Dikhianati oleh dua orang yang paling ia percayai—tunangannya dan adiknya sendiri—Aluna Kirana kehilangan semua alasan untuk tetap hidup. Di tengah malam yang basah oleh hujan dan luka yang tak bisa diseka, ia berdiri di tepi jembatan sungai, siap menyerahkan segalanya pada arus yang tak berperasaan.
Namun takdir punya rencana lain.
Zayyan Raksa Pradipta, seorang pemadam kebakaran muda yang dikenal pemberani, tak sengaja melintasi jembatan itu saat melihat sosok wanita yang hendak melompat. Di tengah deras hujan dan desakan waktu, ia menyelamatkan Aluna—bukan hanya dari maut, tapi dari kehancuran dirinya sendiri.
Pertemuan mereka menjadi awal dari kisah yang tak pernah mereka bayangkan. Dua jiwa yang sama-sama terbakar luka, saling menemukan arti hidup di tengah kepedihan. Zayyan, yang menyimpan rahasia besar dari masa lalunya, mulai membuka hati. Sedangkan Aluna, perlahan belajar berdiri kembali—bukan karena cinta, tapi karena seseorang yang mengajarkannya bahwa ia pantas dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Aluna menggenggam cangkir itu, merasakan kehangatan mengalir ke telapak tangannya yang dingin. Untuk pertama kalinya malam itu, matanya berkaca-kaca bukan karena sakit, tapi karena rasa terima kasih yang dalam.
Aluna mengangguk pelan, lalu perlahan duduk di pinggir tempat tidur. Zayyan tersenyum kecil, lalu meninggalkannya sendiri agar bisa beristirahat.
...----------------...
Malam turun semakin larut.
Di luar jendela, bulan diselimuti awan tipis, dan suara angin terdengar seperti bisikan-bisikan hampa.
Aluna berbaring di atas kasur, menatap langit-langit kamar barunya yang terasa asing.
Tapi matanya tetap terbuka.
Pikiran-pikiran buruk berputar di kepalanya, menghantam tanpa henti.
"Bagaimana kalau aku salah? Bagaimana kalau aku hanya melarikan diri dari masalah?Bagaimana kalau aku memang tidak pantas untuk bahagia?"
Dengan langkah pelan, ia bangkit dari tempat tidur. Menarik jaket tipis yang tergantung di kursi, dan membuka pintu kamarnya secara perlahan.
Ruang tamu itu diterangi hanya oleh satu lampu kecil di sudut ruangan.
Cahaya hangat itu memantulkan bayangan-bayangan panjang di dinding.
Aluna duduk di sofa, menarik lututnya ke dada, dan memandang kosong ke arah jendela.
Diam-diam, air mata mengalir lagi di pipinya.
Tak lama, suara langkah pelan terdengar.
Zayyan, mengenakan kaus abu-abu dan celana pendek, muncul dari koridor.
Ia berdiri sebentar, menatap punggung kecil itu—begitu sendiri, begitu patah.
Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan mendekat, lalu duduk di sofa sebelah Aluna.
"Tak bisa tidur?" tanyanya perlahan.
Aluna menggeleng, menunduk semakin dalam.
Zayyan menunggu. Ia tahu kadang, diam adalah bahasa yang lebih kuat daripada ribuan kata.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Aluna membuka suara, nyaris berbisik:
"Aku selalu merasa tidak pernah cukup."
Suara itu pecah di akhir kalimat, seolah beban itu terlalu berat untuk diucapkan.
Matanya menatap kosong ke arah jendela, bibirnya bergetar.
"Sejak kecil... aku berusaha menjadi anak baik. Aku belajar dengan keras, membantu di rumah, berusaha membuat mereka bangga padaku tapi tetap saja, apa pun yang kulakukan... mereka tidak pernah benar-benar melihatku. Tidak pernah benar-benar menyayangiku."
Zayyan menggeser duduknya sedikit lebih dekat, menatap gadis itu dengan mata yang penuh kesabaran.
Aluna mengusap air matanya dengan punggung tangan, tapi itu sia-sia. Tangis itu terus saja keluar, tanpa bisa dibendung.
"Aku lelah," bisiknya. "Aku lelah berusaha keras untuk bisa mendapatkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kudapatkan."
Mendengar itu, Zayyan merasa dadanya sesak.
Ia mengulurkan tangan, perlahan, dan menyentuh punggung tangan Aluna dengan hangat.
"Aluna..." suaranya rendah, dalam, seolah berbicara langsung ke luka-luka di hati gadis itu.
"Kau tidak harus membuktikan apa-apa," katanya, tegas tapi lembut.
"Cukup jadi dirimu. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti tetesan hujan pertama setelah musim kemarau panjang.
Aluna menoleh, matanya membelalak sedikit.
Ada sesuatu dalam tatapan Zayyan—sebuah ketulusan yang tidak memerlukan syarat apapun.
Sebuah pengakuan diam-diam, bahwa untuk pertama kalinya, ia dicintai tanpa harus menjadi 'sempurna'.
Malam itu, di bawah cahaya lampu temaram dan bisikan angin yang melewati jendela, sesuatu berubah.
Sesuatu tumbuh perlahan di antara luka dan ketakutan:
Sebuah kepercayaan kecil.
Sebuah rasa bahwa mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aluna bisa berhenti berlari.
Ia tidak lagi sendiri.
Dan meski dunia pernah menolaknya berkali-kali, malam ini ada satu orang—satu dunia kecil—yang tetap memilih untuk tinggal.
Bersama dia.
itu sakitnya double
bdw tetap semangat/Determined//Determined//Determined//Determined/