NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Keinginan Balas Dendam

Lama keheningan tercipta di antara keduanya, sampai deringan telepon memecah kesunyian itu. Baik Sagara maupun Nara sama-sama menoleh ke arah benda pipih itu berdering.

"Dari Ibu." Nara segera meraih telepon dan mengangkatnya.

"Assalamualaikum, Ibu. Gimana? Udah nyampe? Siapa yang jemput? Uwa baik-baik saja 'kan?" Belum juga ibunya menyahut di sana. Nara sudah memberondongnya dengan pertanyaan.

"Waalaikumsalam ... aduh! Pertanyaanmu, satu-satunya kenapa? Bingung Ibu mau jawab yang mana dulu," keluh ibunya di seberang telepon.

Nara meringis, menggaruk kepalanya. "Ya gimana? Orang penasaran," ujarnya membela diri.

Terdengar helaan napas dari ibunya di seberang sana. "Iya, Ibu udah nyampe dari tadi. Dijemput sama sepupumu Arman," jawab ibunya. "Uwamu Alhamdulillah baik-baik saja, hanya terlalu kecapaian saja. Dokter menyarankan untuk istirahat total beberapa hari."

"Hmmm, syukurlah kalau begitu." Nara menghela napas lega.

"Tapi, Ibu kayaknya akan menginap dulu di sini barang sehari atau dua hari. Uwamu mau ditemani. Kamu baik-baik di rumah sama suamimu, jangan lupa di kasih makan. Dan jangan masak mie!" peringat Ratna keras.

Lagi-lagi Nara meringis, ibunya sudah seperti cenayang saja karena baru saja ia memikirkan untuk makan malam dengan mie. Makanan sejuta umat yang paling simpel dan praktis dimasak.

"Iya, Bu. Iyaaa ..." Nara angguk-angguk walaupun tahu ibunya tidak melihat di sana.

Ratna berbincang lagi sejenak, memberi wejangan untuk sang anak. Lalu berbicara beberapa hal dengan menantunya, kemudian telepon pun berakhir.

"Bicara apa sama Ibu?" tanya Nara usai telepon mereka berakhir dan Sagara mengembalikan ponselnya.

"Hanya pembicaraan antara menantu dan Ibu mertua," jawab Sagara mengedipkan bahu.

"Iya, bicara apa?!" tanya Nara penasaran.

"Ya, pembicaraan biasa. Kamu kepo sekali," balas pria itu sekenanya yang membuat Nara jengkel.

"Lama-lama kamu jengkelin juga, ya." Nara mendengus, lalu pergi dari sana. Meninggalkan Sagara di ruang tamu dengan tayangan sinetron dari aktor yang membuat Nara memaki dengan sepenuh hati.

***

Nara menghentakkan kakinya kesal sepanjang koridor menuju dapur. "Ditanya baik-baik malah sok rahasiaan," gerutunya pelan.

Ia menarik kursi meja makan dan duduk di sana. Merogoh saku mengeluarkan ponselnya dan entah dorongan iblis dari mana, jarinya justru bergerak membuka salah satu aplikasi media sosial.

Di kolom pencarian, sebuah nama yang sudah sangat dihafalnya luar kepala diketikkan dengan ragu namun pasti.

Nara menopang dagunya, menatap layar dengan tatapan yang berangsur-angsur meredup, lalu berubah menjadi dingin.

Di sana, di barisan feed yang terpampang rapi, kehidupan pria itu tampak seperti biasanya. Tidak, bahkan terlihat jauh lebih bersinar dari sebelumnya. Ada foto mantannya yang sedang tersenyum lebar di depan sebuah mobil baru, lengkap dengan caption puitis tentang pencapaian dan kerja keras yang telah dilakukannya.

Nara terkekeh sinis, dadanya mendadak terasa sesak oleh gemuruh amarah. Kerja keras kepalamu, batin Nara berteriak murka.

Berbanding terbalik dengan dirinya yang sampai detik ini masih kerap dibayang-bayangi oleh rasa sakit hati akibat pengkhianatan keji pria itu, si pelaku malah melenggang bahagia tanpa beban.

Ego Nara memberontak. Ia menyayangkan setiap tetes keringat, materi, tenaga, dan waktu bertahun-tahun yang telah ia korbankan demi menyokong pria itu.

Dulu, Nara rela berhemat dan memprioritaskan impian pria itu agar bisa mencapai puncak kariernya seperti sekarang.

Namun, apa balasannya? Begitu berada di atas, Nara dicampakkan begitu saja seperti seonggok barang tak berguna. Pria brengsek itu mengkhianatinya dengan alasan yang membuatnya muak setengah mati jika mengingatnya kembali.

Hanya karena dirinya teguh menjaga kehormatannya dan menolak melakukan hubungan intim sebelum menikah, pria itu langsung berselingkuh di belakangnya.

Yang paling menyakitkan, tanpa tahu malu pria itu justru memutarbalikkan fakta, mencacinya sebagai perempuan kolot, dan menghina penampilannya yang dianggap tidak sebanding dengan pesonanya yang tengah naik daun.

"Yeah, nikmatilah puncak kariermu saat ini sebelum semuanya memudar," gumam Nara dingin, jemarinya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Tatapannya menatap tajam foto di layar ponsel. Rasa sakit yang bertransformasi menjadi dendam itu mendidih di dalam dadanya. Nara bersumpah harus membuat pria itu jatuh terjungkal, merasakan kehancuran yang sama hancurnya atau bahkan lebih parah dari apa yang pernah ia rasakan.

"Kamu ngapain?"

Nara terlonjak kaget sampai ponsel di genggamannya hampir saja jatuh ke lantai. Dengan gerakan secepat kilat, ia menekan tombol power, mematikan layar, dan menyembunyikan benda pipih itu di balik punggungnya.

Sagara sudah berdiri di ambang pintu dapur, bersandar pada kusen pintu sambil melipat kedua tangan di dada. Matanya menyipit penuh selidik menatap gerak-gerik mencurigakan Nara.

"Kenapa suka sekali mengagetkan!" ketus Nara kegugupan.

"Kamunya aja yang suka melamun, awas loh nanti kesambet. Aku tidak mau nanti ada berita 'Istri Sagara Kerasukan'."

Nara berdecih mendengar perkataan pria itu, benar-benar semakin menyebalkan.

"Jadi, lagi ngapain?" Pria itu bertanya kembali. Pasalnya, Nara begitu lama di dapur dan meninggalkannya seorang diri di depan layar televisi.

Nara menyimpan ponselnya di atas meja, lalu berjalan menuju kulkas. "Mau masak mie buat nemenin nonton TV, mau juga?" jawabnya yang berakhir menjadi tawaran. Tidak mungkin ia menjawab jujur kalau dirinya tengah mengepoin mantan.

Sagara berpikir sejenak. "Ummh ... boleh deh."

Nara membuka kulkas, mengambil beberapa lembar sawi hijau serta dua telur dari sana. "Pake cabe?"

"Ya, dua aja."

Nara membawa bahan-bahan itu ke dekat wastafel, lalu meraih pisau dapur. Pikirannya masih kacau, setengahnya tertinggal di profil media sosial sang mantan dan setengahnya lagi akibat kepanikan karena kedatangan Sagara yang tiba-tiba. Ia pun mulai memotong sawi dengan gerakan cepat dan tidak fokus.

Pluk!

"Aww!" Nara memekik kecil, refleks menjatuhkan pisaunya ke atas talenan. Rasa perih yang tajam menyengat mendadak menyerang jari telunjuk kirinya.

Ketika ia melihatnya, cairan kental berwarna merah segar sudah mengalir keluar dengan cepat dari goresan luka yang lumayan dalam.

"Kamu kenapa ceroboh sekali!" Suara Sagara meninggi, bukan karena marah, melainkan karena panik.

Pria itu langsung menyambar pergelangan tangan Nara dengan gerakan cepat, menariknya ke bawah aliran air wastafel yang mengalir pelan untuk membersihkan darahnya.

"Tunggu di sini, jangan dipegang-pegang dulu lukanya," perintahnya tegas.

Pria itu setengah berlari meninggalkan dapur dan kembali beberapa saat kemudian dengan kotak P3K di tangannya yang ia ambil di meja ruang tamu belakang televisi.

Dengan telaten dan cekatan Sagara menekan luka Nara dengan kasa steril, memberikan antiseptik yang membuat Nara meringis menahan perih, lalu membalutnya rapi dengan plester.

"Makanya, kalau kerja itu fokus. Jangan keseringan melamun," omel Sagara setelah selesai. Ia membereskan kembali kotak obat itu.

Nara mengerucutkan bibirnya. "Ya namanya juga musibah."

"Sudah, kamu duduk saja di sana. Istirahat. Biar aku yang lanjut masaknya," cetus pria itu, mencari karet nasi simpanan mertuanya lalu mengingat rambutnya agar lebih nyaman memasak.

Nara menatap pria itu dengan pandangan sangsi. "Memangnya kamu bisa masak? Jangan sampai mienya lembek kayak bubur, ya. Aku nggak akan bakalan mau makan."

"Hais, jangan terlalu meremehkanku."

***

Bersambung ...

1
Maseni Maseni
perasaanmu sudah terjawsb oleh sagara ga usah repot cari cari cara ya nara

cukup layani suamimu, hormati, jaga dari pelakor
dijamin bucin tuh Aa saga
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
Maseni Maseni
awalnya nara kasihan ma sagara yg tersiksa , nanti tinggal nara yg tersiksa

lanjut kak
Maseni Maseni
kalau orang kaya tuh makanya getuk ya nara😀

wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
Anvika: Siap Kak🤗🥰
total 1 replies
Maseni Maseni
huahaha nara takut digigit ibu mertua
Maseni Maseni
hahaha nara lucu, ditanya ukuran malah marah .....tinggal bilang aja size 38 cup B😀

mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
Anvika: Heheh, malu dia Kak🤭

Siap Kak, makasih juga sudah membaca karyaku🥰🥰💕
total 1 replies
Maseni Maseni
nah gitu dong nara..... balas dendamnya cantik halus
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara

lanjut /Coffee//Rose/
Anvika: Siap Kak💕
total 1 replies
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤💞💞💞😘😘😘👍👍👍👌👌👌
Anvika: Siap Kak😍🥰🥰🥰
total 1 replies
Maseni Maseni
wuih bisa balas kesongongan sang mantan nih

balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
Anvika: Siap dilanjut, kak🤗
total 1 replies
Maseni Maseni
wah bakal ada tantangan besar nih buat sagara, memperjuangkan cintanya atau jadi anak yang takut miskin?

hayo pilih mana kak othornya
Anvika: Sagara sudah bucin mampus Kak 🤭 jadi milih jadi miskin beliau 😁
total 1 replies
Maseni Maseni
ayo gara cari tau ke ibu mertua apakah istrimu pergi ke jakarta? jangan lupa minta alamatnya

atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara

lanjut kak 😍
Maseni Maseni: yesss
total 2 replies
fabdul
Lanjut💪
Anvika: Siap 😊
total 1 replies
Maseni Maseni
balas dendamnya dibantu suami ya nara
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
Anvika: Siap Kak🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
sakit ya. bang... cinta blm berbalas....
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
Maulidia Okta
sabar bang.... emang rada sulit njelasin orang yg tetlanjur sakit hati..
Maulidia Okta
bucin bang...
Anvika: Bucin dia Kak 🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
mau nalas dendam nich ceritanya
Maulidia Okta
ikut penasaran thor
Maulidia Okta
semakin menggelitik pesona sagara.....
Maseni Maseni
makin dibaca makin asyik nih cerita
Anvika: Wahhh, makasih Kak 🤗 😍
total 1 replies
Maseni Maseni
betul bu ratna, cara menampar mulut tetangga macam nurlela tuh emang harus dengan kepastian

lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍
Anvika: Siap Kak, makasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!