Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 09
Abra hanya bisa diam saat Ciara berpamitan keluar setelah mengobatinya. Tidak lupa Ciara juga mengucapkan terimakasih. Setelah sepenuhnya tubuh Ciara menghilang, Abra langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Arghhh, ini nggak bener. Noh liah SI Jony masih aja keras begitu. Hei Jon, doi udah pergi. Tenanglah sedikit. Lu ngapain juga begitu. Biasanya anteng meskipun mau ketemu cewek seseksi apapun, ini lho dia yang bajunya ketutup malah kamu mau berontak. Aneh lu Jon."
Abra menggerutu kesal. Sungguh, Ciara bukanlah wanita yang mengumbar bentuk tubuhnya. Hari ini gadis itu mengenakan kemeja panjang berwana biru langit dipadukan dengan celana bahan kain berwana hitam. Rambut Ciara memang dibiarkan tergerai. Sangat cantik sebenarnya, karena rambut Ciara lurus di atas dan agak ikal di bawah. Abra sebenarnya tidak berhenti memandangi punggung Ciara saat gadis itu berjalan keluar dari ruangannya.
" Astaga, memang benar omongan orang di luar sana. Pelecehan seksual tidak selalu terjadi kepada wanita yang berpakaian terbuka. Jadi memang bukan pakaian yang disalahkan tapi nafsu dan otak si pria. Eitsss readers, tapi aku nggak gitu lho. Sumpah, aku juga baru kali ini ngerasa begitu."
Abra benar-benar merasa merinding dengan dirinya sendiri. Selama ini dia dikejar-kejar wanita dan selalu merasa mual muntah saat tubuhnya disentuh, Dan baru kali ini dia normal-normal saja. Malah hasrat kelelakiannya muncul hanya dengan tangan Ciara menyentuh kulit punggungnya.
" Woelah, gue harus curhat sama siapa ini. Aaah iya si kampret Rey, doi salah satu yang bisa jaga rahasia."
Reynand Ganesh Dewantara adalah teman sekaligus ipar sepupu. Mengapa Ipar sepupu, Karena Rey menikah dengan Arumi-- adik sepupunya, putra dari om nya Abra.
" Haloo Rey, bisa ketemu nggak?" Abra ternyata langsung menghubungi Rey melalui telepon kantor.
" Waduh sorry dory mory brother, habis ini mau ada rapat besar. Bokap dateng juga nih ke kantor. Lo tahu kan bokap gue kalau sidak nyeremin. Sebelas dua belas lah sama Om Rama, hahah."
" Iye tahu, mereka kan bestie. Jadi sikap Om Juna ya nggak jauh beda sama ayah kalau lagi sidak ke perusahaan. Ya udah next time aja."
Siapa yang tidak tahu circle pertemanan keluarga Juna Dewantara dan Rama Joyodiningrat, circle yang konon katanya susah ditembus. Bahkan dari muda pun mereka sangat susah untuk ditembus.
Abra hanya bisa pasrah, ia kembali mengenakan pakaiannya kembali. Luka memar yang ada di punggung itu juga lumayan sudah tidak sakit.
Sedangkan di luar ruangan, Wanti masih terus merasa aneh dengan pemandangan yang ia lihat. Ia sangat tidak bisa berkata-kata saat ada wanita yang baru ia ketahui seorang designer interior itu masuk ke dalam ruangan Abra.
Ruang keramat yang tidak bisa sembarang dimasuki oleh wanita, kali ini bisa dimasuki oleh Ciara. " Nona Ciara sungguh hebat, dua jempol untuknya," celoteh Wanti.
Belum habis rasa keterkejutannya tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Wanti semakin kaget saat membaca nama yang tertera di layar ponsel.
" Belinda, mau apa lagi ini anak?" gerutu wanti. Semenjak pertemuannya malam itu, sang teman selalu mendesak Wanti untuk bisa mendapatkan pekerjaan di JD Grup. Wanti sungguh sangat bingung jika Belinda menanyakan hal yang sama kembali.
" Hay Bel, ada apa nih siang-siang telpon. Mau ngajakin aku makan siang ya," ucap Wanti dengan nada yang dibuat sesantai mungkin.
" Tck, kamu pasti lupa kan. Bagaimana soal permintaanku waktu itu. yang jadi sekertaris Abra?"
" Gini Bel, kerjaan aku masih banyak bener. Aku coba tanyakan nanti ke HRD, apakah ada lowongan untuk itu. Gini nih, misal, ada lowongan di sini tapi bukan sekretaris, gimana?"
Tidak ada jawaban dari sebrang sana. Sepertinya Belinda sedang berpikir. Wanti berharap Belinda akan menolak, ia sungguh berharap temannya itu menyerah saat ia mengatakan hal seperti itu.
" Oke, nggak masalah. Yang penting aku bisa tiap hari ketemu bebeb."
Duaaaar
Wanti seketika membuang nafasnya kasar. Rupanya cara seperti itu juga tidak berhasil sama sekali. Akhirnya Wanti pasrah, dia berjanji akan menanyakan hal tersebut ke bagian HRD.
" Baru terbit Yuli di sini, masa iya harus duet combo sama Belinda kalau benar dia bisa masuk ke JD Grup. Bukankah aku yang bakalan pusing nanti. Au ah, serah kalian. Biar pada tahu rasa kalau di ketusin Bos. Belum tahu aja tuh bos kalua nyembur kek naga api."
Wanti sungguh hanya bisa pasrah. ia lalu berdiri dan meraup semua berkas yang tadi Yuli letakkan di mejanya. Ini semua harus sudah sampai di tangan Abra. Jika tidak nanti pasti SI Bos akan menyembur lagi.
Tok! Tok! Tok!
" Ya Wan, masuk dan letakkan Berkas itu di meja. Wan, boleh minta tolong."
" Siap pak!"
" Pesankan makan siang untukku, oh iya dan juga anak-anak semua karena sudah lembur kemarin. Nanti uangnya aku transfer."
" Baik Pak Bos, laksanakan!"
Wanti keluar ruangan Abra dengan senyum mengembang. Suasana hati sang bos sepertinya tengah sangat baik. Tapi selain itu Abra memang pada dasarnya baik, hanya saja sifatnya kadang absurd dan nada bicaranya ketus. Tapi bagi Wanti itu tidak masalah.
Maka dari itu sebagai seorang sekertaris ia harus memastikan semua divisi yang berada di bawah pimpinan Abra bekerja dengan baik. Dan, jika memang mereka salah ya layak untuk dihukum.
" Hay, makan siang dari Pak Bos ih, saya harap kalian jangan lagi melakukan kesalahan serupa. Pak Bos itu sungguh baik, jadi mari bekerja dnegan baik."
" Siap!"
Semua bersorak senang saat Wanti memberi makan siang kepada mereka. Mereka juga menyadari bahwa kesalahan itu fatal, dan beruntung hanya diminta untuk lembur. Dan itu adalah hal yang wajar.
Namun sepertinya anggapan berbeda dirasakan oleh Yuli. Wanita itu tampaknya menganggap bahwa makan siang kali ini pasti diberikan oleh Abra karena dirinya.
" Aku yakin Pak Abra itu tertarik padaku. Dia sebenarnya mau memberiku, tapi karena takut dikira pilih kasih jadi semua dikasih." Yuli bergumam pelan. Sepertinya wanita itu memang terlampau percaya diri. Dan sejatinya, sebuah kepercayaan diri yang terlalu tinggi akan bisa menghancurkan diri sendiri.
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak, sehat2 slalu 🙏🏼💐💪🏼