Aaliyah, takdir mempertemukannya dengan Hadi, disaat Hadi telah memiliki Clarissa dan sudah siap untuk menikahi Clarissa.
Namun kekuatan takdir telah mengubah arah hati Hadi, pada akhirnya ia memilih Aaliyah menjadi istrinya.
Tetapi Clarissa, perempuan yang memiliki pengaruh yang kuat, perempuan yang membuat percaya diri Aaliyah jatuh pada titik nol, selalu membayangi kisah cinta mereka.
Kisah mereka diuji dengan kesetiaan, kesabaran, dan perjuangan cinta. Akankah mereka lulus dari ujian itu?
Clarissakah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Aaliyah?
atau Aaliyah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Clarissa?
Jawabannya adalah siapa yang terakhir hidup bersama Hadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Mengapa Aku Malu (Rev 2)
AALIYAH
------------------
Aku baru saja selesai menunaikan sholat Isya saat mendengar lonceng pintu pagar berbunyi. Lalu aku mengintip keluar jendela. Melihat sosok laki-laki berbadan tegap tengah membuka pintu pagar.
Oh my Good, itu mas Hadi.
Aku pun jadi kalang kabut, gak tau mau mesti berbuat apa. Aku berlari secepatnya ke ruang jahit memanggil bunda, dan tidak lupa berpesan pada bunda,
"Bund, Bunda aja yang temui Mas Hadi, aku malu."
Tanpa menunggu jawaban Bunda, aku kembali ke kamar dan menguncinya dari dalam. Aku juga heran, mengapa harus mengunci kamar segala.
Ya Tuhan, aku gugup sekali.
Kemudian pintu rumah diketuk dan terdengar ucapan salam dari mas Hadi, yang dijawab oleh bunda.
Aku lalu mematut wajahku di depan cermin. Rambutku, pakaianku, oh berantakan sekali. Aku benahi sebisanya sabil menarik nafas panjang untuk menenangkan irama jantung yang memburu sedari tadi.
Lima belas menit berlalu.
Bunda tak kunjung memanggilku. Apa Mas Hadi datang menemui bunda saja?
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi piring dari ruang makan. Sepertinya bunda mengajak Mas Hadi makan malam. Kebiasaan bundaku memang selalu memberi makan tamu yang datang.
Tiga puluh menit berlalu.
Entah apa yang bunda bicarakan dengan Mas Hadi. Kutempelkan telingaku di pintu, tapi apa yang mereka bicarakan tidak jelas terdengar.
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara ketukan pada pintu kamarku. Jantungku berdebar kencang tak karuan.
"Nak, Mas Hadi ingin bertemu," Bunda memanggilku.
"Tunggu sebentar Bund."
Kupandang kembali wajahku di cermin untuk memastikan tidak ada yang salah dengan wajahku saat menemui Mas Hadi. Tidak lupa membawa bantal kecil bulat muka shaun the sheep, untuk menjadi sasaran remasan bila aku grogi.
Aku pun melangkah keluar kamar dan ...
Mas Hadi bediri menyambutku sambil tersenyum.
"Hai Aaliyah!" sapanya.
Duuuuuuh badanku lemas Tuhan.
**********
HADI
______
Bude Rini masuk ke belakang setelah memanggil Aaliyah. Beberapa saat kemudian Aaliyah keluar dari kamarnya. Aku pun berdiri menyambutnya dan menyapanya, "Hai Aaliyah!"
"Iya Mas" Aaliyah tersenyum malu-malu.
Manis sekali.
Ia memeluk bantal boneka.
Bagaimana bila aku menikah dengan Aaliyah? Mungkin tempat tidurku akan dipenuhi dengan boneka. Jadi ngeri juga.
Kuulurkan tanganku untuk menjabat tangan Aaliyah.
Aaliyah menyambutnya, tapi tangannya terasa dingin sekali. Mungkin ia gugup.
"Duduk disini Aaliyah," aku menunjuk tempat di sampingku, di sofa panjang.
Ia menurut, duduk di sampingku, tapi mengambil jarak terjauh, di ujung sofa. Sehingga ada jarak satu kursi antara aku dan Aaliyah.
Aku menatapnya. Pada wajahnya aku melihat wajah anak kecil yang menangis dengan pakaian penuh darah. Wajah ketika aku menggendongnya, saat insiden itu. Jadi sedih bila mengingatnya.
Aaliyah jadi salah tingkah ditatap terus. Aku pun tertawa melihatnya. Sepertinya, Ia belum berpengalaman.
"Kamu berubah banget ya?" Aku membuka percakapan.
"Berubah bagaimana mas, pasti mau bilang dulu aku item trus gendut, iya kan?" Suaranya manja sekali.
Aku tertawa mendengarnya.
"Al, kamu ingat nggak, dulu kamu lari-lari depan asrama bermain hujan, cuman pakai ... " Aku tidak melanjutkan ucapanku dan mengerling ke arah Aaliyah.
Wajahnya memerah, buru-buru ia menutup mukanya.
"Kenapa Al?" tanyaku.
"Ih malu Mas, jangan ingatkan itu deh," rengeknya manja.
Ia pasti ingat. Saat kecil dulu, bila hujan tiba, ia mandi hujan di depan asrama, hanya menggunakan underware berlarian kesana kemari.
"Masih tidur sama boneka ya?" tanyaku lagi, memandang tangan Aaliyah yang memegang bantal boneka.
"Iya Mas, kenapa memangnya?"
"Berapa?"
"Dua atau tiga. Kok tanya itu Mas?"
"Sudah saatnya bonekanya diganti manusia," jawabku enteng.
Wajahnya merona kembali. Pipinya agak chubby tapi dagu lancip. Membuat aku gemas ingin mencubitnya. Kulitnya bening, putih agak kuning, entah bagaimana membahasakannya.
"Maksud Mas apa sih?" Ia pura-pura tidak tahu maksudku.
Percakapan kami terhenti karena dari dalam Bude Rini keluar membawa kopi dan puding untukku.
"Bunda kok repot-repot, kan tadi udah dikasih makan."
Aaliyah kaget mendengar aku memanggil bunda pada ibunya, dimana sebelumnya aku hanya memanggilnya bude.
"Cuman kopi kok, Nak. Silahkan diminum!" Bundanya mempersilahkan, lalu kembali ke belakang.
"Mas, diminum kopinya!" Aaliyah berbasa basi sekaligus untuk mengatasi groginya.
Aku menyesap kopi yang dibawa Bunda Rini tadi sambil memandang Aaliyah.
"Aaliyah kuliah dimana?" Aku pura-pura serius, agar Aaliyah nggak terlalu grogi.
"Sekolah Tinggi Pariwisata Mas, Studi Destinasi Pariwisata," Jawabnya.
"Suka travelling ya? Ambil jurusan itu. Sudah semester berapa sekarang?"
"Nggak juga Mas, orang yang suka travelling itukan uangnya harus banyak. Kalau Aaliyah mana bisa. Aaliyah sih sengaja pilih kuliah yang ringan-ringan yang nggak begitu susah. Yang nggak berat seperti teknik atau kedokteran. Sekarang Aaliyah semester delapan, Mas."
"Pertumbuhan industri pariwisata kan sekarang semakin meningkat. Pariwisata sekarang menjadi sektor prioritas Pemerintah, karena peluang bisnis di dalamnya banyak. Aaliyah bisa menggunakan peluang itu nanti kalau sudah selesai," ujarku.
"Entahlah, Mas. Aaliyah gak begitu memikirkan yang jauh ke depan. Soal Aaliyah kerja apa nanti, Aaliyah serahkan saja sama Tuhan. Aaliyah percaya Tuhan sudah mengatur semua untuk Aaliyah," Ucap Aaliyah.
Aku tersenyum mendengar ucapan Aaliyah. Sepertinya anak ini agak beda dengan anak sebayanya. Orang-orang seusianya mempunyai cita-cita dan ekspektasi yang tinggi sementara Aaliyah cenderung Nrimo. Mungkin ia menyadari bahwa hidup ini seringkali berbeda antara harapan dengan kenyataan.
"Memang cita-cita Aaliyah dulu apa sih?" Aku mulai mempelajari kepribadian Aaliyah.
Aaliyah berpikir sejenak dan menjawab "Dulu waktu kecil Aaliyah mau jadi polwan, tapi sekarang apa yah? Aaliyah nggak menargetkan apa-apa Mas. Aaliyah hanya berharap bisa hidup lebih baik dari kemarin dan jalanku selalu dimudahkan lebih dari jalan yang dilalui bunda."
Sampai disini aku bisa memahami bahwa Bunda Rini telah melalui jalan yang berat sejak suaminya meninggal. Ya, Bunda Rini harus membesarkan anaknya seorang diri. Aku terharu mendengar kata-kata Aaliyah. Kutatap matanya dengan penuh rasa masygul
Membuat Aaliyah kembali grogi.
"Ih mas, kok lihat Aaliyah terus sih, malu Mas."
Aku tersenyum saja melihat Aaliyah salah tingkah.
"Oh ya Mas, bagaimana kabar Angga dan Adelia?" Tiba-tiba Aaliyah menanyakan teman kecilnya.
"Alhamdulillah, mereka sehat kok. Cuman mereka sama-sama sibuk. Suami kerja di bank, istri kerja di bank, kelar keluarganya."
"Kok mas katakan kelar keluarganya?" Aaliyah merasa heran dengan ucapanku.
"Iya, suami sibuk, istri sibuk, pulang jam sembilan malam, kasihankan anak-anaknya nanti," aku menjelaskan maksudku pada Aaliyah.
"Lantas gimana dong dengan yang suami polisi istri dokter, nggak kelar keluarganya?" Aaliyah mulai berani menggodaku rupanya.
"Tergantung, kalau istrinya gak buka praktik, gak masalah. Tapi kalau buka praktik, kelar juga keluarganya."
Aaliyah tertawa mendengar penuturanku.
"Trus nanti mas pilih yang gak masalah atau yang kelar keluarganya?" Aaliyah mulai memancing aku.
"Bagaimana kalau aku pilih mahasiswa? Aku yakin gak masalah dengan keluarga, apalagi yang kuliah ringan-ringan?" dan Aaliyah aku skak mati. tidak bisa membalas lagi.
"Iiiih Mas Hadi," Aaliyah menutup mukanya dengan bantal boneka itu.
Aaliyah kemudian membuka bantal di mukanya. Aku tatap terus matanya. Merasa risih ditatap, Aaliyah kembali menutup mukanya dengan bantal.
Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang lucu dan kekanak-kanakan. Aaliyah penuh senyum. Sangat menyenangkan. Tapi bagaimana bila menjadi istri?
"Mas, kalau Mas liatin Aaliyah terus, Aaliyah tutup terus muka pake bantal loh," Aaliyah merengek manja.
Aku kembali tergelak dengan ancamannya, lalu berpindah posisi, duduk mendekatinya untuk mendekatkan jarak kami.
Membuat Aaliyah semakin grogi.
2. e
3. d
4. a
5. b
tnngung jwb ktnya mlh kaya gini setan emng hadi🤣🤣
jadi clarisa juga sakit, apa lgi nanti yg jg nanti di poligami si akiya dan brengseknya lgi punya ank pula sakit g berdarah nembus sampai yg baca sakit bnget