Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_22
"Jangan biarkan siapa pun mendekati Rani!" bentak Adrian keras. Wajahnya dipenuhi kepanikan yang tertahan, sementara sorot matanya berubah tajam.
Nathan langsung berdiri tegak.
"Baik, Tuan!" jawab Nathan tegas. Wajahnya dipenuhi kesiapsiagaan, sementara tangannya segera meraih alat komunikasi.
"Hubungi rumah sekarang!" perintah Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Saya segera menghubungi Bibi Sari." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi keseriusan.
Leonard menatap Adrian dengan cemas.
"Tuan, bagaimana kalau pesan itu sengaja dibuat untuk membuat kita panik?" tanyanya hati-hati. Wajahnya dipenuhi keraguan.
Adrian menoleh.
"Justru itu yang membuatku khawatir." jawab Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi kecurigaan. "Orang yang mengirim pesan ini tahu terlalu banyak."
"Maksud Tuan?" tanya Leonard penasaran. Wajahnya dipenuhi ketegangan.
"Mereka tahu Rani tinggal di rumahku." jawab Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan. "Mereka juga tahu kita sedang menyelidiki Bu Ratih."
Leonard terdiam.
"Berarti..." gumam Leonard lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan. "Ada seseorang yang mengawasi kita sejak awal."
Adrian mengepalkan tangannya.
"Dan kemungkinan besar..." ucap Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi kemarahan. "Orang itu juga mengetahui hubungan Rani dengan masa lalu."
Nathan tiba-tiba berbicara melalui telepon.
"Tuan!" serunya tergesa-gesa. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
"Ada apa?" tanya Adrian cepat. Wajahnya langsung menegang.
"Saya sudah menghubungi rumah." jawab Nathan serius. Wajahnya dipenuhi kecemasan. "Bibi Sari bilang Bu Rani masih berada di kamar."
Adrian mengembuskan napas lega.
"Syukurlah." gumamnya pelan. Wajahnya sedikit melunak.
Namun Nathan belum selesai berbicara.
"Tapi..." ucap Nathan ragu. Wajahnya dipenuhi ketegangan.
"Tapi apa?" tanya Adrian tajam. Wajahnya kembali dipenuhi kewaspadaan.
"Bibi Sari mengatakan ada sesuatu yang aneh." jawab Nathan serius. Wajahnya dipenuhi kecurigaan.
"Apa yang aneh?" tanya Leonard cepat.
"Sejak sekitar lima belas menit lalu, bel rumah berbunyi tiga kali." jawab Nathan. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Ketika diperiksa, tidak ada siapa pun di depan gerbang."
Adrian langsung menatap Leonard.
"Berapa kali?" tanyanya serius. Wajahnya dipenuhi ketegangan.
"Tiga kali, Tuan." jawab Nathan.
Adrian terdiam.
"Lihat rekaman CCTV." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi fokus.
"Sudah saya minta Bibi Sari memeriksanya." jawab Nathan cepat. Wajahnya dipenuhi keseriusan. "Tapi kamera di gerbang tiba-tiba mati selama tujuh menit."
Leonard membelalakkan mata.
"Tujuh menit?" tanyanya terkejut. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.
"Iya." jawab Nathan. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
Adrian segera mengambil keputusan.
"Kita pulang sekarang." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketegasan. "Kita tidak tahu apakah pesan itu ancaman kosong atau bukan."
"Tapi Pak Hadi bagaimana?" tanya Leonard cepat. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
Adrian berhenti sejenak.
"Desa Sukamaju tidak akan ke mana-mana." jawab Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Untuk saat ini, Rani lebih penting."
Leonard mengangguk.
"Baik, Tuan." jawab Leonard mantap.
Mereka segera keluar dari bangunan.
Nathan sudah menunggu di dekat mobil sambil membawa kantong barang bukti berisi ponsel yang ditemukan.
"Masuk!" perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketegangan.
Nathan langsung membuka pintu.
"Saya akan menyetir." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi kesiapsiagaan.
Adrian duduk di kursi belakang bersama Leonard.
Begitu mobil melaju, Adrian menatap foto lama yang masih berada di tangannya.
Leonard memperhatikannya.
"Tuan..." ucap Leonard pelan. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Tuan?"
Adrian menatap foto tersebut.
"Kenapa Bu Ratih menyimpan foto ini?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Dan kenapa namaku ada di dalamnya?"
Leonard mengamati bagian belakang foto.
"Mungkin Bu Ratih mengenal Tuan sejak kecil." jawab Leonard hati-hati. Wajahnya dipenuhi dugaan.
"Kalau begitu, kenapa dia tidak pernah menghubungiku?" tanya Adrian. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
Leonard terdiam.
"Itu yang harus kita cari tahu." jawab Leonard akhirnya. Wajahnya dipenuhi keseriusan.
Adrian menggenggam foto itu lebih erat.
"Dan aku ingin tahu siapa anak yang sebenarnya dicari." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi tekad.
Nathan melirik melalui kaca spion.
"Tuan..." panggil Nathan hati-hati. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Apa?" tanya Adrian.
"Bagaimana kalau anak yang dimaksud dalam tulisan Bu Ratih bukan Tuan?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi keraguan.
Adrian menatap Nathan.
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.
"Karena ada lima anak dalam foto." jawab Nathan serius. Wajahnya dipenuhi ketelitian. "Dan Bu Rani juga ada di sana."
Leonard langsung menyambung.
"Benar." ucap Leonard serius. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Kalau Bu Ratih menyebut 'anak yang sebenarnya dicari', mungkin ada hubungan dengan salah satu dari lima anak itu."
Adrian kembali menatap foto.
"Lihat baik-baik." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketelitian.
Leonard mendekat.
"Apa yang Tuan lihat?" tanya Leonard penasaran.
"Anak-anak lainnya." jawab Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi konsentrasi. "Perhatikan posisi mereka."
Leonard memperhatikan foto lebih saksama.
"Tunggu..." gumamnya. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
"Apa?" tanya Nathan cepat.
Leonard menunjuk bagian belakang foto.
"Di belakang mereka ada papan nama sekolah." jawab Leonard serius. Wajahnya dipenuhi ketegangan. "Tapi ada sesuatu yang aneh."
"Apa?" tanya Adrian.
"Nama sekolahnya sudah dicoret." jawab Leonard. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Seseorang sengaja menghapusnya."
Adrian menyipitkan mata.
"Berarti foto ini pernah diedit." ucap Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi kecurigaan.
Nathan langsung menggeleng.
"Tidak mungkin." bantah Nathan pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Foto ini terlalu tua."
"Justru karena tua, kita harus memeriksanya." jawab Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
Tiba-tiba telepon Nathan berdering. Nathan melihat layar.
"Bibi Sari." ucapnya cepat. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
Ia langsung mengangkat telepon.
"Ya, Bi?" tanya Nathan serius.
Suara Bibi Sari terdengar gemetar dari seberang.
"Nak Nathan..." ucap Bibi Sari panik. Wajahnya dipenuhi ketakutan. "Cepat pulang!"
Nathan langsung menegang.
"Kenapa, Bi?" tanyanya cepat. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
"Bu Rani..." jawab Bibi Sari terbata-bata. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
"Ada apa dengan Bu Rani?" bentak Nathan. Wajahnya dipenuhi ketakutan.
"Dia menghilang!" seru Bibi Sari panik. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
Nathan membeku.
"Apa?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Adrian langsung berdiri dari kursinya.
"Berikan teleponnya kepadaku!" perintah Adrian keras. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
Nathan menyerahkan telepon.
"Bi Sari, jelaskan semuanya!" ucap Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
"Tuan..." jawab Bibi Sari gemetar. Wajahnya dipenuhi ketakutan. "Saya baru saja masuk ke kamar Bu Rani."
"Lalu?" tanya Adrian cepat.
"Kamar itu kosong." jawab Bibi Sari lirih. Wajahnya dipenuhi kepanikan. "Jendelanya terbuka."
Adrian mengepalkan tangan.
"Apa pintunya terkunci?" tanyanya tajam.
"Tidak, Tuan." jawab Bibi Sari. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Tapi saya yakin tadi Bu Rani masih berada di dalam."
"Periksa seluruh rumah!" perintah Adrian keras. Wajahnya dipenuhi ketegangan. "Jangan keluar dari rumah sampai kami tiba!"
"Baik, Tuan!" jawab Bibi Sari cepat.
Adrian memutuskan sambungan.
"Lebih cepat!" perintah Adrian kepada Nathan. Wajahnya dipenuhi kemarahan dan kecemasan.
"Saya akan berusaha, Tuan!" jawab Nathan tegas. Wajahnya dipenuhi tekad.
Leonard melihat foto yang masih berada di tangan Adrian.
"Tuan..." ucap Leonard tiba-tiba. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
"Apa lagi?" tanya Adrian.
Leonard menunjuk salah satu bagian foto.
"Bu Rani kecil tidak berdiri sendirian." ucap Leonard serius. Wajahnya dipenuhi ketegangan. "Lihat tangan anak laki-laki di sebelahnya."
Adrian menatap foto.
Ternyata tangan anak laki-laki kurus itu menggenggam ujung pakaian Rani kecil.
Adrian terdiam.
"Kenapa aku tidak pernah mengingat ini?" gumamnya lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
Leonard membalik foto itu sekali lagi.
"Tuan..." ucap Leonard pelan. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
"Apa?" tanya Adrian cepat.
"Ada tulisan kecil di bawah pesan Bu Ratih." jawab Leonard.
Adrian segera mengambil foto itu.
Tulisan tersebut sangat samar, hampir tidak terlihat. Namun setelah diterangi senter, kalimat itu menjadi jelas.
"Anak itu bukan korban."
Adrian membeku.
"Apa maksudnya?" tanya Nathan dari kursi depan. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
Leonard membaca kalimat berikutnya.
"Dia adalah kunci untuk menemukan siapa yang selama ini bersembunyi."
Adrian menatap foto itu tanpa berkedip.
"Tidak..." gumam Adrian. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Leonard menelan ludah.
"Tuan, apakah Tuan berpikir..." ucap Leonard ragu. Wajahnya dipenuhi ketegangan.
"Jangan simpulkan apa pun sebelum kita menemukan buktinya." potong Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
Namun beberapa detik kemudian, ponsel Adrian bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan foto.
Adrian membukanya. Wajahnya langsung berubah pucat.
Dalam foto itu terlihat Rani sedang duduk di sebuah ruangan gelap. Kedua tangannya tidak terlihat terikat, tetapi wajahnya menunjukkan ketakutan.
Di belakang Rani berdiri seseorang mengenakan jaket hitam. Hanya sebagian wajahnya yang terlihat.
Di bawah foto itu terdapat sebuah pesan.
"Kalau ingin dia tetap hidup, datanglah ke tempat masa lalu kalian dimulai."
Leonard menatap layar.
"Tempat masa lalu kalian dimulai?" ucap Leonard lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
Adrian menggenggam ponselnya.
"Sekolah dasar." jawab Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
Nathan langsung menoleh.
"Berarti mereka membawa Bu Rani ke sekolah lama?" tanyanya serius. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
Adrian menggeleng.
"Tidak." jawabnya pelan. Wajahnya dipenuhi kecurigaan. "Sekolah itu sudah tidak ada sejak bertahun-tahun lalu."
"Kalau begitu, tempat apa?" tanya Leonard cepat.
Adrian terdiam beberapa detik. Kemudian matanya tertuju pada foto lama di tangannya.
"Desa Sukamaju." jawab Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Leonard membelalakkan mata.
"Pak Hadi..." gumamnya.
Adrian mengangguk.
"Ya." jawab Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi tekad. "Kita tidak pulang."
Nathan mengerutkan kening.
"Lalu kita ke mana, Tuan?" tanyanya serius.
Adrian menatap jalan di depan.
"Ke Desa Sukamaju." jawab Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi keteguhan. "Kita akan menemukan Pak Hadi sebelum mereka menemukannya lebih dulu."
Leonard mengepalkan tangan.
"Dan Bu Rani?" tanyanya penuh kekhawatiran. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
Adrian menatap foto Rani kecil untuk terakhir kalinya.
"Kita akan membawa Rani pulang." jawab Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi tekad. "Apa pun risikonya."
Namun tanpa mereka sadari...
Di sebuah tempat yang jauh dari sana, seorang pria berdiri di depan layar monitor. Foto Adrian, Rani, Nathan, dan Leonard terpampang di sana.
Pria itu tersenyum tipis.
"Mereka akhirnya menuju Desa Sukamaju." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi kepuasan.
Seorang pria lain berdiri di belakangnya.
"Bagaimana dengan Pak Hadi?" tanyanya serius. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
Pria itu tersenyum lebih lebar.
"Biarkan mereka mencarinya." jawabnya tenang. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Karena saat mereka sampai di sana..."
Ia menekan sebuah tombol pada meja. Layar berubah menampilkan rekaman lama Adrian dan Rani ketika masih kecil.
"...mereka akan mengetahui siapa sebenarnya anak laki-laki itu."
Pria tersebut tertawa kecil.
"Dan setelah itu..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi senyum misterius. "Adrian tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu."