NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Tawaran Pak Frans dan Sikap Judes Clara

Teng... teng... teng...

Lonceng nyaring tanda berakhirnya seluruh kegiatan belajar-mengajar akhirnya bergaung keras ke setiap sudut koridor sekolah. Gelombang suara riuh siswa-siswi yang bersorak lega langsung menyusul, berhamburan keluar dari dalam ruang kelas masing-masing menuju area pintu gerbang utama.

Aku merapikan buku-buku pelajaran di atas meja, memasukkannya ke dalam tas punggung hitamku yang mulai agak memudar warnanya, lalu memakai jaket tipis sebelum melangkah keluar dari area gedung sekolah. Sebagai Ketua OSIS, aku sempat berjalan memutari koridor sebentar untuk memastikan lingkungan sekolah sudah cukup kondusif sebelum aku pulang.

Namun, saat aku menuntun motor tua peninggalan almarhum bapakku melewati pintu gerbang utama, pandanganku mendadak tertuju pada sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir sangat anggun di pinggir jalan. Kaca mobil bagian belakang perlahan diturunkan, dan sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan pakaian setelan jas sangat rapi melangkah keluar dari dalam kabin.

Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Pak Frans Sanjaya—ayah kandung Clara.

Mata Pak Frans langsung berbinar saat melihat keberadaanku di dekat gerbang. Dia mengisyaratkan pengawalnya untuk tetap berada di dekat mobil, sementara dirinya melangkah dengan senyum ramah yang amat hangat menghampiri posisiku.

"Selamat sore, Nak Arkan!" sapa Pak Frans dengan suara beratnya yang penuh wibawa namun sangat bersahabat.

Aku yang agak terkejut langsung menghentikan laju motorku, menegakkan posisi berdiri, lalu membungkukkan badan sedikit memberi hormat. "Selamat sore, Pak Frans. Ada apa ya, Pak? Kok Pak Frans sendiri yang turun menjemput Clara hari ini?"

Pak Frans terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk bahuku dengan akrab. "Iya, Nak Arkan. Hari ini bapak sengaja luangkan waktu buat jemput Clara langsung dari sekolah. Soalnya nanti malam keluarga besar kami mau mengadakan acara makan malam bersama di restoran. Oh ya, sekalian saja... Nak Arkan ikut makan malam bersama kami nanti ya?"

Mendengar ajakan spontan yang teramat mendadak dari seorang pemilik konglomerat besar itu, aku langsung memelototkan mata heran bercampur sungkan. "Aduh, Pak Frans... Terima kasih banyak atas ajakannya, tapi sepertinya tidak perlu, Pak. Saya rasa acara makan malam keluarga Pak Frans itu sifatnya sangat pribadi. Lagipula saya harus langsung pulang untuk membersihkan rumah dan persiapan belajar."

Pak Frans menggelengkan kepala cepat, memegang lengan jaketku seolah enggan menerima penolakan. "Ah, tidak ada alasan begitu! Nak Arkan ini sudah Bapak anggap seperti bagian dari penolong keluarga Sanjaya. Wajib hukumnya Nak Arkan datang! Bapak tidak mau menerima penolakan ya."

Aku meringis pelan, merasa makin tak enak hati melihat kesungguhan beliau yang terus memaksa. Sebelum aku sempat mencari alasan halus lainnya untuk menolak, Pak Frans mendekatkan posisinya sedikit, mengubah raut wajahnya menjadi agak serius.

"Sebenarnya... selain mau mengajak makan malam, ada satu hal penting yang mau Bapak tanyakan pada Nak Arkan," ujar Pak Frans pelan, pandangan matanya menatap lurus ke mataku.

"Soal apa ya, Pak?" tanyaku penasaran.

"Nak Arkan... teman kamu yang waktu itu ikut menolong di gudang tua... siapa namanya tadi? Nak Egi, kan?" tanya Pak Frans memastikan. "Apakah dia sampai sekarang masih bekerja mengantar air galon isi ulang di depot?"

Aku mengangguk pelan. "Iya, benar Pak. Egi masih bekerja di depot air yang sama. Memangnya ada apa ya dengan Egi, Pak?"

Pak Frans menghela napas panjang, merogoh saku jasnya sejenak. "Begini loh, Nak Arkan... Saat ini, perusahaan pusat Sanjaya Group sedang membutuhkan tambahan pengawal pribadi dan staf keamanan khusus yang bisa Bapak percaya sepenuhnya. Apalagi setelah insiden penyekapan minggu lalu, Bapak jadi makin selektif soal orang-orang di sekitar keluarga. Nah, kemarin Bapak teringat ketangguhan Nak Arkan dan Nak Egi waktu melumpuhkan sepuluh penculik itu."

Pak Frans tersenyum tipis seraya melanjutkan, "Mau merekrut Nak Arkan kan tidak mungkin, Nak Arkan ini masih anak sekolah dan harus fokus menuntaskan pendidikan. Makanya Bapak terpikir untuk menawarkan posisi ini pada teman kamu, Nak Egi. Gaji dan fasilitas yang kami sediakan sangat lumayan, jauh di atas standar biasa. Menurut Nak Arkan bagaimana?"

Mata berbinar lega mendadak membuncah di dalam dadaku. Aku tahu betul betapa gigihnya Egi bekerja membanting tulang setiap hari demi mengumpulkan uang tabungan untuk meminang Astrid, kekasih hatinya. Jika tawaran emas ini benar-benar jatuh ke tangannya, itu akan menjadi jalan keluar yang luar biasa bagi masa depannya!

"Wah, itu tawaran yang sangat luar biasa bagus, Pak Frans!" balasku penuh semangat. "Egi itu orangnya sangat bertanggung jawab, jujur, dan pekerja keras. Saya yakin dia pasti sangat tertarik dan bersyukur mendapat kesempatan ini."

Pak Frans tersenyum puas mendengarnya. "Bagus kalau begitu. Jadi... bisa kamu bantu Bapak untuk menghubungkan dan membawa Nak Egi bertemu dengan Bapak nanti malam pas kita makan malam bersama? Sekalian kita bicarakan kontrak kerjanya secara resmi di restoran."

"Bisa banget, Pak! Nanti saya sampaikan ke—"

Kalimatku yang belum selesai mendadak terputus kasar saat sebuah teriakan melengking nan heboh terdengar memotong pembicaraan kami dari arah koridor dalam gerbang.

"PAPIIII!"

Langkah kaki tergesa-gesa dengan bunyi sepatu yang menghentak tanah terdengar mendekat. Clara Adelin berlari kecil menghampiri mobil mewahnya membawa tas sekolah mahalnya, diikuti Pak Jhon dari belakang. Namun, saat mata indahnya melihatku sedang berdiri sangat dekat dan berdiskusi akrab dengan ayahnya, raut wajah cantiknya langsung berubah menjadi sangat lipat dan penuh curiga.

"Eits! Ngapain lo berdiri dekat-dekat sama Papi gue?!" seru Clara ketus, melipat tangan di dada seraya menatapku dengan tatapan mematikan. Dia lalu beralih menatap ayahnya dengan cemas. "Papi! Jangan dengerin dia! Dia ini aduin apa saja soal Clara sama Papi?! Dia pasti mau jelek-jelekin Clara kan, Pih?!"

Aku hanya bisa mengelus dada, menahan napas menghadapi tuduhan bertubi-tubi dari gadis manja ini. "Aduh Nona Clara... Tidak ada yang mengadukan Kamu kok. Kami cuma lagi—"

"Diem lo! Gue enggak bicara sama lo ya!" potong Clara cepat tanpa memberi ruang untukku menjelaskan.

Tanpa membuang waktu lagi, Clara langsung meraih lengan jas ayahnya, menarik tangan Pak Frans secara paksa menuju arah pintu mobil sedan yang terbuka. "Ayo Papi masuk! Nggak usah ngomong sama Ketos jahat ini! Mending kita berangkat sekarang, Clara udah laper banget ini!"

Pak Frans hanya bisa memegang dahinya, menatapku dengan raut wajah sangat canggung bercampur penyesalan atas tingkah kurang ajar putrinya. "Nak Arkan, Bapak minta maaf ya atas sikap Clara... Pokoknya nanti malam jam tujuh Bapak tunggu kamu dan Egi di Restoran Nusantara ya! Jangan lupa!"

"Siap, Pak Frans! Hati-hati di jalan," jawabku seraya tersenyum mengangguk.

Pak Frans akhirnya pasrah ditarik masuk ke dalam kabin belakang oleh Clara. Pintu sedan mewah itu ditutup rapat oleh Pak Jhon, dan kendaraan perak-hitam tersebut perlahan melaju meninggalkan area sekolah.

Di dalam kabin sedan mewah yang dingin dan sejuk oleh pendingin udara, suasana mendadak agak tegang. Clara menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk, melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah judes yang sangat ditekuk.

"Papi!" rengek Clara seraya menengok ke arah ayahnya.

"Clara cuma minta satu hal deh sama Papi... Tolong stop ngobrol atau akrab-akrab sama si Ketos jahat itu! Kesel banget Clara lihatnya!"

Pak Frans menoleh ke arah putri tunggalnya, lalu terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala heran. "Dia itu sama sekali tidak jahat kok, Sayang. Kamu tenang saja. Lagipula... tadi Papi sempat dengar kamu panggil dia apa?"

"Ketos jahat!" jawab Clara cepat tanpa ragu sedikit pun. "Di sekolah dia itu sukanya cari-cari kesalahan Clara terus, Pih!

Barang-barang kosmetik Clara disita, terus kemarin pas razia Clara sama Diana dibilang bodoh! Papi kok malah kelihatannya senang banget ngobrol sama dia?!"

Pak Frans tersenyum penuh arti, mengelus lembut rambut bergelombang putrinya dengan tatapan mata seorang ayah yang penuh kasih sayang.

"Oh... jadi Nak Arkan itu rupanya Ketua OSIS di sekolah kamu toh," ujar Pak Frans lembut. "Sayang... dengarkan

Papi baik-baik ya. Nak Arkan itu sama sekali tidak jahat seperti yang kamu pikirkan. Kamu itu cuma belum kenal dia lebih dalam saja."

Pak Frans menatap lurus mata Clara, lalu bersuara dengan nada bicara yang teramat mantap. "Kalau kamu tahu orang seperti apa Nak Arkan sebenarnya... dan kalau kamu tahu apa saja hal besar yang sudah dia lakukan... Papi sangat yakin, kamu pasti tidak mungkin tega bilang dia jahat lagi."

Mendengar sang ayah yang justru terkesan membela mati-matian cowok yang paling dibencinya di sekolah, muka judes Clara kembali muncul dengan sempurna. Dia membuang mukanya ke luar jendela, menatap jalanan kota yang ramai dengan bibir dipanyunkan maksimal.

"Apaan sih, Papi!" gerutu Clara kesal dalam hati. "Kok Papi malah belain si Ketos jahat itu sih?! Awas aja ya, nanti malam kalau dia beneran datang ke restoran, aku kerjain habis-habisan!"

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!