tolong follow akun ini 🙏🙏
sebagian bab di hapus untuk kepentingan pribadi ❤
namaku Risa usiaku 21 tahun, suatu hari ketika aku sedang melaksanakan tugasku untuk bertemu dengan seseorang tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku dan memanggilku
'ibu'
"Ibu! ibu! apa kamu datang untuk menjemputku sekolah?"
bagaimana nasib Risa yang harus berpura-pura menjadi Ibunya dari anak itu?
bagaimana kehidupannya yang masih muda harus menjadi seorang ibu?
selain itu Risa juga harus menghadapi sifat ayahnya yang sangat posesif terhadapnya..
ikuti cerita ini terus ya ~~~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Why Meet?
[flashback Last Night]
Risa masih terdiam memeluk lututnya, setelah ciuman yang sangat menguras hati Risa akhirnya harus pasrah berakhir diatas ranjang Lian.
“ayolah, jangan memasang wajah seperti itu”
Lian membuka Tuxedo yang dia kenakan, membukanya tanpa ragu-ragu, lalu Melepaskan satu persatu pakaian yang meletak di tubuhnya.
“kamu mau apa?” tanya Risa terkejut melihat Lian yang sudah bertelanjang dada hanya menyisakan celana pendeknya, “jangan melakukan hal yang aneh-aneh!”
Lian tertawa melihat wajah Risa menendang, bola mata Risa membulat sempurna membuat Lian gemas ingin menciumi wajah gadis itu lagi
“aku mau mandi Risa, memangnya kamu tidak mau mandi sebelum tidur? dan apa maksudmu dengan hal aneh-aneh?”
Sebelah alis Lian terangkat, pria itu masih berdiri memamerkan otot-otot perutnya yang terbentuk sempurna, membuat tenggorokan Risa terasa begitu kering, Risa terus mengingatkan dirinya agar tidak menatap tubuh Lian, tapi apa daya matanya berkhianat tidak bisa lepas dari setiap lekuk tubuh Lian.
“kamu hampir saja meneteskan air liurmu, Nona Song!”
sudut bibir Lian terangkat, ada rasa senang tersendiri baginya menggoda Risa.
“dan kamu masih belum menjawab pertanyaanku”
Risa gelagapan bukan main saat Lian sudah di depannya, entah bagaimana caranya pria itu menaiki ranjang, yang pasti Lian kini tengah duduk menyila menatap Risa yang merunduk dalam-dalam.
Pertanyaan yang mana? Rasanya terlalu banyak pertanyaan yang Lian lontarkan malam ini, pertama adalah pertanyaan saat mereka di sofa tadi hingga Risa yang mengharuskan merelakan nasibnya terkapar di atas ranjang Lian.
*Apa yang membuatmu berubah?
Kenapa kamu terlihat menghindariku?
Apa aku seperti virus?
Saat Lian bertanya seperti itu, rasanya Risa ingin sekali berteriak di depan wajahnya tampannya.
'Aku tidak berubah, aku hanya tidak mau menelan rasa sakit sendiri ketika aku benar-benar tidak bisa meninggalkanmu dan Kevin, aku tidak menghindarimu, aku hanya menjaga kesehatan jantung dan hatiku, kamu memang virus sialan yang membuat degup jantungku terus bertalu menjangkitku dengan perasaan rasa tiada ampun.'
“aku serius Risa” Lian mengangkat dagu Risa
“Be Mine, okey?”
Bukannya Risa tidak mau menjadi milik Lian, sejak tadi hatinya terus berteriak 'i am yours' tapi ada hal yang harus diutamakan sebelum perasaan, Logikakah?Logika masih tidak mampu mencerna perasaan sendiri.
“jangan terlalu banyak berpikir”
Lian mengecup pelan kening Risa, lalu pindah mengecup pelan kelopak mata Risa hingga berakhir di bibir peach Risa yang sejak tadi menutup rapat.
“aku tahu ini mengejutkanmu, aku tidak tahu apa perasaanku padamu cukup untuk dikatakan cinta, yang pasti aku tidak suka kamu berdekatan dengan pria lain.”
Tangan besar Lian sudah memegang erat tangan Risa mencoba menyakinkan gadis didepannya.
“aku tidak akan menjanjikan banyak hal, tapi aku bisa menjanjikan satu hal, selama kamu menjadi milikku, sudah kupastikan jika hatiku seutuhnya akan menjadi milikmu”
[End off flashback]
Risa mengambil es krim dari tangan Lian, matanya masih memperhatikan kereta mini yang berjalan yang sedang di naiki Kevin.
“kenapa melamun?”
perasaan Risa atau memang hari ini Lian menjadi lebih cerewet.
Mata Risa menatap lekat es krim yang ada di digenggamannya dia masih ingat dengan jelas insiden beberapa bulan lalu, es krim, Kevin, alergi, dan kemarahan Lian.
“jangan melamun terus”
Lian mengambil alih es krim yang sudah mencair membasahi jemari Risa, tanpa diduga Lian menjilati jemari Risa yang terkena lelehan es krim.
“sudah bersih”
Lian menyeringai puas melihat Risa yang membulatkan mulutnya tidak percaya melihat Lian yang menjilati jarinya seperti permen lolipop.
“Kamu!” Risa menggeram kesal sangat malu dengan apa yang dilakukan Lian, “pria mesum!”
“dan kamu menyukai pria menyukai pria mesum ini” bisik Lian tetap di telinga Risa dan dia masih sempat menggigit pipi Risa sebelum berlari pergi meninggalkan Risa dengan wajah nyaris seperti peach.
"Lian! Menyebalkan!"
rencana awal risa ingin menghabiskan waktu bersama Kevin di taman bermain tapi karena Lian semua rencananya menjadi hancur.
“kevin mau naik itu!”
jemari Kevin menunjuk bianglala yang tengah berputar, safirnya menatap penuh antusias, biasanya anak seumuran Kevin lebih suka menaiki komedi putar, tapi sejak tadi Kevin bahkan belum menaiki wahana itu.
“apa Kevin tidak takut?” tanya Risa ragu, takut-takut nantinya Kevin akan menangis saat bianglala yang dinaiki berada di puncak ketinggian.
“lihat, nanti kita akan berputar ke atas, apa Kevin berani?” Yang tidak diduga Risa adalah putra Jung Lian ini malah mengangguk yakin.
“Kevin tidak takut, kalau Kevin takut tinggal memeluk Ibu, kevin janji tidak akan menangis”
Apa boleh buat, sepertinya Kevin sangat ingin menaiki bianglala itu, tapi dimana Jung Lian sekarang? pria itu menghilang sejak 15 menit lalu.
“Risa”
bukan menemukan Lian pria menyebalkan itu, Risa malah menemukan pria yang membuatnya tidak nyaman, apa yang sedang Justin lakukan disini?
“Hi, Justin” tangan Risa menggenggam erat jemari Kevin.
“apa yang kamu lakukan disini?”
dari ekor matanya justin melirik anak kecil di samping Risa, rasanya benar-benar mirip seseorang.
“bermain” jawab Risa santai, dia menuntun Kevin berjalan menuju antrian untuk menaiki bianglala.
“kamu sendiri? disini? hari minggu?”
“ada yang salah?” alis Justin terangkat. “aku juga suka taman bermain”
Mata Risa menatap curiga pada Justin, ini lucu! Bagaimana bisa seseorang Justin suka taman bermain san berkeliaran disini sendiri tanpa teman? Lelucon yang aneh.
“baiklah, semoga kamu menikmati harimu”
Risa menyunggingkan senyumannya, sungguh Risa tidak mau terlibat lebih jauh dengan Justin, entah dorongan dari mana Risa ingin mencoba menuruti permintaan Lian semalam. 'Menjauhi pria lain'
“boleh aku bergabung denganmu?”
Kevin menghentikan langkahnya, dia terlihat sedikit bingung dengan Justin. “paman ingin ikut dengan kami? Tapi ayah bisa marah jika melihat Ibu dengan paman”
Oh Tuhan, dimana Kevin belajar berkata seperti itu? Darah Jung Lian sepertinya memang sangat kental, Kevin sama seperti ayahnya yang tidak mau diganggu.
“Ayah? Ibu?”
Justin menatap penuh tanya pada Risa yang sejak tadi menarik nafas resah, ”dan siapa namamu, Boy?”
“Jung Kevin Eun, paman bisa memanggilku Kevin”
“Jung?”
tatapan tanya yang dilayangkan Justin semakin menyudutkan Risa. Pantas saja anak ini terlihat tidak begitu asing ternyata copy paste dari Jung Lian. “ada hubungan apa kamu dengan Jung Lian Cho? Bukankah semalam kamu bilang tidak punya kekasih?”
Sejak awal Risa memang tidak menyukai sikap Justin, pria di depannya terlalu memaksa hampir sama dengan pria itu yang sekarang entah kemana.
“aku bilang tidak memiliki kekasih, bukan tidak memiliki tunangan”
Jika cara ini bisa membuat Justin menjauh darinya, Risa akan dengan senang hati mengaku sebagai tunangan Lian.
“kenapa tidak ada cincin yang melingkari diari manismu?”
“karena aku tidak suka memakai cincin”
“selama ikatan kalian belum sampai tahap pernikahan, kurasa aku masih punya peluang”
dengan santai Justin mengikuti Risa dan Kevin masuk kedalam bianglala.
Apa pria ini bodoh? Padahal Risa sudah jelas-jelas memberi lampu merah agar Justin tidak mendekatinya.
“kenapa paman ini ikut?”
Kevin menyilang kedua tangannya di depan dadanya, perasaan tidak sukanya terhadap Justin semakin membuncah.
“biarkan saja, yang pentingnya yang penting Kevin bersama Ibu”
'Kemana Ayah sialan itu?'
“kita bisa melihat semuanya dari sini, lihat itu tempat kita membeli ice cream“
Kevin terus berseru penuh kegembiraan, Justin sendiri masih sibuk melirik setiap gurat wajah Risa.
Dia sangat penasaran dengan hubungan Risa dan Lian, ayah? Ibu? benarkah mereka berdua mempunyai hubungan spesial?
“sejak kapan kamu bertunangan dengan Lian?”
“Hah?” Risa hampir saja tersedak ludahnya sendiri.
“kamu dengan Lian, sejak kapan?” ulang Justin.
“satu bulan lalu” tuhan tolong, siapapun bisakah bawa Justin sekarang juga.
“masih belum lama” gumam Justin.
“lihat pria yang melamarmu sedang bersama wanita lain”
Justin menunjuk ke arah penjual permen kapas, Lian tengah dedek di dekat sana menikmati permen kapas bersama Jennie.
“kurasa dia wanita yang selalu diberitakan mempunyai hubungan spesial dengan Lian, dibandingkan dirimu, kurasa akan lebih masuk akal jika wanita itulah yang lebih pantas menjadi tunangannya”
“mereka hanya teman dekat”
Justin hanya menganggukkan kepalanya. “karena mereka teman dekat kemungkinan untuk hidup bersama selamanya, dibandingkan dengan orang asing”
Orang asing? Hati Risa terkejut seketika, dia memang orang asing. Tidak perlu memperjelas segalanya, Risa sudah menyadari posisinya berada dimana dia melakukan ini semua pum hanya ingin menjauhkan Justin.
“Ibu” Kevin mengusap pelan wajah Risa yang menekuk. “setelah ini kita pulang, Ibu pasti lelah”
Risa lupa jika dia sedang bersama Kevin, seharusnya dia bisa mengontrol ucapannya, dia seharusnya tidak membahas hal seperti ini di depan Kevin, ini semua karena Justin.
“baiklah kita pulang” Risa menyetujui permintaan Kevin.
Lian ga sadar sudah nyakitin Risa berulang kali