Kisah Sofia dalam menghadapi tujuh tahun naik turun dalam pernikahannya yang penuh kesedihan.
Di awali dengan berbagai kebohongan yang dibuat oleh Suaminya sejak awal pernikahan mereka.
Evan yang telah merenggut hal paling berharga milik Sofia.
Satu persatu kebohongan terungkap, Sofia mencoba bertahan dan memaafkan Suaminya lagi dan lagi karena cintanya pada Evan, dan Sofia yang melihat ketulusan Suaminya yang menerima kelemahannya.
Namun Suaminya tidak pernah berubah, kebohongan demi kebohongan selalu dia buat, sikapnya yang perlahan berubah dan menyakitinya, dan menghacurkannya.
Ibu Mertua yang selalu mencari masalah dengannya.
Sampai akhirnya, kesabaran Sofia tiba pada batasnya.
Batas Akhir dari Cintanya Pada Evan.
Apakah dia masih sanggup bertahan?
Atau malah bisa menemukan kebahagiaannya yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9: Harus Bagaimana?
"Benar, Nyonya Sofia. Anda mengalami Keguguran akibat Kecelakaan itu, Luka yang anda alami di bagian perut lebih buruk daripada yang anda kira, kami melakukan Operasi Besar untuk hal itu."
"Operasi Dok?"
"Benar, kondisi darurat harus dilakukan untuk menyelamatkan Nyonya Sofia, dengan mengangkat janin dan sebagian Ovum Ibu Sofia. Jadi mungkin kedepannya anda akan kesulitan jika ingin punya anak."
Berita keguguran saja sudah membuat Sofia sangat syok, namun sekarang dia masih dikejutkan bahwa kedepannya dia masih akan sulit mempunyai anak.
Tidak ada yang lebih buruk lagi dari ini.
"Kenapa Operasi itu sampai dilakukan? Apakah Suami saya tahu?"
"Benar, Beliau Sudah menandatangani dan menyetujui Operasi."
"Bahkan setelah tahu resikonya membuatku akan sulit punya anak?"
Dokter itu, tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya terdiam sebentar lalu mencoba menenangkan Sofia.
"Nyonya Sofia harus sabar menghadapi semua ini, tubuh Anda saat ini masih dalam masa pemulihan, anda tidak bisa terlalu banyak stress."
Mendengar itu, Sofia mulai menangis benar-benar tidak tahan lagi.
"Bagaimana Aku bisa tahan? Aku... Aku...."
Mungkin Sofia terlalu syok dengan semua hal yang barusan dia dengar dan akhirnya kembali pingsan.
####
Ketika Sofia pingsan, dia mulai memimpinkan sebuah mimpi buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya.
'Sofia, itu adalah karma dari Dosamu menjadi Anak Durhaka!'
'Benar! Itu adalah karma yang kamu dapatkan karena bisa-bisanya bersama dengan orang yang telah membunuh kami!'
'Kamu layak mendapatkannya!
'Dasar Anak Durhaka tidak tahu diri!'
Sofia mendengar suara-suara dari Almarhum Orang Tuanya dalam mimpi. Wajah orang tuanya yang menunjukkan sikap kebencian yang jelas adalah dalam mimpi itu.
"Tidak! Tidak!! Tidak!! Tidak seperti ini...."
Sofia mulai berteriak ketakutan dalam mimpinya.
Lalu hal berikutnya yang dia lihat adalah adegan dimana Suaminya, Evan meninggalkannya.
"Lepaskan! Kamu sekarang hanya wanita mandul yang tidak lagi bisa memberiku keturunan! Aku tidak butuh kamu lagi!"
"Tidak! Ini tidak bisa!!"
Dalam mimpinya itu, Evan menepis tangan Sofia.
"Cih, jangan dekat-dekat! Aku menikahimu hanya karena kasihan saja, Aku tidak pernah mencintai mu!"
"Evan! Kamu bohong kan?"
"Tidak ada gunanya bersama wanita cacat sepertimu, ini sudah belas kasihan terakhir!"
Lalu, sekarang muncul wajah-wajah Ibu Mertua dan Kakak Iparnya.
"Lihat, wanita murahan itu! Dia memang tidak layak menjadi menantu Keluarga Wiyata!"
"Memang, dia sekarang mandul, sudah tidak ada gunanya sebagai wanita!"
"Dia juga tidak punya apa-apa, sungguh, Evan sudah sangat baik mau menampungnya namun dia malah tidak tahu diri!"
"Akhhh... Mas Evan... Jangan seperti ini... Jangan!??"
"Berhenti! Jangan dekat-dekat denganku lagi! Kamu wanita tidak berguna!"
Dalam mimpinya itu, Sofia ditinggalkan sendirian, dalam ruangan kosong yahh sunyi. Tidak ada siapa-siapa, seolah terjebak dalam ruangan itu untuk waktu yang lama.
Tidak ada orang yang mengharapkannya...
Dia menjadi tidak berguna...
Anak Durhaka...
Tidak bisa punya anak...
"Tidak!!!! Jangan tinggalkan Aku!!"
Dengan itu, Sofia mulai terbangun dari tidurnya, dan disambut oleh sebuah pelukan hangat.
"Aku tidak akan kemana-mana, Sofia... Kamu hanya mimpi buruk, Aku selalu ada disampingmu..."
Itu adalah suara Evan yang mencoba untuk menenangkannya.
Sofia tidak tahu, Apakah dia harus merasa senang dengan sambutan itu ataukah merasa marah padanya.
Perasaan dimana dia masih sangat mencintai Evan, namun di sisi lain juga sangat membencinya tentang semua hal Evan lakukan.
Gara-gara Evan, dia kecelakaan dan sampai kehilangan anaknya.
Dan lebih dari segalanya bisa-bisanya suaminya itu berbohong padanya dan menyembunyikan keadaannya yang sesungguhnya soal kegugurannya, dan bilang semua baik-baik saja.
Padahal keadaannya lebih buruk, sekarang dirinya menjadi wanita tidak sempurna, yang akan susah punya anak. Evan bisa-bisanya menyembunyikannya darinya.
Namun tidak peduli apa, kekecewaan benar-benar masuk kedalam hati Sofia.
"Ini semua karena kamu... Karena kamu... Aku jadi seperti ini karena kamu..."
Evan yang melihat Sofia mulai meronta-ronta dalam pelukannya sambil menangis itu hanya bisa terus memeluknya.
"Maafkan Aku Sofia..."
"Itu karena kamu aku kehilangan Orang Tuaku!"
"Maaf, Sofia..."
"Itu karena kamu Aku kehilangan anakku dan masa depanku..."
"Maaf...."
"Ini semua salahmu...."
"Maaf..."
Sofia yang tidak tahan itu segera mendorong Evan lalu menamparnya.
"Apakah tidak ada hal lain yang bisa kamu katakan selain Maaf?"
Evan yang mendengar itu juga mulai meneteskan Air Matanya. Dia lalu menduk ke pangkuan Sofia.
"Aku benar-benar minta maaf padamu...."
"Apakah kamu hanya kasihan padaku?"
Evan segera bangun, dan menatap mana Sofia.
"Aku mencintaimu, Sofia..."
"Cinta apa? Aku tidak percaya padamu! Setelah ini kamu pasti akan meninggalkanku karena aku sudah tidak berguna."
"Apa maksudmu itu? Sofia! Apa?"
"Kamu juga tahu bahwa Aku tidak lagi bisa memberikanmu anak..."
"Sofia, itu tidak penting...."
"Tapi ini sangat penting bagiku! Ini semua gara-gara kamu!! Kamu yang membuatku kehilangan segalanya!"
"Sofia, tapi kamu masih memilikiku..."
"Kamu yang selalu membohongiku?"
"Sofia, kali ini aku sungguh tidak ingin berbohong padamu aku hanya sangat khawatir padamu takut kondisimu menjadi tidak stabil jika tahu kebenarannya..."
"Kamu selalu bilang khawatir ini dan itu padaku namun Dari awal kamu tidak mengikuti kata-kataku dan percaya padaku! Jika saja saat itu kamu menurut dan tidak naik mobil terlalu kencang... Jika saja kamu saat itu percaya kata-kataku dan tidak menuduhku selingkuh...."
Sambil mengatakan itu, Sofia mulai kembali menetaskan Air Matanya.
Pria yang ada di depannya merupakan pusat dari semua tragedi yang menyimpannya...
Namun dalam hati Sofia, Pria itu juga pusat hidupnya...
Sama seperti di dalam mimpinya itu....
Hal yang paling Sofia takutkan adalah Evan yang akan meninggalkannya...
Dia tidak punya siapa-siapa lagi...
Tapi apa?
Hal-hal ini terlalu menyakitkan.
"Sofia, Aku sangat mencintaimu, Apapun yang terjadi padamu atau pada tubuhmu Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, ini adalah bukti cintaku... Aku tidak akan pernah kemana-mana, dan akan selalu disampingmu..."
"Apakah Aku bisa percaya kata-katamu?"
"Sofia, percayalah padaku...."
Sofia hanya menangis dan tidak menjawab kata-kata suaminya itu lagi. Sejujurnya saat ini hatinya terlalu kalu dan tidak tahu harus bagaimana lagi.
Ada sisi bertolak belakang dalam hatinya.
Disisi lain dia benci Evan.
Namun di sisi lain dia juga takut untuk ditinggalkan oleh Evan.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Aku butuh waktu."
Evan yang mendengar itu tersenyum lalu kembali memeluk Sofia.
"Tidak apa-apa. Aku akan memberikan semua waktu untukmu, Aku akan selalu ada disini untukmu."
Sofia tidak menanggapinya, hatinya masih terlalu lelah memikirkan semua ini jadi dia memilih untuk kembali tidur.
Dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya.
Terkadang dia berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk...
Namun nyatanya ini adalah kenyataan...
Apakah begitu susah hanya ingin bahagia saja?
Sofia tidak tahu jawabannya, mulai kembali tertidur lelap bersama dengan rasa lelahnya.
Evan disisi lainnya, segera mencium kening Sofia.
"Sofia, jangan kemana-mana, Aku akan selalu disisimu, kamu juga harus selalu disisiku, karena kamu milikku...."
dan akhir yg cukup memilukan bagi Evan yg terakhir ini sdh berubah lebih baik 👍😊
selamat ya bas, calon Bastian junior akan launching n licya akan jadi kakak 🤗😘
sabar ya Van, semua butuh waktu
terimakasih kakak, telah menemani emak dengan kisah mu yang cukup menguras emosi 😊
tetap semangat dan sukses selalu
so mulailah saling terima kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena kepercayaan adalah dasar kuatnya sebuah hubungan 🤗
ayo dong Sofia jangan bikin emak n readers se-Indonesia gemas saking g tahan pada ego kalian 😚