Assalamu'alaikum.. Maaf yah novel ini ngak di lanjut lagi jadi mending ngak usah di baca🥲
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKTM_09
Kini pagi pun berganti malam yang sangat gelap. Malam ini Araya terlihat sangat cantik dan lebih dewasa menggunakan gaun silver mewah pemberian Evan.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah heels yang lumayan tinggi mengalihkan atensi beberapa pengawal dan asisten. Mereka semua takjub akan perubahan Araya yang tampil lebih cantik dengan make up natural membuat nya terlihat lebih fress.
"Nona"
Araya menoleh saat bibi Gu memanggil nya. "Ada apa" tanyak Araya.
"Maaf Nona, ada beberapa hal yang harus anda lakukan selama berada di pertemuan" Wajah bibi Gu terlihat serius.
"Apa" tanyak Araya menaut kan kedua alis nya.
"Anda di larang berbicara dengan orang lain tapi anda harus tersenyum setiap kali menatap mereka dan anda akan terus berdiri di samping Tuan Muda untuk membantu Tuan Muda dalam segala hal". Bibi Gu menjeda ucapan nya. "Anda tidak boleh ikut campur jika ada yang menyindir atau menghina Tuan Muda" lanjut bibi Gu.
Araya nampak bingung mencerna ucapan bibi Gu dengan aturan yang terakhir. "Terlalu banyak aturan" jawab Araya masa bodoh Lalu berjalan menghampiri Evan yang sudah menunggu nya di dalam mobil sedari tadi.
"Mari Nona" June membuka kan pintu untuk Araya dan mempersilahkan Araya duduk di belakang bersama Evan.
Setelah Araya masuk, June berlari kecil memutari mobil dan duduk di kursi depan karena saat ini June akan menjadi supir mereka.
Hening.. Baik Araya atau pun Evan sama-sama diam hanya suara detak jantung Araya saja yang berdetak lebih kencang saat melihat sang suami duduk di samping nya.
Kedua tangan Evan bergetar dan tangan kanan Evan memegang sebuah botol obat kecil. Araya tidak perna menyangkah akan menghadiri pesta penyambutan untuk suami nya dan akan hadir di tengah-tengah orang penting.
Kini mereka berdua pun sampai di mansion mewah yang terlihat ramai. Namun saat mobil Evan memasuki area mansion suara yang tadi nya riuh kini menjadi hening.
"Sepertinya itu putra pertama Tuan Abraham"
"Maybe, ternyata gosip nya benar jika Tuan Muda Evan buta"
"Kasian banget yah"
"Percuma ganteng kalau buta, aku yakin istri nya pasti tidak akan bahagia bersama pria buta seperti nya"
Beberapa orang saling berbisik melirik Araya dan Evan yang masih duduk di dalam mobil dengan tatapan penuh hina.
Beberapa pengawal berlarian menyambut kedatangan Evan dan Araya. June turun dari mobil dan membuka kan pintu untuk kedua majikan nya.
"Wah dia cantik sekali"
"Heran.. Kok dia mau yah menikah dengan pria buta dan kelihatan nya dia masih muda"
"Apapun akan di lakukan demi uang"
Mereka kembali berbisik dengan tatapan menghina dan Araya dapat mendengar nya dengan jelas.
"Silahkan Nona" June mempersilahkan Araya untuk mendekati sang suami yang masih berdiri di pintu mobil bagian sebelah.
Araya mendekati sang suami dan menggandeng tangan Evan. Araya dapat merasakan bahwa tangan Evan terus bergetar. Entah apa yang di pikirkan oleh Evan.
Sebelum melangkah masuk ke dalam mansion tiba-tiba saja Vina menghampiri Araya dan Evan. "Selamat datang kak Evan" Vina memeluk tubuh Evan begitu erat. "Aku sangat merindukan mu" lanjut Vina.
Vina dengan tubuh indah menggunakan gaun hitam mewah dengan pernak-pernik mutiara menempel di atas permukaan tile lembut. Rambut panjang Vina di gerai lepas begitu saja membuat nya makin cantik dan mempesona.
Evan tidak menjawab ucapan Vina lalu mundur dua langkah untuk menjaga jarak. Evan tidak suka di sentuh bahkan pada adik nya sendiri. "Bagaimana kabar mu kak" tanyak Vina namun di luar dugaan Evan malah pergi tanpa menjawab pertanyaan Vina.
Evan pergi dengan Tongkat yang sedari tadi berada di salah satuh tangan nya. June yang melihat nya pun segera menghampiri Evan dan membantu nya untuk berjalan.
"Apakah dia bisu? Kenapa dia tidak menjawab sapaan adik nya"
"Ck!! Sudah buta belagu pula"
Beberapa orang kembali menghina Evan. Araya sendiri merasa malu dengan tingkah Evan. "Maaf.. Maafkan suami ku" Araya sedikit membungkuk pada Vina.
"Tidak apa-apa" Vina mengulurkan tangan pada Araya. "Vina Abraham" ucap Vina memperkenal kan diri pada kakak ipar nya.
Araya menyambut hangat uluran tangan Vina sembari tersenyum manis. "Senang bertemu dengan mu. Nama ku Araya". sejenak Araya terpukau melihat kecantikan Vina.
Semua orang yang berada di luar mansion memperhatikan interaksi Vina dan Araya. Mereka semua dia buat penasaran dengan istri kecil Tuan Muda Evan yang buta.
"Ayo masuk, ibu dan ayah sudah menunggu di dalam" Vina menarik tangan Araya dan menuntun nya masuk kedalam mansion mewah. Mau tidak mau pun Araya mengikuti Vina.
Mereka berdua masuk ke sebuah mansion yang sangat mewah. Jantung Araya berdebar semakin kencang saat melihat begitu banyak orang yang hadir di acara malam ini.
Semua orang menatap Araya dengan tatapan yang berbeda beda. Araya menarik nafas panjang lalu kembali berjalan dari pintu utama dengan membusungkan dada agar tidak terlihat gugup.
Araya berjalan sembari mencari sosok sang suami. "Kak Evan di sana". Vina menunjuk Evan yang sedang duduk di sebuah sofa dengan santai nya.
Sedari tadi Vina memperhatikan Araya yang sedang mencari seseorang dan Vina tebak pasti Araya sedang mencari Evan. "Pergilah dan duduk di sebelah suami mu" Ucap Vina melirik Araya.
"Baiklah" Araya tersenyum ramah pada Vina lalu pergi menghampiri Evan yang masih duduk dengan santai nya.
Namun langkah Araya terhenti saat sebuah tangan menggenggam pergelangan tangan nya.
"Bersikap lah dengan baik! Jangan sampai mempermalukan keluarga ku dan perhatikan suami bodoh mu itu agar tidak membuat masalah di sini" bisik Nyonya Lusy di telinga Araya dengan menekan setiap kalimat nya.
.
.
Di sisi lain saat Evan tengah duduk dengan santai nya kini muncul beberapa pria pengusaha muda yang mencoba berbincang pada Evan. "Wahh.. Selamat atas pernikahan anda dan Nona Araya. Maaf karena aku tidak hadir di pernikahan anda" sebenarnya pria itu bukan nya tidak mau hadir hanya saja memang pria itu tidak di undang.
"Kapan pernikahan itu? Aku tidak mendengar berita jika Tuan Muda melangsungkan pernikahan" Ucap salah satu pria. "Yang aku dengar hanya pernikahan seorang putri cantik dengan pria buta saja" lanjut nya dengan tertawa sinis.
"Tuan Abraham sangat hebat dalam segala hal termasuk menutup aib kelurga nya"
Perbincangan yang sangat tidak pantas mereka katakan di depan Evan. Mereka terus saja menyindir Evan sembari tertawa sinis dan angkuh melihat Evan. Namun Evan hanya diam saja dan merasa tidak perduli dengan ucapan mereka.
"Selamat malam" Araya tersenyum manis lalu duduk di samping Evan dengan anggun.
"Wah ternyata Nona Araya sangat cantik dan anggun"
"Tapi sayang nya anda menikahi pria buta seperti nya"
"Jika anda merasa bosan pada nya, datang lah pada ku"
Semua orang terus berbicara buruk pada Evan sembari terus tertawa mengejek. "Tega sekali mereka" Araya hanya membatin tanpa menjawab ucapan mereka.
klo bisa, sebaiknya Evan dan araya pergi dari rmh org tuanya dan menjalani kehidupan mereka biar mereka bahagia