NovelToon NovelToon
LUDIRA

LUDIRA

Status: tamat
Genre:Romantis / Janda / Chicklit / Tamat
Popularitas:244.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Bahureksa

Namaku Ludira.
Janda berusia kepala tiga dengan anak perempuan berusia dua belas tahun. Hidup kami, aku dan putriku begitu tenang Damai dan lurus seperti jalan tol, hingga usaha pria bernama Narendra membuat kehidupan kami berdua menjadi berbeda.

Dekat dengan Narendra membuatku juga mengenal semua anggota keluarga Narendra, pria tampan baik hati cerdas dan bonusnya dia memang sedikit mirip dengan suamiku.

Narendra, pria yang membuatku harus berada di zona rumit dengan kondisi perasaan yang tidak menentu. Rasa ingin pergi meninggalkan Narendra begitu besar, namun saat menatap wajah berseri milik Almeera, putriku. Aku lelah, aku memilih bertahan dan menjalani semua ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahureksa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembilan

"Jadi gimana keadaan Almeera, Mbak?"

Ah, aku terkejut. Suara di belakangku membuatku yang sedang asyik dengan pikiranku sendiri sambil memandang langit malam, menjadi terkejut.

Dan saat aku berbalik, ternyata benar. Narendra. Pria ini sebenarnya saat mobil ambulan keluar rumah, dia sudah berada di depan rumahku. Lebih tepatnya di jalan menuju rumahku. Mengawasi dari balik setir mobil. Dan saat kami menuju rumah sakit, dia mengikuti dari belakang. Aku terlalu sibuk dengan Almeera yang terus mengigau, hingga mengusir semua pikiran tentang Narendra.

"Maaf, saya tidak bisa bertahan lama lagi, Mbak. Tolong, tolong kasih izin saya buat menemani Almeera."

Suara Narendra parau, matanya seperti habis menangis. Wajahnya kusut dan rambutnya berantakan. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Dosen yang begitu populer di tiga kampus terkemuka seperti ini?

"Jangan, Ren. Terlalu banyak fitnah nanti. Tolong juga pahami status saya."

Yaa, begitulah. Pria ini cukup populer. Di sini saat ini hanya menggunakan hoodie dan celana panjang layaknya anak muda. Bukan jenis pria dewasa tiga puluh lima tahunan.

"Ya Alloh, ini rumah sakit, mbak. Mbak bisa di luar saat saya di dalam. Atau saya di luar. Tolong, Mbak. Tolong izinkan saya berada di sini."

Suara memohon Narendra membuatku kacau.

"Pulang, Narendra. Besok bukan hari libur. Banyak sekali jadwal atau agenda harian kamu yang penting." jelasku mencoba menolak kehadiran Narendra.

Siapa yang kuat menahan gejolak seperti ini, di saat aku memang benar-benar membutuhkan sandaran untuk berbagi berbagai hal yang membuatku gelisah. Ketakutan ketakutan yang hadir karena kenangan masa lalu.

Bohong bila aku tidak merasa takut sekaligus kalut saat menghadapi Almeera yang tiba tiba-tiba kehilangan kesadarannya setelah mengigau menyebut nama bapaknya berkali-kali.

Munafik bila aku tida mengakui bahwa ada getaran rasa lega saat mengetahui pria ini berada di sini. Berada di dekat kami sekaligus membuktikan secara tidak langsung bahwa dia begitu ingin berada disisi kami.

Namun, aku sadar. Aku sadar sepenuhnya. Aku tidak boleh memberikan izin kepada diriku sendiri untuk menerima siapapun pria memberikan rasa nyaman dalam hatiku.

"Ren, tolong hormati saya. Pulanglah, Narendra." Bisikku parau. Sesak sekali tenggorokan ini.

Aku melangkah meninggalkan Narendra yang tampak begitu lemas. Aku mencoba memantapkan langkah kakiku yang mulai bergetar. Aku terus meyakinkan dirimu sendiri supaya tidak menoleh ke belakang.

Rasanya berat sekali, Ya Tuhan. Berat.

****

Pagi ini, selepas Dhuha. Putriku belum juga siuman. Masih asyik dengan tidur nyeyaknya sedari tadi malam.

Tadi malam, sambil menunggu ambulan, aku mengambil tas darurat yang berisi surat surat untuk keperluan kesehatan dan beberapa pakaianku dan juga putriku serta peralatan membersihkan diri.

Mungkin, setelah ini. Aku membutuhkan bantuan sopir dan juga asisten rumah tangga. Setidaknya lebih menghemat tenaga juga lebih normal.

Puluhan pesan dari Narendra aku abaikan. Biarlah sikapku terlalu kejam, biarlah saat ini aku egois. Yang jelas, aku sedang berusaha menjaga hati ku sendiri dan hati putriku supaya tidak terbiasa dengan rasa nyaman yang hadir karena Narendra. Jadi suatu saat Narendra pergi dari hidup pribadi kami, kami akan baik baik saja.

"Assalamu'alaikum."

Suara salam dan juga pintu di buka membuatku tersadar dari lamunan. Sekaligus terkejut.

Ibu dan bapaknya Narendra berdiri di depan pintu kamar rawat inap Almeera.

"Waalaikumsalam, Bu.. Bapak." Jawabku pelan sambil berjalan ke arah mereka dan mencium tangan mereka secara bergantian.

"Mbak Ludira, bagaimana kabar dek Almeera ?" tanya Ibunya Narendra pelan, lembut sekali.

"Masih belum siuman, Bu." jawabku pelan. Sesak sekali, nyeri sekali.

Air mataku tumpah begitu Ibu Narendra memeluk tubuhku erat. Mengusap kepalaku yang masih terbungkus mukena.

"Yang sabar, Cah Ayu. Sabar."

Kalimat yang di ucapkan Pria Sepuh yang penuh wibawa itu membuatku berusaha menghentikan air mata.

"Maaf njeh, Bu. Ini malah kerudung ibu jadi basah."

Ah, bodohnya kamu, Ludira.

"Hanya kain, Mbak. Tidak masalah."

Sejuk sekali beliau. Rasa tenang yang terpancar dari wibawa beliau membuatku ikut tersenyum lemah.

"Adakalanya semua tidak bisa di atasi sendiri, Nak. Adakalanya kita membutuhkan bantuan orang lain. Orang hebat bukan berarti dia tidak membutuhkan tempat bersandar." Ucap Pak Basuki Bagaskara lembut.

Aku mengangguk lemah, sedangkan ibu Basuki kembali memeluk bahuku.

"Bagus bersandar kepada Alloh SWT. Hanya saja, kamu perempuan, Mbak. Kita memiliki batas dalam banyak hal." Sambung Ibu Basuki.

Aku mengangguk lagi.

Aku mengenal secara dekat kedua orang tua Narendra. Kebetulan juga kami, aku dan mas Dodi sering bertemu dengan beliau ini.

"Naren... " Sahut ibu Basuki mengambang.

Aku diam, mencoba untuk profesional.

"Maaf, Mbak Ludira. Ini soal Narendra. Putra bungsu saya." Lanjut Pak Basuki tenang, setelah bergantian memandang ke arah aku dan juga istrinya.

Aku masih diam, menunggu kelanjutan dari mereka berdua.

"Jadi begini, Mbak Ludira. Mohon maaf sekali sebelumnya."

Kedua orang tua Narendra saking bertatap muka, seperti berat sekali untuk menyampaikan hal ini. Nafasku semakin berat, bukan berburuk sangka, hanya saja berharap semoga tidak ada hal buruk yang terjadi saat ini, saat aku sedang mencoba tetap berdiri tegak untuk putriku yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Aku harus kuat untuk putriku yang kini kondisinya di pantau oleh alat alat di tubuhnya.

1
matcha
duuuh hiruk pikuk bgt sih hatinya mbk ludira..pusiiing
matcha
duuh lelah..ludira sma Narendra tarik ulur terus..
matcha
rumit sekalih batiniahnya semua tokoh2 dsni..jd terbawa batin ini ikutan lelah
Wiwin Jazf
benar benar cerita dg banyak moral values di dalam nya, salut. berharap ada season 2 nya, sayangnya baru Nemu cerita ini sekarang
Oka Luthfia
jane salahe janda ki opo to ,kok di rendahkan bgt
Erni Fitriana
mampir thor
Deti Endung Aufa
dr part² pertama hgga part ini...Ludira kesannya jd seorang ibu yg egois..memaksakan kehendak dan pikirannya serta zona nyamannya kepada anak semata wayangnya...yg terpaksa harus menutupi segala ingin dan rasanya hanya untuk membuat sang ibu bahagia..
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓.
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓
Noorhayati Noorhayati
ceritanya bagus...dari bab pertama ampe sini mataku pedih thor...smgt ya thor buat promosiin novelnya...
Kiki Dhevin
ahaha sesuai ekspektasi gw thanks you
Kiki Dhevin
yampun berarti aksara anak nya rendra? pantesan kata nya mirip rendra astaga..
itu syailendra kasian bgt ya idup nya..
untung dia ga selemah rendra mental nya..
pliss ludira sama syailendra aja, lebih hidup dia tuh kalo sama lendra
Kiki Dhevin
fix gw ngeship syailendra aja..
ga labil, dewasa, walopun konyol..
tapi dia bisa nge cover kelemahan nya dira..
Queen Bee
nggak ada kelanjutannya?
Astri Yunianti
vote dan bunga sekebon untuk ending nya.. terimakasih author 😘🥰
Astri Yunianti
berarti Aksara tuh anak nya Narendra 😯
Lili Faiz
ini asli ludira yang rempong,gampang nyaman sama orang lain,lama² aku jadi ilfil sama ludira,
Astri Yunianti
yg bilang novel ini bagus, yg bilang novel ini keren, yg suka baca novel ini...bagi vote dan hadiah donk..biar tambah semangat author nya..💕
Lili Faiz
iya kayanya Dira kesannya murahan ya,dipeluk² sampai dikelonin juga loh.....padahal udah dihormati banget sama rendra
Lili Faiz
tambah runyammmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!