada disana umi."
"Budi." suara umi Warsih terdengar heran, "Gak ada tuh, anak itu gak pernah datang sama sekali ke rumah." jelas umi Warsih.
"Terus mas Budi kemana kalau tidak dirumah orang tuanya." Tari bertanya dalam hati.
"Emangnya suami kamu belum pulang."
"Belum umi, tadi pagi mas Budi bilang kalau dia ada keperluan, dan sampai saat ini dia belum balik juga, nomernya juga gak aktif umi saat Tari mencoba menghubunginya." lapor Tari.
"Astaga, kemana sieh anak itu, tidak seperti biasanya dia seperti ini."
"Tari ingin nanya rekan-rekan kerjanya mas Budi umi, tapi Tari gak punya nomernya."
"Tari, kamu sebaiknya tenang ya nak, gak usah panik apalagi berfikir yang macam-macam, Budi pasti baik-baik saja, dia sudah besar dan pasti bisa menjaga diri, umi yakin sebentar lagi dia bakalan pulang." umi Warsih berusaha menenangkan menantunya padahal dia sendiri khawatir.
Tari reflek mengangguk, tapi karna sadar anggukannya tidak akan terlihat oleh umi Warsih dia menjawab, "Iya umi."
"Kamu sebaiknya istirahat ya sayang, jangan tunggu Budi, ini sudah malam, yakinlah kalau sebentar lagi Budi akan pulang dalam keadaan baik-baik saja tanpa kurang apapun."
"Iya umi." setelah itu sambungan terputus.
Meskipun umi Warsih memintanya untuk tidur dan jangan menunggu Budi, namun Tari tidak mematuhi perintah tersebut meskipun dia sudah mengiyakan, pasalnya bagaimana dia bisa istirahat disaat suaminya tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini.
Tari berulangkali melihat jam, sekarang sudah jam 12 teng, jam 12 berubah menjadi jam satu, jam satu menjadi jam tiga, dan entah bagaimana, tapi Tari akhirnya terlelap juga, tidur mampu menghilangkan rasa khawatirnya untuk sementara.
Tari terbangun saat mendengar kumandang azan shubuh dari masjid terdekat, dan sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda kalau suaminya sudah pulang.
"Kemana kamu mas, kenapa belum pulang juga."
Untuk menenangkan hatinya, Tari bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan sholat, selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, diatas gelaran sejadahnya yang terbentang dia berdoa, mendoakan suaminya supaya berada dalam lindungan dari sang maha pencipta.
******
Pagi-pagi sekali, kedua mertua Tari datang ke rumah, sama seperti Tari, mereka juga tentu saja tidak tenang, mereka mengkhawatirkan putra semata wayang mereka.
"Asslamualaikum Tari." suara lembut umi Warsih mengetuk pintu rumah.
"Umi." gumam Tari yang tengah berada diruang tamu bergegas berjalan untuk membuka pintu.
Saat Tari membuka pintu, ditemukan kedua mertuanya dengan wajah khawatir, "Umi, abi." Tari menyalami kedua mertuanya, "Ayok masuk mi, bi." Tari mempersilahkan.
Tari berjalan didepan sedangkan mertuanya mengekor dibelakang.
"Gimana nak, apa Budi sudah pulang." tanya umi Warsih.
"Belum umi, sampai saat ini mas Budi belum balik juga, Tari juga tadi kembali menghubungi nomernya mas Budi, tapi masih tetap gak aktif." jelas Tari.
"Bi, bagaimana ini, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan anak itu." mata umi Warsih kini mulai berkaca-kaca.
"Tenang umi, Budi pasti baik-baik saja, umi jangan berfikir yang aneh-aneh." abi Sholeh berusaha menenangkan istrinya.
"Gimana umi tidak berfikir yang aneh-aneh abi, anak kita pergi sejak kemarin, dan sampai saat ini belum kembali juga."
"Apa sebaiknya kita lapor polisi aja ya mi." Tari menyarankan.
Abi Sholeh akan menjawab, tapi sebelum itu, hp abi Sholeh lebih dulu berbunyi, abi Sholeh langsung menjawab panggilan tersebut.
"Budi, kamu dimana saja hahh, kamu membuat semua orang khawatir tahu gak." yang menelpon abi Sholeh ternyata adalah Budi, dan abi Sholeh memarahi anak laki-lakinya itu mengingat tuh anak telah membuat semua orang khawatir.
"Itu Budi bi, sini bi biar umi yang bicara." umi Warsih main ngambil tuh ponsel.
Dalam hati Tari, "Itu mas Budi ya, kenapa mas Budi malah menelpon abi terlebih dahulu, kenapa tidak menghubungi aku." ada sedikit rasa sedih di hati Tari saat suaminya lebih memilih menelpon abi Sholeh terlebih dahulu, dia menatap layar ponselnya yang menyala ditangannya, puluhan panggilan dan chat yang dia kirim ke suaminya yang tidak mendapatkan balasan, "Tapi ya sudahlah, ngapain hal-hal beginian harus aku permasalahin, yang penting mas Budi baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup."
"Nak, apa kamu baik-baik saja, dimana sieh kamu sebenarnya." tanya umi Warsih.
"............."
"Kenapa hp dimatiin, kami terutama Tari sangat khawatir lho." umi Warsih menoleh ke arah menantunya.
"............"
"Iya gak apa-apa nak, kamu gak perlu meminta maaf, yang penting umi tahu kamu tidak apa-apa itu sudah lebih dari cukup."
"..........."
"Apa kamu mau ngomong sama Tari."
"............."
Tari berharap bisa ngomong meskipun hanya sebentar hanya untuk mendengar suara suaminya, sayangnya Budi menolak, itu Tari ketahui dari jawaban umi.
"Ohh baiklah kalau begitu, langsung pulang ya nak, hati-hati dijalan nak."
"..........."
Setelah itu sambungan terputus, kedua orang tua Budi terlihat lega, tapi tidak begitu dengan Tari, maksudnya Tari lega sieh, dia bersyukur Budi baik-baik saja, hanya saja rasanya sedikit sesak karna suaminya itu bahkan tidak mau ngomong dengannya.
"Mas Budi katanya ada dimana mi." Tari bertanya dengan nada lemah.
"Anak itu katanya ada keperluan dengan temannya, ini sudah mau pulang."
"Ohh." Tari mengangguk pelan.
"Sepenting itukah keperluannya sampai tidak sempat mengabari." batin Tari.
*******
hati& pikiran mu ke orang Lain...
giliran sudah menikah dengan Fitri
hati mu ke Tari...
penyesalan selalu datang belakangan an
lanjut Thor ceritanya di tunggu updatenya