NovelToon NovelToon
Misi Jaksa Tampan

Misi Jaksa Tampan

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Pembunuhan / Detektif / Tamat
Popularitas:392.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Miss DK

Misi tak terpecahkan Lucius Malcom, si jaksa tampan yang jenius adalah mencari seorang wanita muda nan cantik bernama Edith. Sudah hampir tiga tahun Edith menghilang tanpa jejak. Lucius sudah mencarinya ke segala penjuru dunia, namun hasilnya selalu nihil.

Sampai pada suatu malam, seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa mayat wanita muda yang mengenakan cincin berlian hijau milik Edith telah ditemukan.

Dan di tengah-tengah kesibukannya bekerja dan menyelidiki kasus tersebut, Lucius mulai mencurigai keterlibatan Monica, istrinya dalam kasus yang diselidikinya. Hingga mengancam keutuhan rumah tangga yang sudah mereka bangun selama tiga tahun.

Apakah dengan menyelidiki kasus cincin berlian hijau Edith, Lucius Malcom dapat menyelesaikan misinya?

Sebenarnya rahasia apa yang dipendam Edith hingga ia lenyap ditelan bumi?


Dan apakah pada akhirnya Lucius dan Monica berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka berdua?

Penuh ketegangan dan intrik, ikuti misteri yang ada di dalam cerita ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Luna

Sistim buatanku berhasil memperjelas capture foto wajah Luna yang buram dari cctv dan menampilkan capture foto wajah Luna yang lebih jelas. Dan itu adalah foto wajah Monica, istriku.

Dengan keterangan di samping foto:

Nama: Luna

Alamat: Jalan Melati no.1 Surabaya (status: rumah kost-kostan)

Telepon: 081-2222-3xxx

Catatan: sudah meninggal 5 tahun yang lalu

Keberadaan saat ini: Jalan Vila Bukit Mas B1 Surabaya (status: rumah Lucius Malcom)

"What? Apakah sistim buatanku sedang error? Foto Luna kok berubah menjadi foto Monica? Apakah kau sedang bercanda denganku, Sistim Komputer? Katamu, status Luna sudah meninggal 5 tahun lalu tapi kenapa sekarang dia ada di dalam rumahku? Apakah hantunya Luna sedang gentayangan di rumahku?" ucapku geram karena sistim buatanku memberikan data yang salah.

Sistim buatanku adalah re-create dari sistim pengidentifikasian yang ada saat ini. Agar sistim lama dapat bekerja lebih baik, cepat dan spesifik.

Pekerjaankupun menjadi lebih mudah karena proses pengindetifikasian lebih cepat dan hasilnya 99% lebih akurat daripada sistim pengidentifikasian yang ada di kepolisian.

Aku mengklik kotak bertulis kata 'Perjelas' yang ada di dalam sistim buatanku, blue print rumahku langsung muncul di layar monitor, sebuah titik merah berkedip-kedip menunjukkan lokasi tempat Luna berada sekarang.

"Kamar tidur lantai dua, sangat tidak masuk akal," pekikku kaget sampai menutup mulutku yang terlalu keras berteriak.

Aku terdiam beberapa menit, berusaha meresapi semua keanehan yang terjadi.

"Baru saja aku menertawakan kepolisian yang tidak berhasil menemukan Luna karena sistim pengidentifikasian foto cctv yang kurang canggih. Ternyata sistim canggih buatanku, juga keliru dalam menampilkan hasil," ucapku malu karena telah berlaku sombong.

Aku segera mengotak-atik sistim buatanku, membuka bagian programnya, mengecek apakah ada virus yang merusak sistim atau kesalahan kode program yang membuat sistim tidak berjalan baik.

"Sepertinya semuanya baik-baik saja, tidak ada hacker yang masuk untuk menyebar virus atau mengacaukan sistim buatanku. Kode program juga sudah benar. Baiklah, sekarang aku akan coba sistim ini menggunakan foto wajah Andrew. Bagaimana hasilnya? Hasilnya keliru atau tidak?" ucapku sambil mengklik foto Andrew yang terlihat buram dan sedang menoleh ke arah kanan, lalu memasukkannya ke dalam sistim.

Sambil menunggu hasil pengecekan sistim, aku membuka akses cctv yang ada di apartement Andrew. Mencari-cari keberadaan Andrew saat ini, kemudian menemukan Andrew yang sedang mengamati layar laptopnya di atas tempat tidurnya.

Aku tersenyum melihat Andrew yang menguap lebar-lebar, terlihat letih dan mulai mengantuk, namun tetap berusaha terjaga dan menjalankan tugas yang kuperintahkan.

Tit... Tit... Tit...

Sistim buatanku berhasil memperjelas capture foto wajah Andrew yang buram dan menampilkan capture foto wajah Andrew yang jelas.

Dengan keterangan di samping foto:

Nama: Andrew Jhonson

Alamat: Apartement Educity

Telepon: 081-5857-3xxx

Keberadaan saat ini: Apartement Educity

"Good. Sistim buatanku benar," gumamku senang lalu mengambil foto Monica dari gallery dan memasukkannya ke dalam sistim.

Menunggu hasilnya beberapa saat dan kembali tercengang kaget, karena keterangan identitas Monica masih menunjukkan hasil yang sama seperti sebelumnya. Monica diidentifikasi sebagai Luna yang sudah meninggal 5 tahun lalu.

"Istriku bernama Monica, bukan Luna. Jelas-jelas dia masih hidup dan sekarang sedang tidur di kamarku," ucapku heran dengan sistim buatanku.

"Atau mata dan otakku yang error ya? Butuh belaian lembut istriku sampai tertidur pulas selama 8 jam penuh?" gumamku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Aku kembali memasukkan lima foto orang berbeda yang ada di gallery laptopku untuk identifikasi. Dan semua hasilnya benar. Berarti identifikasi Monica sebagai Luna bukanlah kesalahan sistim buatanku.

Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyeruak di dadaku, timbul rasa curiga, marah, sedih dan kesal karena dibohongi oleh Monica, istriku.

"Aargh... Siapa nama istriku sebenarnya? Luna atau Monica? Mengapa istriku memalsukan identitasnya? Sudah meninggal 5 tahun lalu? Menggelikan sekali. Pacaran kemudian menikah hampir 3 tahun lamanya. Wah, wah, wah... 3 tahun sudah, seorang jaksa yang banyak memenangkan kasus dibohongi oleh istrinya sendiri. Sangat memalukan sekali, apalagi jika sampai orang lain tahu," ucapku kesal sampai tak sengaja menggebrak meja kerjaku dengan keras.

Buku-buku jariku langsung memerah dan berdenyut sakit karena terlalu keras memukul kayu meja kerja. Aku meringis kesakitan dan mengusap kepalan jemariku agar sakitnya berkurang.

"Apakah aku harus menanyakannya pada Monica? Apa reaksi Monica saat dia tahu bahwa aku mengetahui identitas aslinya? Apakah Monica akan marah lalu pergi dariku atau menceraikanku?" tanyaku. Hatiku tiba-tiba berubah menjadi sedih, bibirku tak sengaja mengucapkan kata 'cerai'.

"Aku sangat mencintai Monica, aku tak ingin menyakiti hatinya, aku tak ingin bercerai dengannya. Sebelum semuanya jelas, aku akan merahasiakan ini semua darinya walaupun aku sudah tahu identitas sesungguhnya," ucapku dan hatiku yang penuh amarah, perlahan berangsur melunak lembut.

Setelah menghembuskan nafas panjang, aku mulai memikirkan langkah-langkah selanjutnya yang harus kukerjakan besok pagi. Menuliskannya ke dalam agenda agar aku tidak lupa dan esok hari, aku dapat menjalankannya dengan baik dan terstruktur. Sebuah kebiasaan sederhana yang selalu kulakukan sebelum mengakhiri hariku dengan tidur.

"Hoam... Sudah tengah malam rupanya," kataku sambil melirik jam dinding yang terpasang di tembok dan berkata, "Lihat, aku selalu sibuk dengan pekerjaanku, waktu bersama Monica amat sangat kurang. Aku tidak pernah memperhatikan kegiatannya sehari-hari, sampai aku tak tahu bahwa ia pergi menjemput Orlene sehari sebelum Orlene terbunuh. Mulai saat ini aku akan lebih memperhatikannya."

Sekali aku membuat janji, takkan pernah kuingkari. Itulah prinsip yang kupegang teguh selama ini.

Aku segera menshut down laptopku. Bangkit dari kursiku dan berjalan cepat menuju ke kamar tidur, membuka pintu kamar perlahan.

Lampu kamar sudah dipadamkan. Ruangan kamar terlihat agak gelap, hanya seberkas cahaya lampu dari luar jendela kamar menerobos masuk karena kain korden sengaja dibiarkan terbuka lebar.

Kulihat Monica tertidur pulas di atas kasur king size yang empuk. Wajahnya yang cantik terlihat polos tanpa make up. Aku berjalan mendekati kasur perlahan, tak ingin membangunkannya, aku mengecup lembut kening Monica.

"Good night, sleeping beauty. I love you so much. Maafkan aku selama ini terlalu sibuk bekerja, mengejar karier. Terima kasih sudah menjadi istriku," ucapku lembut sambil memandang wajah Monica dengan penuh cinta, membelai lembut rambutnya, kemudian berjalan ke sisi kasur yang lain, berbaring di atas kasur, kembali memandang Monica yang tidur membelakangiku.

Malam ini, Monica mengenakan gaun tidur berwarna merah dengan model terbuka lebar di bagian punggung, rambut Monica yang panjang tersibak ke samping, sehingga aku dapat melihat punggung putih Monica yang mulus.

"Hei, bercak apa ini?" tanyaku terkesiap kaget, langsung terduduk di atas kasur, bergerak cepat mendekati Monica, membuka mata lebar-lebar untuk melihat bercak warna kuning kebiruan di punggung, tepat di bawah leher belakang Monica.

Kuraih ponselku, kunyalakan flash light untuk mengamati lebih seksama.

"Sebuah lebam yang sudah mulai memudar, panjang 10cm, lebar 3cm. Dilihat dari warna lebam yang sudah kuning kebiruan, sepertinya lebam ini sudah lebih dari 3 hari. Proses penyembuhan juga berjalan lebih cepat jika Monica mengoles gel antikoagulan yang mencegah penggumpalan darah dan memecah pembekuan darah yang terbentuk," gumamku pelan.

"Perkiraanku lebam ini diperoleh Monica sekitar 5-7hari yang lalu. Aargh... apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kau mendapatkan lebam seperti ini? Apakah seseorang memukulmu? Atau sebuah barang besar dan berat jatuh menimpamu?" tanyaku pada diriku sendiri.

Pikiranku penuh, perasaanku campur aduk. Sedih, kasihan melihat Monica yang terluka sekaligus marah, kesal dan kecewa karena Monica sudah menyembunyikan sesuatu dariku.

Kutarik nafasku, kuhembuskan kembali untuk menjernihkan isi pikiranku.

Sekarang bukan waktunya untuk marah kepada Monica, tapi aku harus mulai menyelidiki siapa wanita yang tidur bersamaku hampir 3 tahun ini, batinku.

"Sekitar 5-7 hari yang lalu apa yang dilakukan Monica?" tanyaku mulai berpikir.

"Oh God, lima hari yang lalu adalah hari Luna menjemput Orlene, apakah Monica terluka hari itu?" gumamku setelah isi kepalaku dapat diajak bekerja sama kembali.

Aku berusaha mengingat-ingat apa yang kulakukan lima hari yang lalu, kenapa aku sampai tidak tahu jika Monica terluka seperti ini?

"Sial, aku lembur dua hari berturut-turut di kantor kejaksaan sampai tidak tidur waktu itu," gerutuku kesal.

"Besok, aku akan mengecek rekaman cctv rumah, apa yang terjadi pada Monica lima hari yang lalu," gumamku seraya menutup mataku yang sudah sangat berat.

1
Sun Flower
Luar biasa
Sun Flower
Lumayan
Ryn
Mantap thorr.. saya suka novel.genre kayak ginii..☺️ sukses sll kk authorr
Erna Wati
blm baca semua....thor jgn banyak ngobrolnya ceritanya hehehe
wonder mom
more than best friend?🤔
Mell djuna
seperti nya monica dan kedua tmn na mw memalsukan identitas lg ,spy mereka dpt klaim asuransi dr korban" yg sudah meninggal 🤭
Miss DK: Makacih banyak buat jempolnya, Kakak.
Semoga suka dengan novelnya.
total 1 replies
virtandeepa
tetap aku like tanpa protes
Miss DK: Wkwkwk ... mau protes apa, Kak? kritik sarannya ditunggu.
total 1 replies
virtandeepa
duh penasaran
MangaToon_Editor
cool
Dino● Nhớ mọi ngừi nhắm: Ủa ad?
total 4 replies
jingga
kq jadi lucius yg kena sich
jingga
makin tegang😬
jingga
fighting pk jaksa💪💪💪
jingga
akhirya kejawab sudah
jingga
makin penasaran😍
jingga
tulisannya rapi,ceritanya menarik.
tapi kenapa peminatnya dikit ya🤔
Miss DK: Makasih udah mampir dan beri like, Kak.
Mungkin karena saya jarang promosi dan ceritanya terll berat (bukan genre romance) jadi krg peminat. Hehehe ...
total 1 replies
Ava Eka
sptnya gambaran cerita dan nama2 orang luar negeri,tp gagal paham ama makanannya
Miss DK: Hahaha ... Latar tetap di Indonesia aja. Surabaya dan Batu.
total 1 replies
🌹Almira🌹
semangat💪💪
Sucy Illana
cerita bagus Thor
Miss DK: Terima kasih banyak, Kak.
total 1 replies
Latifah Rais
heeem teka teki,, ga tau apa yg terjadi taunya hera membawa ares ke hades,, kasian nasib ares ketakutan hidupnya
Lili
Hadir 😁
Mampir ya ke Ibu Tunggal
Terima kasih 🙏
Miss DK: Done.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!