Mutia Muthii seorang ibu rumah tangga yang sudah menikah dengan seorang pria bernama Zulfikar Nizar selama 12 tahun dan mereka sudah dikaruniai 2 orang anak yang cantik. Zulfikar adalah doa Mutia untuk kelak menjadi pasangan hidupnya namun badai menerpa rumah tangga mereka di mana Zulfikar ketahuan selingkuh dengan seorang janda bernama Lestari Myra. Mutia menggugat cerai Zulfikar dan ia menyesal karena sudah menyebut nama Zulfikar dalam doanya. Saat itulah ia bertemu dengan seorang pemuda berusia 26 tahun bernama Dito Mahesa Suradji yang mengatakan ingin melamarnya. Bagaimanakah akhir kisah Mutia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Hasutan Berhasil
Bu Bardu dan bu Maman begitu aktif dalam mengompori warga hingga warga sangat mudah dihasut kemudian secara paksa mengusir Mutia dan anak-anaknya dari lingkungan mereka. Sephia dan Sania nampak ketakutan dengan pemandangan yang terlihat di depan sana, dua gadis kecil itu saling berpelukan satu sama lain.
"Usir saja janda ini!" seru Bu Maman lantang.
"Dia ini virus pembawa mala petaka!" seru Bu Bardu.
Suasana makin kacau dan membuat Mutia pun akhirnya setuju untuk pindah dari sana, dengan sangat berat hati akhirnya Mutia dan kedua anaknya harus pindah dari sana dan mencari rumah tinggal yang baru.
"Bunda, kita mau ke mana?" tanya Sania.
"Kita akan pergi dari sini, kita akan mencari tempat yang baru," jawab Mutia.
"Tapi kita mau ke mana?" tanya Sephia.
"Bunda juga gak tahu, tapi kita nggak bisa di sini," jawab Mutia.
Mereka dengan tatapan amarah warga pun pergi dari sana, bu Maman dan bu Bardu nampak puas sekali karena sudah berhasil membuat Mutia pergi. Selain karena Mutia saingan bisnis namun mereka juga senang karena akhirnya mereka bisa mendapatkan imbalan jumlah uang yang banyak karena sudah berhasil membuat Mutia pergi.
"Setelah ini kita bisa minta uang lebih banyak sama dia," bisik bu Maman.
"Iya, bayangin saja, pasti dia akan memberikan lebih banyak uang sama kita," bisik bu Bardu.
Kedua wanita itu nampak sangat sibuk bisik-bisik sambil tertawa girang karena misi mereka kini sudah tercapai. Tentu saja pasti akan ada imbalan yang mereka terima.
****
Dito yang kebetulan hendak menuju rumah Mutia nampak terkejut saat melihat Mutia dan kedua anaknya sedang berjalan membawa tas dan koper besar seperti mau pergi. Tanpa banyak pikir, Dito menghentikan mobilnya dan segera turun dan berjalan menghampiri mereka.
"Kalian mau ke mana?" tanya Dito.
"Kami mau pergi mencari rumah baru," jawab Mutia.
"Rumah baru? Memangnya kenapa dengan rumah yang lama?"
"Kami diusir dari sana karena difitnah warga."
Dito nampak sedih saat mendengar jawaban dari Mutia barusan maka ia pun menawarkan Mutia dan kedua anaknya untuk masuk ke dalam mobilnya dan ia juga menawarkan akan membantu mereka untuk bisa mendapatkan rumah yang baru.
"Nggak perlu, saya nggak mau merepotkan anda."
"Siapa yang merepotkan? Saya senang kok bisa membantu."
Maka dengan ajakan dan sedikit paksaan, Dito berhasil juga membawa Mutia dan kedua anaknya untuk masuk ke dalam mobilnya. Mutia tentu saja tak enak pada Dito, ia tak mau membuat repot pria ini ditambah lagi ia juga tidak akan lupa apa yang menjadi ancaman dari Luluk padanya.
"Wajah kamu kalau saya perhatikan tegang terus dari tadi?"
"Saya nggak mau menjadi beban untuk anda."
"Saya kan sudah berulang kali mengatakan bahwa kalian bukan beban, saya ikhlas menolong."
Dito membawa mobilnya menuju sebuah rumah sederhana, di sana ia mengajak Mutia dan kedua anaknya masuk ke dalam dan Sephia serta Sania nampak langsung suka dengan rumah ini.
"Ini adalah rumah baru kalian," ujar Dito.
"Makasih, Om," ujar Sephia bahagia.
"Sama-sama, sayang."
Sephia dan Sania nampak bahagia sekali di rumah ini namun tidak dengan Mutia, ia merasa terbebani dengan kebaikan hati Dito.
"Maaf Pak Dito, saya nggak bisa menerima semua ini."
****
Lestari sesuai dengan janjinya memberikan tambahan uang pada bu Maman dan bu Bardu karena kedua wanita itu sudah berhasil membuat Mutia diusir dan dipermalukan.
"Wah terima kasih banyak, Neng."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Lestari gegas pergi dari sana, ia kini tersenyum bahagia karena bisa membuat Mutia membayar atas apa yang sudah ia lakukan padanya. Lestari tidak akan membiarkan Mutia bahagia setelah apa yang ia lakukan.
"Sekarang kamu sudah tahu akibatnya kalau berani bermain-main sama aku."
Lestari menyeringai puas, ia akan membuat Mutia jauh lebih menderita dan ia akan mencari tahu lebih jauh mengenai di mana Mutia tinggal dan kabar bagaimana Mutia setelah ini. Saat ini dia sudah kembali ke rumahnya dan melihat Zulfikar tengah menatap foto mantan istrinya. Sontak saja Lestari marah besar, ia cemburu bukan main dan melempar foto Mutia itu ke lantai hingga kacanya hancur berkeping-keping.
"Lestari, apa yang sudah kamu lakukan?!"
"Harusnya aku yang bertanya sama kamu, maksud kamu ini apa?! Kenapa masih menyimpan foto mantan istri kamu padahal sekarang kamu itu sudah menikah sama aku! Bukannya kamu juga sudah tahu kalau aku ini paling gak suka melihat apa pun yang berhubungan dengan mantan istri kamu?! Kenapa kamu malah seolah sedang memancing amarahku!"
****
Amarah terjadi di antara Lestari dan Zulfikar, mereka saling berdebat satu sama lain dengan argumen masing-masing. Lestari tak habis pikir dengan Zulfikar yang masih saja mengelak dengan berbagai alasan.
"Kamu masih cinta sama Mutia, Mas? Sadad bahwa kamu itu sudah menghianati dia!"
"Dan aku menyesal karena sudah melakukan hal itu! Asal kamu tahu saja, kalau saja kamu gak merusak kebahagiaan keluarga kami, maka aku yakin sampai saat ini aku dan Mutia masih akan hidup bahagia bersama-sama!"
"Alah, kamu jangan hanya menyalahkan aku saja sebagai biang keladi rumah tangga kamu rusak! Kamu juga harus disalahkan, Mas. Kalau saja kamu gak mudah terpesona sama aku kan juga gak akan ada namanya perselingkuhan! Jangan kamu menjadikan aku alasan karena aku sama sekali gak menerima!"
Zulfikar nampak geram dengan ucapan wanita ini barusan, ia hendak menampar wajah Lestari karena saking emosinya dan nyaris saja ia melakukan itu namun sedetik kemudian ia pun menyadari apa yang sudah ia lakukan. Maka Zulfikar pun memutuskan untuk tidak melakukan hal itu.
"Kenapa kamu gak jadi menampar aku? Tampar saja aku?!"
Namun Zulfikar tidak melakukan apa yang dikatakan oleh Lestari barusan, ia malah mendengus kesal dan kemudian berbalik badan masuk ke dalam kamar.
****
Dito baru saja tiba di rumah, akhirnya setelah perdebatan panjang dan melelahkan dengan Mutia mengenai rumah yang ditempati oleh ia dan kedua anaknya. Mutia bersedia tinggal di sana dan ia berjanji akan tetap membayar biaya bulanannya walau Dito sudah mengatakan kalau Mutia tidak perlu memikirkan soal biaya namun wanita itu merasa tidak enak dengan ia bisa menempati rumah itu secara gratis dan ia berjanji akan membayar sewa bulanan. Dito yang tak mau kalau Mutia pergi akhirnya pun setuju saja dengan itu.
"Kamu dari mana saja?" tanya Luluk curiga saat melihat Dito baru saja pulang ke rumah.
"Baru saja menemui temanku," jawab Dito cuek.
"Teman yang mana? Apakah kamu baru bertemu janda itu?!" seru Luluk dengan geram.