Ilham Abdulrahman, seorang pemuda sholeh dan baik hati yang diidolakan oleh para santriwati mampu menarik hati seorang gadis bernama Myesha Safeera kusuma Wijaya.
Hingga membuat gadis itu rela masuk ke dalam pondok pesantren agar bisa dekat dan menarik perhatian pemuda tampan itu.
Sayang, Myesha atau Shasa harus menelan kekecewaan saat pemuda yang biasa di sapa Gus Ilham itu di jodohkan dengan wanita lain.
Wanita cantik, sholehah, bertutur kata lembut yang berbanding terbalik dengan nya yang merupakan seorang gadis yang cukup dikenal sebagai wanita yang bar bar.
Akan kah Shasa berhenti mengejar cinta Gus Ilham saat tahu jika sang pria sudah memiliki calon pendamping yang di pilih oleh kedua orang tuanya??
yukk simak kisah mereka di sini....
Bantu follow ya...
ig :author_triyani
tiktok :triyani_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.08
...🌸🌸🌸...
*
Ilham benar benar dibuat geleng geleng kepala. Selalu ada saja kelakuan aneh para anak didiknya. Kemarin santriwan yang di panggil keruangan itu karena kedapatan tertidur saat hafalan dan ada juga yang tidak ikut saat sholat malam berlangsung.
Kini santriwati nya, yang kedapatan mengobrol saat jam pelajaran masih berlangsung. Hingga membuatnya harus memanggil kedua santriwati itu ke ruangan kedisiplinan.
Merasa cukup lelah dan hari pun kian larut, akhirnya Ilham pun beranjak meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke rumah utama untuk mengistirahatkan tubuh lelah nya.
Jujur, Ilham merasa sedikit kewalahan antara mengurusi perusahaan sang ayah dan juga ikut menjadi salah satu pengajar di pondok.
Namun, semua itu harus Ilham lakukan demi jalani tanggung jawabnya menjadi anak tertua dan juga cucu tertua di keluarga besar Abdulrahman.
"Assalamu'alaikum,"
Seruan salam yang berasal dari suara lembut seseorang mengalihkan perhatian Gus Ilham yang tengah duduk di salah satu sudut ruangan perpustakaan dengan buku di tangan nya, ke arah sumber suara.
Tampak seorang gadis tersenyum manis di depan nya dengan setumpuk buku di tangan gadis itu. Tanpa diduga, gadis yang tersenyum manis itu pun langsung mendudukkan diri tepat di depan Gus Ilham tanpa seijin yang punya meja lebih dahulu.
"Waalaikumsalam warahmatullah, apa yang kamu lakukan?" tanya Gus Ilham saat melihat Myesha duduk tepat di depan nya.
"Maaf Pak Ustadz, bukan bermaksud lancang. Tapi di sini sudah tidak ada meja kosong lagi, jadi mohon untuk berbagi meja nya sebentar ya. Besok saya ada ujian dan harus belajar extra," jelas Meysha yang menunjuk ke seluruh ruangan yang hari ini tampak penuh dengan para santriwan dan santriwati yang tengah belajar untuk menghadapi ujian esok hari.
Gus Ilham pun mengikuti pandangan Myesha, dan ternyata benar. Meja meja yang tersedia di sana sudah penuh di isi oleh para siswa dan siswi. Hingga Ilham pun tidak punya pilihan lain selain mengalah dan berbagi meja dengan salah satu muridnya itu.
Myesha pun akhirnya menundukkan pandangan nya lalu memulai membuka buku bacaan yang tadi dia bawa.
"Pak Ustadz, saya boleh bertanya?" tanya Myesha tanpa mengalihkan pandangan nya dari buku yang ada di atas meja.
"Boleh, apa yang ingin kamu tanyakan?" jawab Ilham yang melakukan hal yang sama Myesha.
Dengan posisi yang sama sama menunduk, memfokuskan pandangan pada buku yang ada di depan mereka masing masing. Keduanya pun mulai melakukan tanya jawab namun dengan kepala menunduk dan pandangan fokus pada buku masing masing.
"Kalau boleh tahu usia Pak Ustadz saat ini berapa tahun?" tanya Myesha tiba tiba, hingga membuat Ilham tertegun.
"26 tahun,"
"Sudah siap nikah dong?"
"Insya Allah, kalau sudah ada jodoh nya."
"Kalau begitu, mau nggak nikah sama saya?" tanya Myesha lagi hingga membuat Gus Ilham mengangkat kepalanya, menatap bingung ke arah wanita yang ada di depan nya.
Keduanya sempat saling menatap selama beberapa detik hingga kedua nya kembali menunduk kepala nya secara bersamaan.
"Perbaiki dulu akhlak mu, baru bicara pernikahan,"
"Memang nya kenapa dengan saya?"
"Wanita muslimah itu harus menjaga marwahnya. Berprilaku yang baik dan sopan, tidak seperti kamu ini," jawab Ilham cukup menohok.
"Memangnya ada yang salah? Saya hanya ingin berlaku jujur, jika suka ya katakan. Dan apa itu dosa, jika seorang perempuan mengutarakan perasaan nya lebih dulu?"
"Tidak dosa, tapi terlihat kurang baik. Wanita itu hukumnya di minta bukan meminta,"
"Maksudnya, gimana?"
"Wanita yang baik itu akan menunggu jodohnya yang datang dan meminta dirinya langsung ke pada kedua orang tuanya. Bukan malah meminta si pria untuk bersama dengan dirinya. Karena sewajarnya pria lah yang melamar seorang wanita, bukan wanita yang melamar seorang pria. Kamu paham?"
"Paham Pak Ustadz. Tapi, kalau saya nunggu Pak Ustadz yang melamar saya, ya sampai lebaran monyet juga pasti nggak bakalan di lamar lamar. Jadi lebih baik saya duluan yang melamar Pak Ustadz biar kita segera di halalkan," jawab Myesha yang membuat Ilham geleng geleng kepala.
"Belajar dulu yang bener, baru bahas pernikahan," lanjut yang langsung bangkit dari duduknya bergegas untuk pergi dari sana.
"Bagaimana kalau akhir tahun ini saya bisa mendapatkan nilai terbaik di pondok ini. Apa Pak Ustadz mau mempertimbangkan nya?" tanya Myesha yang berhasil menghentikan langkah kaki Gus Ilham.
"Saya serius Pak Ustadz," lanjut Myesha saat Gus Ilham menoleh kembali lalu menatapnya.
"Buktikan saja dulu. Jawaban nya akan kamu dapatkan setelah kamu benar benar bisa membuktikan dan menepati janji mu itu," jawab Gus Ilham berlalu pergi meninggalkan Myesha yang masih duduk di meja nya dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Allaahumma shalli'alaa sayyidinaa Muhammad wa ala alihi sayyidina Muhammad, bismillah. Semoga Allah meridhoi kita dan takdir membersamai kita. Aamiin."
Gumam Myesha dalam hati saat menatap punggung tegap Gus Ilham yang perlahan mulai menjauh dan menghilang di balik pintu perpustakaan.
*
*
Sejak saat itu, Myesha pun benar benar fokus pada apa yang dia pelajari saat ini. Bahkan sejak hari itu, tidak ada lagi si biang rusuh yang suka sekali mengganggu ketenangan seorang Gue Ilham.
Myesha benar benar fokus dengan pendidikan Agamanya. Dan tanpa terasa beberapa purnama pun telah di lewati oleh seorang Myesha Safeera di dalam pondok itu.
Dan kini, saat ini. Myesha pun tengah menghadapi masa masa yang mendebarkan, dimana siang hari ini akan di umumkan santriwan dan santriwati dengan nilai terbaik selama satu tahun terakhir.
Dan kini, ratusan anak didik dari pondok Al Abdulrahman itu pun tengah berkumpul di sebuah aula gedung guna menyaksikan siapa saja yang akan menjadi siswa dan siswi terbaiknya di tahun ini.
Setelah 15 menit para siswa dan siswi masuk ke dalam gedung aula itu dan menempati kursi masing masing. Di sambung oleh para pengajar dan para pengurus pondok.
Gus Ilham berjalan tepat di belakang Ustadz Ilyas yang tidak lain adalah ayah nya sendiri. Lalu di ikuti oleh Umma Mayra dan juga Yan'ti Aida.
Namun, di antara para orang orang yang cukup memiliki pengaruh besar di pondok itu. Tampak salah seorang gadis dengan penampilan syar'i berjalan berdampingan dengan Umma Mayra.
Kedua wanita beda usia itu pun tampak begitu akrab satu sama lain. Umma Mayra memperlakukan nya dengan begitu baik dan lembut.
"Itu siapa?" tanya Amina yang baru kali ini melihat wanita muda itu.
Seorang wanita yang terlihat begitu anggun dan cantik dalam balutan baju muslimah syar'i yang tengah dipakainya.